Kabar gembira menghampiri Lek No. Biduk rumah tangganya bersama Lek Ni selama lima tahun akhirnya membuahkan hasil.
Pada 24 Februari 2025, sekitar jam sepuluh pagi, Lek Ni melahirkan bayi laki-laki secara gangsar di rumah bidan kampung.
Bayi sehat nan tampan ini punya bobot 4,2 kilogram.
Panjangnya 54 senti. Hidung bangir dan bibir tipis. Kulitnya bersih, putih dan lembut.
Saat ditanya serupa siapa, para tetangga yang membesuk mengatakan tidak mirip keduanya. Baik Lek No maupun Lek Ni.
Meski begitu, kejujuran orang-orang ini tidak mengurangi kebahagiaan pasangan suami istri itu.
Kehadiran buah hati yang didamba setelah setengah dasawarsa lamanya mengalahkan segalanya.
Lek No dan Lek Ni malah bangga, muka putra pertamanya itu melebihi emak-bapaknya.
Di depan orang-orang, Lek No dengan berapi-api membagikan tips bagaimana punya anak dengan paras rupawan.
"Rahasianya apa Lek?"
Kalimat itu tidak henti-hentinya ditanyakan orang-orang kampung yang berkunjung ke rumahnya.
Lek No yang percaya pada mitos, saat kehamilan Lek Ni memasuki usia lima bulan, berujar sempat berburu burung sribombok di hutan.
Baca Juga: Murid
Burung itu lantas dibawanya pulang untuk dimasak dan dimakan oleh istrinya.
Boleh percaya, boleh tidak, begitulah cara Lek No memperbaiki keturunannya.
Kepercayaan pada mitos itu pula yang membuat Lek No sempat kesulitan memberikan nama anak laki-lakinya itu. Pertimbangannya terlalu banyak.
Sehari usai bayinya brojol, Lek No bercerita belum mengantongi nama sama sekali.
Dia tidak mau sembarangan menamai sang anak. Lek No juga enggan mengikuti tren nama bayi yang kebarat-baratan atau kearab-araban.
"Terus maunya nama yang seperti apa Lek?" tanya Pak Lurah Kambali.
"Apakah harus mengandung filosofi yang dalam, Lek?" tanya Pak Mukhol menambahi.
Lek No menghormati Pak Lurah Kambali dan Pak Mukhol sebagai orang yang mampu membubuhi nama yang baik untuk anak laki-lakinya.
Makanya, Lek No sengaja mendatangi mereka di kediaman Pak Lurah Kambali sehari sepulang dari rumah bidan.
Dua orang itu hanya sebatas memberi usulan, keputusan mutlak soal nama tetap ada di tangan Lek No.
Pak Lurah Kambali mengajukan nama "Teddy". Lek No kurang setuju dengan nama itu.
Pak Mukhol menyebut sejumlah nama seperti "Tito", "Erick", "Fadli", "Iskandar", "Nusron", "Zulkifli", tetapi semuanya ditolak mentah-mentah oleh Lek No.
Penolakan itu bukan berarti nama-nama tersebut jelek.
Lek No cuma mempertimbangkan nama-nama yang mirip orang elite itu sepertinya kurang cocok untuk anaknya.
Setelah menampik berkali-kali, Lek No kemudian memberikan klu kepada Pak Lurah Kambali dan Pak Mukhol.
"Kalau bisa nama anak saya bertepatan dengan peristiwa besar dan ada unsur Jawanya."
Klu dari Lek No itu tak membuat Pak Lurah Kambali dan Pak Mukhol semakin mudah merekomendasikan nama.
Dibikinlah pusing keduanya untuk memikirkan nama bayi laki-laki itu.
Padahal Pak Mukhol sepintas tercetus untuk mengusulkan nama Nino. Dalam bahasa Spanyol, Nino merupakan anak laki-laki.
Di satu sisi, Nino, menurut Pak Mukhol, sebenarnya adalah gabungan nama emak-bapaknya: Surani dan Surono.
"Maaf Pak Mukhol, saya tidak mau ada unsur kebarat-baratan."
Pak Mukhol berpikir ulang kembali. Sementara Pak Lurah Kambali masih mengutak-atik dan mencari tahu ada peristiwa apa pada 24 Februari 2025 yang bertepatan dengan Senin Pahing itu.
Senin Pahing, cerita Pak Lurah Kambali, hari yang sangat baik. Wetonnya jatuh tepat pada tibo dunyo.
Bagi orang Jawa, weton tibo dunyo menandakan karakter mandiri dan empunya memiliki karier yang cemerlang di kemudian hari.
"Banyak orang-orang kaya lahir di hari Senin Pahing. Kira-kira nanti anakmu bisa jadi wong sugeh dan makmur," kata Pak Lurah Kambali menjelaskan.
"Kira-kira ada peristwa apa di Senin Pahing itu, Pak?"
Pak Lurah Kambali terdiam mendapat pertanyaan dari Lek No, sembari membuka HP-nya untuk mencari berita besar ketika bayi laki-laki itu lahir.
Mata Pak Lurah Kambali menyapu seluruh layar HP-nya yang temaram itu. Pandangannya berhenti sejenak.
Lima menit berlalu, setelah membaca sebuah artikel berita, Pak Lurah Kambali kemudian berucap pada Lek No.
"Kalau saya usulkan nama Danantara, bagaimana?"
"Nama yang bagus Pak Lurah."
"Betul, nama keren," Pak Mukhol ikut manggut-manggut.
Lek No sudah setuju dengan nama Danantara. Penjelasan Pak Lurah soal Danantara cukup melegakannya.
Meski dia tidak sepenuhnya paham dengan konsep Danantara.
"Apa bisa berhasil Danantara untuk negara kita, Pak Lurah?"
Tiba-tiba saja pembicaraan Lek No bergeser pada persoalan politik.
Meski awam, dia ingin tahu seberapa besar tingkat keberhasilan Danantara menghimpun dana besar dari banyak perusahaan negara di negeri ini.
Dana itu kemudian diinvestasikan untuk proyek-proyek mercusuar dengan dalih demi kesejahteraan rakyat.
"Maaf Lek No, soal itu saya tidak tahu. Saya hanya usul nama untuk bayi laki-lakimu."
"Oh iya." kata Lek No singkat.
Satu nama berkaitan dengan peristiwa besar sudah didapat. Tinggal nama unsur Jawa yang belum ketemu.
"Bagaimana kalau Mugi Langgeng?" usul Pak Mukhol.
Tak berpikir lama, Lek No langsung menyetujuinya. Mugi berarti semoga dan Langgeng artinya abadi. Jika nama bayi itu diartikan menjadi Danantara Semoga Abadi.
"Saya setuju Pak Mukhol."
Nama Danantara Mugi Langgeng akhirnya disematkan pada bayi laki-laki Lek No.
Agar nama itu terkabul dalam doa, Lek No mengundang warga kampung di rumahnya.
Mereka berdoa, bersalawat dan berharap Danantara Mugi Langgeng menjadi anak laki-laki yang sanggup mengangkat ekonomi keluarganya, alih-alih menyengsarakan.
"Aminnnnnnnn...."
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah