Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Buang Sampah Pada Tempatnya!

M

 

(ilustrasi Afrizal)
(ilustrasi Afrizal)

"Kesadaran masyarakat terhadap lingkungan hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas. Di berbagai sudut kota dan desa, pemandangan sampah berserakan bukanlah hal asing. Sungai berubah fungsi menjadi tempat pembuangan, selokan tersumbat plastik, dan ruang publik kerap diperlakukan seolah bukan milik bersama"


Advertisement

Masalah utama bukan semata pada ketersediaan fasilitas. Tempat sampah sebenarnya ada, petugas kebersihan bekerja setiap hari, bahkan regulasi sudah disusun.

Misalnya seperti di area Simpang Lima Gumul (SLG). Tempat sampah yang dipasang sudah ada 160 unit. Jumlah petugas harian di SLG juga sudah cukup.

Ada 23 orang.
Namun, bukan soal fasilitasnya. Melainkan kesadaran masyarakat. Masih banyak yang malas untuk membuang pada tempatnya dengan dalih “nanti juga ada yang membersihkan”.

Advertisement

Lingkungan tidak lagi dipandang sebagai tanggung jawab bersama, melainkan beban yang dilimpahkan ke pihak lain.

Padahal, tidak jarang sebenarnya tempat sampah ada di dekatnya. Tidak sedikit yang duduk di taman dengan membawa jajan, langsung meninggalkan bungkusnya.

Alih-alih bergerak sedikit untuk membawa sampah, membuka tempat sampah, dan memasukkannya ke tempat sampah. Sikap abai ini menunjukkan bahwa persoalan lingkungan bukan sekadar soal teknis, melainkan soal kesadaran.

Advertisement

Rendahnya kepedulian lingkungan sering kali berakar pada kualitas sumber daya manusia. Kesadaran tidak tumbuh secara instan, tetapi melalui proses panjang: pendidikan, keteladanan, dan pembiasaan.

Sayangnya, lingkungan kerap diposisikan sebagai urusan sekunder. Selama tidak langsung menimbulkan dampak, perilaku merusak dianggap sepele.

Padahal, efeknya bersifat akumulatif dan jangka panjang, mulai dari banjir, pencemaran air, hingga gangguan kesehatan.

Sudah saatnya persoalan lingkungan dipandang sebagai isu serius, bukan sekadar urusan kebersihan. Lingkungan adalah fondasi kualitas hidup.

Ketika masyarakat abai, dampaknya bukan hanya merusak alam, tetapi juga mencerminkan rendahnya kepedulian sosial.

Sebab, membuang sampah sembarangan sejatinya adalah bentuk ketidakpedulian terhadap orang lain yang akan menanggung akibatnya.

Pemerintah perlu memperkuat edukasi lingkungan yang berkelanjutan, tidak hanya bersifat seremonial. Sosialisasi harus menyentuh akar masalah, disertai contoh konkret dan evaluasi rutin.

Penegakan aturan harus konsisten dan adil. Sanksi bukan untuk menghukum semata, melainkan sebagai sarana pembelajaran sosial agar aturan dihormati.

Namun, satu sisi, masyarakat sendiri tidak terlalu peduli dengan aturan atau sanksi. Masyarakat lebih peduli dengan sanksi sosial.

Masyarakat lebih takut dengan "pemviralan" Karenanya, agaknya agar lebih berdampak, pembuang sampah sembarangan memang harus diviralkan.

Divideo, kemudian disebarkan, dengan diberi keterangan bahwa pelaku membuang sampah secara sembarangan. Agaknya itu akan lebih berdampak.

Selain itu, masyarakat perlu didorong untuk terlibat aktif, mulai dari tingkat RT, komunitas, hingga sekolah.

Gerakan kecil seperti pilah sampah, kerja bakti rutin, dan pengawasan lingkungan berbasis warga dapat menjadi pemicu perubahan.

Keteladanan dari tokoh masyarakat, aparat, dan pemimpin lokal juga sangat penting. Kesadaran lingkungan akan lebih mudah tumbuh ketika masyarakat melihat contoh nyata, bukan sekadar imbauan.

Pada akhirnya, menjaga lingkungan bukan soal besar atau kecilnya tindakan, melainkan konsistensi.

Jika setiap individu mulai dari hal sederhana, membuang sampah pada tempatnya, maka perubahan bukanlah utopia. Lingkungan yang bersih dan sehat adalah cerminan masyarakat yang beradab.

Advertisement
Editor : Andhika Attar Anindita
Sumber : Radar Kediri

Artikel Terkait

Rumah Tangga Sumbang Separo Sampah di Kediri, Sampah di Kediri 685 Ton Sehari, Ini Kata Pemkab

Rumah Tangga Sumbang Separo Sampah di Kediri, Sampah di Kediri 685 Ton Sehari, Ini Kata Pemkab

Kondisi tersebut menjadi perhatian Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kediri.

Di Balik Deru Motor MotoGP Mandalika, Ratusan Relawan BRI Peduli Bergerak Jaga Kebersihan Lingkungan

Di Balik Deru Motor MotoGP Mandalika, Ratusan Relawan BRI Peduli Bergerak Jaga Kebersihan Lingkungan

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) BRI Peduli menghadirkan inisiatif pengelolaan sampah

TPA Sekoto Kediri Hanya Terima Sampah Residu: Masyarakat Harus Pilah di Rumah, DLH Siapkan Aturan

TPA Sekoto Kediri Hanya Terima Sampah Residu: Masyarakat Harus Pilah di Rumah, DLH Siapkan Aturan

Untuk diketahui, saat ini sampah yang masuk ke TPA Sekoto masih tercampur. Baik itu sampah plastik, sampah sisa-sisa makanan atau sampah organik.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer