25 C
Kediri
Saturday, October 1, 2022

Persik

- Advertisement -

Harusnya bisa menang. Dan jika menang, harusnya bisa memperbaiki posisi juru kunci di klasemen Liga I. Tapi, harapan tinggal harapan. Persik, kesebelasan kebanggaan warga Kediri, kalah satu gol dalam laga kandang melawan Arema FC, Sabtu lalu (17/9/22). Maka, Persik pun masih berada di posisi juru kunci.

Rapor Persik pada Liga 1 kali ini masih jelek. Dari 10 kali pertandingan, tidak pernah sekalipun menang. Inilah tantangan Persik, di bawah manajemen baru. Sabtu pagi lalu (17/9), beberapa jam sebelum pertandingan melawan Arema FC digelar, kami menerima jajaran manajemen Persik yang baru di kantor, yang dipimpin general manager-nya, Andi Abdussalam Tabusalla.

Sosok ini bukan sembarangan. Dia adalah adik kandung dari tokoh sepak bola nasional, Andi Darussalam Tabussala (almarhum). Publik sepak bola tanah air pasti mengenal sosok ini. Andi Abdussalam Tabusalla juga besan dari keluarga Cendana. Kepada kami, dia mengakui, pengalamannya mengurusi klub sepak bola di Indonesia banyak dia peroleh dari kakaknya (Andi Darussalam).

Tugas GM yang baru tidaklah gampang dalam memimpin manajemen  Persik saat ini. Pertama, mereka sekarang disibukkan dengan berbagai pembenahan yang dilakukan di internal Persik. Dan ini tidak mudah. Apalagi manajemen Persik saat ini banyak disorot. Salah satunya karena  mendatangkan sejumlah pengurus dari luar.

Kedua, sebagian suporter Persik (Persikmania) masih ada yang kecewa dengan keputusan manajemen yang mengganti pelatih Javier Roca. Padahal, Roca dianggap berjasa, karena berhasil menyelamatkan Persik dari degradasi pada musim lalu. Kala itu, Roca berhasil membawa Persik dari awalnya peringkat 15 klasemen sementara di akhir seri kedua liga 1 2021, merangsek ke deretan papan tengah klasemen, dan berakhir di urutan 11.

- Advertisement -

Sebagian Persikmania juga masih belum lupa dengan insiden Arthur Irawan (kapten Persik) yang marah kepada suporter dan menantang suporter, usai laga melawan PSM Makassar pada awal September lalu (2/9) di Stadion Brawijaya Kediri. Saat itu suporter kecewa dengan penampilan Persik yang gagal meraih hasil maksimal saat menjamu PSM. Secara spontan, ada salah satu suporter yang meneriaki agar Arthur “out” dari Persik. Secara spontan pula, Arthur emosi. Dia balik meneriaki si suporter itu, dan menantangnya untuk duel. Adegan ini sempat viral. Dan mayoritas netizen mengecam Arthur.

Baca Juga :  Pengguna Biosolar Subsidi di Kediri Terpaksa Keluar Masuk SPBU

Seharusnya, Arthur bisa menahan diri. Tidak emosional. Dan tidak usah meladeni kemarahan suporter. Sebab, suporter marah itu wajar, jika klub yang dicintainya kalah dalam pertandingan. Apalagi kalahnya berturut-turut. Dan harus diakui, track record Persik pada Liga kali ini benar-benar memprihatinkan. Yakni, satu-satunya klub di Liga 1 2022, yang sampai hari ini belum membukukan satu pun kemenangan dari 10 kali pertandingan yang dilakoninya. Maka, jika suporter itu marah, ya didengarkan saja. Harus diterima dengan lapang dada, sembari memperbaiki performa permainan dan performa tim. Suporter itu, ya seperti itu adanya.

Bisa jadi, si suporter yang meneriaki Arthur itu tidak tahu, bahwa orang yang diteriaki “out” itu termasuk bukan pemain sembarangan di Persik. Dia adalah anak dari pemilik saham Persik saat ini. Ini memang termasuk unik. Anak pemilik saham sebuah klub, ikut main di klub tersebut. Meski sejatinya, Arthur memang pemain bola profesional yang berpengalaman merumput di sejumlah klub Eropa.

Semoga, berbagai peristiwa dan dinamika yang terjadi ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi jajaran manajemen baru Persik. Mereka memang baru beberapa bulan secara resmi memanajemeni Persik. Tapi, orang-orangnya, bukan orang baru. Mereka adalah para figur yang sudah malang-melintang di dunia sepak bola tanah air. Mereka pasti tahu, bahwa ada enam entitas utama yang terlibat dalam industri sepak bola.  Yakni: klub, pemain, fans (suporter), penyelenggara kompetisi (termasuk federasi dan pembuat kebijakan), media, dan brand (perusahaan).

Keenam aspek itu harus bisa diorkestrasi dengan baik agar bisa mendapatkan prestasi dan hasil maksimal. Hubungan antar-aspek harus benar-benar bisa dipahami,  dipetakan, dijaga, dan dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Misalnya, hubungan antara fans dan brand (perusahaan). Hubungannya adalah simbiosis mutualisme (saling menguntungkan). Dua aspek ini sangat penting, karena sumber dari aliran dana dalam industri bola. Secara garis besar hubungannya bisa dijelaskan seperti ini: Fans akan mendapatkan hiburan dari investasi yang diberikannya kepada klub melalui pembelian tiket, merchandise, atau berlangganan layanan streaming siaran pertandingan. Hiburan yang dikehendaki oleh fans adalah kemenangan. Maka, wajar jika fans marah, ketika klub yang didukungnya kalah. Sebab, mereka sudah berkontribusi atau berinvestasi melalui tiket atau merchandise  yang dibelinya. Maka, jika brand sebuah klub ingin bagus, maka klub itu harus lebih banyak membukukan kemenangan dalam setiap pertandingan yang dijalaninya.

Baca Juga :  BBM

Hubungan antara fans dan klub juga perlu diperhatikan secara khusus. Perlu diingat, fans (suporter) dalam industri sepak bola bukanlah konsumen. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), konsumen adalah pemakai barang atau jasa hasil produksi. Dengan pengertian ini, hubungan konsumen dengan produsen dianggap selesai begitu transaksi disepakati. Sedangkan hubungan fans dengan klub, tidaklah sama dengan hubungan konsumen dan produsen. Akan ada timbal balik yang diterima oleh fans dari klub dan entitas lainnya dalam industri sepak bola, dengan catatan industri tersebut berjalan dengan sehat. Pentingnya fans bagi klub, dilukiskan dalam sebuah adagium, bahwa fans adalah pemain ke-12 dari sebuah klub.

Warga Kediri tentu berharap manajemen baru Persik mampu membawa Persik  menjadi lebih baik dari sebelumnya. Target tertinggi, juara. Target menengah, masuk dalam 8 besar. Target terendah, jangan sampai mengalami degradasi.

Slogan “Jayati” yang bermakna “menang” harus selalu diingat. Dan Persik pernah menggemparkan jagad sepak bola tanah air pada 2003. Saat itu, Persik adalah tim promosi di Divisi Utama yang sebelumnya menjuarai Divisi Satu (2002). Meski tim promosi, tapi saat itu langsung menjuarai Divisi Utama 2003. Salah satu pemainnya (Musikan) kala itu mendapat predikat sebagai pemain terbaik. Dan pelatihnya (Jaya Hartono) menjadi pelatih terbaik.

Jadi, slogan “Jayati” sebenarnya bukan sekadar slogan. Karena Persik memang pernah menjadi juara. Dua kali menjuarai liga sepak bola kasta tertinggi di Indonesia. Ayo sing menangan. Aja kalahan.  (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

- Advertisement -

Harusnya bisa menang. Dan jika menang, harusnya bisa memperbaiki posisi juru kunci di klasemen Liga I. Tapi, harapan tinggal harapan. Persik, kesebelasan kebanggaan warga Kediri, kalah satu gol dalam laga kandang melawan Arema FC, Sabtu lalu (17/9/22). Maka, Persik pun masih berada di posisi juru kunci.

Rapor Persik pada Liga 1 kali ini masih jelek. Dari 10 kali pertandingan, tidak pernah sekalipun menang. Inilah tantangan Persik, di bawah manajemen baru. Sabtu pagi lalu (17/9), beberapa jam sebelum pertandingan melawan Arema FC digelar, kami menerima jajaran manajemen Persik yang baru di kantor, yang dipimpin general manager-nya, Andi Abdussalam Tabusalla.

Sosok ini bukan sembarangan. Dia adalah adik kandung dari tokoh sepak bola nasional, Andi Darussalam Tabussala (almarhum). Publik sepak bola tanah air pasti mengenal sosok ini. Andi Abdussalam Tabusalla juga besan dari keluarga Cendana. Kepada kami, dia mengakui, pengalamannya mengurusi klub sepak bola di Indonesia banyak dia peroleh dari kakaknya (Andi Darussalam).

Tugas GM yang baru tidaklah gampang dalam memimpin manajemen  Persik saat ini. Pertama, mereka sekarang disibukkan dengan berbagai pembenahan yang dilakukan di internal Persik. Dan ini tidak mudah. Apalagi manajemen Persik saat ini banyak disorot. Salah satunya karena  mendatangkan sejumlah pengurus dari luar.

Kedua, sebagian suporter Persik (Persikmania) masih ada yang kecewa dengan keputusan manajemen yang mengganti pelatih Javier Roca. Padahal, Roca dianggap berjasa, karena berhasil menyelamatkan Persik dari degradasi pada musim lalu. Kala itu, Roca berhasil membawa Persik dari awalnya peringkat 15 klasemen sementara di akhir seri kedua liga 1 2021, merangsek ke deretan papan tengah klasemen, dan berakhir di urutan 11.

Sebagian Persikmania juga masih belum lupa dengan insiden Arthur Irawan (kapten Persik) yang marah kepada suporter dan menantang suporter, usai laga melawan PSM Makassar pada awal September lalu (2/9) di Stadion Brawijaya Kediri. Saat itu suporter kecewa dengan penampilan Persik yang gagal meraih hasil maksimal saat menjamu PSM. Secara spontan, ada salah satu suporter yang meneriaki agar Arthur “out” dari Persik. Secara spontan pula, Arthur emosi. Dia balik meneriaki si suporter itu, dan menantangnya untuk duel. Adegan ini sempat viral. Dan mayoritas netizen mengecam Arthur.

Baca Juga :  Bulan September, Rameyza Kembali Berangkatkan Ratusan Jamaah Umrah

Seharusnya, Arthur bisa menahan diri. Tidak emosional. Dan tidak usah meladeni kemarahan suporter. Sebab, suporter marah itu wajar, jika klub yang dicintainya kalah dalam pertandingan. Apalagi kalahnya berturut-turut. Dan harus diakui, track record Persik pada Liga kali ini benar-benar memprihatinkan. Yakni, satu-satunya klub di Liga 1 2022, yang sampai hari ini belum membukukan satu pun kemenangan dari 10 kali pertandingan yang dilakoninya. Maka, jika suporter itu marah, ya didengarkan saja. Harus diterima dengan lapang dada, sembari memperbaiki performa permainan dan performa tim. Suporter itu, ya seperti itu adanya.

Bisa jadi, si suporter yang meneriaki Arthur itu tidak tahu, bahwa orang yang diteriaki “out” itu termasuk bukan pemain sembarangan di Persik. Dia adalah anak dari pemilik saham Persik saat ini. Ini memang termasuk unik. Anak pemilik saham sebuah klub, ikut main di klub tersebut. Meski sejatinya, Arthur memang pemain bola profesional yang berpengalaman merumput di sejumlah klub Eropa.

