29 C
Kediri
Saturday, December 3, 2022

Nila Setitik di Afi Farma

- Advertisement -

Nama PT Afi Farma, pabrik obat tertua di Kota Kediri itu belakangan ini terganggu. Para aparat kepolisian, tak tanggung-tanggung, mereka dari Penyidik Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Dittipidter) Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri mendatangi pabrik obat yang berdiri sejak 1985 itu. Selama dua hari berturut-turut mereka menggeledah, menyegel, dan mengembangkan penyidikan terkait adanya obat yang diproduksi oleh Afi Farma yang diduga bermasalah. Tak hanya polisi, petugas dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) Pusat juga ikut memeriksa.

Obat apa yang diproduksi Afi Farma, yang dianggap bermasalah? Hasil uji lab BPOM membuktikan, obat parasetamol sirup buatan Afi Farma mengandung etilen glikol (EG) sebesar 236,39 mg. Padahal, ambang batas aman penggunaan EG adalah maksimal 0,1 mg/ml. Koran ini memberitakan (5/11/22), bahwa selain parasetamol sirup, saat penggeledehan Kamis pekan lalu (3/11/22), petugas membawa tujuh sampel obat yang akan diteliti lebih lanjut, yang juga diduga mengandung EG dan Dietilen Glikol (DEG) melebihi ambang batas.

Apa itu EG?

Apa itu DEG?

Mengapa di dalam obat sirup bisa mengandung EG dan DEG?

- Advertisement -

Apa bahayanya jika EG dan DEG berada di dalam tubuh dengan jumlah yang besar?

Dan bagaimana bisa, obat produksi Afi Farma mengandung EG yang jauh dari nilai ambang batas?

Apakah ini kesengajaan, kecolongan,  ataukah kecerobohan?

Saya akan menjelaskan dari pertanyaan pertama, tentang apa itu EG. Mengutip dari Britannica, EG adalah termasuk zat dalam golongan glikol (alkohol), yang berasal dari senyawa etilen. Zat kimia dengan rumus C2H6O2 ini bentuknya berupa cairan bening. Rasanya manis, dan kental jika dididihkan pada suhu 198 derajat celcius.

Sifat dari zat kimia ini tidak berbau, dan bisa mudah larut dalam air. Dengan sifat-sifatnya ini, makanya EG kerap dimanfaatkan dalam berbagai produk komersial dan industri. Misalnya, senyawa EG bisa ditemukan pada beberapa alat yang sering kita gunakan, termasuk bolpoint, plastik, cat, kosmetik, dan lain-lain.

Sedangkan DEG memiliki karakteristik yang tidak jauh berbeda dengan EG. Pada dasarnya, DEG terdiri dari dua molekul EG yang melekat satu sama lain.

Mengapa di dalam obat sirup bisa mengandung EG atau DEG?

Baca Juga :  KPU Kota Kediri: Targetkan Partisipasi Pemilih 80 persen

Penjelasan secara gamblang pernah disampaikan ahli Bioteknologi dan Kimia Farmasi, Bimo A. Tejo, PhD saat berbincang di sebuah Instagram Live bulan lalu (24/10/22). Saat itu dia menyampaikan analisisnya, salah satu kemungkinan penyebab obat sirup atau cair bisa mengandung cemaran EG dan DEG di atas ambang batas normal.

Yakni, kemungkinan berasal dari sisa reaksi yang lazim muncul dalam pembuatan obat. Kata dia, dalam proses pembuatan obat, lazim muncul produk sampingan. Atau dikenal dengan pencemar. Orang awam  memahami, jika zat A dicampur dengan zat B, bisa menghasilkan obat C. Padahal, yang betul-betul terjadi, ketika kita mencampur zat A dan zat B, hasilnya bisa obat C, dan zat D, E, F, G, H, I, J, dan lain-lain. Jadi, dalam suatu proses produksi obat, pasti ada zat pencemarnya.

Nah, dalam bahasa awam bisa dijelaskan, bahwa dalam proses pembuatan obat sirup, EG dan DEG bisa dikatakan sebagai zat pencemarnya. Di sinilah pentingnya proses pemurnian (purifikasi) agar cemaran EG dan DEG bisa diminimalkan, atau kadarnya masih berada di ambang batas aman yang dapat ditoleransi tubuh.

Namun yang menjadi masalah, masih kata Bimo, ada kemungkinan sebuah industri obat melewatkan proses pemurnian zat pencemar dalam produksi bahan baku obat di hulu. Ini dilakukan untuk menekan ongkos produksi. Atau, demi meraup keuntungan finansial. Hal ini membuat kadar EG dan DEG berada dalam jumlah yang besar atau melebihi ambang batas yang diijinkan.

Apakah ini yang terjadi pada Afi Farma? Apakah Afi Farma mengabaikan proses pemurnian zat pencemar dalam proses produksinya membuat sirup, sehingga kandungan EG-nya melebihi ambang batas? Sengaja mengabaikan, atau ini akibat dari kecerobohan alias kecolongan? Berbagai pertanyaan ini agaknya yang masih akan diselidiki lebih lanjut oleh polisi bekerjasama dengan BPOM.

Yang jelas, EG sejatinya adalah zat yang tak boleh masuk ke dalam tubuh. Jika sampai diserap oleh tubuh, maka akan dengan cepat memberikan efek yang berbeda.

Mengutip data dari CDC (Centers for Disease Control and Prevention, sebuah agen federal milik Amerika Serikat yang berada di bawah Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan yang berpusat di Atlanta, Georgia), terdapat tiga tahap yang akan dialami tubuh setelah terpapar EG. Tahap pertama, menyerang saraf dan terjadi setelah 30 menit – 12 jam. Tahap kedua, yang menyerang jantung, paru, dan terjadi setelah 12 – 24 jam. Tahap ketiga, yang menyerang ginjal, dan terjadi setelah 24-72 jam. Pada tahap ketiga ini, akan mengurangi atau menghentikan ekskresi urine secara total, dan menyebabkan gagal ginjal akut.

Baca Juga :  RS HVA

Menurut penelitian yang terbit pada “American Journal of Kidney Disease” di tahun 2009, gagal ginjal akut biasanya akan muncul 1-3 hari setelah tubuh menyerap EG.

Inilah yang diduga sudah terjadi di Indonesia. Makanya, belakangan ini gencar sekali dilakukan razia terhadap obat-obatan berjenis sirup yang terindikasi mengandung EG berlebih.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat, jumlah temuan kasus gangguan ginjal akut progresif atipikal atau dikenal dengan istilah gagal ginjal misterius di Indonesia mencapai 206 orang per 18 Oktober 2022. Dari ratusan kasus gagal ginjal misterius itu, 99 orang di antaranya meninggal dunia. Sehingga dapat dikatakan tingkat kematian kasus ini mencapai 48 persen dari total kasus terdeteksi.

Begitu bahayanya kandungan EG ini, makanya, Mabes Polri sampai harus turun tangan bersama BPOM Pusat menggeledah dan memeriksa Afi Farma. Apalagi, ditemukan di salah satu produk sirupnya, ada kandungan EG 236,39 mg. Sangat jauh dari nilai ambang batas 0,1 mg.

Bisa jadi, cobaan yang dihadapi Afi Farma ini, ibarat sedang mendapat “nila setitik”. Afi Farma harus bisa mengambil pelajaran di balik kasus tersebut. Ke depan, mereka harus lebih berhati-hati. Juga harus lebih care terhadap berbagai dampak negatif, dari proses produksinya. Afi Farma sudah eksis sejak 1985. Hingga kini sudah memproduksi sedikitnya 98 jenis obat. Menurut situs resminya, dalam satu tahun, Afi Farma mampu memproduksi 18 miliar obat tablet, 200 juta obat kemasan botol, serta 50 juta obat kemasan tabung dalam sediaan bentuk semi padat. Jangan sampai, gara-gara “nila setitik” jadi rusak “susu sebelanga”. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

- Advertisement -

Nama PT Afi Farma, pabrik obat tertua di Kota Kediri itu belakangan ini terganggu. Para aparat kepolisian, tak tanggung-tanggung, mereka dari Penyidik Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Dittipidter) Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri mendatangi pabrik obat yang berdiri sejak 1985 itu. Selama dua hari berturut-turut mereka menggeledah, menyegel, dan mengembangkan penyidikan terkait adanya obat yang diproduksi oleh Afi Farma yang diduga bermasalah. Tak hanya polisi, petugas dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) Pusat juga ikut memeriksa.

Obat apa yang diproduksi Afi Farma, yang dianggap bermasalah? Hasil uji lab BPOM membuktikan, obat parasetamol sirup buatan Afi Farma mengandung etilen glikol (EG) sebesar 236,39 mg. Padahal, ambang batas aman penggunaan EG adalah maksimal 0,1 mg/ml. Koran ini memberitakan (5/11/22), bahwa selain parasetamol sirup, saat penggeledehan Kamis pekan lalu (3/11/22), petugas membawa tujuh sampel obat yang akan diteliti lebih lanjut, yang juga diduga mengandung EG dan Dietilen Glikol (DEG) melebihi ambang batas.

Apa itu EG?

Apa itu DEG?

Mengapa di dalam obat sirup bisa mengandung EG dan DEG?

Apa bahayanya jika EG dan DEG berada di dalam tubuh dengan jumlah yang besar?

Dan bagaimana bisa, obat produksi Afi Farma mengandung EG yang jauh dari nilai ambang batas?

Apakah ini kesengajaan, kecolongan,  ataukah kecerobohan?

Saya akan menjelaskan dari pertanyaan pertama, tentang apa itu EG. Mengutip dari Britannica, EG adalah termasuk zat dalam golongan glikol (alkohol), yang berasal dari senyawa etilen. Zat kimia dengan rumus C2H6O2 ini bentuknya berupa cairan bening. Rasanya manis, dan kental jika dididihkan pada suhu 198 derajat celcius.

Sifat dari zat kimia ini tidak berbau, dan bisa mudah larut dalam air. Dengan sifat-sifatnya ini, makanya EG kerap dimanfaatkan dalam berbagai produk komersial dan industri. Misalnya, senyawa EG bisa ditemukan pada beberapa alat yang sering kita gunakan, termasuk bolpoint, plastik, cat, kosmetik, dan lain-lain.

Sedangkan DEG memiliki karakteristik yang tidak jauh berbeda dengan EG. Pada dasarnya, DEG terdiri dari dua molekul EG yang melekat satu sama lain.

Mengapa di dalam obat sirup bisa mengandung EG atau DEG?

Baca Juga :  Makam Dipindah dari Mrican karena Pemikiran Para Kiai

Penjelasan secara gamblang pernah disampaikan ahli Bioteknologi dan Kimia Farmasi, Bimo A. Tejo, PhD saat berbincang di sebuah Instagram Live bulan lalu (24/10/22). Saat itu dia menyampaikan analisisnya, salah satu kemungkinan penyebab obat sirup atau cair bisa mengandung cemaran EG dan DEG di atas ambang batas normal.

Yakni, kemungkinan berasal dari sisa reaksi yang lazim muncul dalam pembuatan obat. Kata dia, dalam proses pembuatan obat, lazim muncul produk sampingan. Atau dikenal dengan pencemar. Orang awam  memahami, jika zat A dicampur dengan zat B, bisa menghasilkan obat C. Padahal, yang betul-betul terjadi, ketika kita mencampur zat A dan zat B, hasilnya bisa obat C, dan zat D, E, F, G, H, I, J, dan lain-lain. Jadi, dalam suatu proses produksi obat, pasti ada zat pencemarnya.

Nah, dalam bahasa awam bisa dijelaskan, bahwa dalam proses pembuatan obat sirup, EG dan DEG bisa dikatakan sebagai zat pencemarnya. Di sinilah pentingnya proses pemurnian (purifikasi) agar cemaran EG dan DEG bisa diminimalkan, atau kadarnya masih berada di ambang batas aman yang dapat ditoleransi tubuh.

Namun yang menjadi masalah, masih kata Bimo, ada kemungkinan sebuah industri obat melewatkan proses pemurnian zat pencemar dalam produksi bahan baku obat di hulu. Ini dilakukan untuk menekan ongkos produksi. Atau, demi meraup keuntungan finansial. Hal ini membuat kadar EG dan DEG berada dalam jumlah yang besar atau melebihi ambang batas yang diijinkan.

Apakah ini yang terjadi pada Afi Farma? Apakah Afi Farma mengabaikan proses pemurnian zat pencemar dalam proses produksinya membuat sirup, sehingga kandungan EG-nya melebihi ambang batas? Sengaja mengabaikan, atau ini akibat dari kecerobohan alias kecolongan? Berbagai pertanyaan ini agaknya yang masih akan diselidiki lebih lanjut oleh polisi bekerjasama dengan BPOM.

Yang jelas, EG sejatinya adalah zat yang tak boleh masuk ke dalam tubuh. Jika sampai diserap oleh tubuh, maka akan dengan cepat memberikan efek yang berbeda.

Mengutip data dari CDC (Centers for Disease Control and Prevention, sebuah agen federal milik Amerika Serikat yang berada di bawah Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan yang berpusat di Atlanta, Georgia), terdapat tiga tahap yang akan dialami tubuh setelah terpapar EG. Tahap pertama, menyerang saraf dan terjadi setelah 30 menit – 12 jam. Tahap kedua, yang menyerang jantung, paru, dan terjadi setelah 12 – 24 jam. Tahap ketiga, yang menyerang ginjal, dan terjadi setelah 24-72 jam. Pada tahap ketiga ini, akan mengurangi atau menghentikan ekskresi urine secara total, dan menyebabkan gagal ginjal akut.

Baca Juga :  Candi Ngetos Jadi Simbol Eksotisme Wilayah

Menurut penelitian yang terbit pada “American Journal of Kidney Disease” di tahun 2009, gagal ginjal akut biasanya akan muncul 1-3 hari setelah tubuh menyerap EG.

Inilah yang diduga sudah terjadi di Indonesia. Makanya, belakangan ini gencar sekali dilakukan razia terhadap obat-obatan berjenis sirup yang terindikasi mengandung EG berlebih.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat, jumlah temuan kasus gangguan ginjal akut progresif atipikal atau dikenal dengan istilah gagal ginjal misterius di Indonesia mencapai 206 orang per 18 Oktober 2022. Dari ratusan kasus gagal ginjal misterius itu, 99 orang di antaranya meninggal dunia. Sehingga dapat dikatakan tingkat kematian kasus ini mencapai 48 persen dari total kasus terdeteksi.

Begitu bahayanya kandungan EG ini, makanya, Mabes Polri sampai harus turun tangan bersama BPOM Pusat menggeledah dan memeriksa Afi Farma. Apalagi, ditemukan di salah satu produk sirupnya, ada kandungan EG 236,39 mg. Sangat jauh dari nilai ambang batas 0,1 mg.

Bisa jadi, cobaan yang dihadapi Afi Farma ini, ibarat sedang mendapat “nila setitik”. Afi Farma harus bisa mengambil pelajaran di balik kasus tersebut. Ke depan, mereka harus lebih berhati-hati. Juga harus lebih care terhadap berbagai dampak negatif, dari proses produksinya. Afi Farma sudah eksis sejak 1985. Hingga kini sudah memproduksi sedikitnya 98 jenis obat. Menurut situs resminya, dalam satu tahun, Afi Farma mampu memproduksi 18 miliar obat tablet, 200 juta obat kemasan botol, serta 50 juta obat kemasan tabung dalam sediaan bentuk semi padat. Jangan sampai, gara-gara “nila setitik” jadi rusak “susu sebelanga”. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Artikel Terkait

Pilkades

Koperasi Masih Mulia?

Sidak, Blusukan, dan Pencitraan

Harmoni Kediri The Service City

Sedudo

Most Read


Artikel Terbaru

/