Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Serigala Bertubuh Manusia

adi nugroho • Minggu, 27 Juni 2021 - 21:37 WIB
serigala-bertubuh-manusia
serigala-bertubuh-manusia



Serigala Bertubuh Manusia



“Setiap upaya memajukan peradaban selalu meminta tumbal pengorbanan manusa.” 



Oleh : Mahfud



Lupus est homo homini. Kalimat ini muncul dalam karya Plautus atau drama berjudul Asinaria. Plautus ini muncul 195 tahun sebelum masehi. Sedangkan arti lupus est homo homini adalah manusia merupakan serigala bagi sesame manusia.


Istilah dalam Bahasa latin ini kemudian dipopulerkan lagi oleh Thomas Hobbes dalam karyanya berjudul De Cive. Lebih dikenal dengan homo homini lupus. Maknanya tentu saja tetap, manusia adalah serigala sesamanya.


Benarkah manusia itu serigala bagi sesamanya? Dalam perkembangan peradaban bumi, premis itu nyaris selalu menampakkan kebenarannya. Baik dalam kehidupan individu maupun berkelompok. Bahkan dalam hidup berbangsa pun homo homini lupus menunjukkan wujud nyatanya.


Di Eropa, yang sekarang menjadi kiblat peradaban manusa modern, tentu menjadi contoh pada berlakunya sifat ganas manusia itu. Masa itu disebut sebaga abad kegelapan. Masa di mana eksploitasi manusia oleh manusia lainnya benar-benar menampak. Siapa yang kuat dia yang akan berkuasa. 


Tak berhent di masa itu, ketika revolusi industri terjadi, maka itu bisa disebut sebagai awal dari penerapan homo homini lupus era modern. Eksploitasi manusia sebagai faktor produksi adalah bentuk lain dari serigala itu. 


Di tanah air, era penjajahan, terlepas bangsa mana yang melakukan, juga menjadi tonggak sejarah bagaimana sifat serigala pada manusia itu menunjukkan wujudnya. Cultuur stelseel atau tanam paksa hanya satu contoh saja. Pemanfaatan tenaga manusia dengan harga semurah-murahnya demi mendapatkan hasil yang besar terus terjadi. Bahkan, tak pernah berhenti meskipun bangsa ini memerdekakan diri di masa kolonialisme Negeri Matahari Terbit. 


Ya, setelah merdeka, ternyata sifat serigala tak hilang. Sifat itu tetap saja mengemuka meskipun menghadapi saudara sebangsa dan setanah air. Perjalanan bangsa yang penuh genangan darah adalah salah satunya. Sifat serigala yang mengutamakan kawanan terbukti saat terjadi beberapa kali pemberontakan. Siapa yang bukan anggota kawanan berararti boleh dimusnahkan!


Kini, ketika kudeta atau kup sudah jauh dari kehidupan berbangsa dan bernegara, homo homini lupus tak juga hilang. Hanya berubah wujud saja. Tidak seganas seperti era-era sebelumnya. Namun perangai liarnya tetap tak terhilangkan. 


Sifat lupus itu kini berganti bentuk menjadi keserakahan. Ketamakan pada harta. Kita seperti terbius pada hasrat mencari hasil yang sebesar-besarnya. Tak perlu memedulikan pada manusia lain yang mungkin akan tergencet ulah kita. Bahkan tak jarang manusia lain itu terlindas hingga tewas dalam kenestapaan dan kesengsaraan.


Sifat-sifat lupus itu justru muncul pada kata sakral, pembangunan. Setiap perubahan yang awalnya ditujukan demi kemajuan, pasti ada pihak (baca: manusia) yang akan jadi korban. Entah mengapa setiap upaya memajukan peradaban manusia justru yang menjadi korban adalah manusia juga. Pembangunan bandara, jalan tol, waduk, dan pembangunan lainnya pasti akan meminta tumbal dari manusia. Tentu saja yang ditumbalkan adalah manusia yang lebih lemah. Yang bukan merupakan bagian dari kawanannya. Ah, memang manusa adalah serigala berbulu domba. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri).

Editor : adi nugroho
#catatan #kolom