Semoga, berbagai peristiwa dan dinamika yang terjadi ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi jajaran manajemen baru Persik. Mereka memang baru beberapa bulan secara resmi memanajemeni Persik. Tapi, orang-orangnya, bukan orang baru. Mereka adalah para figur yang sudah malang-melintang di dunia sepak bola tanah air. Mereka pasti tahu, bahwa ada enam entitas utama yang terlibat dalam industri sepak bola.  Yakni: klub, pemain, fans (suporter), penyelenggara kompetisi (termasuk federasi dan pembuat kebijakan), media, dan brand (perusahaan).

Keenam aspek itu harus bisa diorkestrasi dengan baik agar bisa mendapatkan prestasi dan hasil maksimal. Hubungan antar-aspek harus benar-benar bisa dipahami,  dipetakan, dijaga, dan dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Misalnya, hubungan antara fans dan brand (perusahaan). Hubungannya adalah simbiosis mutualisme (saling menguntungkan). Dua aspek ini sangat penting, karena sumber dari aliran dana dalam industri bola. Secara garis besar hubungannya bisa dijelaskan seperti ini: Fans akan mendapatkan hiburan dari investasi yang diberikannya kepada klub melalui pembelian tiket, merchandise, atau berlangganan layanan streaming siaran pertandingan. Hiburan yang dikehendaki oleh fans adalah kemenangan. Maka, wajar jika fans marah, ketika klub yang didukungnya kalah. Sebab, mereka sudah berkontribusi atau berinvestasi melalui tiket atau merchandise  yang dibelinya. Maka, jika brand sebuah klub ingin bagus, maka klub itu harus lebih banyak membukukan kemenangan dalam setiap pertandingan yang dijalaninya.

Baca Juga :  (Kecerdasan) Syahwat

Hubungan antara fans dan klub juga perlu diperhatikan secara khusus. Perlu diingat, fans (suporter) dalam industri sepak bola bukanlah konsumen. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), konsumen adalah pemakai barang atau jasa hasil produksi. Dengan pengertian ini, hubungan konsumen dengan produsen dianggap selesai begitu transaksi disepakati. Sedangkan hubungan fans dengan klub, tidaklah sama dengan hubungan konsumen dan produsen. Akan ada timbal balik yang diterima oleh fans dari klub dan entitas lainnya dalam industri sepak bola, dengan catatan industri tersebut berjalan dengan sehat. Pentingnya fans bagi klub, dilukiskan dalam sebuah adagium, bahwa fans adalah pemain ke-12 dari sebuah klub.

Warga Kediri tentu berharap manajemen baru Persik mampu membawa Persik  menjadi lebih baik dari sebelumnya. Target tertinggi, juara. Target menengah, masuk dalam 8 besar. Target terendah, jangan sampai mengalami degradasi.

Slogan “Jayati” yang bermakna “menang” harus selalu diingat. Dan Persik pernah menggemparkan jagad sepak bola tanah air pada 2003. Saat itu, Persik adalah tim promosi di Divisi Utama yang sebelumnya menjuarai Divisi Satu (2002). Meski tim promosi, tapi saat itu langsung menjuarai Divisi Utama 2003. Salah satu pemainnya (Musikan) kala itu mendapat predikat sebagai pemain terbaik. Dan pelatihnya (Jaya Hartono) menjadi pelatih terbaik.

Jadi, slogan “Jayati” sebenarnya bukan sekadar slogan. Karena Persik memang pernah menjadi juara. Dua kali menjuarai liga sepak bola kasta tertinggi di Indonesia. Ayo sing menangan. Aja kalahan.  (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Artikel Terkait

Gunung Kelud dan Kethek Ogleng

BBM

Sambo dan Kebohongan

Ketika Sekolah Kekurangan Murid

Most Read

Ampas Kopi Itu Bisa Jadi Uang

Megengan Pandemi

Tiga Makam di Puncak Bukit Maskumambang


Artikel Terbaru

/