26.4 C
Kediri
Monday, August 15, 2022

Tol, Bandara, dan Masa Depan Kediri Raya

- Advertisement -

Saya termasuk yang tidak sabar untuk bisa menyaksikan peristiwa demi peristiwa yang akan terjadi pada 5 tahun ke depan. Ketika saat itu tiba, Bandara Kediri sudah beroperasi. Ketika saat itu tiba, jalan tol Kertosono-Kediri juga sudah bisa dilewati. Ketika saat itu tiba, jalan tol Kediri-Tulungagung, sudah bisa dilalui.

Jika tidak ada aral melintang, tiga proyek prestisius itu: bandara, ruas tol Kertosono-Kediri, dan Kediri-Tulungagung dijadwalkan selesai paling lama dalam lima tahun ke depan. Bahkan, konon, pemerintah menargetkan ketiga proyek itu harus selesai dan harus diresmikan sebelum masa jabatan Presiden Joko Widodo berakhir pada 2024.

Mari kita bahas satu per satu tiga proyek prestisius itu:

Pertama, Bandara Kediri. Kelak, bakal dinamai Bandara Dhoho. Ketika  Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan mengunjungi proyek pembangunan bandara di Kediri pada November tahun lalu, dia menegaskan soal target. Kata dia, Bandara Dhoho akan selesai pada akhir tahun ini (2022). Dan siap beroperasi pada pertengahan 2023.

Saat dikunjungi Luhut itu, pembebasan lahannya kurang sekitar 1,7 hektare. Dan, rasanya tidak sulit bagi PT Surya Dhoho Investama (anak perusahaan PT Gudang Garam Tbk yang membangun Bandara Dhoho) untuk membebaskan lahan yang kurang itu. Kabarnya, sejak Januari lalu, lahan 1,7 hektare itu sudah bisa dibebaskan semuanya.

- Advertisement -

Artinya, dari sisi pembebasan lahan, bandara itu sudah clear. Dari sisi biaya, PT Gudang Garam, kabarnya sudah menyiapkan anggaran antara Rp 8 Triliun hingga Rp 9 Triliun. Jadi, rasanya tidak ada kendala yang signifikan. Berarti, target bahwa bandara itu selesai pembangunannya akhir tahun ini, dan beroperasi pertengahan tahun depan,  (Insya Allah) bisa tercapai.

Jika Bandara Dhoho kelak benar-benar sudah beroperasi, ini akan menjadi bandara internasional terbesar kedua di Jatim setelah Juanda. Bakal lebih besar dari  Bandara Internasional Banyuwangi yang lebih dulu beroperasi. Dari sisi luas, Bandara Dhoho menempati lahan sekitar 371 hektare. Dari sisi runway, panjangnya 3.300 meter, lebar landasan 45 meter. Sedangkan runway di Bandara Banyuwangi 2.500 meter.

Baca Juga :  Aset (Daerah) Mangkrak

Dalam rencana yang telah disusun, Bandara Dhoho diproyeksikan menjadi embarkasi Jamaah Haji dan Umrah. Para jamaah haji dan umrah yang berasal dari Kediri Raya, Nganjuk, Blitar, Trenggalek, Tulungagung, Pacitan, dan sekitarnya jika akan berangkat umrah atau haji, tidak perlu ke Bandara Juanda. Tapi, bisa berangkat dari Bandara Dhoho. Dengan luas terminal sekitar 18 ribu meter persegi, diperkirakan Bandara Dhoho akan mampu melayani penumpang sekitar 1,5 juta per tahun.

Proyek kedua, adalah Jalan Tol Kertosono-Kediri. Ini termasuk satu dari ruas tol yang diprioritaskan pembangunannya oleh pemerintah pusat, untuk menunjang keberadaan Bandara Dhoho. Ditargetkan, tol ini akan selesai, pararel dengan pengoperasian Bandara Dhoho.

Pemprov Jatim sudah membuat semacam “road map” pembangunan Tol Kertosono-Kediri ini melalui surat yang dikeluarkan Sekretariat Daerah.  Surat itu adalah: “Pemberitahuan Rencana Pembangunan Ruas Jalan Tol Kertosono-Kediri di Kabupaten Nganjuk dan Kabupaten Kediri Provinsi Jawa Timur” bernomor: 590/5446/011.1/2022.

Di dalam surat itu disebutkan, selain membangun akses menuju Bandara Dhoho, ruas tol Kertosono-Kediri dibutuhkan untuk peningkatan komoditas unggulan Tebu, sebagai kawasan tanaman substitusi impor yang terletak di Kabupaten Nganjuk dan Kabupaten Kediri. Ruas tol ini juga dibutuhkan untuk menghubungkan pusat-pusat perekonomian di Jawa Timur bagian selatan.

