24.1 C
Kediri
Saturday, January 28, 2023

Taman

- Advertisement -

Setidaknya ada tiga taman di Kota Kediri yang direvitalisasi oleh Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar hingga menjadi taman kota yang keren. Yakni: Taman Brantas, Taman Sekartaji, dan Taman Hutan Kota Joyoboyo.

Taman-taman itu direncanakan dan didesain secara serius oleh Mas Abu (sapaan akrab Wali Kota Kediri). Tidak asal. Buktinya, arsitek yang mendesain taman-taman itu bukan arsitek kaleng-kaleng.

Taman Brantas, didesain oleh Ridwan Kamil. Arsitek berkaliber internasional yang kini menjadi Gubernur Jawa Barat. Hutan Kota Joyoboyo didesain oleh Yu Sing. Dia lulusan ITB, pemilik Studio Arsitek Akanoma, yang pernah menjuarai berbagai lomba desain. Di antaranya, pernah juara 1 lomba desain “Jakarta Desain Center”, dan pemenang “Holcim Award Indonesia 2009”. Dia juga aktif membantu mendesain rumah murah di berbagai daerah di Indonesia.

Sedangkan Taman Sekartaji konsep untuk pengelolaannya diusulkan oleh arsitek dan budayawan asal Australia, Michael White. Selain arsitek, dia juga dikenal sebagai pemerhati budaya Indonesia dan sudah puluhan tahun tinggal di Bali. Bahkan secara resmi punya nama Bali: Made Wijaya.

Lalu siapa yang mendesain dan menjadi arsitek di taman yang berlokasi di Kecamatan Mojoroto itu? Dia adalah Sony Restu Wibowo, seorang arsitek senior lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta.

- Advertisement -

Dia secara khusus bikin desain untuk merevitalisasi Taman Sekartaji, yakni mengusung konsep Panji. Dia bikin lanskap tamannya, lalu desainnya dia serahkan kepada Mas Abu.

Konsep Panji adalah berasal dari cerita Panji, yakni kumpulan cerita yang berasal dari Jawa periode klasik, tepatnya dari era Kerajaan Kediri (1042-1222). Isinya mengenai kepahlawanan dan cinta yang berpusat pada dua tokoh utama, yaitu Raden Inu Kertapati (atau Panji Asmarabangun) dan Dewi Sekartaji (atau Galuh Candrakirana).

Ketiga taman itu: Taman Brantas, Taman Sekartaji dan Taman Hutan Kota Joyoboyo sempat ditutup untuk umum selama dua tahun lebih akibat pandemi Covid-19. Kini, taman-taman itu sudah dibuka, dan mulai bisa dinikmati oleh masyarakat.

Saya termasuk yang sangat mengapresiasi kepada kepala daerah yang selama kepemimpinannya ngopeni dan merawat taman-taman di wilayahnya. Sebab, keberadaan taman memiliki fungsi sosial dan estetika sebagai sarana rekreasi, edukasi, dan komunikasi warga. Keberadaannya juga menjaga kesegaran udara sekaligus ketersediaan air tanah. Dalam perencanaan kota-kota modern, ruang terbuka hijau (RTH) wajib ada. Wujudnya boleh berupa taman yang dapat diakses siapa saja.

Baca Juga :  Aset (Daerah) Mangkrak

Jika menilik sejarah, tidak ada yang bisa memastikan, kapan dan di mana taman pertama kali dibuat. Yang jelas, budaya bercocok tanam mulai dikenal manusia sejak 10 ribu tahun sebelum Masehi (SM). Tom Turner dalam Garden History (2004) mengatakan, catatan terawal tentang taman dapat dilacak dari peninggalan kebudayaan yang hidup 4.000 SM di Mesopotamia (kini Irak).

Adalah Epos Gilgames yang dibuat pada masa imperium pertama yang menguasai kawasan Mesopotamia, Akkadia. Teks berusia 1.400 SM itu berkisah tentang sosok pahlawan mitis Gilgames yang dianggap sebagai penguasa pada milenium ketiga SM. Sang raja dalam karya sastra itu dituturkan memerintah suatu kota yang sepertiga wilayahnya adalah taman.

Sejak abad ke-18 SM, Babilonia meneruskan kebesaran Akkadia di Mesopotamia. Kerajaan yang beribu kota di Babilon (kini Hilla, Irak) itu dipimpin Raja Nebukadnezar II antara tahun 605 – 562 SM. Pada masa kekuasaannya, Taman Gantung Babilonia diyakini mulai dibangun sebagai sebuah persembahan bagi isterinya, Ratu Amuhia. Sebab, perempuan itu disebut-sebut merindukan kampung halamannya di Media (Iran) yang memiliki kontur perbukitan dan lembah yang asri.

Deskripsi tentang Taman Gantung Babilonia cenderung mengandalkan teks-teks Yunani dan Romawi yang muncul antara abad kedua dan pertama SM. Mereka menilai taman tersebut begitu indah. Bentuk kompleksnya berbukit-bukit sehingga menampilkan kesan seolah-olah pepohonan yang ada di atasnya menggantung. Air mengalir dari tempat yang paling tinggi menuju ke bagian dasar, selayaknya air terjun.

Hingga kini, kalangan sejarawan masih memperdebatkan, apakah Taman Gantung Babilonia sungguh-sungguh ada atau sekadar kiasan dalam teks Mesopotamia. Memang, dari berbagai inskripsi tentang Nebukadnezar, tak ada yang menyebutkan secara lengkap ihwal taman. Para arkeolog pun belum menemukan situs apa pun yang dapat menjadi bukti eksistensinya.

Dr Stephanie Dalley dari Oxford University pada 2013 lalu mengklaim, taman itu pernah ada. Tetapi lokasinya di Nineveh, sekitar 480 kilometer arah utara Babilon. Hal itu berdasarkan riset yang dia lakukan selama 20 tahun terakhir atas warisan peradaban Mesopotamia Kuno.

Baca Juga :  Berdoa di Depan Patung Bunda Maria

Jadi, sejak zaman dulu kala, pemimpin telah menganggap penting keberadaan sebuah taman. Sebuah taman dibangun atas dasar filosofi, yaitu kehendak untuk menciptakan suatu kawasan yang di dalamnya manusia dapat menemukan kebahagiaan dan kesempurnaan.

Menurut Plato dan Aristoteles, kesempurnaan itu berkaitan dengan keindahan dan kenikmatan. Artinya, semakin sempurna sesuatu, maka dia akan kian dipandang indah serta menimbulkan perasaan bahagia bagi yang memilikinya.

Tom Turner mengatakan dalam bukunya “Garden History”, tujuan desain taman-taman Islam ialah menghadirkan citra tempat yang sempurna, yakni surga, kepada khalayak. Penghuni surga kelak merupakan orang-orang yang beriman dan diridhai-Nya. Maka dari itu, membangun sebuah taman, tak ubahnya mengajak orang-orang di dunia untuk merenungi hubungan mereka dengan Tuhan.

Makanya, saya salut dengan kepala daerah yang getol membangun dan memperindah taman-taman di wilayahnya. Membangun dan memperindah taman, berarti membangun peradaban. Berarti memenuhi hak rakyat untuk mendapatkan fasilitas publik yang layak, indah dan menentramkan.

Bu Risma (Tri Rismaharini), ketika menjadi Wali Kota Surabaya getol membangun dan memperindah taman-taman yang ada di Surabaya. Mas Azwar Anas ketika menjadi Bupati Banyuwangi juga getol memperindah dan membangun taman-taman di Banyuwangi. Kini, dua orang itu sama-sama menjadi menteri di kabinetnya Presiden Joko Widodo.

Mas Abu selama pemerintahannya, juga getol membangun dan memperindah taman-taman di Kota Kediri. Ada taman yang dulu jadi tempat mesum, dipermak, dibikin indah, hingga menjadi Taman Hutan Kota Joyoboyo. Ada taman yang dulunya kumuh, kotor, disulap menjadi Taman Sekartaji yang asri dan cantik. Dulu, di pinggir Sungai Brantas tidak ada apa-apanya. Hanya onggokan tanah lapang saja. Oleh Mas Abu dibikin lebih indah, maka jadilah Taman Brantas.

Jika Bu Risma dan Pak Azwar kemudian menjadi menteri, apakah Mas Abu akan menjadi menteri selanjutnya? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/kum_jp)

- Advertisement -

Setidaknya ada tiga taman di Kota Kediri yang direvitalisasi oleh Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar hingga menjadi taman kota yang keren. Yakni: Taman Brantas, Taman Sekartaji, dan Taman Hutan Kota Joyoboyo.

Taman-taman itu direncanakan dan didesain secara serius oleh Mas Abu (sapaan akrab Wali Kota Kediri). Tidak asal. Buktinya, arsitek yang mendesain taman-taman itu bukan arsitek kaleng-kaleng.

Taman Brantas, didesain oleh Ridwan Kamil. Arsitek berkaliber internasional yang kini menjadi Gubernur Jawa Barat. Hutan Kota Joyoboyo didesain oleh Yu Sing. Dia lulusan ITB, pemilik Studio Arsitek Akanoma, yang pernah menjuarai berbagai lomba desain. Di antaranya, pernah juara 1 lomba desain “Jakarta Desain Center”, dan pemenang “Holcim Award Indonesia 2009”. Dia juga aktif membantu mendesain rumah murah di berbagai daerah di Indonesia.

Sedangkan Taman Sekartaji konsep untuk pengelolaannya diusulkan oleh arsitek dan budayawan asal Australia, Michael White. Selain arsitek, dia juga dikenal sebagai pemerhati budaya Indonesia dan sudah puluhan tahun tinggal di Bali. Bahkan secara resmi punya nama Bali: Made Wijaya.

Lalu siapa yang mendesain dan menjadi arsitek di taman yang berlokasi di Kecamatan Mojoroto itu? Dia adalah Sony Restu Wibowo, seorang arsitek senior lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta.

Dia secara khusus bikin desain untuk merevitalisasi Taman Sekartaji, yakni mengusung konsep Panji. Dia bikin lanskap tamannya, lalu desainnya dia serahkan kepada Mas Abu.

Konsep Panji adalah berasal dari cerita Panji, yakni kumpulan cerita yang berasal dari Jawa periode klasik, tepatnya dari era Kerajaan Kediri (1042-1222). Isinya mengenai kepahlawanan dan cinta yang berpusat pada dua tokoh utama, yaitu Raden Inu Kertapati (atau Panji Asmarabangun) dan Dewi Sekartaji (atau Galuh Candrakirana).

Ketiga taman itu: Taman Brantas, Taman Sekartaji dan Taman Hutan Kota Joyoboyo sempat ditutup untuk umum selama dua tahun lebih akibat pandemi Covid-19. Kini, taman-taman itu sudah dibuka, dan mulai bisa dinikmati oleh masyarakat.

Saya termasuk yang sangat mengapresiasi kepada kepala daerah yang selama kepemimpinannya ngopeni dan merawat taman-taman di wilayahnya. Sebab, keberadaan taman memiliki fungsi sosial dan estetika sebagai sarana rekreasi, edukasi, dan komunikasi warga. Keberadaannya juga menjaga kesegaran udara sekaligus ketersediaan air tanah. Dalam perencanaan kota-kota modern, ruang terbuka hijau (RTH) wajib ada. Wujudnya boleh berupa taman yang dapat diakses siapa saja.

Baca Juga :  Koperasi Masih Mulia?

Jika menilik sejarah, tidak ada yang bisa memastikan, kapan dan di mana taman pertama kali dibuat. Yang jelas, budaya bercocok tanam mulai dikenal manusia sejak 10 ribu tahun sebelum Masehi (SM). Tom Turner dalam Garden History (2004) mengatakan, catatan terawal tentang taman dapat dilacak dari peninggalan kebudayaan yang hidup 4.000 SM di Mesopotamia (kini Irak).

Adalah Epos Gilgames yang dibuat pada masa imperium pertama yang menguasai kawasan Mesopotamia, Akkadia. Teks berusia 1.400 SM itu berkisah tentang sosok pahlawan mitis Gilgames yang dianggap sebagai penguasa pada milenium ketiga SM. Sang raja dalam karya sastra itu dituturkan memerintah suatu kota yang sepertiga wilayahnya adalah taman.

Sejak abad ke-18 SM, Babilonia meneruskan kebesaran Akkadia di Mesopotamia. Kerajaan yang beribu kota di Babilon (kini Hilla, Irak) itu dipimpin Raja Nebukadnezar II antara tahun 605 – 562 SM. Pada masa kekuasaannya, Taman Gantung Babilonia diyakini mulai dibangun sebagai sebuah persembahan bagi isterinya, Ratu Amuhia. Sebab, perempuan itu disebut-sebut merindukan kampung halamannya di Media (Iran) yang memiliki kontur perbukitan dan lembah yang asri.

Deskripsi tentang Taman Gantung Babilonia cenderung mengandalkan teks-teks Yunani dan Romawi yang muncul antara abad kedua dan pertama SM. Mereka menilai taman tersebut begitu indah. Bentuk kompleksnya berbukit-bukit sehingga menampilkan kesan seolah-olah pepohonan yang ada di atasnya menggantung. Air mengalir dari tempat yang paling tinggi menuju ke bagian dasar, selayaknya air terjun.

Hingga kini, kalangan sejarawan masih memperdebatkan, apakah Taman Gantung Babilonia sungguh-sungguh ada atau sekadar kiasan dalam teks Mesopotamia. Memang, dari berbagai inskripsi tentang Nebukadnezar, tak ada yang menyebutkan secara lengkap ihwal taman. Para arkeolog pun belum menemukan situs apa pun yang dapat menjadi bukti eksistensinya.

Dr Stephanie Dalley dari Oxford University pada 2013 lalu mengklaim, taman itu pernah ada. Tetapi lokasinya di Nineveh, sekitar 480 kilometer arah utara Babilon. Hal itu berdasarkan riset yang dia lakukan selama 20 tahun terakhir atas warisan peradaban Mesopotamia Kuno.

Baca Juga :  Terpeleset ke Sungai, Pria Asal Wonorejo Terseret 500 Meter

Jadi, sejak zaman dulu kala, pemimpin telah menganggap penting keberadaan sebuah taman. Sebuah taman dibangun atas dasar filosofi, yaitu kehendak untuk menciptakan suatu kawasan yang di dalamnya manusia dapat menemukan kebahagiaan dan kesempurnaan.

Menurut Plato dan Aristoteles, kesempurnaan itu berkaitan dengan keindahan dan kenikmatan. Artinya, semakin sempurna sesuatu, maka dia akan kian dipandang indah serta menimbulkan perasaan bahagia bagi yang memilikinya.

Tom Turner mengatakan dalam bukunya “Garden History”, tujuan desain taman-taman Islam ialah menghadirkan citra tempat yang sempurna, yakni surga, kepada khalayak. Penghuni surga kelak merupakan orang-orang yang beriman dan diridhai-Nya. Maka dari itu, membangun sebuah taman, tak ubahnya mengajak orang-orang di dunia untuk merenungi hubungan mereka dengan Tuhan.

Makanya, saya salut dengan kepala daerah yang getol membangun dan memperindah taman-taman di wilayahnya. Membangun dan memperindah taman, berarti membangun peradaban. Berarti memenuhi hak rakyat untuk mendapatkan fasilitas publik yang layak, indah dan menentramkan.

Bu Risma (Tri Rismaharini), ketika menjadi Wali Kota Surabaya getol membangun dan memperindah taman-taman yang ada di Surabaya. Mas Azwar Anas ketika menjadi Bupati Banyuwangi juga getol memperindah dan membangun taman-taman di Banyuwangi. Kini, dua orang itu sama-sama menjadi menteri di kabinetnya Presiden Joko Widodo.

Mas Abu selama pemerintahannya, juga getol membangun dan memperindah taman-taman di Kota Kediri. Ada taman yang dulu jadi tempat mesum, dipermak, dibikin indah, hingga menjadi Taman Hutan Kota Joyoboyo. Ada taman yang dulunya kumuh, kotor, disulap menjadi Taman Sekartaji yang asri dan cantik. Dulu, di pinggir Sungai Brantas tidak ada apa-apanya. Hanya onggokan tanah lapang saja. Oleh Mas Abu dibikin lebih indah, maka jadilah Taman Brantas.

Jika Bu Risma dan Pak Azwar kemudian menjadi menteri, apakah Mas Abu akan menjadi menteri selanjutnya? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/kum_jp)

Artikel Terkait

Dewata Keling

2023 Outlook

Bandara Kediri dan Kotak Pandora

Nanas PK-1

Most Read


Artikel Terbaru

/