29 C
Kediri
Saturday, December 3, 2022

Koperasi Masih Mulia?

- Advertisement -

Koran ini dalam beberapa hari memberitakan tentang puluhan orang, nasabah dari Koperasi Sejahtera Bersama (KSB), yang menggeruduk kantor koperasi itu di Jl Letjen S. Parman Kota Kediri. Mereka menuntut uang tabungan para nasabah KSB yang tidak bisa dicairkan alias macet sejak 2021.  Jumlahnya mencapai sekitar Rp 20 miliar.

Para nasabah tersebut tertarik menjadi anggota KSB dan mau menyimpan uangnya di koperasi itu, karena adanya iming-iming imbal jasa atau bunga tinggi. Yakni KSB memberikan bunga mencapai 12 persen per tahun. Persentase ini jauh lebih tinggi ketimbang menyimpan uang di bank dalam bentuk deposito.

Tentu saja banyak yang tergiur dengan iming-iming bunga yang tergolong tinggi itu. Apalagi, yang menghimpun dana tersebut “berbendera” koperasi. Dan KSB adalah salah satu koperasi simpan pinjam yang punya sejumlah kantor cabang di kota-kota di Pulau Jawa. Jadi, kesannya cukup mentereng dan bonafide.

Sebetulnya, sah-sah saja jika para nasabah menyimpan uangnya di koperasi. Dan sah-sah saja jika koperasi menghimpun uang simpanan para anggotanya.  Hanya saja, ketika pihak koperasi memberikan janji bunga yang cukup tinggi, jauh melampaui bunga yang dipatok bank konvensional, maka untuk yang seperti ini (sebetulnya) patut diwaspadai dan harus berhati-hati.

Setidaknya ada dua hal yang membuat kita harus hati-hati. Pertama, dengan cara apa, dan dengan usaha yang seperti apa, sehingga koperasi berani memberikan imbal jasa atau bunga yang cukup tinggi atas uang simpanan nasabahnya?

- Advertisement -

Kedua, simpanan uang yang ada di koperasi tidak dijamin oleh LPS (Lembaga Penjamin Simpanan). Karena koperasi bukan merupakan peserta penjaminan LPS. Sehingga, simpanan masyarakat di koperasi, tidak termasuk dalam program penjaminan LPS.

Baca Juga :  Lukis Bung Karno Muda selama 13 Jam

Makanya, ketika ada kasus koperasi yang menyeleweng atau bermasalah seperti yang terjadi pada KSB yang tidak mampu mengembalikan simpanan uang nasabahnya, LPS tidak akan turun tangan. Ini yang banyak tak dipahami oleh masyarakat. Mereka sudah langsung tergiur dengan iming-iming imbal balik alias bunga yang tinggi. Apalagi yang menawari itu adalah koperasi, yang oleh sebagian besar masyarakat masih dianggap baik.

Kasus koperasi yang menyeleweng, selain KSB, sebelumnya juga terjadi pada Koperasi Simpan Pinjam Indosurya. Sama dengan KSB, Koperasi Indosurya ini juga dilaporkan oleh para anggota atau nasabahnya karena tak mampu mengembalikan uang simpanan para nasabahnya, plus janji imbal balik (bunga).

Dalam praktiknya menghimpun simpanan para anggota atau nasabahnya, Indosurya menjanjikan imbal balik (bunga) tinggi. Yakni antara 9 – 12 persen per tahun. Akibat jurus ini, cukup banyak orang yang tergiur.

Seiring berjalannya waktu, Indosurya mulai menunjukkan ketidakberesannya. Pengelola koperasi itu, mulai tidak disiplin menjalankan ketentuan perkoperasian. Misalnya, tidak mengadakan RAT (Rapat Anggota Tahunan). Padahal, RAT adalah forum tertinggi di koperasi untuk meminta pertanggungjawaban terhadap para pengurus dan pengelola koperasi.

Hingga akhirnya, meledaklah kasus tersebut. Ketika  Koperasi Indosurya tak mampu mengembalikan simpanan uang para nasabahnya, plus bunganya.  Maka, para nasabah itu pun membawa kasus ini ke polisi.

Jika KSB di Kota Kediri, uang nasabah yang tak bisa dikembalikan mencapai Rp 20 miliar. Koperasi Indosurya lebih banyak lagi, yakni mencapai Rp 106 triliun.

Baca Juga :  Hari Ini Pastikan Penlok Jembatan Mrican

Jumlah ini didapat berdasarkan Hasil Laporan Analisis (HLA) yang dilakukan PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan) dari uang yang dikumpulkan KSP Indosurya dari sedikitnya 23 ribu nasabahnya. Saat ini, kasus Koperasi Indosurya sudah disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Barat.

Belajar dari kasus ini, kita harus lebih berhati-hati dengan berbagai modus menawarkan bunga tinggi atas uang yang disimpan, meskipun hal itu ditawarkan oleh koperasi. Dengan kata lain, kita patut curiga, jika ada koperasi yang berani memberikan bunga tinggi atas uang yang disimpan di koperasi tersebut.

Sebab, sejatinya, koperasi bukanlah bank.  Antara koperasi dan bank, sangat berbeda. Berbeda fungsi dan tujuannya, berbeda pula asas-nya. Fungsi dan tujuan koperasi, apa pun jenis koperasinya, adalah menyejahterakan anggotanya sesuai dengan prinsip ekonomi kerakyatan. Dan ini sebagaimana diatur dalam Pasal 3 dan 4 Undang-Undang Perkoperasian.

Sedangkan asas koperasi adalah kekeluargaan, di mana kepemilikan dan pengelolaannya banyak dilakukan oleh anggotanya sendiri. Itulah sebabnya, pengelolaan koperasi harus dilakukan dengan asas kekeluargaan dan musyawarah untuk mufakat.

Jadi, koperasi itu sejatinya adalah entitas yang mulia.  Yang ujung-ujungnya adalah menyejahterakan para anggotanya. Sayangnya, kemuliaaan koperasi belakangan ini sering dikotori oleh oknum para pengelolanya yang kalap dan serakah. Sehingga, membuat para anggota koperasi bukannya sejahtera, tapi malah sengsara. Seperti pada kasus KSB dan Indosurya. Semoga ini bisa menjadi pelajaran berharga. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

- Advertisement -

Koran ini dalam beberapa hari memberitakan tentang puluhan orang, nasabah dari Koperasi Sejahtera Bersama (KSB), yang menggeruduk kantor koperasi itu di Jl Letjen S. Parman Kota Kediri. Mereka menuntut uang tabungan para nasabah KSB yang tidak bisa dicairkan alias macet sejak 2021.  Jumlahnya mencapai sekitar Rp 20 miliar.

Para nasabah tersebut tertarik menjadi anggota KSB dan mau menyimpan uangnya di koperasi itu, karena adanya iming-iming imbal jasa atau bunga tinggi. Yakni KSB memberikan bunga mencapai 12 persen per tahun. Persentase ini jauh lebih tinggi ketimbang menyimpan uang di bank dalam bentuk deposito.

Tentu saja banyak yang tergiur dengan iming-iming bunga yang tergolong tinggi itu. Apalagi, yang menghimpun dana tersebut “berbendera” koperasi. Dan KSB adalah salah satu koperasi simpan pinjam yang punya sejumlah kantor cabang di kota-kota di Pulau Jawa. Jadi, kesannya cukup mentereng dan bonafide.

Sebetulnya, sah-sah saja jika para nasabah menyimpan uangnya di koperasi. Dan sah-sah saja jika koperasi menghimpun uang simpanan para anggotanya.  Hanya saja, ketika pihak koperasi memberikan janji bunga yang cukup tinggi, jauh melampaui bunga yang dipatok bank konvensional, maka untuk yang seperti ini (sebetulnya) patut diwaspadai dan harus berhati-hati.

Setidaknya ada dua hal yang membuat kita harus hati-hati. Pertama, dengan cara apa, dan dengan usaha yang seperti apa, sehingga koperasi berani memberikan imbal jasa atau bunga yang cukup tinggi atas uang simpanan nasabahnya?

Kedua, simpanan uang yang ada di koperasi tidak dijamin oleh LPS (Lembaga Penjamin Simpanan). Karena koperasi bukan merupakan peserta penjaminan LPS. Sehingga, simpanan masyarakat di koperasi, tidak termasuk dalam program penjaminan LPS.

