31.7 C
Kediri
Friday, August 12, 2022

Kelud

Sungguh sayang seribu sayang, jika potensi keindahan alam di Gunung Kelud, belum dimanfaatkan secara maksimal oleh Pemkab Kediri untuk meningkatkan potensi ekonomi di sektor pariwisata. Saya melihat, pengembangan potensi wisata di kawasan Gunung Kelud masih terkesan apa adanya. Jika skala potensi yang bisa dikembangkan tertinggi 100 persen, mungkin saat ini belum ada 50 persennya.

Mari kita bedah potensi itu dengan rumus “4A”-nya Cooper. Dia mengemukakan, terdapat 4 komponen yang harus dimiliki oleh sebuah objek wisata: attraction, accessibility, amenity, dan ancilliary.  Dengan kata lain, sebuah objek wisata akan 100 persen termanfaatkan potensinya jika “4A” itu dipenuhi.

Bagaimana dengan potensi wisata di kawasan Gunung Kelud? Kita mulai dari “attraction”. Sebuah kawasan dapat menjadi tujuan wisata, jika kondisinya mendukung untuk dikembangkan menjadi sebuah atraksi wisata. Ada tiga atraksi yang bisa dikembangkan di sebuat destinasi wisata. Pertama, atraksi natural (bersumber pada keindahan alam). Kedua, atraksi budaya (bersumber pada kearifan lokal atau kekhasan adat-istiadat). Dan ketiga, atraksi buatan manusia.

Di kawasan Gunung Kelud, yang sangat bagus adalah atraksi naturalnya. Top destinasi di Gunung Kelud adalah kawahnya. Konon, air di dalam kawah itu bisa berubah-ubah warnanya. Sangat indah pemandangan kawah Gunung Kelud itu.  Hawa di sana pun masih sangat sejuk.  Apalagi, tak jauh dari lokasi kawah, ada Puncak Sumbing, berkarakteristik tebing batu yang semakin manambah keindahan di kawasan tersebut.

Ada yang menyarankan kepada saya, agar pergi ke lokasi itu sebelum matahari terbit (sunrise). Saat sunrise, biasanya ada penampakan kombinasi warna biru dan oranye di atas awan. Saya penasaran. Suatu ketika akan saya buktikan.

Di areal Gunung Kelud, selain kawahnya yang indah, sebenarnya ada beberapa spot eksotik lainnya yang bisa dijual kepada para wisatawan. Yakni pemandangan alam di kanan-kiri jalan menuju ke kawah Kelud. Jalan menuju ke kawah Kelud memang kecil. Hanya bisa dilalui motor ojek. Pengunjung yang ingin ke kawah Kelud harus naik ojek yang disediakan di sana. Nah, selama perjalanan dengan ojek itulah, pengunjung bisa menyaksikan pemandangan alam yang indah di kanan-kirinya. Perpaduan antara rimbunnya pepohonan dan deretan perbukitan nan hijau. Mirip bukit Teletubbies.

Baca Juga :  10 Hari Beroperasi di Jalan, INCAR Berhasil Potret 992 Pelanggar Lalin

Di kawasan Gunung Kelud, juga ada spot yang menurut saya sangat unik dan menarik. Yakni, adanya medan magnet yang sangat kuat. Kalau di Arab Saudi, saat kita umrah atau haji, kita pernah diajak ke “Jabbal Magnet”. Yakni sebuah kawasan pegunungan yang mengandung daya magnet cukup tinggi. Sehingga, ketika mobil dinetralkan giginya, bahkan dimatikan mesinnya, mobil itu bisa menanjak sendiri. Ternyata di kawasan Gunung Kelud ada yang seperti di “Jabbal Magnet”. Saya menyaksikan dan merasakan sendiri. Mobil yang saya kendarai dinolkan giginya. Dan, mobil itu pun bergerak menanjak dengan sendirinya. Ini keren.

Sayangnya, atraksi natural ini belum dimaksimalkan. Ibarat perempuan, dandannya belum all out. Masih pakai make-up apa adanya.

Atraksi budaya di kawasan Kelud juga belum termanfaatkan. Lebih tepatnya belum tergali maksimal. Apalagi atraksi buatan. Malah belum terlihat sama sekali. Dulu, katanya pernah ada flying fox di sana. Jadi, dari sisi “attraction”, jika 100 nilai tertinggi, saya beri nilai 30.

Dari sisi “accessibility”, kawasan Gunung Kelud menurut saya sudah oke. Not bad-lah. Lumayan. Kata kunci “accessibility”  adalah “transportasi”. Lokasi Gunung Kelud dari pusat kota, tak begitu jauh. Jalannya pun tak ada kendala. Relatif lancar dan aspalnya mulus. Jika boleh usul, akan lebih baik, jika Pemkab Kediri menyediakan transportasi publik. Bisa bus mini, bus besar, atau jenis kendaraan lain yang disediakan bagi para wisatawan yang akan menuju ke Gunung Kelud. Dan transportasi publik itu harus tersedia mulai pagi hingga sore. Kelak, jika bandara di Kediri sudah beroperasi, maka harus ada transportasi publik dari bandara ke Gunung Kelud. Untuk sisi “accessibility”, saya beri nilai 70.

