Toh, ada yang ingin menggabungkan dua hal berbeda ini menjadi satu. Tapi, tentu saja bukan di cabang olahraga resmi melainkan sebagai cerita rekaan dalam beberapa film.
Salah satu yang paling fenomenal adalah Shaolin Soccer. Film layar lebar yang rilis 2001 ini dibintangi oleh top star Hongkong bernama Stepen Chow. Film ini bahkan disebut sebagai tonggak film komedi Hongkong. Bercerita tentang seorang mantan pemain sepak bola yang menemukan kembali gairahnya dengan memadukan gaya sepak bola dengan gerakan Kungfu.
Ada lagi film yang judulnya langsung menohok, Kungfu Soccer. Ini film seri yang ditayangkan di salah satu televisi Hongkong pada 2004 hingga 2005. Di Indonesia, pernah juga ditayangkan di salah satu stasiun televisi. Meskipun tidak sampai booming. Genre filmnya tak seperti Shaolin Soccer yang komedi, film terakhir ini bergenre drama. Dibintangi oleh aktor Dicky Cheung.
Eit, sudah dulu berbincang soal film. Karena saya memang tak akan berpanjang lebar tentang karya sinematik itu. Meskipun judul tulisan kali ini adalah Kungfu Soccer. Karena yang ingin saya titik beratkan adalah pada frasa keduanya, soccer, alias sepak bola.
Kata kungfu dan soccer kembali menghangat diperbincangkan publik dalam beberapa hari terakhir. Terutama oleh khalayak bola Kediri. Ini tak lepas dari sentilan beberapa pihak terkait penampilan pemain Persik dalam event yang bertajuk Trofeo Ronaldinho.
Pihak penyelenggara, RANS Nusantara FC, menuding Persik yang akhirnya tampil sebagai juara terlalu ngotot menang. Sehingga menghilangkan kesan fun serta harapan melihat penampilan sang superstar sepak bola Ronaldinho lengkap dengan skill-nya.
Benarkah tudingan itu? Ah, tentu saja akan banyak versi. Toh, pada akhirnya Persik yang merasa kecewa dengan pernyataan itu mengembalikan si trofi. Buntut karena dituding memeragakan ‘kungfu soccer’.
Sebenarnya, apa sih trofeo itu? Mengapa kemudian ada yang menuding bahwa trofeo itu harusnya sekadar fun soccer dan tidak harus serius? Atau, benarkah klaim itu? Apakah tidak boleh tim peserta trofeo bermain serius? Lalu, mengapa tetap disediakan piala bila sebenarnya hanya untuk fun?
Trofeo sebenarnya adalah turnamen sepak bola. Namun dengan aturan-aturan teknis yang berbeda. Karena namanya turnamen tentu saja akan dihasilkan satu kampiun.
Hanya, turnamen jenis trofeo ini tidak diakui oleh FIFA maupun badan asosiasi sepak bola Internasional alias IFAB. Ini karena aturan teknis trofeo yang tidak sama dengan regulasi yang dikeluarkan oleh badan penaung sepak bola dunia itu.
Di trofeo, lama pertandingannya hanya 45 menit alias satu babak saja. Pesertanya tiga tim. Karena itu sering disebut sebagai turnamen segitiga. Teknisnya, akan dipilih dua tim yang akan memainkan pertandingan pertama. Sebutlah tim 1 akan melawan tim 2. Tim yang kalah dari match itu akan menghadapi tim 3. Kemudian, pemenang pertandingan pertama dan pertandingan kedua akan dipertemukan.
Lalu, apa salahnya bila setiap tim bermain serius? Sebenarnya, problemnya adalah bukan serius atau tidak. Tapi, tudingan bahwa salah satu tim memeragakan pertandingan ala kungfu soccer adalah kuncinya. Kemudian merembet ketidakmampuan Ronaldinho memeragakan skill akibat sikap seperti itu.
Benarkah Persik memeragakan kungfu soccer? Tentu sudah ditolak mentah-mentah. Termasuk upaya manajemen klub yang membeberkan statistik pelanggaran dan beberapa fakta lain di mana justru pemain RANS yang minim memberi kontribusi pada sang megabintang.
Memang, menuding bahwa satu tim memeragakan kungfu soccer harus punya data dan fakta. Dan, ini bisa disaksikan oleh publik sepak bola karena trofeo ini disiarkan di beberapa platform. Mulai televisi hingga kanal di media sosial. Maka, apakah skuad Macan Putih memang mengikuti gaya bermain sepak bola ala Stephen Chow di Shaolin Soccer? Publik bisa menilai sendiri.
Yang saya ingin tekankan, sebenarnya olahraga sepak bola adalah permainan fisik. Ketika body charge dan pergesekan antarpemain tak terelakkan. Tackling, sapuan, jegalan, dorongan, dan upaya menghambat lawan masuk dalam seni pertandingan.
Namun, semuanya harus dalam batas yang ditentukan. Ada rule of the game yang dilansir oleh FIFA. Ada perangkat pertandingan yang akan memastikan bahwa rule of the game itu benar-benar dipatuhi oleh pemain. Toh, pemain bintang sebesar Eric Cantona pun harus dihukum karena memeragakan tendangan Kungfu ke, ini hebatnya, penonton. Bukan pemain. Wasit juga diberi previlage untuk mengkartu kuning hingga merah kepada pemain yang melakukan pelanggaran fatal.
Nah, agar objektif, kita juga harus melihat fakta di lapangan. Bisa jadi harapan publik yang awalnya ingin melihat sisa-sisa kemampuan Ronaldinho jadi tereduksi. Dan yang dituding kemudian para pemain lokal yang menjadi lawan.
Atau, mungkin, karena turnamen model trofeo tak diakui FIFA, bisa jadi rule of the game yang disusun lembaga sepak bola dunia itu tak berlaku di sini. Sehingga, aturan pun jadi berbeda. Wasit yang memimpin pertandingan, sekali lagi mungkin, tak lagi menerapkan aturan ketat. Kemudian lahirlah pertandingan yang ketat dan menjurus-katanya-kungfu itu.
Lalu, siapa yang benar sebenarnya? Lagi-lagi, mungkin, kita harus bertanya pada rumput yang bergoyang. (penulis adalah penyuka sepak bola) Editor : Anwar Bahar Basalamah