31.7 C
Kediri
Friday, August 12, 2022

Oh….Stasiun Kediri

Stasiun Kota Kediri harusnya sudah waktunya dipermak. Dibikin lebih keren. Lebih kekinian. Tanpa harus menghilangkan sisi-sisi klasik sebagai salah satu bangunan heritage di Kota Kediri.

 

Menurut catatan sejarah, Stasiun Kota Kediri dibangun sekitar abad ke-18. Tepatnya pada 1882. Bangunannya bergaya “Indische Empire”. Dan, gaya “Indische Empire” merupakan gaya arsitektur Kolonial Belanda periode pertama yang banyak dikembangkan selama abad ke-18–19.  Gaya arsitektur ini diperkenalkan oleh Herman Willen Daendels saat bertugas sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1808-1811). Gaya arsitektur periode kedua di era Kolonial Belanda adalah “Arsitektur Transisi (1890 – 1915). Sedangkan periode ketiga adalah gaya arsitektur Kolonial Modern (1915-1940).

 

Gaya “Indische Empire” mulai dibangun di daerah pinggiran Kota Batavia (Jakarta). Munculnya gaya arsitektur ini akibat adanya percampuran kebudayaan Belanda, Indonesia, dan sedikit kebudayaan China. Ciri utama dari gaya arstitektur ini adalah denah bangunannya yang berbentuk simetris. Bentuk seperti ini memungkinkan di bagian tengah bangunan terdapat ruang utama. Ciri lainnya, terdapat barisan kolom yang bergaya Yunani (Doric, Ionic dan Corinthian).

 

Jadi, dari sisi gaya arsitektur bangunannya, Stasiun Kota Kediri sesungguhnya bernilai sejarah tinggi. Gaya arsitektur di stasiun Kota Kediri, merupakan saksi sejarah dari berkembangnya gaya arsitektur selama Kolonial Belanda.

Baca Juga :  Suka Duka Yohan Pramuda Kenalkan Metode Baru Pertanian ke Masyarakat

 

Sayangnya, bangunan Stasiun Kota Kediri dibiarkan “apa adanya”. Selama bertugas di Kediri setahun ini, dua kali saya naik kereta api dan berhenti di Stasiun Kota Kediri. Bangunannya kusam. Sudut-sudut bangunan atau bagian-bagian dari bangunan yang sesungguhnya bernilai heritage tinggi, dibiarkan begitu saja. Tak diapa-apakan. Seperti tak ada harganya. Sungguh, ini sebuah pemandangan yang patut disayangkan.

 

Stasiun Kota Kediri bisa bercermin dari Stasiun Bandung. Mungkin, dari sisi skala, lebih besar Stasiun Bandung. Tapi, dari sisi sejarah, antara Stasiun Kota Kediri dan Stasiun Bandung dibangun di era yang berdekatan. Jika Stasiun Kota Kediri diresmikan pada 1882, Stasiun Bandung diresmikan pada 1884.

 

Tapi, Stasiun Bandung kini sudah dibenahi. Dibikin lebih keren. Kini, di sana ada bangunan baru. Yakni, sky bridge. Fasilitas baru yang diujicobakan sejak 23 September 2020 itu bernuansa modern, meski bangunan stasiun banyak didominasi nuansa heritage.

 

Perpaduan tersebut memberikan kesan cantik, mewah dan nyaman. Dengan adanya sky bridge itu, jika dulu untuk berpindah peron, penumpang harus naik-turun antar-kereta, kini tidak lagi seperti itu. Penumpang tinggal melintasi sky bridge yang dilengkapi travelator. Sehingga tak hanya nyaman, tapi juga sangat ramah bagi para penyandang disabilitas.

 

Stasiun Kota Kediri tak harus bikin sky bridge. Tapi, setidaknya, bikin bangunan yang kusam itu menjadi lebih cerah warnanya.  Tonjolkan sisi-sisi heritage dari stasiun itu. Bangun tempat tunggu yang nyaman. Kalau perlu, beri narasi di dinding-dinding stasiun yang mendeskripsikan tentang sejarah dari stasiun tersebut.

Baca Juga :  Marketing Langit ala Abah Syamsul

 

Sudah banyak contohnya, sebuah bangunan heritage yang bisa disulap menjadi bangunan yang relevan dengan konsep kekinian, tanpa harus menghilangkan sisi-sisi heritage-nya. Dan khusus untuk akses jalan menuju ke Stasiun Kota Kediri dari Jl Dhoho, menurut saya perlu dilebarkan. Dibikin lebih lega untuk dilalui. Sekarang, akses jalan menuju ke Stasiun Kota Kediri dari Jl Dhoho terkesan sumpek. Sehingga, lokasi stasiun terkesan nylempit.

 

Kota Kediri harus cepat-cepat berbenah. Harus berubah. Saya termasuk yang meyakini, bahwa ketika nanti bandara di Kediri sudah beroperasi, maka ibarat kotak Pandora, akan terbuka lebar. Dan, jika kotak Pandora sudah terbuka, maka laju perubahan menjadi sebuah keniscayaan. Bisa jadi perubahan itu menjadi tak terkendalikan. Makanya, jika tidak berbenah dan berubah mulai sekarang, maka Kota Kediri akan semakin ketinggalan dengan kota-kota lain. Termasuk Stasiun Kota Kediri, juga harus berubah penampilannya. Dari yang sekarang “apa adanya”, menjadi dibikin lebih “memukau”. Kata Winston Churchill, “Untuk meningkatkan itu berarti berubah. Menjadi sempurna itu berarti sering berubah,”. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

- Advertisement -

Stasiun Kota Kediri harusnya sudah waktunya dipermak. Dibikin lebih keren. Lebih kekinian. Tanpa harus menghilangkan sisi-sisi klasik sebagai salah satu bangunan heritage di Kota Kediri.

 

Menurut catatan sejarah, Stasiun Kota Kediri dibangun sekitar abad ke-18. Tepatnya pada 1882. Bangunannya bergaya “Indische Empire”. Dan, gaya “Indische Empire” merupakan gaya arsitektur Kolonial Belanda periode pertama yang banyak dikembangkan selama abad ke-18–19.  Gaya arsitektur ini diperkenalkan oleh Herman Willen Daendels saat bertugas sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1808-1811). Gaya arsitektur periode kedua di era Kolonial Belanda adalah “Arsitektur Transisi (1890 – 1915). Sedangkan periode ketiga adalah gaya arsitektur Kolonial Modern (1915-1940).

 

Gaya “Indische Empire” mulai dibangun di daerah pinggiran Kota Batavia (Jakarta). Munculnya gaya arsitektur ini akibat adanya percampuran kebudayaan Belanda, Indonesia, dan sedikit kebudayaan China. Ciri utama dari gaya arstitektur ini adalah denah bangunannya yang berbentuk simetris. Bentuk seperti ini memungkinkan di bagian tengah bangunan terdapat ruang utama. Ciri lainnya, terdapat barisan kolom yang bergaya Yunani (Doric, Ionic dan Corinthian).

 

Jadi, dari sisi gaya arsitektur bangunannya, Stasiun Kota Kediri sesungguhnya bernilai sejarah tinggi. Gaya arsitektur di stasiun Kota Kediri, merupakan saksi sejarah dari berkembangnya gaya arsitektur selama Kolonial Belanda.

Baca Juga :  Syekh Wasil

 

Sayangnya, bangunan Stasiun Kota Kediri dibiarkan “apa adanya”. Selama bertugas di Kediri setahun ini, dua kali saya naik kereta api dan berhenti di Stasiun Kota Kediri. Bangunannya kusam. Sudut-sudut bangunan atau bagian-bagian dari bangunan yang sesungguhnya bernilai heritage tinggi, dibiarkan begitu saja. Tak diapa-apakan. Seperti tak ada harganya. Sungguh, ini sebuah pemandangan yang patut disayangkan.

 

Stasiun Kota Kediri bisa bercermin dari Stasiun Bandung. Mungkin, dari sisi skala, lebih besar Stasiun Bandung. Tapi, dari sisi sejarah, antara Stasiun Kota Kediri dan Stasiun Bandung dibangun di era yang berdekatan. Jika Stasiun Kota Kediri diresmikan pada 1882, Stasiun Bandung diresmikan pada 1884.

 

Tapi, Stasiun Bandung kini sudah dibenahi. Dibikin lebih keren. Kini, di sana ada bangunan baru. Yakni, sky bridge. Fasilitas baru yang diujicobakan sejak 23 September 2020 itu bernuansa modern, meski bangunan stasiun banyak didominasi nuansa heritage.

 

Perpaduan tersebut memberikan kesan cantik, mewah dan nyaman. Dengan adanya sky bridge itu, jika dulu untuk berpindah peron, penumpang harus naik-turun antar-kereta, kini tidak lagi seperti itu. Penumpang tinggal melintasi sky bridge yang dilengkapi travelator. Sehingga tak hanya nyaman, tapi juga sangat ramah bagi para penyandang disabilitas.

 

Stasiun Kota Kediri tak harus bikin sky bridge. Tapi, setidaknya, bikin bangunan yang kusam itu menjadi lebih cerah warnanya.  Tonjolkan sisi-sisi heritage dari stasiun itu. Bangun tempat tunggu yang nyaman. Kalau perlu, beri narasi di dinding-dinding stasiun yang mendeskripsikan tentang sejarah dari stasiun tersebut.

Baca Juga :  Jadi Saksi Karya-Karya Literasi Bernilai Tinggi

 

Sudah banyak contohnya, sebuah bangunan heritage yang bisa disulap menjadi bangunan yang relevan dengan konsep kekinian, tanpa harus menghilangkan sisi-sisi heritage-nya. Dan khusus untuk akses jalan menuju ke Stasiun Kota Kediri dari Jl Dhoho, menurut saya perlu dilebarkan. Dibikin lebih lega untuk dilalui. Sekarang, akses jalan menuju ke Stasiun Kota Kediri dari Jl Dhoho terkesan sumpek. Sehingga, lokasi stasiun terkesan nylempit.

 

Kota Kediri harus cepat-cepat berbenah. Harus berubah. Saya termasuk yang meyakini, bahwa ketika nanti bandara di Kediri sudah beroperasi, maka ibarat kotak Pandora, akan terbuka lebar. Dan, jika kotak Pandora sudah terbuka, maka laju perubahan menjadi sebuah keniscayaan. Bisa jadi perubahan itu menjadi tak terkendalikan. Makanya, jika tidak berbenah dan berubah mulai sekarang, maka Kota Kediri akan semakin ketinggalan dengan kota-kota lain. Termasuk Stasiun Kota Kediri, juga harus berubah penampilannya. Dari yang sekarang “apa adanya”, menjadi dibikin lebih “memukau”. Kata Winston Churchill, “Untuk meningkatkan itu berarti berubah. Menjadi sempurna itu berarti sering berubah,”. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Artikel Terkait

Syekh Wasil

Kota Kediri, 1.143 Tahun

Kelud

(Kecerdasan) Syahwat

Most Read


Artikel Terbaru

/