Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terkini terdapat tiga kata yang berbagi nuansa makna "sedang" atau "tidak berlebihan". Ada rembunai, yang didefinisikan sebagai 'sedang (besarnya atau tingginya)', ugahari, yang ditandai sebagai ‘sedang; pertengahan; sederhana’, dan sederhana, dengan cakupan makna luas meliputi ‘bersahaja; tidak berlebih-lebihan, sedang (dalam arti pertengahan, tidak tinggi, tidak rendah, dan sebagainya), hingga tidak banyak seluk-beluknya (kesulitan dan sebagainya); tidak banyak pernik; lugas’. Sederhana mendominasi dengan makna luas, sementara ugahari dan rembunai terkesan lebih terbatas dan klasik. Akan tetapi, di balik ini, ada sejarah panjang bagaimana kata-kata ini bersaing, berinteraksi, dan bergeser hingga sederhana menjadi kata yang kini mendominasi..
Abad ke-19: Koeksistensi Awal
Jejak sederhana dalam kamus bahasa Melayu sudah ada sejak awal abad ke-19. William Marsden (1812), leksikografer Inggris yang monumental, telah menyertakan sadarana dalam kamusnya. Ia mendefinisikannya sebagai "moderate, medium, plain, indifferent, temperate, decent, proper." Ia memberikan contoh penggunaan: tuboh-nia sedang sadarāna (tubuhnya berukuran sedang), serta dalam konteks keseimbangan: tatkāla sadarāna badan deri-pada angat dan sejuk kering dan basah (ketika tubuh dalam keadaan sedang terkait panas, dingin, kering, dan basah).
Marsden juga mencatat agahari sebagai "sedang—tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil." Ini berarti, sejak awal abad ke-19, sederhana (dalam bentuk sadarana) dan ugahari (dalam bentuk agahari) sudah eksis berdampingan dalam leksikon bahasa Melayu. Akan tetapi, Marsden tidak mencatat rembunai dalam kamusnya.
Meskipun sederhana sudah hadir, catatan-catatan kamus di paruh kedua abad ke-19 secara konsisten mengindikasikan bahwa ugahari masih jauh lebih menonjol dan lebih sering digunakan. Pijnappel, misalnya, dalam kamusnya tahun 1863, secara eksplisit mencatat agahari dengan arti middelmatig (sedang), bahkan memberikan contoh konkret seperti "panas matig warm antara lendjoet dan pendek" (panas sedang antara panjang dan pendek). Kemudian, pada edisi 1875, Pijnappel kembali mencatat agahari (juga oegahari dan gahari) dengan makna middelmatig dan tusschenbeiden (di antara dua ekstrem), lengkap dengan contoh panas agahari (panas sedang) dan harga agahari (harga sedang).
Eysinga (1855) memang menjadi yang pertama merekam sederhana dalam bentuk sederhâna dan sadarhâna setelah Marsden. Namun, Eysinga juga masih mencatat agahari dalam konteks penggunaan, misalnya dalam frasa benoewa panas agahari (benua panas sedang) untuk menggambarkan iklim. Hal serupa terjadi pada Von de Wall (1877); di penghujung abad ke-19, kamusnya masih hanya mendokumentasikan agahari, oegahari, dan gohari, tanpa mencatat sederhana. Gambaran ini jelas memperlihatkan bahwa meskipun sudah mulai tercatat, sederhana belumlah menjadi kata yang umum; ia masih kalah populer dari ugahari dan berbagai variasinya.
Awal Abad Ke-20
Pergeseran signifikan mulai terlihat jelas di awal abad ke-20. Wilkinson (1901) mencatat sederhana dengan lebih gamblang. Ia tidak hanya mengaitkannya dengan akar kata Sanskerta (su yang berarti 'baik' atau 'benar', dan dharana yang berarti 'memegang' atau 'menjaga') yang secara harfiah bermakna "keseimbangan yang tepat," melainkan juga memadankan sederhana dengan rembunai. Rembunai, menurut Wilkinson, berarti ukuran tubuh yang pas, tidak lebih dan tidak kurang.
