25 C
Kediri
Saturday, October 1, 2022

Gunung Kelud dan Kethek Ogleng

- Advertisement -

Asal punya duit, siapa saja bisa bikin acara konser musik. Menghadirkan artis-artis berkaliber nasional yang sedang “naik daun”. Seperti yang dilakukan Pemkab Kediri Agustus lalu. Melalui “Konser Iromo Tresno” dalam rangka memperingati kemerdekaan RI, Pemkab Kediri menghadirkan Denny Caknan dan Happy Asmara.

Tentu saja meriah. Dan tentu saja yang hadir membeludak. Maklum, dua penyanyi itu saat ini sedang banyak digandrungi penggemar. Lagu-lagunya enak-enak. Mudah dihafal, gampang dinyanyikan, dan seringkali menceritakan tentang kegalauan dalam menjalin cinta, yang banyak dirasakan masyarakat.

Boleh-boleh saja bikin konser musik seperti itu. Baik-baik saja jika dilakukan. Dan itu adalah sarana untuk memberikan hiburan kepada masyarakat.

Tapi, acara seperti itu tidak ada unsur “distingsi”-nya (pembeda). Seperti saya singgung di awal tulisan ini, siapa pun bisa bikin konser musik seperti itu asal punya duit. Acara seperti itu, seakan hanya mengejar target massa belaka. Sekadar hiburan belaka.

Maka, alangkah lebih baik lagi, selain bikin konser musik dengan menghadirkan artis ngetop, Pemkab Kediri juga mulai memikirkan untuk bikin acara kolosal yang punya “distingsi” tinggi, yang belum pernah ada sebelumnya. Akan lebih baik, jika event kolosal itu punya nilai budaya yang mencerminkan kearifan lokal.

- Advertisement -

Jika boleh menyebut contoh, seperti yang dilakukan Pemkab Banyuwangi melalui acara kolosal yang rutin digelar setiap tahun sejak 2012, yakni: “Festival Gandrung Sewu”.  Acara ini melibatkan ribuan pelajar putri  mulai dari tingkat SMP hingga SMA se-Kabupaten Banyuwangi. Di mana mereka berpakaian ala penari gandrung. Kostumnya keren. Paras mereka cantik-cantik. Dan mereka menari gandrung secara serentak. Dengan gerakan yang sangat harmoni. Sehingga memukau siapa pun yang menyaksikannya. Festival Gandrung Sewu ini selalu dihelat di Pantai Boom Banyuwangi. Dan festival ini telah menjadi magnet pariwisata yang sangat kuat di Banyuwangi. Para wisatawan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, semakin banyak yang menyaksikan event tahunan itu.

Baca Juga :  - Starbucks -

Dan tahun ini, Festival Gandrung Sewu Banyuwangi masuk dalam program “Kharisma Event Nusantara” (KEN) 2022. Setelah melewati sederet kurasi dari total 395 festival yang ada di Indonesia.

Program KEN 2022 secara resmi diluncurkan oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno Maret lalu.

Setidaknya ada tiga “value” dari Festival Gandrung Sewu: Pertama, kolosalnya. Dan ini punya tingkat kesulitan cukup tinggi. Mulai dari bagaimana mengerahkan ribuan pelajar untuk bersedia menari gandrung. Dan bagaimana melatih mereka hingga gerakannya sangat harmoni.

Kedua, kearifan lokal. Tarian gandrung adalah tarian khas Banyuwangi. Ini bukan sekadar tarian. Tapi sarat dengan nilai sejarah. Nah, melalui Festival Gandrung Sewu, selain mempertontonkan kearifan lokal kepada masyarakat luas, juga menanamkam nilai-nilai budaya dan sejarah Banyuwangi kepada para pelajar.

Baca Juga :  Kota Kediri Level 1, PPKM Diperpanjang Dua Minggu

Value ketiga, unik. Festival Gandrung Sewu sejauh ini, menurut saya, punya keunikan tersendiri. Unik dari sisi kostumnya. Dan unik dari sisi gerakan-gerakannya. Semakin unik, karena dilaksanakan di tepian Pantai Boom yang pemandangannya indah.

Nah, Kabupaten Kediri (sebetulnya) punya titik-titik potensi untuk “dijahit”, dan dibikin polanya. Sehingga mampu menciptakan event yang kolosal, punya distingsi tinggi, dan sarat dengan kearifan lokal.

Di antara titik-titik potensi itu: Kabupaten Kediri punya Gunung Kelud. Kawah yang ada di Gunung Kelud yang kini menjadi semacam danau, serta pemandangan alam di sana, sungguh indah.

Titik potensi yang lain, adalah “Kesenian Tari Kethek Ogleng”. Tarian ini juga sarat dengan nilai sejarah. Yakni, di dalamnya mengandung kisah tentang Panji Asmarabangun. Dalam setiap pementasannya, tarian ini  biasanya hanya menggunakan dua tokoh. Tokoh pertama adalah perwujudan dari Dewi Sekartaji yang menyamar sebagai gadis desa dengan nama Endang Roro Tompe. Tokoh kedua adalah perwujudan Panji Asmarobangun yang menjelma menjadi seekor “Kethek Ogleng” berwarna putih.

Masih banyak titik-titik potensi yang bisa digali di Kabupaten Kediri. Selanjutnya, dari titik-titik potensi itu, jadikan sebuah event kolosal yang menarik, dan bikin WOW…Yok Opo Lurrr? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

- Advertisement -

Asal punya duit, siapa saja bisa bikin acara konser musik. Menghadirkan artis-artis berkaliber nasional yang sedang “naik daun”. Seperti yang dilakukan Pemkab Kediri Agustus lalu. Melalui “Konser Iromo Tresno” dalam rangka memperingati kemerdekaan RI, Pemkab Kediri menghadirkan Denny Caknan dan Happy Asmara.

Tentu saja meriah. Dan tentu saja yang hadir membeludak. Maklum, dua penyanyi itu saat ini sedang banyak digandrungi penggemar. Lagu-lagunya enak-enak. Mudah dihafal, gampang dinyanyikan, dan seringkali menceritakan tentang kegalauan dalam menjalin cinta, yang banyak dirasakan masyarakat.

Boleh-boleh saja bikin konser musik seperti itu. Baik-baik saja jika dilakukan. Dan itu adalah sarana untuk memberikan hiburan kepada masyarakat.

Tapi, acara seperti itu tidak ada unsur “distingsi”-nya (pembeda). Seperti saya singgung di awal tulisan ini, siapa pun bisa bikin konser musik seperti itu asal punya duit. Acara seperti itu, seakan hanya mengejar target massa belaka. Sekadar hiburan belaka.

Maka, alangkah lebih baik lagi, selain bikin konser musik dengan menghadirkan artis ngetop, Pemkab Kediri juga mulai memikirkan untuk bikin acara kolosal yang punya “distingsi” tinggi, yang belum pernah ada sebelumnya. Akan lebih baik, jika event kolosal itu punya nilai budaya yang mencerminkan kearifan lokal.

Jika boleh menyebut contoh, seperti yang dilakukan Pemkab Banyuwangi melalui acara kolosal yang rutin digelar setiap tahun sejak 2012, yakni: “Festival Gandrung Sewu”.  Acara ini melibatkan ribuan pelajar putri  mulai dari tingkat SMP hingga SMA se-Kabupaten Banyuwangi. Di mana mereka berpakaian ala penari gandrung. Kostumnya keren. Paras mereka cantik-cantik. Dan mereka menari gandrung secara serentak. Dengan gerakan yang sangat harmoni. Sehingga memukau siapa pun yang menyaksikannya. Festival Gandrung Sewu ini selalu dihelat di Pantai Boom Banyuwangi. Dan festival ini telah menjadi magnet pariwisata yang sangat kuat di Banyuwangi. Para wisatawan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, semakin banyak yang menyaksikan event tahunan itu.

Baca Juga :  Marketing Langit ala Abah Syamsul

Dan tahun ini, Festival Gandrung Sewu Banyuwangi masuk dalam program “Kharisma Event Nusantara” (KEN) 2022. Setelah melewati sederet kurasi dari total 395 festival yang ada di Indonesia.

Program KEN 2022 secara resmi diluncurkan oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno Maret lalu.

Setidaknya ada tiga “value” dari Festival Gandrung Sewu: Pertama, kolosalnya. Dan ini punya tingkat kesulitan cukup tinggi. Mulai dari bagaimana mengerahkan ribuan pelajar untuk bersedia menari gandrung. Dan bagaimana melatih mereka hingga gerakannya sangat harmoni.

Kedua, kearifan lokal. Tarian gandrung adalah tarian khas Banyuwangi. Ini bukan sekadar tarian. Tapi sarat dengan nilai sejarah. Nah, melalui Festival Gandrung Sewu, selain mempertontonkan kearifan lokal kepada masyarakat luas, juga menanamkam nilai-nilai budaya dan sejarah Banyuwangi kepada para pelajar.

Baca Juga :  Kota Kediri Level 1, PPKM Diperpanjang Dua Minggu

Value ketiga, unik. Festival Gandrung Sewu sejauh ini, menurut saya, punya keunikan tersendiri. Unik dari sisi kostumnya. Dan unik dari sisi gerakan-gerakannya. Semakin unik, karena dilaksanakan di tepian Pantai Boom yang pemandangannya indah.

Nah, Kabupaten Kediri (sebetulnya) punya titik-titik potensi untuk “dijahit”, dan dibikin polanya. Sehingga mampu menciptakan event yang kolosal, punya distingsi tinggi, dan sarat dengan kearifan lokal.

Di antara titik-titik potensi itu: Kabupaten Kediri punya Gunung Kelud. Kawah yang ada di Gunung Kelud yang kini menjadi semacam danau, serta pemandangan alam di sana, sungguh indah.

Titik potensi yang lain, adalah “Kesenian Tari Kethek Ogleng”. Tarian ini juga sarat dengan nilai sejarah. Yakni, di dalamnya mengandung kisah tentang Panji Asmarabangun. Dalam setiap pementasannya, tarian ini  biasanya hanya menggunakan dua tokoh. Tokoh pertama adalah perwujudan dari Dewi Sekartaji yang menyamar sebagai gadis desa dengan nama Endang Roro Tompe. Tokoh kedua adalah perwujudan Panji Asmarobangun yang menjelma menjadi seekor “Kethek Ogleng” berwarna putih.

Masih banyak titik-titik potensi yang bisa digali di Kabupaten Kediri. Selanjutnya, dari titik-titik potensi itu, jadikan sebuah event kolosal yang menarik, dan bikin WOW…Yok Opo Lurrr? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Artikel Terkait

Persik

BBM

Sambo dan Kebohongan

Ketika Sekolah Kekurangan Murid

Most Read

Ampas Kopi Itu Bisa Jadi Uang

Megengan Pandemi

Tiga Makam di Puncak Bukit Maskumambang


Artikel Terbaru

/