Berbicara destinasi wisata di Kota Angin tentu tak akan bisa lepas dari Sedudo. Keindahan air terjun dan alam di sana menjadi magnet tersendiri bagi para pelancong. Tak hanya dari dalam kota saja. Wisatawan dari luar kota pun banyak yang tertarik berkunjung ke sana.
Potensi alam di wilayah selingkar Wilis memang tak perlu diragukan lagi. Tapi, jangan salah. Mengupas Sedudo tidak hanya cukup pada keindahan alamnya saja. Kearifan lokal, budaya, dan tradisi masyarakat setempat tidak kalah menariknya.
Selama ini, Sedudo identik dengan ritual siramannya. Acara yang digelar setiap bulan Sura tersebut selalu mendatangkan ratusan wisatawan. Padahal, tidak hanya itu saja kearifan lokal di sana. Ada pula tradisi Jumat Legi yang rutin dirayakan oleh warga setempat.
“Sudah belasan tahun warga rutin menggelar selamatan setiap pasaran Jumat Legi di sini,” ujar Mbah Mayar, 70, juru kunci setempat kepada wartawan Jawa Pos Radar Nganjuk.
Berdasarkan data yang dihimpun koran ini, ritual Jumat Legi tersebut mulai dilaksanakan di kawasan wisata air terjun Sedudo sejak tahun 2005 silam. Tujuan utamanya tidak lain untuk menolak bala atau malapetaka. Serta meminta keberkahan bagi warga dan seluruh pengunjung di sana.
Dalam menggelar ritual tersebut, warga dan pengurus objek wisata air terjun Sedudo selalu menyiapkan tumpeng robyong. Tumpeng ini sejatinya hampir sama dengan tumpeng kebanyakan. Namun, ada tambahan ornamen terasi, telur, dan cabai merah yang ditancapkan di atas gunungan nasi.
“Kami juga membuat jenang sengkala. Agar dijauhkan dari segala malapetaka dan bencana,” terangnya. Mbah Mayar menjadi tetua yang dipercaya memimpin doa tersebut. Setelah doa dipanjatkan, ritual selanjutnya adalah menabur bunga kenanga ke kolam air terjun Sedudo. Ritual ditutup dengan makan bersama.
Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Nganjuk Sri Handariningsih sangat antusias dengan ritual tersebut. Dia mengikuti setiap rangkaian ritual dengan khidmat. Bahkan, dia juga yang diberi mandat untuk menaburkan bunga kenanga itu.
Bu Han mengatakan bahwa kearifan lokal semacam ini perlu dilestarikan. Selain menjaga tradisi, dia juga meyakini bahwa budaya juga dapat dijadikan magnet wisata. Tergantung bagaimana mengolah dan mengemasnya. “Tradisi ini harus terus dijaga. Ini merupakan kearifan lokal yang perlu dilestarikan,” tuturnya.
Air terjun Sedudo menjadi objek wisata unggulan di Kota Angin. Bahkan, pendapatan dari kawasan ini menjadi yang terbesar. Dibanding objek wisata lain yang dikelola oleh Pemkab Nganjuk. “Pendapatan terbanyak masih dipegang oleh Sedudo,” ujar Kepala Disporabudpar Kabupaten Nganjuk Sri Handariningsih.
Berdasarkan data yang dihimpun koran ini, pendapatan objek wisata air terjun Sedudo pada tahun 2022 lalu mencapai Rp 473,4 juta. Sayangnya, jumlah tersebut masih belum memenuhi target yang ditetapkan. Capaian target hanya sebesar 69,22 persen.
Hal itu terjadi karena beberapa faktor. Salah satunya pandemi Covid-19 yang masih melanda. Kondisi tersebut membuat penurunan jumlah pengunjung di Sedudo pada tahun lalu. Selain itu, kondisi cuaca juga menjadi momok tersendiri.
Menurutnya, cuaca pada triwulan terakhir tahun 2022 juga kurang mendukung. Sehingga, membuat wisatawan enggan untuk berkunjung ke Sedudo. “Faktor cuaca dan juga masih dalam pemulihan masa pandemi,” kata perempuan yang akrab disapa Bu Han tersebut.
Untuk tahun ini, pihaknya menargetkan pendapatan dari Sedudo sebesar Rp 684 juta. Pihaknya optimistis dapat memenuhi target yang telah ditetapkan. Terlebih, dengan adanya pelonggaran aturan PPKM. “Kami akan berupaya keras untuk mencapai target tersebut,” tandasnya.
Sementara itu, kunjungan wisata di Sedudo sudah mulai kembali menggeliat pada awal tahun ini. Seperti halnya Bambang, 41, salah seorang pengunjung di sana. Dia mengaku sengaja berkunjung untuk menikmati keindahan alam di kawasan selingkar Wilis tersebut.
“Anak dan istri saya pengen main ke sini. Sekalian tadi habis dari rumah keluarga di Nganjuk,” pungkas pria yang tinggal di Krian, Sidoarjo itu.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah