NGANJUK, JP Radar Nganjuk– Petani bawang merah di Desa Gandu, Kecamatan Bagor terpaksa panen dini, kemarin. Mereka panen saat berambang baru berusia 45 hari.
Menurut Semi, 62, petani berambang asal Desa Gandu, Kecamatan Bagor, usia ideal panen berambang adalah 60-70 hari. “Kalau panen lebih awal seperti ini jelas rugi,” ujarnya. Petani rugi karena harga jualnya pasti anjlok. Jika harga normal berambang Rp 10 ribu maka dia hanya bisa menjual Rp 5 ribu saja per kilogramnya.
Karena dipanen lebih awal, Semi mengklaim tanaman berambangnya gagal panen. Lantas apa yang menyebabkan dia harus panen dini? Nenek dua cucu itu mengaku ada banyak faktor penyebab petani harus panen lebih dini. Faktor yang paling dirasakan saat ini adalah kemarau kering yang berlangsung cukup lama.
Cuaca panas yang melanda wilayah Nganjuk menyebabkan umbinya menjadi kecil. “Berambangnya seperti gak bisa tumbuh, lihat saja umbinya kecil-kecil,” ujar Semi sembari memperlihatkan bawang merah yang dipanen dini, kemarin siang.
Selain cuaca, faktor lain yang membuat petani gagal panen adalah serangan ulat yang terjadi sejak satu bulan ini. Hama ulat menyerang daun berambang yang membuat pertumbuhannya menjadi terganggu. Daripada dibiarkan hidup tapi hasilnya tidak maksimal, Semi akhirnya memanen bawang merah jenis tajuk miliknya lebih dini.
Setelah bawang merah itu dipanen dan ditali, ukurannya lebih kecil dari bawang merah umumnya. Perbedaan lainnya adalah warna berambang tidak begitu merah. Masih didominasi dengan warna putih daripada warna merah. “Hitungannya kami sudah gagal,” ujarnya.
Tidak hanya Semi yang panen dini, petani lain yang terpaksa panen lebih awal adalah Sukadi, 58. Dia harus mencabut berambang di lahan seluas 150 ru. “Semua berambang saya belum ada yang memasuki usia panen (60-70 hari, Red),” ungkapnya. Faktor penyebab dia harus panen lebih awal sama dengan Semi, karena di tanamannya terdapat banyak ulatnya.
Meski sudah sudah diberi obat, tetap saja ulatnya masih ada. Dia kewalahan membasmi hama yang menyerang berambang miliknya. Selain ulat, penyebab lainnya adalah berambangnya kekuranagn air. Pengairan di tempatnya sudah mulai kering. “Tanahnya juga sudah banyak yang retak membuat pertumbuhan menjadi terganggu,” ujarnya.
Ia mengatakan, pada saat pergantian musim seperti ini, hama dan cuaca selalu menjadi momok utama para petani. Untuk diketahui, musim kemarau di Kota Angin dimulai sejak Juni. Hingga kemarin, belum semua wilayah di Nganjuk diguyur hujan. Hanya beberapa kecamatan saja yang sudah diguyur hujan ringan.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah