
Oleh : Juvita Herdianty
Bagi penderita diabetes, luka kecil bisa menjadi perkara besar. Gula darah yang tinggi membuat
luka sulit menutup, mudah terinfeksi, dan pada kasus berat berakhir dengan amputasi. Di sinilah okra,
sayur yang biasa kita temui di pasar, mulai dilirik peneliti. Flavonoid, antioksidan, dan polisakarida di
dalamnya berpotensi membantu penyembuhan luka. Dalam disertasi saya, ekstrak okra dikembangkan
menjadi nanoemulgel, yakni gel dengan partikel berukuran nano agar zat aktif lebih mudah menembus
kulit. Namun sebagai mahasiswa doktoral yang mempelajari filsafat ilmu Islam, saya tidak berhenti
pada pertanyaan “apakah efektif?”. Saya juga bertanya: “untuk apa dan dengan cara apa riset ini
dikerjakan?”
Membaca dua kitab
Tradisi Islam mengenal ayat qauliyah dan ayat kauniyah, yaitu tanda-tanda Tuhan di alam semesta,
keduanya berasal dari satu Sumber. Karena itu meneliti khasiat tumbuhan okra tidak dianggap urusan
duniawi semata yang terlepas dari nilai agama, melainkan cara lain membaca ayat-ayat-Nya. Hadis
bahwa setiap penyakit ada obatnya (HR. Bukhari) bukan seruan untuk pasrah, melainkan dorongan
untuk mencari.
Sains punya arah, bukan sekadar metode
Tokoh Pemikir seperti Kuntowijoyo, Naquib al-Attas, dan Seyyed Hossein Nasr mengingatkan bahwa
sains tidak pernah benar-benar netral. Apa yang kita teliti dan untuk siapa hasilnya ditujukan selalu
dipengaruhi keyakinan dan kepentingan. Salah satu tujuan utama ajaran Islam adalah menjaga jiwa
manusia. Riset obat luka diabetes sejalan dengan tujuan menolong orang agar tidak kehilangan kaki,
terapi luka diabetes yang murah dan terjangkau berarti menjaga nyawa dan martabat banyak orang.
Jebakan label “islami”
Di sini saya perlu jujur. Okra tidak disebut dalam Al-Qur’an maupun hadis. Memaksakannya sebagai
“tanaman Qur’ani” demi terlihat religius justru merendahkan wahyu dan mengaburkan sains. Integrasi
yang sehat bukan mencocok-cocokkan ayat dengan temuan laboratorium. Wahyu memberi arah nilai,
sedangkan metode ilmiah tetap berjalan dengan hipotesis, pengujian, dan kesiapan menerima hasil yang
tidak sesuai harapan. Ibnu Sina dan Al-Razi sudah memberi contoh: mereka taat beragama sekaligus
tunduk pada bukti.
Etika di setiap tahap
Paradigma Islam menuntut adab di sepanjang proses penelitian:
Pertama, kehalalan: surfaktan, pelarut, dan bahan pembawa dalam nanoemulgel perlu ditelusuri
sumbernya, sebab obat topikal pun menyangkut kepatuhan syariat. Obat topikal pun menyangkut
kepatuhan syariat produk yang hanya dioleskan ke kulit pun tetap perlu memenuhi ketentuan halal,
bukan hanya makanan dan minuman. Sebab bahan penyusunnya bisa berasal dari sumber yang
statusnya perlu diperiksa.



