Kebiasaan titip-menitip sesuatu sudah jadi tradisi di kampung ini. Lek No, orang yang dianggap paling luman alias ringan tangan, sering dititipi pamong untuk membelikan barang atau makanan.
Untuk urusan yang lebih berat, Lek No tak jarang diminta untuk mengantarkan pesan penting kepada siapa pun yang ingin menitipkannya. Semua pekerjaan itu dilakukan dengan ikhlas dan tanpa pamrih.
Tapi, tetap saja para pamong itu tahu diri. Biasanya, mereka memberikan tips kepada Lek No berkat jerih payahnya mau dititipi sesuatu. Nominalnya tidak besar. Kadang-kadang lima ribu. Jika mereka sedang berlimpah rezeki, Lek No bisa mengantongi uang tips sampai lima puluh ribu.
Lek No sebetulnya enggan menerima uang dari para pamong yang titip sesuatu. Hanya saja, mereka sering memaksanya dengan memasukkan uang itu ke dalam kantong celana Lek No. Jadi, mau tidak mau, dia mengucapkan terima kasih setelah pemberian itu.
Dalam sehari, Lek No bisa mendapat order titipan hingga empat kali. Dari pamong-pamong itu, yang paling sering menitip sesuatu adalah Pak Kamituwo Supat. Sebenarnya ada Dirjo, kaki tangannya, tapi entah kenapa, Pak Kamituwo Supat lebih sering nitip ke Lek No untuk sekadar beli makanan, mengantar surat atau membeli kertas dan pulpen.
Saking seringnya, Lek No sampai hafal ucapan atau isi WA Pak Kamituwo Supat jika ingin menitip sesuatu padanya.
"LEK NO, SAYA TITIP GORENGAN. UTAMANYA GORENGAN TEMPE DAN OTE-OTE."
Begitu kira-kira kata-kata yang disampaikan Pak Kamituwo Supat seperti yang diingat Lek No. Dia selalu ingat karena perkataan Pak Kamituwo Supat tidak berubah sama sekali setiap titip sesuatu. Yang berubah hanya subjeknya saja.
Misalnya jika ingin titip beli pulpen.
"LEK NO, SAYA TITIP PULPEN. UTAMANYA PULPEN YANG WARNA HITAM."
Dan, siang ini, ketika Lek No baru saja membereskan barang dagangannya di pasar, sebuah WA masuk ke ponselnya. Pesan itu datang dari Pak Kamituwo Supat.
"Lek, bisa ke rumah? Saya mau nitip sesuatu?"
Isi pesan dari Pak Kamituwo Supat itu dibaca berulang-ulang, sebelum akhirnya dijawab, "Ya Pak". Lek No merasa janggal dengan pesan dari Pak Kamituwo Supat. Biasanya, jika ingin menitip sesuatu, Pak Kamituwo Supat tidak pernah bertele-tele bertanya, "Bisa ke rumah?", "Ada di mana?", atau, "Masih di pasar?". Lek No selama ini sudah terlalu familiar dengan kata,"Lek No, saya titip...".
Meski terus bertanya keheranan, Lek No tetap memenuhi permintaan Pak Kamituwo Supat untuk datang ke rumahnya.
"Kok, nggak biasanya, tanya-tanya begitu kalau mau nitip sesuatu, Pak?" kata Lek No begitu dijamu Pak Kamituwo Supat di teras rumah.
"Boleh dong sekali-kali beda, Lek?"
"Saya yang nggak terbiasa saja, Pak Supat."
"Ya sekali ini. Besok-besok nggak lagi, Lek."
Pak Kamituwo Supat memberi alasan. Tapi sepertinya Lek No terus saja menganggap aneh dengan kalimat Pak Kamituwo Supat di WA.
"Memangnya mau nitip apa, Pak?"
"Lek No, saya titip bungkusan ini. Utamanya taruh di rumahmu."
"Itu buat saya, Pak?" tanya Lek No sambil menerima bungkusan kresek hitam besar yang tak tahu apa isinya.
"Bukan, Lek."
"Terus?"
"Saya tahu, sampean orangnya jujur, jadi cuma sampean yang bisa saya titipi bungkusan ini. Isinya kertas dan buku. Dan saya yakin sampean tidak akan membukanya sampai saya membutuhkan lagi."
"Kenapa harus ke saya, Pak?"
"Kan saya tadi bilang, saya percaya sampean orang jujur."
"Loh, ini bukan masalah jujur dan bohong, Pak Kamituwo. Kalau isinya bom, sampean mau tanggung jawab?"
"Hahahahah... Itu bukan bom, Lek. Bungkusan ini isinya cuma kertas dan buku."
"Taruh saja di rumah sampean sendiri, Pak."
Baru kali ini Lek No tidak segera mengiyakan ketika dititipi sesuatu. Dia berpikir tidak masuk akal saja kenapa Pak Kamituwo Supat menitipkan bungkusan itu padanya. Sementara luas rumahnya dibanding Pak Kamituwo Supat tidak ada apa-apanya.
"Ini bukan soal rumah saya tidak bisa menaruh bungkusan itu, Lek."
"Terus?"
"Ehhhh.. Ya ini soal kepercayaan saja, Lek. Sampean tahu kan istriku, kalau ada barang-barang seperti ini dianggap isinya duit. Mana mau dia melihat bungkusan yang isinya cuma kertas dan buku ada di rumah, Lek."
"Bilang saja isinya uang, Pak."
"Husss.. sampean ini bisa aja kalau bercanda. Sudahlah, Lek. Nggak lama, kok."
"Berapa hari dititipkan ke saya, Pak?"
"Seminggu saja."
Lek No akhirnya mengiyakan. Dibawanya bungkusan itu ke rumahnya. Lek No menyimpan di dapur. Di dekat pintu keluar dapur rumahnya.
Lek No membiarkan bungkusan itu tergeletak berhari-hari di situ. Hari pertama, bungkusan tetap berada di tempatnya. Hari kedua, tidak berubah sama sekali posisinya. Di hari ketiga, bungkusan itu mulai sedikit bergeser ke kiri.
Di hari keempat, ketika dilihat lagi, bungkusan itu sudah luput dari pandangannya. Lek No mencari di mana-mana, tapi hasilnya nihil. Dia bertanya pada istrinya, Lek Ni. Lek Ni menjawab dengan santai kalau bungkusan itu sudah diserahkan ke pemungut sampah di kampung ini dan sampah itu akan berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).
Dengan badan sedikit gemetar, Lek No bergegas menyampaikan laporan bungkusan yang hilang kepada Pak Kamituwo Supat. Meski hanya berisi kertas dan buku yang dianggapnya tidak bernilai, Lek No tetap merasa bersalah.
"Maaf beribu maaf, Pak Kamituwo Supat."
"Ngapain sampean sampai minta maaf beribu-ribu. Aman kan bungkusannya?"
"Itu dia, Pak"
"Loh itu dia gimana? Aman kan? Sampean bisa kan bilang aman?"
"Tid.. tid.. tidak aman, Pak."
"Maksudnya tidak aman?"
"Hilang Pak. Dibuang Lek Ni. Dikira sampah"
"Hilang? Mati aku, Lek. Tamat riwayatku, Lek!
"Kok tamat, Pak?"
"Sampean tahu kan apa isi bungkusan itu?"
"Isinya kan cuma kertas dan buku. Sampean sendiri yang bilang, Pak."
"Bukan. Itu isinya uang puluhan juta."
"Uang?"
"Iya itu uang yang saya kumpulkan dari calon perangkat dan akan saya setorkan ke kepala daerah."
"Oh semprul sampean, Pak. Jadi bungkusan itu uang sogokan? Yasudah syukurin hilang."
Mengetahui isi bungkusan itu adalah uang suap, Lek No tak menyesali telah melenyapkannya lewat tangan Lek Ni. Dia pulang meninggalkan Pak Kamituwo Supat yang terus merengek dan memegangi kepalanya dengan rambut yang sudah beruban.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Shinta Nurma Ababil