28.2 C
Kediri
Saturday, January 28, 2023

Dewata Keling

- Advertisement -

“Dewata Keling” adalah akronim dari “Desa Wisata Keling”. Lokasinya di Desa Keling, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri. Dari sisi potensi wisata, Dewata Keling nilainya mungkin 85 (interval nilai 60 – 90). Tapi, dari sisi eksisting saat ini (keberadaannya saat ini) sebagai desa wisata, mungkin nilai daya tariknya antara 60-70. Artinya, desa wisata ini sesungguhnya punya daya tarik yang sangat kuat, jika dikembangkan lagi, dipermak lagi, diberdayakan lagi, dan dilengkapi lagi berbagai sarana dan prasarananya.

Daya tarik “Dewata Keling” adalah Gua Jegles. Harusnya, dibikin narasi yang lengkap dan menarik tentang Gua Jegles ini. Cari sebanyak-banyaknya literatur atau cerita seputar Gua Jegles. Cerita berbau “konon” tidak jadi soal. Yang penting, cerita itu ada sumbernya, dari mulut ke mulut. Narasi atau cerita yang menempel pada objek wisata alam, apalagi diceritakan dengan gaya bertutur yang serius dan ekspresif, akan menjadi daya tarik tersendiri.

Saya pernah ke sebuah objek wisata di Korea Selatan. Ternyata, di sana saya hanya melihat sekumpulan bebatuan di pegunungan. Biasa saja pemandangannya.  Tapi, kami semua dibikin terpukau oleh cerita dari si tour guide yang membawa kami. Dia bercerita dengan sangat ekspresif, seakan-akan ceritanya itu benar. Dia bercerita tentang kekeramatan dari bebatuan itu. Katanya, bebatuan itu dipercaya turun dari langit. Karena itu, oleh masyarakat setempat dianggap suci dan bertuah. Jika punya harapan, dan harapan itu disampaikan di dekat bebatuan itu, harapannya akan dikabulkan.

Nah, saya membayangkan, ada narasi yang lengkap tentang Goa Jegles. Lalu, narasi itu harus ada yang menceritakan kepada para pengunjung. Cari orang yang pinter bercerita. Sehingga, orang tertarik dengan ceritanya.

Misalnya, dibikin narasi, bahwa Gua Jegles adalah satu-satunya gua di Kediri, yang terdapat di kedalaman perut bumi. Dari berbagai informasi yang saya himpun tentang Gua Jegles dan Desa Keling, ada beberapa keterangan yang menurut saya bisa dijadikan bahan untuk bikin narasi tentang Gua Jegles.

- Advertisement -

Disebutkan, bahwa Gua Jegles adalah situs peninggalan peradaban dari Kerajaan Kalingga. Ini adalah salah satu kerajaan tertua di Nusantara yang eksis pada abad ke-6 Masehi. Ada beberapa prasasti yang mendasari keberadaan Kerajaan Kalingga. Di antaranya Prasasti Tuk Mas, Sojomerto, Candi Angin, dan Candi Bubrah.

Struktur Goa Jegles yang terdapat di dalam perut bumi, lalu ada semacam terowongan dengan kanan-kiri adalah bebatuan, dan di dalamnya terdapat sumber mata air dan sungai,  diyakini dulunya adalah saluran air bawah tanah di masa Kerajaan Kalingga.

Bagaimana jejak peradaban Kerajaan Kalingga bisa ada di Desa Keling, Kediri? Bukankah Kerajaan Kalingga disebutkan dalam sejarah berpusat di Jawa Tengah?

Baca Juga :  Kota Kediri Terapkan WFO 25 Persen di SMA/SMK

Salah satu raja yang memerintah Kalingga dan membawa kejayaan Kalingga adalah Ratu Shima (674 – 695 M). Ratu Shima punya suami bernama Kartikeyasingha, yang berasal dari kawasan yang saat ini bernama Desa Keling, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri. Kala itu, menurut salah satu versi sejarah, pusat Kerajaan Kalingga ada di dua tempat. Di Desa Keling, Kepung, Kabupaten Kediri (Kalingga Selatan), dan di Jepara, Jawa Tengah (Kalingga Utara).

Versi sejarah yang lain menyebutkan, bahwa Kartikeyasingha pernah mengucapkan kutukannya, dan jika diterjemahkan secara bebas, kutukannya adalah: “Barang siapa kepala negara yang tidak suci benar masuk wilayah Kediri, maka dia akan jatuh”.

Dan konon, gara-gara ada kutukan ini, para presiden di Indonesia tidak ada yang berani datang ke Kediri. Dari sejumlah presiden Indonesia, yang berani datang ke Kediri hanya Soekarno dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Dan keduanya sama-sama dijatuhkan. Apakah kejatuhan dua presiden itu karena imbas dari kutukan Kartikeyasingha? Sekali lagi, ini adalah cerita berbau “konon” yang boleh dipercaya, boleh tidak.

Dan cerita seperti ini, jika diceritakan kepada pengunjung, apalagi yang bukan berasal dari Kediri, bisa sangat menarik. Karena memang faktanya, hingga kini, hanya ada dua presiden (Bung Karno dan Gus Dur) yang pernah datang ke Kediri selama republik ini berdiri.

Jadi, Gua Jegles dan Desa Keling, ternyata punya kisah sejarah yang menarik. Dalam memasarkan Goa Jegles sebagai destinasi wisata, ibarat masakan, menurut saya perlu juga ada “bumbu”-nya. Dengan struktur goa seperti itu, di mana terdapat sungai di dalamnya plus ada juga sumber mata airnya, Gua Jegles bisa dibumbui dengan sebutan “Mini Grand Canyon”. Mengacu pada Grand Canyon yang terdapat di Amerika Serikat. Barangkali, dengan sebutan ini, akan bisa menambah daya tarik dalam mempromosikan Goa Jegles.

Jika ada beberapa hal yang harus dibenahi, disempurnakan dan dibangun  di Dewata Keling adalah akses jalan, parkir kendaraan, serta berbagai fasilitas yang terkait dengan kenyamanan pengunjung. Seperti toilet, tempat beribadah, dan resto atau tempat kuliner.

Akses jalan menuju ke Dewata Keling menurut saya harus dilebarkan, agar dua kendaraan yang masuk dan keluar bisa bersimpangan. Atau, bisa juga dengan bikin jalan satu lagi sebagai akses keluar. Sehingga, jalan masuk dan jalan keluar dibikin berbeda. Areal parkir harus dibikin khusus yang lebih luas dan lebih tertata.

Sarana untuk mandi atau bilas, dan toilet harus dibenahi dan ditambah jumlahnya. Apalagi, di Dewata Keling ada satu atraksi wisata berbasah-basah dengan air, yakni wisata adrenalin “River Tubing”, menyusuri aliran sungai sepanjang kira-kira 2,5 kilo meter.

Baca Juga :  Keluar dari Kerja Hotel, Endro Cahyono Tekuni Seni Lukis Realis

Ketika ke Dewata Keling dua minggu lalu, kami sempat makan siang di sana dengan menu khas desa. Nasi empok, dengan lauk ikan teri dan wader, serta udang kali, lalu ada aneka kulupan (sayuran). Rasanya sedap dan maknyuss. Minumnya adalah es dawet, yang ditempatkan di bejana yang terbuat dari tanah liat. Sangat khas dan unik. Rasa dawetnya juga berbeda dengan dawet-dawet lainnya.

Saya membayangkan, alangkah nikmatnya jika hidangan itu disiapkan di resto yang tempatnya nyaman. Ini yang menurut saya belum ada di Dewata Keling. Dan ini harus dibikin. Yakni deretan resto atau warung tradisional dengan hidangan-hidangan, lauk-pauk dan aneka kue  khas desa.

Pengelola Dewata Keling juga bikin paket wisata menginap dua hari satu malam di desa itu. Selama menginap, para tamu akan diajak berkeliling ke tempat-tempat bersejarah. Selain Goa Jegles, juga ada Masjid Ringinagung, yang berusia lebih dari satu abad. Masjid tersebut merupakan bangunan bersejarah yang dibangun oleh laskar Pangeran Diponegoro.

Yang menarik, sampai saat ini di sekeliling masjid itu masih ada puluhan pohon sawo kecik. Ini juga pohon bersejarah, yang kala itu menjadi penanda dari keberadaan masjid. Munculnya simbol pohon sawo kecik ini menjadi penanda perubahan taktik peperangan Prajurit Diponegoro usai kekalahan di Perang Jawa. Perubahannya adalah dari taktik peperangan beralih ke pendidikan. Tokohnya yang mengajarkan pendidikan sekaligus menyebarkan Islam di Desa Keling adalah Kiai Imam Nawawi.

Selama bermalam di Desa Keling, para tamu juga akan diajari bikin kue tradisional, diajari pertanian dan bikin kerajinan tangan, juga diajari tari tradisional. Destinasi wisata seperti ini yang termasuk disukai para turis asing.

Twitter pernah melakukan riset tentang perilaku para penggunanya dalam berwisata. Pada riset itu disebutkan, Indonesia termasuk dalam 10 negara yang paling sering dikunjungi para turis asing pengguna twitter dari Asia Pasifik. Lebih dari 27 persen wisatawan mencari tempat tujuan dengan peninggalan sejarah dan warisan budaya.

Nah, ini bisa menjadi peluang besar bagi Dewata Keling untuk lebih dikenal secara luas, wabil khusus oleh para turis asing.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram “Radar Kediri”. Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

- Advertisement -

“Dewata Keling” adalah akronim dari “Desa Wisata Keling”. Lokasinya di Desa Keling, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri. Dari sisi potensi wisata, Dewata Keling nilainya mungkin 85 (interval nilai 60 – 90). Tapi, dari sisi eksisting saat ini (keberadaannya saat ini) sebagai desa wisata, mungkin nilai daya tariknya antara 60-70. Artinya, desa wisata ini sesungguhnya punya daya tarik yang sangat kuat, jika dikembangkan lagi, dipermak lagi, diberdayakan lagi, dan dilengkapi lagi berbagai sarana dan prasarananya.

Daya tarik “Dewata Keling” adalah Gua Jegles. Harusnya, dibikin narasi yang lengkap dan menarik tentang Gua Jegles ini. Cari sebanyak-banyaknya literatur atau cerita seputar Gua Jegles. Cerita berbau “konon” tidak jadi soal. Yang penting, cerita itu ada sumbernya, dari mulut ke mulut. Narasi atau cerita yang menempel pada objek wisata alam, apalagi diceritakan dengan gaya bertutur yang serius dan ekspresif, akan menjadi daya tarik tersendiri.

Saya pernah ke sebuah objek wisata di Korea Selatan. Ternyata, di sana saya hanya melihat sekumpulan bebatuan di pegunungan. Biasa saja pemandangannya.  Tapi, kami semua dibikin terpukau oleh cerita dari si tour guide yang membawa kami. Dia bercerita dengan sangat ekspresif, seakan-akan ceritanya itu benar. Dia bercerita tentang kekeramatan dari bebatuan itu. Katanya, bebatuan itu dipercaya turun dari langit. Karena itu, oleh masyarakat setempat dianggap suci dan bertuah. Jika punya harapan, dan harapan itu disampaikan di dekat bebatuan itu, harapannya akan dikabulkan.

Nah, saya membayangkan, ada narasi yang lengkap tentang Goa Jegles. Lalu, narasi itu harus ada yang menceritakan kepada para pengunjung. Cari orang yang pinter bercerita. Sehingga, orang tertarik dengan ceritanya.

Misalnya, dibikin narasi, bahwa Gua Jegles adalah satu-satunya gua di Kediri, yang terdapat di kedalaman perut bumi. Dari berbagai informasi yang saya himpun tentang Gua Jegles dan Desa Keling, ada beberapa keterangan yang menurut saya bisa dijadikan bahan untuk bikin narasi tentang Gua Jegles.

Disebutkan, bahwa Gua Jegles adalah situs peninggalan peradaban dari Kerajaan Kalingga. Ini adalah salah satu kerajaan tertua di Nusantara yang eksis pada abad ke-6 Masehi. Ada beberapa prasasti yang mendasari keberadaan Kerajaan Kalingga. Di antaranya Prasasti Tuk Mas, Sojomerto, Candi Angin, dan Candi Bubrah.

Struktur Goa Jegles yang terdapat di dalam perut bumi, lalu ada semacam terowongan dengan kanan-kiri adalah bebatuan, dan di dalamnya terdapat sumber mata air dan sungai,  diyakini dulunya adalah saluran air bawah tanah di masa Kerajaan Kalingga.

Bagaimana jejak peradaban Kerajaan Kalingga bisa ada di Desa Keling, Kediri? Bukankah Kerajaan Kalingga disebutkan dalam sejarah berpusat di Jawa Tengah?

Baca Juga :  Marketing Langit ala Abah Syamsul

Salah satu raja yang memerintah Kalingga dan membawa kejayaan Kalingga adalah Ratu Shima (674 – 695 M). Ratu Shima punya suami bernama Kartikeyasingha, yang berasal dari kawasan yang saat ini bernama Desa Keling, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri. Kala itu, menurut salah satu versi sejarah, pusat Kerajaan Kalingga ada di dua tempat. Di Desa Keling, Kepung, Kabupaten Kediri (Kalingga Selatan), dan di Jepara, Jawa Tengah (Kalingga Utara).

Versi sejarah yang lain menyebutkan, bahwa Kartikeyasingha pernah mengucapkan kutukannya, dan jika diterjemahkan secara bebas, kutukannya adalah: “Barang siapa kepala negara yang tidak suci benar masuk wilayah Kediri, maka dia akan jatuh”.

Dan konon, gara-gara ada kutukan ini, para presiden di Indonesia tidak ada yang berani datang ke Kediri. Dari sejumlah presiden Indonesia, yang berani datang ke Kediri hanya Soekarno dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Dan keduanya sama-sama dijatuhkan. Apakah kejatuhan dua presiden itu karena imbas dari kutukan Kartikeyasingha? Sekali lagi, ini adalah cerita berbau “konon” yang boleh dipercaya, boleh tidak.

Dan cerita seperti ini, jika diceritakan kepada pengunjung, apalagi yang bukan berasal dari Kediri, bisa sangat menarik. Karena memang faktanya, hingga kini, hanya ada dua presiden (Bung Karno dan Gus Dur) yang pernah datang ke Kediri selama republik ini berdiri.

Jadi, Gua Jegles dan Desa Keling, ternyata punya kisah sejarah yang menarik. Dalam memasarkan Goa Jegles sebagai destinasi wisata, ibarat masakan, menurut saya perlu juga ada “bumbu”-nya. Dengan struktur goa seperti itu, di mana terdapat sungai di dalamnya plus ada juga sumber mata airnya, Gua Jegles bisa dibumbui dengan sebutan “Mini Grand Canyon”. Mengacu pada Grand Canyon yang terdapat di Amerika Serikat. Barangkali, dengan sebutan ini, akan bisa menambah daya tarik dalam mempromosikan Goa Jegles.

Jika ada beberapa hal yang harus dibenahi, disempurnakan dan dibangun  di Dewata Keling adalah akses jalan, parkir kendaraan, serta berbagai fasilitas yang terkait dengan kenyamanan pengunjung. Seperti toilet, tempat beribadah, dan resto atau tempat kuliner.

Akses jalan menuju ke Dewata Keling menurut saya harus dilebarkan, agar dua kendaraan yang masuk dan keluar bisa bersimpangan. Atau, bisa juga dengan bikin jalan satu lagi sebagai akses keluar. Sehingga, jalan masuk dan jalan keluar dibikin berbeda. Areal parkir harus dibikin khusus yang lebih luas dan lebih tertata.

Sarana untuk mandi atau bilas, dan toilet harus dibenahi dan ditambah jumlahnya. Apalagi, di Dewata Keling ada satu atraksi wisata berbasah-basah dengan air, yakni wisata adrenalin “River Tubing”, menyusuri aliran sungai sepanjang kira-kira 2,5 kilo meter.

Baca Juga :  Warga Ngampel menangkan Undian Doorprize Sepeda 17-an Virtual

Ketika ke Dewata Keling dua minggu lalu, kami sempat makan siang di sana dengan menu khas desa. Nasi empok, dengan lauk ikan teri dan wader, serta udang kali, lalu ada aneka kulupan (sayuran). Rasanya sedap dan maknyuss. Minumnya adalah es dawet, yang ditempatkan di bejana yang terbuat dari tanah liat. Sangat khas dan unik. Rasa dawetnya juga berbeda dengan dawet-dawet lainnya.

Saya membayangkan, alangkah nikmatnya jika hidangan itu disiapkan di resto yang tempatnya nyaman. Ini yang menurut saya belum ada di Dewata Keling. Dan ini harus dibikin. Yakni deretan resto atau warung tradisional dengan hidangan-hidangan, lauk-pauk dan aneka kue  khas desa.

Pengelola Dewata Keling juga bikin paket wisata menginap dua hari satu malam di desa itu. Selama menginap, para tamu akan diajak berkeliling ke tempat-tempat bersejarah. Selain Goa Jegles, juga ada Masjid Ringinagung, yang berusia lebih dari satu abad. Masjid tersebut merupakan bangunan bersejarah yang dibangun oleh laskar Pangeran Diponegoro.

Yang menarik, sampai saat ini di sekeliling masjid itu masih ada puluhan pohon sawo kecik. Ini juga pohon bersejarah, yang kala itu menjadi penanda dari keberadaan masjid. Munculnya simbol pohon sawo kecik ini menjadi penanda perubahan taktik peperangan Prajurit Diponegoro usai kekalahan di Perang Jawa. Perubahannya adalah dari taktik peperangan beralih ke pendidikan. Tokohnya yang mengajarkan pendidikan sekaligus menyebarkan Islam di Desa Keling adalah Kiai Imam Nawawi.

Selama bermalam di Desa Keling, para tamu juga akan diajari bikin kue tradisional, diajari pertanian dan bikin kerajinan tangan, juga diajari tari tradisional. Destinasi wisata seperti ini yang termasuk disukai para turis asing.

Twitter pernah melakukan riset tentang perilaku para penggunanya dalam berwisata. Pada riset itu disebutkan, Indonesia termasuk dalam 10 negara yang paling sering dikunjungi para turis asing pengguna twitter dari Asia Pasifik. Lebih dari 27 persen wisatawan mencari tempat tujuan dengan peninggalan sejarah dan warisan budaya.

Nah, ini bisa menjadi peluang besar bagi Dewata Keling untuk lebih dikenal secara luas, wabil khusus oleh para turis asing.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram “Radar Kediri”. Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Artikel Terkait

Taman

2023 Outlook

Bandara Kediri dan Kotak Pandora

Nanas PK-1

Most Read


Artikel Terbaru

/