Sejak kemarin malam, warga di kampung ini mulai meningkatkan kewaspadaan. Mereka resah dengan kasak-kusuk penculikan anak yang menyasar bocah di bawah umur sepuluh tahun.
Kabar yang diterima dari mulut ke mulut, penculik ini menyatroni anak yang ditinggal sendirian oleh orangtuanya. Mereka menyaru menjadi orang baik dan mengiming-imingi calon korbannya dengan membelikan es krim.
Setelah masuk perangkap, penculik lekas membawa kabur si anak dengan sepeda motor. Konon, para penculik memperdagangkan anak-anak itu sampai ada yang mau menebus hingga puluhan juta rupiah.
Bahkan dari cerita yang didapat warga kampung ini, anak-anak tidak berdosa itu sempat mengalami pelecehan seksual. Penculik dengan tega dan laknat, menciumi korbannya yang hanya bisa pasrah tanpa perlawanan.
Mendengar isu yang mengerikan itu, Pak Lurah Kambali segera mengambil tindakan. Dia memberi imbauan kepada warganya yang punya anak kecil untuk senantiasa mengawasi ke mana pun mereka berada.
Kata Pak Lurah Kambali, jangan sampai anak-anak ini dibiarkan bermain sendiri. Kalaupun sedang bersama, mereka jangan ditinggal sendiri walau hanya sebentar.
Peringatan itu disampaikan Pak Lurah Kambali melalui selebaran-selebaran yang dibagikan di rumah-rumah warga. Supaya lebih masif, informasi juga disebarkan lewat pengeras suara di setiap masjid dan musala.
Suasana kampung pun agak mencekam hari-hari terakhir ini dengan pemberitahuan yang dilakukan oleh Pak Lurah Kambali. Tapi setidaknya kampung ini sudah menerapkan standar pencegahan penculikan anak yang baik dan benar.
Sampai akhirnya sebuah kejadian tak diinginkan terjadi hari ini. Lek No melaporkan kepada Pak Lurah Kambali di balai kampung kalau anaknya, Danantara Mugi Langgeng telah diculik seseorang tak dikenal.
"Loh kok bisa sih, Lek?" kata Pak Lurah Kambali dengan nada heran.
Lek No yang masih terengah-engah karena panik mencoba mengatur napasnya pelan-pelan sebelum menjawab pertanyaan Pak Lurah Kambali.
"Boleh saya minta minum dulu, Pak?"
Pak Lurah mengambilkan segelas air putih. Lek No meminumnya seteguk demi seteguk sampai tak bersisa.
"Sudah tenang, Lek?"
"Sudah, Pak Lurah."
"Yowes, sekarang sampean cerita dulu bagaimana awal kejadian Danantara diculik orang."
"Pagi tadi, saya ajak Danantara main di taman kampung, Pak Lurah."
"Terus?"
"Ya seperti biasa saya gendong dia dan jalan-jalan berkeliling di sekitar taman."
"Terus?"
"Terus saya kebelet pipis, Pak Lurah."
"Maksud sampean, sekarang sampean mau buang air?"
"Kok sekarang, maksud saya waktu di taman tadi, Pak Lurah."
"Owalah begitu. Yasudah ceritanya dilanjutkan, Lek."
"Waktu saya ke kamar mandi di taman, Danantara saya tidurkan di gazebo dekat kamar mandi."
Waktu itu, Lek No berpikir dengan menaruh Danantara yang masih berumur sembilan tahun di gazebo, semuanya akan baik-baik saja. Lagipula, Lek No tidak lama berada di kamar mandi.
Selain buang air kecil, dia juga menyempatkan buang air besar sebentar.
"Jadi sampean tidak hanya buang air kecil, Lek?"
"Iya Pak Lurah."
"Waduh. Lama itu namanya di kamar mandi."
"Ya sekitar lima menitan, Pak Lurah."
"Terus, Lek?"
"Begitu saya keluar, Danantara sudah tidak ada di gazebo, Pak."
Saat mengatakan anaknya raib di gazebo, tampak sekali mimik wajah Lek No yang sendu. Tiba-tiba saja air matanya jatuh membasahi pipi. Lek No jelas terpukul dengan hilangnya anak semata wayangnya itu yang didamba setelah lima tahun pernikahan.
Pikirannya mulai kacau. Lek No sudah membayangkan anaknya itu berada di tangan orang lain. Selain diciumi pipi dan bibirnya, entah siksa seperti apa yang diterima Danantara dari sang penculik.
Lek No merasa gagal sebagai seorang bapak. Dia tidak berani memberitahu Lek Ni, istrinya. Tak bisa dibayangkan jika Lek No melapor kepada sang istri bahwa buah hati mereka sekarang ada di tangan penculik.
Setelah memikirkan itu semua, tangisnya makin kencang. Lek No meraung-raung dengan bersimpuh sambil memegangi tangan Pak Lurah Kambali.
"Sabar ya, Lek. Danantara pasti kembali. Kita usahakan temukan," kata Pak Lurah Kambali menenangkan Lek No.
"Ya Allah, Pak Lurah, anakku gimana ini nasibnya sekarang?"
"Tenang Lek! tenang Lek!"
"Pasti sekarang Danantara disiksa, Pak."
"Kata siapa?"
"Dari cerita-cerita penculikan anak yang kemarin sempat bikin gempar, Pak."
"Ah itu kan katanya, Lek."
"Danantara pasti diperjual-belikan. Ya Allah Danantara, anakku."
Kesedihan Lek No kian tak terbendung. Pak Lurah Kambali juga semakin bingung untuk menenangkannya. Saking bingungnya, Pak Lurah Kambali sampai ikut-ikutan menangis tersedu-sedu.
Beruntung di tengah kekalutan itu, Pak Lurah Kambali ingat bahwa di taman itu ada CCTV yang terpasang. Maka, untuk melacak siapa penculiknya, Pak Lurah Kambali mengajak Lek No untuk melihat rekaman CCTV.
"Astaga, kenapa baru kepikiran sekarang sih. Ayo Lek, kita lihat CCTV!"
Lek No mengiyakan dan tangisnya mulai reda setelah ada CCTV yang merekam semua peristiwa pagi tadi.
"Kalau saya sampai kenal siapa penculiknya, sudah pasti tak hajar dia tanpa ampun, Pak Lurah."
"Tenang, Lek. Kita lihat dulu rekamannya."
"Saya jadi nggak sabar, Pak. Siapa penculik anak di kampung ini."
Seperti Lek No, Pak Lurah Kambali sebenarnya tak bisa menahan kesabaran dengan wajah yang akan terpampang di CCTV. Jika terekam jelas siapa pelakunya, ini bakal jadi peristiwa besar pengungkapan penculikan.
Pak Lurah Kambali sudah membayangkan dirinya akan dipuja-puja sebagai pemimpin yang peduli dengan masyarakatnya. Bahkan bukan hanya peduli, tapi juga memberikan solusi konkret.
Ketika bayang-bayang sanjungan itu melintasi kepalanya, sosok si penculik mulai muncul di rekaman CCTV. Ternyata dari rekaman, penculiknya adalah seorang perempuan.
Identitas itu diketahui dari sosok di rekaman CCTV yang mengenakan daster hijau motif kembang, memakai kerudung dan sepertinya Lek No dan Pak Lurah Kambali mengenali wajahnya.
"Loh?" kata Lek No terkejut.
"Loh, Lek?" kata Pak Lurah Kambali yang ikut terperanjak.
"Kok dia penculiknya, Pak Lurah?"
"Waduh kok bisa, Lek,"
Lek No dan Pak Lurah Kambali saling berpandangan dengan muka menahan ketawa. Sebelum tawa itu pecah, tahu-tahu HP Lek No berdering. Lek Ni, istrinya menelepon. Lek No mengangkatnya tanpa ucapan salam.
"Pinter banget ya sekarang, anake ditinggal di taman. Kebangetan sampean ini Pakne. Kalau Danantara diculik gimana? Terus sampean tadi di mana waktu Danantara di gazebo sendirian? Malah diam. Jawab Pakne!" kata Lek Ni di ujung telepon dengan suara yang begitu lantang dan sedikit uring-uringan.
Lek No tak menjawab. Dia memilih menutup telepon dan bergegas pulang menemui istri dan anaknya, Danantara.
Editor : Anwar Bahar Basalamah