Kebutuhan lahan untuk membangun tol Kertosono-Kediri juga sudah dipetakan dan dikapling oleh Pemprov Jatim. Ruas tol ini diperkirakan akan menempati lahan sekitar 2.149.363,36 meter persegi. Lahan tersebut terbanyak berada di Kabupaten Nganjuk, sekitar 1.768.183,54 meter persegi yang tersebar di 16 desa/kelurahan, dan 3 kecamatan. Sedangkan di bagian Kabupaten Kediri akan menempati lahan sekitar 381.179,82 meter persegi, tersebar di 5 desa atau kelurahan dan dua kecamatan.

Baca Juga :  Selama Enam Bulan, 254 Istri Gugat Cerai ke Pengadilan Agama

Pemprov Jatim menargetkan, proses pengadaan tanah untuk pembangunan tol Kertosono-Kediri ini harus bisa diselesaikan paling lambat pada triwulan ke-IV tahun ini (2022). Berarti, Desember 2022 adalah batas akhir proses pengadaan lahannya.

Proyek ketiga, adalah pembangunan ruas Tol Kediri-Tulungagung. Ruas tol ini dibangun juga untuk menunjang keberadaan Bandara Dhoho. Menurut rencana, total panjangnya sekitar 44 kilo meter. Perinciannya: sekitar 7,2 kilo meter merupakan akses jalan menuju Bandara Dhoho. Dan sekitar 37 kilo meter adalah ruas tol Kediri-Tulungagung.

Proyek pembangunan tol Kediri-Tulungagung ini merupakan proyek KPBU (Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha) Unsolicited (prakarsa proyek kerjasama yang diajukan badan usaha swasta di luar proyek yang diajukan pemerintah). Pengusulnya adalah PT Gudang Garam Tbk. Dijadwalkan, proyek ini selesai 2024. Konon, sudah diwanti-wanti agar selesai sebelum Presiden Joko Widodo lengser.

Dan, proyek tol Kediri-Tulungagung ini masuk dalam proyek strategis nasional sesuai dengan Perpres No. 80 Tahun 2019 tentang: Percepatan Pembangunan Ekonomi di Kawasan Gresik-Bangkalan-Mojokerto-Surabaya-Sidoarjo-Lamongan; Kawasan Bromo-Tengger-Semeru; serta kawasan Selingkar Wilis dan Lintas Selatan.

Jadi, di atas kertas, tidak ada masalah dalam proses pembangunan tiga proyek prestisius itu. Rencana sudah disusun secara matang. Pembebasan lahannya “on progress” dan kelihatannya “on schedule”. Soal biaya, juga sudah dianggarkan dan disiapkan. Baik oleh pemerintah pusat, maupun oleh PT Gudang Garam. Semoga semuanya lancar. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

- Advertisement -

Saya termasuk yang tidak sabar untuk bisa menyaksikan peristiwa demi peristiwa yang akan terjadi pada 5 tahun ke depan. Ketika saat itu tiba, Bandara Kediri sudah beroperasi. Ketika saat itu tiba, jalan tol Kertosono-Kediri juga sudah bisa dilewati. Ketika saat itu tiba, jalan tol Kediri-Tulungagung, sudah bisa dilalui.

Jika tidak ada aral melintang, tiga proyek prestisius itu: bandara, ruas tol Kertosono-Kediri, dan Kediri-Tulungagung dijadwalkan selesai paling lama dalam lima tahun ke depan. Bahkan, konon, pemerintah menargetkan ketiga proyek itu harus selesai dan harus diresmikan sebelum masa jabatan Presiden Joko Widodo berakhir pada 2024.

Mari kita bahas satu per satu tiga proyek prestisius itu:

Pertama, Bandara Kediri. Kelak, bakal dinamai Bandara Dhoho. Ketika  Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan mengunjungi proyek pembangunan bandara di Kediri pada November tahun lalu, dia menegaskan soal target. Kata dia, Bandara Dhoho akan selesai pada akhir tahun ini (2022). Dan siap beroperasi pada pertengahan 2023.

Saat dikunjungi Luhut itu, pembebasan lahannya kurang sekitar 1,7 hektare. Dan, rasanya tidak sulit bagi PT Surya Dhoho Investama (anak perusahaan PT Gudang Garam Tbk yang membangun Bandara Dhoho) untuk membebaskan lahan yang kurang itu. Kabarnya, sejak Januari lalu, lahan 1,7 hektare itu sudah bisa dibebaskan semuanya.

Artinya, dari sisi pembebasan lahan, bandara itu sudah clear. Dari sisi biaya, PT Gudang Garam, kabarnya sudah menyiapkan anggaran antara Rp 8 Triliun hingga Rp 9 Triliun. Jadi, rasanya tidak ada kendala yang signifikan. Berarti, target bahwa bandara itu selesai pembangunannya akhir tahun ini, dan beroperasi pertengahan tahun depan,  (Insya Allah) bisa tercapai.

Jika Bandara Dhoho kelak benar-benar sudah beroperasi, ini akan menjadi bandara internasional terbesar kedua di Jatim setelah Juanda. Bakal lebih besar dari  Bandara Internasional Banyuwangi yang lebih dulu beroperasi. Dari sisi luas, Bandara Dhoho menempati lahan sekitar 371 hektare. Dari sisi runway, panjangnya 3.300 meter, lebar landasan 45 meter. Sedangkan runway di Bandara Banyuwangi 2.500 meter.

Baca Juga :  Suami Pelit, sang Istri Ngibrit

Dalam rencana yang telah disusun, Bandara Dhoho diproyeksikan menjadi embarkasi Jamaah Haji dan Umrah. Para jamaah haji dan umrah yang berasal dari Kediri Raya, Nganjuk, Blitar, Trenggalek, Tulungagung, Pacitan, dan sekitarnya jika akan berangkat umrah atau haji, tidak perlu ke Bandara Juanda. Tapi, bisa berangkat dari Bandara Dhoho. Dengan luas terminal sekitar 18 ribu meter persegi, diperkirakan Bandara Dhoho akan mampu melayani penumpang sekitar 1,5 juta per tahun.

Proyek kedua, adalah Jalan Tol Kertosono-Kediri. Ini termasuk satu dari ruas tol yang diprioritaskan pembangunannya oleh pemerintah pusat, untuk menunjang keberadaan Bandara Dhoho. Ditargetkan, tol ini akan selesai, pararel dengan pengoperasian Bandara Dhoho.

Pemprov Jatim sudah membuat semacam “road map” pembangunan Tol Kertosono-Kediri ini melalui surat yang dikeluarkan Sekretariat Daerah.  Surat itu adalah: “Pemberitahuan Rencana Pembangunan Ruas Jalan Tol Kertosono-Kediri di Kabupaten Nganjuk dan Kabupaten Kediri Provinsi Jawa Timur” bernomor: 590/5446/011.1/2022.

Di dalam surat itu disebutkan, selain membangun akses menuju Bandara Dhoho, ruas tol Kertosono-Kediri dibutuhkan untuk peningkatan komoditas unggulan Tebu, sebagai kawasan tanaman substitusi impor yang terletak di Kabupaten Nganjuk dan Kabupaten Kediri. Ruas tol ini juga dibutuhkan untuk menghubungkan pusat-pusat perekonomian di Jawa Timur bagian selatan.

Kebutuhan lahan untuk membangun tol Kertosono-Kediri juga sudah dipetakan dan dikapling oleh Pemprov Jatim. Ruas tol ini diperkirakan akan menempati lahan sekitar 2.149.363,36 meter persegi. Lahan tersebut terbanyak berada di Kabupaten Nganjuk, sekitar 1.768.183,54 meter persegi yang tersebar di 16 desa/kelurahan, dan 3 kecamatan. Sedangkan di bagian Kabupaten Kediri akan menempati lahan sekitar 381.179,82 meter persegi, tersebar di 5 desa atau kelurahan dan dua kecamatan.

Baca Juga :  Jalan di Kunjang Ambrol, Petani Kesulitan Angkut Panen

Pemprov Jatim menargetkan, proses pengadaan tanah untuk pembangunan tol Kertosono-Kediri ini harus bisa diselesaikan paling lambat pada triwulan ke-IV tahun ini (2022). Berarti, Desember 2022 adalah batas akhir proses pengadaan lahannya.

Proyek ketiga, adalah pembangunan ruas Tol Kediri-Tulungagung. Ruas tol ini dibangun juga untuk menunjang keberadaan Bandara Dhoho. Menurut rencana, total panjangnya sekitar 44 kilo meter. Perinciannya: sekitar 7,2 kilo meter merupakan akses jalan menuju Bandara Dhoho. Dan sekitar 37 kilo meter adalah ruas tol Kediri-Tulungagung.

Proyek pembangunan tol Kediri-Tulungagung ini merupakan proyek KPBU (Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha) Unsolicited (prakarsa proyek kerjasama yang diajukan badan usaha swasta di luar proyek yang diajukan pemerintah). Pengusulnya adalah PT Gudang Garam Tbk. Dijadwalkan, proyek ini selesai 2024. Konon, sudah diwanti-wanti agar selesai sebelum Presiden Joko Widodo lengser.

Dan, proyek tol Kediri-Tulungagung ini masuk dalam proyek strategis nasional sesuai dengan Perpres No. 80 Tahun 2019 tentang: Percepatan Pembangunan Ekonomi di Kawasan Gresik-Bangkalan-Mojokerto-Surabaya-Sidoarjo-Lamongan; Kawasan Bromo-Tengger-Semeru; serta kawasan Selingkar Wilis dan Lintas Selatan.

Jadi, di atas kertas, tidak ada masalah dalam proses pembangunan tiga proyek prestisius itu. Rencana sudah disusun secara matang. Pembebasan lahannya “on progress” dan kelihatannya “on schedule”. Soal biaya, juga sudah dianggarkan dan disiapkan. Baik oleh pemerintah pusat, maupun oleh PT Gudang Garam. Semoga semuanya lancar. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Artikel Terkait

Syekh Wasil

Kota Kediri, 1.143 Tahun

Kelud

(Kecerdasan) Syahwat

Oh….Stasiun Kediri

Most Read


Artikel Terbaru

/