Contoh yang ia berikan cukup jelas: "tubohnya sederhana, tiada gemok tiada kurus" dan "hidung sederhana." Asosiasi ini menguatkan makna sederhana sebagai "proporsi ideal" atau "moderat secara fisik," yang sebelumnya mungkin lebih kuat diwakili oleh rembunai. Kaitan ini terus berlanjut, seperti yang dikonfirmasi oleh Lameijn (1938) yang menulis remboenai sebagai "juist of gemiddeld van grootte (mensen), sederana." Sementara van Ronkel (1926) mencatat remboenai sebagai "van middelbare groote" tanpa padanan langsung ke sederhana. Hal ini menegaskan bahwa rembunai sudah mapan sebagai istilah untuk "ukuran sedang" yang kemudian mulai diserap maknanya oleh sederhana.
Pada periode yang sama, kamus-kamus seperti Klinkert (1901, 1902) dan Ridderhof (1935) masih setia mencatat ugahari dalam berbagai bentuknya (agahari, gahari, oegahari) dengan makna middelmatig (sedang), gemiddeld (rata-rata), dan gematigd (moderat). Ini menunjukkan bahwa meskipun sederhana mulai semakin umum, ugahari tetap bertahan dan belum tersingkir dari penggunaan bahasa sehari-hari.
Dominasi Sederhana
Data penggunaan bahasa di abad ke-20 secara gamblang menunjukkan dominasi sederhana. Penelusuran pada Delpher.nl (arsip media cetak Belanda yang juga mencakup publikasi di Hindia Belanda) untuk abad ke-20 mengungkapkan bukti kuat. Dalam kategori "Boeken (Buku)", total entri untuk ugahari dan variannya mencapai 86 (47 oegahari, 17 agahari, 22 gahari). Rembunai tercatat sebanyak 22 entri. Sementara itu, sederhana dan variannya jauh melampaui dengan total 215 entri (196 sederhana, 9 sedarhana, 10 sederana).
Dominasi ini menjadi semakin tajam pada kategori "Kranten (Surat Kabar)". Di sini, ugahari beserta variannya dan rembunai sama sekali tidak ditemukan. Sebaliknya, sederhana dan variannya muncul sebanyak 199 kali (196 sederhana, 3 sedarhana). Data ini tak terbantahkan: media massa, terutama surat kabar, berperan penting dalam memperluas penggunaan sederhana sekaligus menyingkirkan ugahari dan rembunai dari percakapan publik. Kemunculan yang jauh lebih sering dalam berita cetak menunjukkan bahwa sederhana lebih sering muncul dalam konteks komunikasi umum, sehingga secara bertahap menjadi bagian dari norma linguistik sehari-hari.
Status ketiga kata ini di pertengahan abad ke-20 pun tercermin dalam kamus Poerwadarminta (1954), salah satu kamus besar pertama pasca-kemerdekaan. Ia masih mencatat ugahari sebagai "sedang, pertengahan, sederhana." Sementara itu, sederhana sudah memiliki cakupan makna yang luas, meliputi "sedang (tengah-tengah, tidak besar dan tidak ketjil dsb)", "bersahadja", dan "tidak banjak hiasannja (seluk beluknja, kesulitannya dsb)". Adapun rembunai tetap didefinisikan sebagai "sedang (besarnja atau tingginja); rata-rata." Data ini menunjukkan bahwa sederhana sudah melebarkan sayap maknanya secara signifikan, mencakup aspek fisik, gaya hidup, hingga tingkat kompleksitas. Di sisi lain, ugahari dan rembunai tetap hadir namun dengan makna yang lebih spesifik atau menjadi sinonim yang kurang dominan.
Refleksi Akhir
Sejarah tiga kata ini memperlihatkan bahwa sejak awal abad ke-19, sederhana dan ugahari sudah berbagi makna, dengan rembunai hadir dalam konteks ukuran dan proporsi. Sepanjang abad ke-19, ugahari lebih sering muncul dalam catatan kamus, menandakan penggunaannya yang lebih luas.
Di awal abad ke-20, melalui publikasi kamus baru seperti Wilkinson (1901) dan dorongan media massa, sederhana semakin kuat dan akhirnya mendominasi, sementara ugahari dan rembunai perlahan memudar dari percakapan sehari-hari. Perjalanan ini menunjukkan bagaimana makna kata bisa saling bergeser, hingga akhirnya menegaskan dominasi satu kata dalam bahasa Indonesia modern.
Abdullah Muzi Marpaung
Abdullah Muzi Marpaung lahir dan besar di Pulau Bintan pada tahun 1967. Kini ia adalah seorang dosen Teknologi Pangan di Swiss German University.