24.9 C
Kediri
Sunday, May 28, 2023

Kepala Daerah dan Attitude

Saya menjumpai setidaknya dua kepala daerah yang attitude-nya (menurut saya) kurang baik. Karena kurang menghargai orang.

Kepala daerah yang pertama, ketika ngobrol dengan saya, beberapa kali dia melihat dan mengutak-atik  handphone-nya. Bisa jadi, ini kebiasaannya. Saya merasa, dianggap kurang penting. Si kepala daerah terkesan lebih mementingkan untuk mengutak-atik handphone-nya ketimbang serius berbicara dengan orang yang berada di depannya. Sungguh, ini kebiasaan yang kurang sopan.

Di rumah, saya melarang keras anak-anak  saya untuk “bermain” handphone ketika sedang ngobrol dengan tamu atau orang lain.

Jika saya bertamu kepada seseorang, dan ketika ngobrol dengan saya, lalu dia asyik bermain handphone, saya lebih memilih untuk pamit. Bagi saya, itu artinya dia kurang menghargai tamunya.

Kepala daerah yang kedua, peristiwanya kebetulan baru saja saya alami. Ceritanya, saya berniat untuk melakukan presentasi di depan kepala daerah itu tentang program yang akan kami tawarkan. Si kepala daerah setuju. Kami diberi waktu untuk presentasi tentang program tersebut. Kami pun bekerja keras untuk menyiapkan presentasi tersebut. Mengumpulkan bahan-bahan, data, dan referensi, hingga menyiapkan power point untuk presentasi.

Begitu hari H tiba, saat kami presentasi, si kepala daerah malah sibuk melihat-lihat handphone-nya. Pandangannya hampir tak pernah melihat presentasi kami. Terkesan cuek. Ironisnya, di tengah-tengah kami presentasi, si kepala daerah itu pamit. Katanya, ada acara yang tidak bisa ditinggalkan. Lalu, dia memerintahkan kepada anak buahnya untuk mewakilinya. Padahal, di awal sebelum presentasi, saya sudah mengatakan kepada si kepala daerah itu bahwa presentasi kami tidak lama. Hanya 15 menit. Dengan harapan, agar dia bisa menyaksikan presentasi kami. Bisa langsung merespon, jika dari presentasi kami harus ada yang diperbaiki atau ditambahkan. Tapi, hari itu, kami kecewa. Dengan sikap si kepala daerah yang kurang menghargai itu.

Baca Juga :  Syekh Wasil

Menghargai orang lain itu adalah bagian dari attitude. Ini adalah istilah yang berasal dari Bahasa Inggris, yang artinya adalah sikap atau perilaku.  Dikutip dari Cambridge Dictionary, makna dari attitude adalah cara berperilaku seseorang. Attitude juga bisa didefinisikan sebagai bahasa atau postur tubuh yang merepresentasikan sikap dan kondisi mental dari seseorang.

Mengutip dari Very Well Mind, setidaknya ada empat faktor yang bisa menjadi pembentuk dan mempengaruhi attitude seseorang. Pertama, pengalaman. Pengalaman masa lalu dapat membentuk attitude seseorang terhadap suatu objek atau fenomena. Pengalaman yang positif dapat membentuk attitude positif. Dan berlaku sebaliknya.

Kedua, pengaruh sosial. Pengaruh kelompok atau individu lain dapat mempengaruhi sikap seseorang terhadap suatu objek atau fenomena. Seseorang dapat memperoleh sikap baru melalui pengaruh kelompok atau individu lain.

Ketiga, pendidikan dan pengajaran. Pendidikan dan pengajaran dapat membentuk sikap seseorang terhadap suatu objek atau fenomena. Pendidikan dan pengajaran yang baik dapat membantu membentuk sikap yang positif.

Keempat, nilai-nilai. Nilai-nilai yang dipegang oleh seseorang dapat mempengaruhi sikapnya terhadap suatu objek atau fenomena. Nilai-nilai yang dipegang dapat mempengaruhi evaluasi seseorang terhadap objek tersebut.

Baca Juga :  Venna Melinda Jadi Saksi Sidang KDRT Ferry Irawan, Ini Kesaksiannya

Jika ada orang yang attitude-nya kurang baik, bisa dilacak dari empat faktor tersebut. Apakah karena pengalaman? Karena pengaruh sosial? Karena pengaruh pendidikan dan pengajaran? Atau, karena nilai-nilai yang dianutnya?

Di dalam Islam, ada anjuran untuk tidak mengecewakan orang lain alias selalu berusaha menyenangkan orang lain (idkhalus surur). Inilah yang selalu dilakukan Rasulullah SAW. Para waliyullah, kebanyakan punya sikap “idkhalus surur”. Islam juga sangat menganjurkan agar menghormati tamu.

Sebuah hadits dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik atau diam. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia menghormati tetangga. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia memuliakan tamu. (H.R Bukhari dan Muslim).

Jadi, Islam sangat menjunjung tinggi attitude yang baik. Salah satu attitude yang baik itu adalah menghargai dan menghormati orang lain. Mari kita membiasakan diri untuk selalu ber-attitude yang baik, mulai dari hal-hal terkecil.

Misalnya, ketika teman berbicara, kita serius mendengarkan. Ketika menerima tamu, jangan melakukan aktivitas, yang itu bisa menyebabkan ketidaknyamanan tamu. Termasuk mengutak-atik handphone, seperti kebiasaan si kepala daerah tadi. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Saya menjumpai setidaknya dua kepala daerah yang attitude-nya (menurut saya) kurang baik. Karena kurang menghargai orang.

Kepala daerah yang pertama, ketika ngobrol dengan saya, beberapa kali dia melihat dan mengutak-atik  handphone-nya. Bisa jadi, ini kebiasaannya. Saya merasa, dianggap kurang penting. Si kepala daerah terkesan lebih mementingkan untuk mengutak-atik handphone-nya ketimbang serius berbicara dengan orang yang berada di depannya. Sungguh, ini kebiasaan yang kurang sopan.

Di rumah, saya melarang keras anak-anak  saya untuk “bermain” handphone ketika sedang ngobrol dengan tamu atau orang lain.

Jika saya bertamu kepada seseorang, dan ketika ngobrol dengan saya, lalu dia asyik bermain handphone, saya lebih memilih untuk pamit. Bagi saya, itu artinya dia kurang menghargai tamunya.

Kepala daerah yang kedua, peristiwanya kebetulan baru saja saya alami. Ceritanya, saya berniat untuk melakukan presentasi di depan kepala daerah itu tentang program yang akan kami tawarkan. Si kepala daerah setuju. Kami diberi waktu untuk presentasi tentang program tersebut. Kami pun bekerja keras untuk menyiapkan presentasi tersebut. Mengumpulkan bahan-bahan, data, dan referensi, hingga menyiapkan power point untuk presentasi.

Begitu hari H tiba, saat kami presentasi, si kepala daerah malah sibuk melihat-lihat handphone-nya. Pandangannya hampir tak pernah melihat presentasi kami. Terkesan cuek. Ironisnya, di tengah-tengah kami presentasi, si kepala daerah itu pamit. Katanya, ada acara yang tidak bisa ditinggalkan. Lalu, dia memerintahkan kepada anak buahnya untuk mewakilinya. Padahal, di awal sebelum presentasi, saya sudah mengatakan kepada si kepala daerah itu bahwa presentasi kami tidak lama. Hanya 15 menit. Dengan harapan, agar dia bisa menyaksikan presentasi kami. Bisa langsung merespon, jika dari presentasi kami harus ada yang diperbaiki atau ditambahkan. Tapi, hari itu, kami kecewa. Dengan sikap si kepala daerah yang kurang menghargai itu.

Baca Juga :  Proyek SMPN 9 Tahap 2 Dimulai Maret

Menghargai orang lain itu adalah bagian dari attitude. Ini adalah istilah yang berasal dari Bahasa Inggris, yang artinya adalah sikap atau perilaku.  Dikutip dari Cambridge Dictionary, makna dari attitude adalah cara berperilaku seseorang. Attitude juga bisa didefinisikan sebagai bahasa atau postur tubuh yang merepresentasikan sikap dan kondisi mental dari seseorang.

Mengutip dari Very Well Mind, setidaknya ada empat faktor yang bisa menjadi pembentuk dan mempengaruhi attitude seseorang. Pertama, pengalaman. Pengalaman masa lalu dapat membentuk attitude seseorang terhadap suatu objek atau fenomena. Pengalaman yang positif dapat membentuk attitude positif. Dan berlaku sebaliknya.

Kedua, pengaruh sosial. Pengaruh kelompok atau individu lain dapat mempengaruhi sikap seseorang terhadap suatu objek atau fenomena. Seseorang dapat memperoleh sikap baru melalui pengaruh kelompok atau individu lain.

Ketiga, pendidikan dan pengajaran. Pendidikan dan pengajaran dapat membentuk sikap seseorang terhadap suatu objek atau fenomena. Pendidikan dan pengajaran yang baik dapat membantu membentuk sikap yang positif.

Keempat, nilai-nilai. Nilai-nilai yang dipegang oleh seseorang dapat mempengaruhi sikapnya terhadap suatu objek atau fenomena. Nilai-nilai yang dipegang dapat mempengaruhi evaluasi seseorang terhadap objek tersebut.

Baca Juga :  Venna Melinda Jadi Saksi Sidang KDRT Ferry Irawan, Ini Kesaksiannya

Jika ada orang yang attitude-nya kurang baik, bisa dilacak dari empat faktor tersebut. Apakah karena pengalaman? Karena pengaruh sosial? Karena pengaruh pendidikan dan pengajaran? Atau, karena nilai-nilai yang dianutnya?

Di dalam Islam, ada anjuran untuk tidak mengecewakan orang lain alias selalu berusaha menyenangkan orang lain (idkhalus surur). Inilah yang selalu dilakukan Rasulullah SAW. Para waliyullah, kebanyakan punya sikap “idkhalus surur”. Islam juga sangat menganjurkan agar menghormati tamu.

Sebuah hadits dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik atau diam. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia menghormati tetangga. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia memuliakan tamu. (H.R Bukhari dan Muslim).

Jadi, Islam sangat menjunjung tinggi attitude yang baik. Salah satu attitude yang baik itu adalah menghargai dan menghormati orang lain. Mari kita membiasakan diri untuk selalu ber-attitude yang baik, mulai dari hal-hal terkecil.

Misalnya, ketika teman berbicara, kita serius mendengarkan. Ketika menerima tamu, jangan melakukan aktivitas, yang itu bisa menyebabkan ketidaknyamanan tamu. Termasuk mengutak-atik handphone, seperti kebiasaan si kepala daerah tadi. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/