Libur sekolah harusnya jadi hari yang menyenangkan bagi ibu-ibu di kampung ini. Tahun lalu, ketika Gusyon, anaknya, libur semesteran, Bu Timuk bisa leha-leha tanpa memikirkan bekal menu makanan apa yang akan dibawa ke sekolah.
Di liburan akhir tahun ini, semua bentuk kesantaiaan itu tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat. Selama libur, pemerintah negeri ini tetap meminta orangtua untuk mengambil menu MBG di sekolah anaknya.
Maka, mau tidak mau, Bu Timuk bersama ibu-ibu yang lain bergegas pergi ke sekolah Gusyon untuk menjalankan aturan itu. Jika tidak diambil, para orangtua ini dianggap membangkang. Tidak mematuhi pemerintah. Dan mereka dicap sebagai ibu-ibu yang tidak peduli terhadap gizi anak.
Beruntung saja, pengambilan MBG selama libur sekolah tidak dilakukan setiap hari. Seperti paham dengan kondisi orangtua dan anak sekolah yang biasanya memilih berlibur ke luar desanya, pemerintah mengambil solusi praktis. Menu makanan selama lima hari dipaketkan dalam sehari saja.
Bu Timuk yang sejak awal tidak setuju dengan program MBG, merasa aturan ini ada plus dan minusnya. Plusnya, dia tidak harus bolak-bolak ke sekolah anaknya setiap hari hanya untuk memungut paket MBG. Minusnya, menu yang disajikan akhirnya makanan produk industri.
Meski bukan ahli gizi, Bu Timuk selalu disiplin membiasakan Gusyon untuk mengonsumsi makanan yang baru dimasak di dapur. Ada karbohidratnya, protein, lemak sehat, vitamin dan serat. Kebiasaan itu memang sudah diturunkan dari leluhurnya.
Makanya, jangan memandang sebelah mata, ibu-ibu yang mengkritik menu MBG. Mereka terkadang lebih paham menu seperti apa yang cocok untuk anaknya.
Sebagai bentuk dari kepedulian terhadap kesehatan makanan anaknya, Bu Timuk dengan gagah dan berani menanggapi menu MBG Gusyon selama liburan yang baru saja diambil di sekolah. Dia ingin membagikan penampakan menu itu kepada semua orang yang penasaran serupa apa paket MBG lima hari dalam sehari.
Kamera ponsel disiapkan untuk merekam aktivitas unboxing MBG itu. Bu Timuk meletakkan paket MBG yang diwadahi dalam kresek putih itu di atas meja. Dia membukanya.
Satu per satu isinya diperlihatkan. Isinya terdiri lima susu kotak, roti tawar, satu bungkus keripik tempe, satu kotak telur rebus, roti manis kemasan, satu buah naga dan dua buah jambu.
"Woow.. lihat ibu-ibu ini menu MBG anak saya selama lima hari," kata Bu Timuk mengawali unboxing menu MBG.
Dia melanjutkan,"Saya yakin Gusyon suka dengan menu-menu ini. Tapi saya tidak yakin makanan ini mengandung gizi yang baik, Ibu-Ibu."
Dengan nada yang agak menyentil, Bu Timuk berkata lagi,"Maka untuk kebaikan gizi anak saya, lebih baik menu makanan ini saya simpan dulu saja. Yang bagus seperti buah-buahan saja yang saya sajikan untuk Gusyon, kalau Ibu-Ibu gimana?"
Setelah melempar pertanyaan, Bu Timuk meneruskan review-nya."Kalau makanan seperti ini, susu, roti tawar dan roti yang manis, sebaiknya kita skip dulu deh. Menurut saya, ini bukan makanan yang baik untuk anak. Boleh dimakan tapi tidak untuk makanan yang memenuhi gizi."
Seperti seorang ahli gizi, Bu Timuk menerangkan,"Ini kan produk pabrik, jadi ehmm gimana ya, masak iya kita berikan ke anak kita sebagai makanan bergizi. Mending saya masak berikan makanan yang saya masak sendiri, Ibu-Ibu."
Dia meneruskan,"Kebetulan hari ini saya masak sayur sop, buat perkedel, dan telur dadar. Karena bapaknya suka pedes, saya buatkan juga deh sambel kecapnya, kalau Ibu-Ibu, masak apa hari ini?"
Sebagai penutup unboxing MBG, Bu Timur bertutur,"Jadi Ibu-Ibu, menurut saya, menu MBG yang diberikan sekolah belum layak disebut sebagai makanan bergizi. Kalau makanan enak iya, tapi kan ini harus bergizi. Ya bagi saya menu masakan dapur itu lebih bergizi. Tapi gimana lagi, saya ini cuma ngikutin aturan saja. Kalau tidak ikut, nanti dikira saya ingin melawan pemerintah. Tolong ditegaskan ya, saya tidak ingin membangkang. Tapi sebaiknya dievaluasi lagi menu makanannya. Apalagi kalau kita hitung, harga makanan per harinya selama liburan itu di bawah sepuluh ribu rupiah. Masuk akal nggak? Yasudah Ibu-Ibu, demikian dulu unboxing dari saya, semoga Ibu-Ibu lain di sana mendapatkan menu yang lebih baik dari milik anak saya."
Rekaman unboxing MBG itu kemudian diunggah di media sosial. Bu Timuk tidak menyangka, videonya banyak mendapat respons dari warganet. Sebagian besar setuju dengan pendapat Bu Timuk yang menyimpulkan bahwa menu MBG selama liburan sekolah tidak memenuhi gizi sama sekali.
Sebagian kecil menilai Bu Timuk tidak tahu terima kasih. Mereka memandang pemerintah sudah berbaik hati memberikan menu makanan secara gratis. Seharusnya mereka yang menerima bersyukur dan tidak perlu menjelekkan menu makanan.
Bu Timuk mulai menyadari video unboxing MBG-nya benar-benar menimbulkan pro-kontra di media sosial. Satu sisi, dia senang bisa memberikan edukasi kepada orangtua lain yang merasakan nasib sama dengan dirinya. Sisi yang lain, terutama mereka yang sependapat, komentar di media sosial menjadi mimpi buruk Bu Timuk hari-hari ini.
Setiap kali dia mengintip media sosial, ada saja orang yang DM dengan omongan yang kasar dan mengancam. Dari jam ke jam dan hari ke hari, perasaannya mulai gundah gulana dengan perkataan buruk dari mereka yang berseberangan pendapat.
Hingga di suatu pagi yang cerah di hari ini, Bu Timuk baru saja menerima paket makanan yang ditaruh di depan pintu rumahnya. Paket itu diketahui dari Lek No yang memberitahu sendiri ada dua orang laki-laki yang mengantarkan sebungkus makanan ke depan pintu.
"Dari siapa ya, Lek?" tanya Bu Timuk pada Lek No soal makanan yang diwadahi dalam bungkus stirofoam itu.
"Dari saudara sampean mungkin, Bu?"
"Ah kalau saudara, pasti cari saya di dalam rumah."
"Coba aja dibuka dulu, Bu?"
"Oke Lek."
Bu Timuk membukanya. Ada potongan tiga ekor kodok mati di dalam wadah itu. Bercak darahnya sudah mengering. Dan di situ ada secarik kertas bertuliskan,"INI MENU MAKANAN UNTUK GUSYON, TIMUK!"
Editor : Anwar Bahar Basalamah