Bajulan menjadi desa unik di Kecamatan Loceret. Desa yang berada di lereng Gunung Wilis itu menyimpan banyak cerita menarik. Yang tidak kalah fenomenal adalah keberadaan kampung berisi 12 kepala keluarga (KK). Itulah kampung asli Bajulan.
Kampung itu terletak di Dusun Bajulan. Diapit oleh makam, jaraknya sekitar 500 meter dari jalan utama Dusun Bajulan ke Dusun Magersari. Akses jalannya sebagian sudah paving. “Lokasinya masuk ke arah SMP satu atap, kampung 12 KK itu berada sekitar 10-20 meter dari sekolah itu,” ujar Kepala Desa (Kades) Bajulan Lauji.
Sejak dahulu, kampung itu hanya diisi oleh 12 KK. Tidak ada penjelasan ilmiah mengapa kampung tersebut hanya dihuni belasan KK saja. Warga desa percaya, kampung tersebut merupakan kampung asli Bajulan.
Kampung itulah yang menjadi cikal bakal adanya desa di kawasan wisata Roro Kuning. Tempatnya berada di antara pepohonan lereng Gunung Wilis. Hanya ada 15 bangunan di sana. Satu bangunan adalah masjid, lalu satu bangunan lagi kandang, dan satu bangunan rumah yang sudah kosong.
Sisanya adalah rumah penduduk. Lauji mengatakan, warga di kampung tersebut tidak menutup diri. Mereka sama dengan masyarakat lainnya. Menerima siapa dengan baik orang dari luar kampung. “Masih sering srawung dengan warga di luar kampung. Saya beberapa waktu lalu berkunjung ke sana,” ungkap Lauji.
Sementara itu, Jaiman, 62, warga Kampung Asli Bajulan mengatakan, informasi tentang kampung asli Bajulan itu sudah tepat. “Dari nenek moyang saya, menceritakan jika warga asli (Desa Bajulan, Red) tinggalnya dulu di sekitar sini (Kampung Asli Bajulan, Red),” ungkapnya.
Kakek yang kerap disapa dengan sebutan Mbah Man meluruskan cerita tentang kampung tersebut harus 12 KK saja. Menurutnya, jumlah KK itu hanya kebetulan saja. Dia mencontohkan keluarganya. Ketika salah satu anaknya sudah berkeluarga, memilih untuk menetap di luar kampung. “Selalu begitu (yang menikah keluar kampung, Red), jadi KK-nya tidak pernah bertambah (Kampung Asil Bajulan, Red),” ujar bapak tiga anak itu.
Kehadiran kampung 12 KK tersebut menambah keunikan Desa Bajulan. Desa yang terletak di lereng Gunung Wilis ini memang dikenal dengan berbagai cerita unik lainnya, seperti baju hilang, anti maling, doa Dewi Kilisuci, dan gerilya Jenderal Soedirman.
Seperti diceritakan sebelumnya, Desa Bajulan itu dibuka oleh seorang pertapa yang ingin menuju puncak Gunung Wilis. Saat berada di Bajulan, bajunya hilang. Cerita itu kemudian menjadi asal usul nama Bajulan yang diambil dari kata Baju Hilang.
Editor : Anwar Bahar Basalamah