Baca Juga :  (Kecerdasan) Syahwat

Makanya, ketika ada kasus koperasi yang menyeleweng atau bermasalah seperti yang terjadi pada KSB yang tidak mampu mengembalikan simpanan uang nasabahnya, LPS tidak akan turun tangan. Ini yang banyak tak dipahami oleh masyarakat. Mereka sudah langsung tergiur dengan iming-iming imbal balik alias bunga yang tinggi. Apalagi yang menawari itu adalah koperasi, yang oleh sebagian besar masyarakat masih dianggap baik.

Kasus koperasi yang menyeleweng, selain KSB, sebelumnya juga terjadi pada Koperasi Simpan Pinjam Indosurya. Sama dengan KSB, Koperasi Indosurya ini juga dilaporkan oleh para anggota atau nasabahnya karena tak mampu mengembalikan uang simpanan para nasabahnya, plus janji imbal balik (bunga).

Dalam praktiknya menghimpun simpanan para anggota atau nasabahnya, Indosurya menjanjikan imbal balik (bunga) tinggi. Yakni antara 9 – 12 persen per tahun. Akibat jurus ini, cukup banyak orang yang tergiur.

Seiring berjalannya waktu, Indosurya mulai menunjukkan ketidakberesannya. Pengelola koperasi itu, mulai tidak disiplin menjalankan ketentuan perkoperasian. Misalnya, tidak mengadakan RAT (Rapat Anggota Tahunan). Padahal, RAT adalah forum tertinggi di koperasi untuk meminta pertanggungjawaban terhadap para pengurus dan pengelola koperasi.

Hingga akhirnya, meledaklah kasus tersebut. Ketika  Koperasi Indosurya tak mampu mengembalikan simpanan uang para nasabahnya, plus bunganya.  Maka, para nasabah itu pun membawa kasus ini ke polisi.

Jika KSB di Kota Kediri, uang nasabah yang tak bisa dikembalikan mencapai Rp 20 miliar. Koperasi Indosurya lebih banyak lagi, yakni mencapai Rp 106 triliun.

Baca Juga :  Kota Kediri, 1.143 Tahun

Jumlah ini didapat berdasarkan Hasil Laporan Analisis (HLA) yang dilakukan PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan) dari uang yang dikumpulkan KSP Indosurya dari sedikitnya 23 ribu nasabahnya. Saat ini, kasus Koperasi Indosurya sudah disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Barat.

Belajar dari kasus ini, kita harus lebih berhati-hati dengan berbagai modus menawarkan bunga tinggi atas uang yang disimpan, meskipun hal itu ditawarkan oleh koperasi. Dengan kata lain, kita patut curiga, jika ada koperasi yang berani memberikan bunga tinggi atas uang yang disimpan di koperasi tersebut.

Sebab, sejatinya, koperasi bukanlah bank.  Antara koperasi dan bank, sangat berbeda. Berbeda fungsi dan tujuannya, berbeda pula asas-nya. Fungsi dan tujuan koperasi, apa pun jenis koperasinya, adalah menyejahterakan anggotanya sesuai dengan prinsip ekonomi kerakyatan. Dan ini sebagaimana diatur dalam Pasal 3 dan 4 Undang-Undang Perkoperasian.

Sedangkan asas koperasi adalah kekeluargaan, di mana kepemilikan dan pengelolaannya banyak dilakukan oleh anggotanya sendiri. Itulah sebabnya, pengelolaan koperasi harus dilakukan dengan asas kekeluargaan dan musyawarah untuk mufakat.

Jadi, koperasi itu sejatinya adalah entitas yang mulia.  Yang ujung-ujungnya adalah menyejahterakan para anggotanya. Sayangnya, kemuliaaan koperasi belakangan ini sering dikotori oleh oknum para pengelolanya yang kalap dan serakah. Sehingga, membuat para anggota koperasi bukannya sejahtera, tapi malah sengsara. Seperti pada kasus KSB dan Indosurya. Semoga ini bisa menjadi pelajaran berharga. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Artikel Terkait

Pilkades

Sidak, Blusukan, dan Pencitraan

Nila Setitik di Afi Farma

Harmoni Kediri The Service City

Sedudo

Most Read


Artikel Terbaru

/