24 C
Kediri
Tuesday, July 5, 2022

Marketing Langit ala Abah Syamsul

Baru kali ini saya menjumpai, ada biro travel umrah dan haji yang rutin setiap tahun memberangkatkan belasan jemaah umrah secara gratis. Mereka yang diberangkatkan gratis itu berkriteria: marbot masjid, guru ngaji, dan tahfiz (penghafal Alquran). Terkadang juga kiai dan bu nyai kampung.  Biro travel haji-umrah ini adalah “Multazam Al Hadi Tour and Travel”, di bawah bendera PT Brillian Misfalah Al Hadi. Kantor pusatnya ada di Pare, Kabupaten Kediri.

 

Sudah sekitar lima tahun ini biro travel tersebut rutin memberangkatkan umrah secara gratis untuk jamaah dengan kriteria marbot masjid, guru ngaji dan tahfiz itu. Dan yang menyeleksi sendiri para calon jemaah yang akan diberangkat gratis itu adalah Ustad H. Syamsul Hadi, pendiri sekaligus pemilik biro travel tersebut.

 

Saya berkesempatan ngobrol panjang-lebar dengan Abah Syamsul, sapaan akrabnya, Rabu lalu (8/6). Ngobrol di kediamannya, yang menjadi satu dengan tempat usahanya di Pare, saya betah. Apalagi, disuguhi air zam-zam. Kurma Nabi. Coklat Madinah. Dan ini yang menarik perhatian saya: Buah Tin. Ini buah yang disebut di dalam Alquran.

 

Ketika saya tanya, “Dengan cara apa Anda menyeleksi para calon jemaah yang akan diberangkatkan secara gratis itu?”  Abah Syamsul menjawab: “Pakai mata batin. Seakan ada yang menggerakkan dan memberitahu saya, siapa saja yang akan saya pilih dan saya tetapkan untuk berangkat (umroh),”.

Wow….ini mungkin yang dinamakan intuisi.

 

Di Kediri, biro travel umrah-haji milik Abah Syamsul ini termasuk cukup banyak jemaahnya. Sejak berdiri pada 2002, sudah memberangkatkan jemaah haji regular dan plus, totalnya 4000-an jemaah.  Dan jemaah umrah sebanyak 2000-an jemaah. Khusus jemaah umrah yang diberangkatkan gratis, rata-rata setiap tahun 10-12 orang. Hingga kini, marbot masjid, guru ngaji, tahfiz, kiai dan bu nyai kampung  yang sudah diberangkatkan umrah secara gratis sekitar 60 orang.

 

Para jemaah umroh dan haji yang ikut biro travelnya Abah Syamsul,  tak hanya dari Kediri saja. Tapi juga berasal dari daerah-daerah di sekitar Kediri. Jombang, Tulungagung, Trenggalek, dan daerah sekitar lainnya.

Baca Juga :  Oh….Stasiun Kediri

 

Rata-rata mereka dari kalangan menengah ke bawah. Tapi, beberapa kali biro travelnya itu mendampingi sejumlah pejabat. Baik dari kalangan sipil maupun militer. Bahkan, Abah Syamsul menceritakan, dia pernah mendampingi keluarga salah satu Pangdam di Indonesia untuk berumrah. “Jujur, kalau disuruh memilih, saya lebih suka mendampingi jamaah yang dari kalangan rakyat biasa,” katanya. Mengapa? “Mereka lebih mudah diarahkan,” katanya sambil tertawa renyah.

 

Apa yang dilakukan Abah Syamsul, dengan memberangkatkan secara gratis para guru ngaji, marbot masjid dan tahfiz, menurut saya, ini adalah penerapan dari “marketing langit”.

 

Ketika menjalankan suatu usaha, pasti akan memikirkan bagaimana cara strategi marketing yang tepat untuk mempromosikannya hingga deal dengan pelanggan. Inilah yang disebut dengan “marketing bumi”.

 

Sedangkan “marketing langit” adalah usaha pendekatan suatu bisnis dengan cara spiritual. Salah satunya dengan bersedekah. Dan yang dilakukan Abah Syamsul itu, termasuk dalam kategori bersedekah. Yakni, dengan cara memberangkatkan orang-orang yang mungkin secara ekonomi sulit sekali untuk bisa berumrah dengan biaya sendiri. Yakni para guru ngaji, marbot masjid, dan tahfiz Quran.

 

Dan, tidak ada ceritanya, semakin sering seseorang bersedekah membuat hartanya berkurang. Tidak ada ceritanya, semakin sering bersedekah, membuat bisnisnya terpuruk.  Yang terjadi, malah sebaliknya. Ini yang dialami Abah Syamsul. Dia merasakan, usaha biro travelnya mengalami peningkatan jamaah setiap tahunnya.  Bisa jadi, itulah berkah dari kebiasaannya yang rutin memberangkatkan umrah secara gratis kepada para marbot masjid, guru ngaji dan tahfiz itu.

 

Dalam menggaet para calon jemaahnya, Abah juga punya strategi yang menarik.  Setiap pulang dari umrah atau haji, dia selalu berbelanja bahan-bahan herbal yang digunakan untuk “thibbun nabawi” (pengobatan ala Rasulullah SAW). Di antara yang selalu dia beli adalah jinten hitam (habbatus saudah), minyak zaitun, kurma nabi, dan rumput Fatimah. Terkadang juga beli kadal Mesir, yang konon untuk terapi kejantanan. Dan dia tahu, dimana tempat di Tanah Suci yang tepat untuk membeli bahan-bahan tersebut, sehingga bisa dijamin keasliannya. Sering pula Abah Syamsul membeli batu akik (cincin) dan minyak wangi berkotak-kotak. Dia mengklaim, batu akik dan minyak wangi yang dia beli, berbeda dengan kebanyakan yang dibeli para jemaah asal Indonesia.

Baca Juga :  Satlantas Polres Kediri Kota Gelar Simulasi Penanganan Kecelakaan

 

Siapapun yang butuh obat-obat herbal “thibbun nabawi” itu untuk pengobatan, bisa datang ke Abah Syamsul. Dan akan diberikan secara gratis. Begitu pula batu akik dan minyak wangi itu, sering dibagikan kepada jemaah zikirnya.  Setiap sebulan sekali, tepatnya malam Sabtu Legi, Abah Syamsul punya agenda rutin “Majelis Dzikir Multazam Al Hadi” di rumahnya.

 

Dan ternyata, di antara orang yang datang ke rumah Abah Syamsul untuk minta bahan “thibbun nabawi” itu ada yang kemudian tertarik untuk berangkat umrah. Bisa jadi, ini adalah penerapan dari “marketing bumi”.  Menggiring calon customer, untuk dijadikan sebagai customer, dengan cara yang halus dan sangat elegan.

 

Jujur, saya iri dengan Abah Syamsul. Dari usaha travelnya itu, Insya Allah dia bisa dapat dua “paket” sekaligus: dunia dan akhirat. Dunianya dapat, akhiratnya juga dapat. Satu sisi dia bekerja, pada sisi lain dia juga beribadah serta membantu mempermudah  orang-orang untuk berumrah dan berhaji.

 

Minimal lima kali dalam setahun, Abah Syamsul pergi ke Tanah Suci. Mendampingi para jamaahnya. Dan setiap kali ke Tanah Suci, pasti salat di Masjidil Haram yang nilai keutamaan pahalanya 100 ribu kali lipat. Tak hanya salat. Tapi juga umrah, tawaf, dan sa’i. Ketika di Madinah, bisa salat di Masjid Nabawi, yang nilai keutamaan pahalanya 1.000 kali lipat. Betapa nikmatnya bekerja dengan cara seperti itu. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

 

- Advertisement -

Baru kali ini saya menjumpai, ada biro travel umrah dan haji yang rutin setiap tahun memberangkatkan belasan jemaah umrah secara gratis. Mereka yang diberangkatkan gratis itu berkriteria: marbot masjid, guru ngaji, dan tahfiz (penghafal Alquran). Terkadang juga kiai dan bu nyai kampung.  Biro travel haji-umrah ini adalah “Multazam Al Hadi Tour and Travel”, di bawah bendera PT Brillian Misfalah Al Hadi. Kantor pusatnya ada di Pare, Kabupaten Kediri.

 

Sudah sekitar lima tahun ini biro travel tersebut rutin memberangkatkan umrah secara gratis untuk jamaah dengan kriteria marbot masjid, guru ngaji dan tahfiz itu. Dan yang menyeleksi sendiri para calon jemaah yang akan diberangkat gratis itu adalah Ustad H. Syamsul Hadi, pendiri sekaligus pemilik biro travel tersebut.

 

Saya berkesempatan ngobrol panjang-lebar dengan Abah Syamsul, sapaan akrabnya, Rabu lalu (8/6). Ngobrol di kediamannya, yang menjadi satu dengan tempat usahanya di Pare, saya betah. Apalagi, disuguhi air zam-zam. Kurma Nabi. Coklat Madinah. Dan ini yang menarik perhatian saya: Buah Tin. Ini buah yang disebut di dalam Alquran.

 

Ketika saya tanya, “Dengan cara apa Anda menyeleksi para calon jemaah yang akan diberangkatkan secara gratis itu?”  Abah Syamsul menjawab: “Pakai mata batin. Seakan ada yang menggerakkan dan memberitahu saya, siapa saja yang akan saya pilih dan saya tetapkan untuk berangkat (umroh),”.

Wow….ini mungkin yang dinamakan intuisi.

 

Di Kediri, biro travel umrah-haji milik Abah Syamsul ini termasuk cukup banyak jemaahnya. Sejak berdiri pada 2002, sudah memberangkatkan jemaah haji regular dan plus, totalnya 4000-an jemaah.  Dan jemaah umrah sebanyak 2000-an jemaah. Khusus jemaah umrah yang diberangkatkan gratis, rata-rata setiap tahun 10-12 orang. Hingga kini, marbot masjid, guru ngaji, tahfiz, kiai dan bu nyai kampung  yang sudah diberangkatkan umrah secara gratis sekitar 60 orang.

 

Para jemaah umroh dan haji yang ikut biro travelnya Abah Syamsul,  tak hanya dari Kediri saja. Tapi juga berasal dari daerah-daerah di sekitar Kediri. Jombang, Tulungagung, Trenggalek, dan daerah sekitar lainnya.

Baca Juga :  Aset (Daerah) Mangkrak

 

Rata-rata mereka dari kalangan menengah ke bawah. Tapi, beberapa kali biro travelnya itu mendampingi sejumlah pejabat. Baik dari kalangan sipil maupun militer. Bahkan, Abah Syamsul menceritakan, dia pernah mendampingi keluarga salah satu Pangdam di Indonesia untuk berumrah. “Jujur, kalau disuruh memilih, saya lebih suka mendampingi jamaah yang dari kalangan rakyat biasa,” katanya. Mengapa? “Mereka lebih mudah diarahkan,” katanya sambil tertawa renyah.

 

Apa yang dilakukan Abah Syamsul, dengan memberangkatkan secara gratis para guru ngaji, marbot masjid dan tahfiz, menurut saya, ini adalah penerapan dari “marketing langit”.

 

Ketika menjalankan suatu usaha, pasti akan memikirkan bagaimana cara strategi marketing yang tepat untuk mempromosikannya hingga deal dengan pelanggan. Inilah yang disebut dengan “marketing bumi”.

 

Sedangkan “marketing langit” adalah usaha pendekatan suatu bisnis dengan cara spiritual. Salah satunya dengan bersedekah. Dan yang dilakukan Abah Syamsul itu, termasuk dalam kategori bersedekah. Yakni, dengan cara memberangkatkan orang-orang yang mungkin secara ekonomi sulit sekali untuk bisa berumrah dengan biaya sendiri. Yakni para guru ngaji, marbot masjid, dan tahfiz Quran.

 

Dan, tidak ada ceritanya, semakin sering seseorang bersedekah membuat hartanya berkurang. Tidak ada ceritanya, semakin sering bersedekah, membuat bisnisnya terpuruk.  Yang terjadi, malah sebaliknya. Ini yang dialami Abah Syamsul. Dia merasakan, usaha biro travelnya mengalami peningkatan jamaah setiap tahunnya.  Bisa jadi, itulah berkah dari kebiasaannya yang rutin memberangkatkan umrah secara gratis kepada para marbot masjid, guru ngaji dan tahfiz itu.

 

Dalam menggaet para calon jemaahnya, Abah juga punya strategi yang menarik.  Setiap pulang dari umrah atau haji, dia selalu berbelanja bahan-bahan herbal yang digunakan untuk “thibbun nabawi” (pengobatan ala Rasulullah SAW). Di antara yang selalu dia beli adalah jinten hitam (habbatus saudah), minyak zaitun, kurma nabi, dan rumput Fatimah. Terkadang juga beli kadal Mesir, yang konon untuk terapi kejantanan. Dan dia tahu, dimana tempat di Tanah Suci yang tepat untuk membeli bahan-bahan tersebut, sehingga bisa dijamin keasliannya. Sering pula Abah Syamsul membeli batu akik (cincin) dan minyak wangi berkotak-kotak. Dia mengklaim, batu akik dan minyak wangi yang dia beli, berbeda dengan kebanyakan yang dibeli para jemaah asal Indonesia.

Baca Juga :  Kasus Jambret di Pasar Grosir Ngronggo Di-Restorative Justice

 

Siapapun yang butuh obat-obat herbal “thibbun nabawi” itu untuk pengobatan, bisa datang ke Abah Syamsul. Dan akan diberikan secara gratis. Begitu pula batu akik dan minyak wangi itu, sering dibagikan kepada jemaah zikirnya.  Setiap sebulan sekali, tepatnya malam Sabtu Legi, Abah Syamsul punya agenda rutin “Majelis Dzikir Multazam Al Hadi” di rumahnya.

 

Dan ternyata, di antara orang yang datang ke rumah Abah Syamsul untuk minta bahan “thibbun nabawi” itu ada yang kemudian tertarik untuk berangkat umrah. Bisa jadi, ini adalah penerapan dari “marketing bumi”.  Menggiring calon customer, untuk dijadikan sebagai customer, dengan cara yang halus dan sangat elegan.

 

Jujur, saya iri dengan Abah Syamsul. Dari usaha travelnya itu, Insya Allah dia bisa dapat dua “paket” sekaligus: dunia dan akhirat. Dunianya dapat, akhiratnya juga dapat. Satu sisi dia bekerja, pada sisi lain dia juga beribadah serta membantu mempermudah  orang-orang untuk berumrah dan berhaji.

 

Minimal lima kali dalam setahun, Abah Syamsul pergi ke Tanah Suci. Mendampingi para jamaahnya. Dan setiap kali ke Tanah Suci, pasti salat di Masjidil Haram yang nilai keutamaan pahalanya 100 ribu kali lipat. Tak hanya salat. Tapi juga umrah, tawaf, dan sa’i. Ketika di Madinah, bisa salat di Masjid Nabawi, yang nilai keutamaan pahalanya 1.000 kali lipat. Betapa nikmatnya bekerja dengan cara seperti itu. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

 

Artikel Terkait

Oh….Stasiun Kediri

Aset (Daerah) Mangkrak

Most Read


Artikel Terbaru

/