26.6 C
Kediri
Saturday, August 13, 2022

Fenomena Kerasukan Roh

- Advertisement -

Bagaimana hukumnya memercayai orang yang kesurupan? Bagaimana pandangan Islam terhadap orang yang kerasukan roh? Apakah fenomena ini benar-benar ada? (Rimba, 081335762xxx).

Saudara Rimba yang berbahagia, bagaimanapun fenomena kerasukan roh/jin/makhluk halus tidak dapat dijelaskan oleh pengetahuan empirik. Namun, justru ilmu keislaman dapat menjembatani keberadaan makhluk halus melalui dalil-dalil yang diakui kebenarannya. Karena itu, permasalahan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

Pertama, jin sebagai induk makhluk halus beserta spesiesnya diakui keberadaannya oleh Alquran mapun hadis. Sejalan dengan keberadaan mahkluk halus itu, Islam memberi informasi yang akurat tentang keberadaan malaikat sebagai fakta kehidupan. Keduanya tidak berada pada jangkauan pengetahuan empirik.

Lebih dari itu, informasi keberadaan manusia setelah mati tidak luput dari pengetahuan keislaman yang benar. Keberadaan manusia setelah mati memberi petunjuk suatu situasi yang tidak dapat didekati dengan pengetahuan empirik. Lebih jelasnya, keterbatasan pengetahuan empirik itu disempurnakan pengetahuan yang dimiliki oleh  ilmu-ilmu agama.

Baca Juga :  Jarang Dimainkan, Risna Prahalabenta Pilih Hengkang dari Persik

Kedua, makhluk-makhluk yang memiliki dimensi berbeda itu dapat saja mengalami suatu keadaan saling memasuki satu dengan yang lain. Informasi ini ditunjukkan oleh Alquran surat al-Baqarah ayat 275. Di sana disebut, orang-orang yang makan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu disebabkan mereka berkata sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba.

- Advertisement -

Ayat ini memberi petunjuk perumpamaan orang yang memakan riba memiliki ciri orang yang kerasukan setan. Meski perumpamaan ini menggambarkan perilaku pemakan riba di alam akhirat, basis penggambarannya berasal dari alam dunia yang nyata ini. Karena itu, secara teori, kerasukan itu menjadi sesuatu yang bisa saja terjadi di kehidupan manusia. Pengingkaran terhadap fakta kerasukan itu justru menunjukkan pengingkaran terhadap pernyataan Alquran.

Baca Juga :  Kerenyahan Kelud Jamur Crispy

Ketiga, fenomena kerasukan roh, jin, maupun makhluk halus yang lain ke tubuh manusia merupakan fakta yang nyata. Sebagaimana peristiwa mistis lain yang tidak dapat didekati oleh pengetahuan empiris seperti sihir, santet dan ilmu hitam yang lain.

Pada umumnya, peristiwa kerasukan roh, jin, maupun makhluk halus yang lain ke tubuh manusia ditandai dengan gejala suara yang berubah dari aslinya. Para praktisi pengobatan non-medis selalu berupaya memperlakukan penderita seperti mereka memperlakukan penderita penyakit medis-empirik. Yakni, dengan menekankan pada medium yang berbeda. Hal ini menunjukkan kerasukan roh dan sejenisnya bukan khayalan atau sejenis ilusi yang terdapat dalam psikologi. Namun bersifat hakiki, faktawi dan nyata. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Dr. Zayad Abd. Rahman MHI, dosen Pascasarjana IAIN Kediri.

 

 

 

- Advertisement -

Bagaimana hukumnya memercayai orang yang kesurupan? Bagaimana pandangan Islam terhadap orang yang kerasukan roh? Apakah fenomena ini benar-benar ada? (Rimba, 081335762xxx).

Saudara Rimba yang berbahagia, bagaimanapun fenomena kerasukan roh/jin/makhluk halus tidak dapat dijelaskan oleh pengetahuan empirik. Namun, justru ilmu keislaman dapat menjembatani keberadaan makhluk halus melalui dalil-dalil yang diakui kebenarannya. Karena itu, permasalahan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

Pertama, jin sebagai induk makhluk halus beserta spesiesnya diakui keberadaannya oleh Alquran mapun hadis. Sejalan dengan keberadaan mahkluk halus itu, Islam memberi informasi yang akurat tentang keberadaan malaikat sebagai fakta kehidupan. Keduanya tidak berada pada jangkauan pengetahuan empirik.

Lebih dari itu, informasi keberadaan manusia setelah mati tidak luput dari pengetahuan keislaman yang benar. Keberadaan manusia setelah mati memberi petunjuk suatu situasi yang tidak dapat didekati dengan pengetahuan empirik. Lebih jelasnya, keterbatasan pengetahuan empirik itu disempurnakan pengetahuan yang dimiliki oleh  ilmu-ilmu agama.

Baca Juga :  Mencari Solusi Penggundulan Hutan

Kedua, makhluk-makhluk yang memiliki dimensi berbeda itu dapat saja mengalami suatu keadaan saling memasuki satu dengan yang lain. Informasi ini ditunjukkan oleh Alquran surat al-Baqarah ayat 275. Di sana disebut, orang-orang yang makan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu disebabkan mereka berkata sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba.

Ayat ini memberi petunjuk perumpamaan orang yang memakan riba memiliki ciri orang yang kerasukan setan. Meski perumpamaan ini menggambarkan perilaku pemakan riba di alam akhirat, basis penggambarannya berasal dari alam dunia yang nyata ini. Karena itu, secara teori, kerasukan itu menjadi sesuatu yang bisa saja terjadi di kehidupan manusia. Pengingkaran terhadap fakta kerasukan itu justru menunjukkan pengingkaran terhadap pernyataan Alquran.

Baca Juga :  KPM 433: Kontroversi

Ketiga, fenomena kerasukan roh, jin, maupun makhluk halus yang lain ke tubuh manusia merupakan fakta yang nyata. Sebagaimana peristiwa mistis lain yang tidak dapat didekati oleh pengetahuan empiris seperti sihir, santet dan ilmu hitam yang lain.

Pada umumnya, peristiwa kerasukan roh, jin, maupun makhluk halus yang lain ke tubuh manusia ditandai dengan gejala suara yang berubah dari aslinya. Para praktisi pengobatan non-medis selalu berupaya memperlakukan penderita seperti mereka memperlakukan penderita penyakit medis-empirik. Yakni, dengan menekankan pada medium yang berbeda. Hal ini menunjukkan kerasukan roh dan sejenisnya bukan khayalan atau sejenis ilusi yang terdapat dalam psikologi. Namun bersifat hakiki, faktawi dan nyata. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Dr. Zayad Abd. Rahman MHI, dosen Pascasarjana IAIN Kediri.

 

 

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/