31.7 C
Kediri
Friday, August 12, 2022

Meng-Grounded-Kan Grounded; Catatan Mengikuti Grounded Business Coaching, Mengapa Penting Bagi Pebisnis? (2)

Warning “Productive Paranoia”, Diajari “Algoritma Scale Up” 

“Hampir 95 persen dari kita, tidak pernah menuliskan tujuan dalam kehidupan. Akan tetapi, dari 5 persen yang melakukannya, 95 persen mencapai tujuan mereka,” John C. Maxwell.

 

 

 

 

——————————————-

KURNIAWAN MUHAMMAD, GBC 56

——————————————-

Salah satu materi yang diberikan oleh Coach Dr Fahmi selama mengikuti Grounded Business Coaching (GBC) adalah “Key Success Factor” yang dirumuskan oleh Jim Collins, agar bisa mencapai “Superior Performance”.

Collins adalah seorang peneliti, penulis, pembicara, sekaligus konsultan Amerika yang fokus pada subjek manajemen bisnis serta keberlanjutan dan pertumbuhan perusahaan.

Dijelaskan oleh Coach Dr Fahmi, ada tiga dimensi yang harus diperhatikan jika ingin sebuah perusahaan bisa mencapai “Superior Performance”.

Dimensi pertama adalah “business leader”. Yakni, sosok pemimpinnya. Dia adalah figur yang sangat penting dalam menegakkan kedisiplinan di perusahaannya. Dan kedisiplinan, adalah sebuah keniscayaan, jika ingin mencapai “superior performance”. Disiplin harus dimulai dari pikiran. Lalu tindakan. Kemudian, disiplin baru bisa dilaksanakan secara bersama-sama oleh semua anggota di perusahaan itu.

Dimensi kedua adalah “fundamental”. Ini sangat terkait dengan karakter. Dengan kata lain, dalam sebuah bisnis, karakter sangat menentukan sukses-tidaknya bisnis tersebut.

Ada tiga karakter yang harus dipunyai oleh pebisnis.

Karakter pertama, “return of luck”. Maknanya, bersikap baik. Termasuk dalam hal ini attitude. Universitas Harvard telah melakukan riset atas kunci kesuksesan seseorang. Hasilnya, 85 persen kesuksesan lebih disebabkan faktor pikiran dan sikap. Sedangkan 15 persen berdasarkan faktor kemampuan.

Karakter kedua, “single factor success”. Maknanya, kesuksesan itu tidak bergantung kepada siapa-siapa. Tapi, sangat tergantung pada diri sendiri. Misalnya, ketika bisnis kita gagal karena banyaknya kompetitor, maka dengan karakter “single factor success” kita tidak boleh menyalahkan kompetitor. Tapi, harus introspeksi, apa saja kelemahan atau kekurangan kita. Mengapa, bisa kalah dengan kompetitor.

Karakter ketiga, adalah “gold lock time”. Yakni, membangun momentum. Karena setiap orang punya waktunya sendiri-sendiri. Punya momentumnya sendiri-sendiri. Yang harus dipunyai seorang pebisnis adalah, harus jeli melihat momentum, dan harus cepat memanfaatkan momentum.

Baca Juga :  Gurih Bakpia Sanfer

Dimensi ketiga, adalah organisasi. Dalam hal ini sangat terkait dengan kinerja. Hidup-matinya sebuah organisasi, sangat tergantung pada kinerja dari orang-orang yang menjalankan organisasi itu. Makanya, kinerja harus dipacu semaksimal mungkin. Tak boleh ada celah untuk lengah.

Setidaknya harus ditanamkan tiga hal ini: “Jangan-jangan kompetitor sudah mendahului”. “Jangan-jangan strategi operasional yang sudah kita susun, gagal”. “Jangan-jangan produk kita tidak diterima oleh pasar”. Ini lah yang disebut dengan “productive paranoia”. Ini sangat lah penting untuk ditanamkan kepada para karyawan perusahaan agar tidak lengah dan terus waspada, serta harus terus meningkatkan kinerjanya. Dan, dalam GBC, hal ini ditekankan berulang-ulang oleh Coach Dr Fahmi.

Selama lima hari pelaksanaan GBC, mulai pukul 08.00 hingga 21.00, tidak lah terasa lamanya. Jam demi jam berlalu, masuk di pagi hari, tiba-tiba sudah malam hari. Waktunya mengakhiri sesi. Materi disampaikan begitu padatnya. Tak hanya penyampaian materi. Hampir setiap materi, ada borang yang harus diselesaikan. Dan jika Anda sebagai pebisnis, atau jika Anda pemilik sebuah bisnis, materi-materi itu cukup aplikatif jika diterapkan. Apalagi dibantu dengan borang, dimana Anda harus mengisi borang-borang itu sesuai dengan apa yang sudah Anda lakukan (selama menjalankan atau memimpin perusahaan). Sesuai dengan apa yang ada dalam pikiran Anda. Dan sesuai dengan apa yang Anda impikan serta cita-citakan.

Saya sendiri mencatat, minimal ada lima materi yang begitu disampaikan, saya langsung merasa materi itu sangat saya butuhkan dalam menjalankan dan mengembangkan perusahaan.

Pertama, “3 stages of scaling up”. Kedua, “Algoritma Scale Up”. Materi pertama dan kedua ini saya butuhkan untuk membesarkan perusahaan. Pada materi itu disebutkan secara rinci, tahapan demi tahapan serta berbagai indikator yang dibutuhkan untuk membesarkan (meng-scale-up) perusahaan.

Baca Juga :  Jaga Tubuh dengan Nge-gym, Lari, dan Renang

Materi ketiga, “Grounded Approaches”. Ini adalah tools bagi kita untuk mengevaluasi apa saja yang sudah dilakukan oleh perusahaan kita. Apa saja yang kurang di perusahaan. Dan apa saja yang harus dibenahi, harus dinaikkan, serta harus dimaksimalkan lagi di dalam perusahaan kita. Jadi, ini semacam “self assessment” terhadap daya dukung, daya guna, dan daya ungkit yang ada di perusahaan kita.

Materi keempat, “Buyer Value”. Ini adalah tools yang efektif untuk menganalisis apa saja nilai (value) yang diinginkan buyer terhadap perusahaan atau produk kita. Atau bisa juga dimaknai, nilai-nilai apa saja yang menjadi kekuatan dari produk kita atau perusahaan kita yang masih sangat diharapkan serta dibutuhkan oleh buyer.

Materi kelima, “Formula Sukses Total”. Di materi ini, kita dipandu dan diarahkan, bagaimana agar perusahaan kita menjadi pemenang, dengan menggunakan value, keunggulan, serta keunikan yang dimiliki oleh perusahaan kita.

Jadi, GBC benar-benar mengkondisikan kita, memaksa kita, agar kita semaksimal mungkin mengeluarkan segala potensi yang ada pada diri kita. Jika boleh saya mengilustrasikan, di dalam GBC, kita diajari dan diarahkan untuk menulis apa saja yang ada di otak kita. Untuk menulis apa saja yang menjadi mimpi kita, demi kemajuan perusahaan. Saya teringat dengan apa yang pernah dikatakan oleh John C. Maxwell, seorang penulis dari Amerika yang buku-bukunya tentang kepemimpinan terjual hingga jutaan kopi, dan beberapa di antaranya masuk dalam daftar “New York Times Best Seller”. Dia mengatakan: “Hampir 95 persen dari kita, tidak pernah menuliskan tujuan dalam kehidupan. Akan tetapi, dari 5 persen yang melakukannya, 95 persen mencapai tujuan mereka,”.

Di dalam GBC, secara filosofi, kita diajari, dipaksa dan dikondisikan untuk menuliskan tujuan hidup. (bersambung)

- Advertisement -

“Hampir 95 persen dari kita, tidak pernah menuliskan tujuan dalam kehidupan. Akan tetapi, dari 5 persen yang melakukannya, 95 persen mencapai tujuan mereka,” John C. Maxwell.

 

 

 

 

——————————————-

KURNIAWAN MUHAMMAD, GBC 56

——————————————-

Salah satu materi yang diberikan oleh Coach Dr Fahmi selama mengikuti Grounded Business Coaching (GBC) adalah “Key Success Factor” yang dirumuskan oleh Jim Collins, agar bisa mencapai “Superior Performance”.

Collins adalah seorang peneliti, penulis, pembicara, sekaligus konsultan Amerika yang fokus pada subjek manajemen bisnis serta keberlanjutan dan pertumbuhan perusahaan.

Dijelaskan oleh Coach Dr Fahmi, ada tiga dimensi yang harus diperhatikan jika ingin sebuah perusahaan bisa mencapai “Superior Performance”.

Dimensi pertama adalah “business leader”. Yakni, sosok pemimpinnya. Dia adalah figur yang sangat penting dalam menegakkan kedisiplinan di perusahaannya. Dan kedisiplinan, adalah sebuah keniscayaan, jika ingin mencapai “superior performance”. Disiplin harus dimulai dari pikiran. Lalu tindakan. Kemudian, disiplin baru bisa dilaksanakan secara bersama-sama oleh semua anggota di perusahaan itu.

Dimensi kedua adalah “fundamental”. Ini sangat terkait dengan karakter. Dengan kata lain, dalam sebuah bisnis, karakter sangat menentukan sukses-tidaknya bisnis tersebut.

Ada tiga karakter yang harus dipunyai oleh pebisnis.

Karakter pertama, “return of luck”. Maknanya, bersikap baik. Termasuk dalam hal ini attitude. Universitas Harvard telah melakukan riset atas kunci kesuksesan seseorang. Hasilnya, 85 persen kesuksesan lebih disebabkan faktor pikiran dan sikap. Sedangkan 15 persen berdasarkan faktor kemampuan.

Karakter kedua, “single factor success”. Maknanya, kesuksesan itu tidak bergantung kepada siapa-siapa. Tapi, sangat tergantung pada diri sendiri. Misalnya, ketika bisnis kita gagal karena banyaknya kompetitor, maka dengan karakter “single factor success” kita tidak boleh menyalahkan kompetitor. Tapi, harus introspeksi, apa saja kelemahan atau kekurangan kita. Mengapa, bisa kalah dengan kompetitor.

Karakter ketiga, adalah “gold lock time”. Yakni, membangun momentum. Karena setiap orang punya waktunya sendiri-sendiri. Punya momentumnya sendiri-sendiri. Yang harus dipunyai seorang pebisnis adalah, harus jeli melihat momentum, dan harus cepat memanfaatkan momentum.

Baca Juga :  - Rasisme -

Dimensi ketiga, adalah organisasi. Dalam hal ini sangat terkait dengan kinerja. Hidup-matinya sebuah organisasi, sangat tergantung pada kinerja dari orang-orang yang menjalankan organisasi itu. Makanya, kinerja harus dipacu semaksimal mungkin. Tak boleh ada celah untuk lengah.

Setidaknya harus ditanamkan tiga hal ini: “Jangan-jangan kompetitor sudah mendahului”. “Jangan-jangan strategi operasional yang sudah kita susun, gagal”. “Jangan-jangan produk kita tidak diterima oleh pasar”. Ini lah yang disebut dengan “productive paranoia”. Ini sangat lah penting untuk ditanamkan kepada para karyawan perusahaan agar tidak lengah dan terus waspada, serta harus terus meningkatkan kinerjanya. Dan, dalam GBC, hal ini ditekankan berulang-ulang oleh Coach Dr Fahmi.

Selama lima hari pelaksanaan GBC, mulai pukul 08.00 hingga 21.00, tidak lah terasa lamanya. Jam demi jam berlalu, masuk di pagi hari, tiba-tiba sudah malam hari. Waktunya mengakhiri sesi. Materi disampaikan begitu padatnya. Tak hanya penyampaian materi. Hampir setiap materi, ada borang yang harus diselesaikan. Dan jika Anda sebagai pebisnis, atau jika Anda pemilik sebuah bisnis, materi-materi itu cukup aplikatif jika diterapkan. Apalagi dibantu dengan borang, dimana Anda harus mengisi borang-borang itu sesuai dengan apa yang sudah Anda lakukan (selama menjalankan atau memimpin perusahaan). Sesuai dengan apa yang ada dalam pikiran Anda. Dan sesuai dengan apa yang Anda impikan serta cita-citakan.

Saya sendiri mencatat, minimal ada lima materi yang begitu disampaikan, saya langsung merasa materi itu sangat saya butuhkan dalam menjalankan dan mengembangkan perusahaan.

Pertama, “3 stages of scaling up”. Kedua, “Algoritma Scale Up”. Materi pertama dan kedua ini saya butuhkan untuk membesarkan perusahaan. Pada materi itu disebutkan secara rinci, tahapan demi tahapan serta berbagai indikator yang dibutuhkan untuk membesarkan (meng-scale-up) perusahaan.

Baca Juga :  Olahan Sirsak dan Nanas

Materi ketiga, “Grounded Approaches”. Ini adalah tools bagi kita untuk mengevaluasi apa saja yang sudah dilakukan oleh perusahaan kita. Apa saja yang kurang di perusahaan. Dan apa saja yang harus dibenahi, harus dinaikkan, serta harus dimaksimalkan lagi di dalam perusahaan kita. Jadi, ini semacam “self assessment” terhadap daya dukung, daya guna, dan daya ungkit yang ada di perusahaan kita.

Materi keempat, “Buyer Value”. Ini adalah tools yang efektif untuk menganalisis apa saja nilai (value) yang diinginkan buyer terhadap perusahaan atau produk kita. Atau bisa juga dimaknai, nilai-nilai apa saja yang menjadi kekuatan dari produk kita atau perusahaan kita yang masih sangat diharapkan serta dibutuhkan oleh buyer.

Materi kelima, “Formula Sukses Total”. Di materi ini, kita dipandu dan diarahkan, bagaimana agar perusahaan kita menjadi pemenang, dengan menggunakan value, keunggulan, serta keunikan yang dimiliki oleh perusahaan kita.

Jadi, GBC benar-benar mengkondisikan kita, memaksa kita, agar kita semaksimal mungkin mengeluarkan segala potensi yang ada pada diri kita. Jika boleh saya mengilustrasikan, di dalam GBC, kita diajari dan diarahkan untuk menulis apa saja yang ada di otak kita. Untuk menulis apa saja yang menjadi mimpi kita, demi kemajuan perusahaan. Saya teringat dengan apa yang pernah dikatakan oleh John C. Maxwell, seorang penulis dari Amerika yang buku-bukunya tentang kepemimpinan terjual hingga jutaan kopi, dan beberapa di antaranya masuk dalam daftar “New York Times Best Seller”. Dia mengatakan: “Hampir 95 persen dari kita, tidak pernah menuliskan tujuan dalam kehidupan. Akan tetapi, dari 5 persen yang melakukannya, 95 persen mencapai tujuan mereka,”.

Di dalam GBC, secara filosofi, kita diajari, dipaksa dan dikondisikan untuk menuliskan tujuan hidup. (bersambung)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/