Baca Juga :  Aset (Daerah) Mangkrak

Komponen ketiga adalah “amenity”.  Ini adalah segala macam sarana dan prasarana yang diperlukan oleh wisatawan selama berada di daerah tujuan wisata. Misalnya penginapan, rumah makan, toilet, gedung pertunjukan, dan lain-lain. Dari sisi ini, di kawasan Gunung Kelud, masih terkesan apa adanya. Belum ada fasilitas yang “wow” sebagai penunjang wisata. Di sana ada penginapan, tapi katanya masih sangat terbatas jumlah kamarnya. Maka, dari sisi ini, saya beri nilai 30.

Yang terakhir adalah “ancilliary”.  Ini adalah pelayanan tambahan yang seharusnya disediakan oleh pihak Pemkab Kediri kepada para wisatawan. Misalnya, pemasaran dan pembangunan fisik (jalan raya, air minum, listrik, telepon, dan lain-lain). Ancilliary juga merupakan hal-hal yang mendukung sebuah kepariwisataan. Seperti lembaga pengelolaan, tourist information, travel agent, dan pengorganisasian stakeholder yang berperan dalam pengembangan kepariwisataan.

Di kawasan Gunung Kelud, memang sudah terhubung jalan yang relatif bagus. Tapi, untuk sambungan telepon, listrik maupun internet, saya kurang tahu persis. Tapi, rasanya masih sangat terbatas. Tourist information tentang Kelud, setahu saya juga masih belum memadai. Buktinya, brosur tentang destinasi wisata di Gunung Kelud, tidak mudah saya dapatkan di hotel-hotel yang ada di Kediri.  Maka, dari sisi “ancilliary”, saya beri nilai 50.

Jadi, nilai rata-rata untuk mengukur pengembangan potensi wisata di kawasan Gunung Kelud, dengan menggunakan rumus “4A”-nya Cooper (menurut saya) adalah 45. Belum ada separuhnya (dari nilai maksimal 100). Artinya, masih sangat sangat sangat bisa untuk dikembangkan. Dalam hal ini, sangat tergantung kepala daerahnya. Seberapa tinggi punya mimpi?  Seberapa bagus punya visi? Dan seberapa keren punya taste? Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

- Advertisement -

Sungguh sayang seribu sayang, jika potensi keindahan alam di Gunung Kelud, belum dimanfaatkan secara maksimal oleh Pemkab Kediri untuk meningkatkan potensi ekonomi di sektor pariwisata. Saya melihat, pengembangan potensi wisata di kawasan Gunung Kelud masih terkesan apa adanya. Jika skala potensi yang bisa dikembangkan tertinggi 100 persen, mungkin saat ini belum ada 50 persennya.

Mari kita bedah potensi itu dengan rumus “4A”-nya Cooper. Dia mengemukakan, terdapat 4 komponen yang harus dimiliki oleh sebuah objek wisata: attraction, accessibility, amenity, dan ancilliary.  Dengan kata lain, sebuah objek wisata akan 100 persen termanfaatkan potensinya jika “4A” itu dipenuhi.

Bagaimana dengan potensi wisata di kawasan Gunung Kelud? Kita mulai dari “attraction”. Sebuah kawasan dapat menjadi tujuan wisata, jika kondisinya mendukung untuk dikembangkan menjadi sebuah atraksi wisata. Ada tiga atraksi yang bisa dikembangkan di sebuat destinasi wisata. Pertama, atraksi natural (bersumber pada keindahan alam). Kedua, atraksi budaya (bersumber pada kearifan lokal atau kekhasan adat-istiadat). Dan ketiga, atraksi buatan manusia.

Di kawasan Gunung Kelud, yang sangat bagus adalah atraksi naturalnya. Top destinasi di Gunung Kelud adalah kawahnya. Konon, air di dalam kawah itu bisa berubah-ubah warnanya. Sangat indah pemandangan kawah Gunung Kelud itu.  Hawa di sana pun masih sangat sejuk.  Apalagi, tak jauh dari lokasi kawah, ada Puncak Sumbing, berkarakteristik tebing batu yang semakin manambah keindahan di kawasan tersebut.

Ada yang menyarankan kepada saya, agar pergi ke lokasi itu sebelum matahari terbit (sunrise). Saat sunrise, biasanya ada penampakan kombinasi warna biru dan oranye di atas awan. Saya penasaran. Suatu ketika akan saya buktikan.

Di areal Gunung Kelud, selain kawahnya yang indah, sebenarnya ada beberapa spot eksotik lainnya yang bisa dijual kepada para wisatawan. Yakni pemandangan alam di kanan-kiri jalan menuju ke kawah Kelud. Jalan menuju ke kawah Kelud memang kecil. Hanya bisa dilalui motor ojek. Pengunjung yang ingin ke kawah Kelud harus naik ojek yang disediakan di sana. Nah, selama perjalanan dengan ojek itulah, pengunjung bisa menyaksikan pemandangan alam yang indah di kanan-kirinya. Perpaduan antara rimbunnya pepohonan dan deretan perbukitan nan hijau. Mirip bukit Teletubbies.

Baca Juga :  Arung Kuno di Kecamatan Kepung Ini Punya Banyak Fungsi

Di kawasan Gunung Kelud, juga ada spot yang menurut saya sangat unik dan menarik. Yakni, adanya medan magnet yang sangat kuat. Kalau di Arab Saudi, saat kita umrah atau haji, kita pernah diajak ke “Jabbal Magnet”. Yakni sebuah kawasan pegunungan yang mengandung daya magnet cukup tinggi. Sehingga, ketika mobil dinetralkan giginya, bahkan dimatikan mesinnya, mobil itu bisa menanjak sendiri. Ternyata di kawasan Gunung Kelud ada yang seperti di “Jabbal Magnet”. Saya menyaksikan dan merasakan sendiri. Mobil yang saya kendarai dinolkan giginya. Dan, mobil itu pun bergerak menanjak dengan sendirinya. Ini keren.

Sayangnya, atraksi natural ini belum dimaksimalkan. Ibarat perempuan, dandannya belum all out. Masih pakai make-up apa adanya.

Atraksi budaya di kawasan Kelud juga belum termanfaatkan. Lebih tepatnya belum tergali maksimal. Apalagi atraksi buatan. Malah belum terlihat sama sekali. Dulu, katanya pernah ada flying fox di sana. Jadi, dari sisi “attraction”, jika 100 nilai tertinggi, saya beri nilai 30.

Dari sisi “accessibility”, kawasan Gunung Kelud menurut saya sudah oke. Not bad-lah. Lumayan. Kata kunci “accessibility”  adalah “transportasi”. Lokasi Gunung Kelud dari pusat kota, tak begitu jauh. Jalannya pun tak ada kendala. Relatif lancar dan aspalnya mulus. Jika boleh usul, akan lebih baik, jika Pemkab Kediri menyediakan transportasi publik. Bisa bus mini, bus besar, atau jenis kendaraan lain yang disediakan bagi para wisatawan yang akan menuju ke Gunung Kelud. Dan transportasi publik itu harus tersedia mulai pagi hingga sore. Kelak, jika bandara di Kediri sudah beroperasi, maka harus ada transportasi publik dari bandara ke Gunung Kelud. Untuk sisi “accessibility”, saya beri nilai 70.

Baca Juga :  Minta Jatah Dapatnya Serapah

Komponen ketiga adalah “amenity”.  Ini adalah segala macam sarana dan prasarana yang diperlukan oleh wisatawan selama berada di daerah tujuan wisata. Misalnya penginapan, rumah makan, toilet, gedung pertunjukan, dan lain-lain. Dari sisi ini, di kawasan Gunung Kelud, masih terkesan apa adanya. Belum ada fasilitas yang “wow” sebagai penunjang wisata. Di sana ada penginapan, tapi katanya masih sangat terbatas jumlah kamarnya. Maka, dari sisi ini, saya beri nilai 30.

Yang terakhir adalah “ancilliary”.  Ini adalah pelayanan tambahan yang seharusnya disediakan oleh pihak Pemkab Kediri kepada para wisatawan. Misalnya, pemasaran dan pembangunan fisik (jalan raya, air minum, listrik, telepon, dan lain-lain). Ancilliary juga merupakan hal-hal yang mendukung sebuah kepariwisataan. Seperti lembaga pengelolaan, tourist information, travel agent, dan pengorganisasian stakeholder yang berperan dalam pengembangan kepariwisataan.

Di kawasan Gunung Kelud, memang sudah terhubung jalan yang relatif bagus. Tapi, untuk sambungan telepon, listrik maupun internet, saya kurang tahu persis. Tapi, rasanya masih sangat terbatas. Tourist information tentang Kelud, setahu saya juga masih belum memadai. Buktinya, brosur tentang destinasi wisata di Gunung Kelud, tidak mudah saya dapatkan di hotel-hotel yang ada di Kediri.  Maka, dari sisi “ancilliary”, saya beri nilai 50.

Jadi, nilai rata-rata untuk mengukur pengembangan potensi wisata di kawasan Gunung Kelud, dengan menggunakan rumus “4A”-nya Cooper (menurut saya) adalah 45. Belum ada separuhnya (dari nilai maksimal 100). Artinya, masih sangat sangat sangat bisa untuk dikembangkan. Dalam hal ini, sangat tergantung kepala daerahnya. Seberapa tinggi punya mimpi?  Seberapa bagus punya visi? Dan seberapa keren punya taste? Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Artikel Terkait

Syekh Wasil

Kota Kediri, 1.143 Tahun

(Kecerdasan) Syahwat

Oh….Stasiun Kediri

Most Read


Artikel Terbaru

/