“Ayo bangun. Wudhu ndang salat Subuh,” ujar Makti (bukan nama sebenarnya, Red), 38, warga Kecamatan Tanjunganom setiap pagi. Namun, anak Makti sama sekali tidak menggubris. Dia tetap melanjutkan tidurnya. Beberapa menit kemudian, pintu kamar sang anak digedor. “Ayo bangun,” teriaknya.
Sang anak sebenarnya sudah mendengar teriakan Makti. Namun, dia pura-pura tidak mendengar. Justru, dia memilih masuk ke dalam selimutnya. Melihat hal itu, Makti mulai hilang kesabaran. Dia menarik selimut sang anak. Kemudian, menarik tangannya. “Bangun. Nanti rezekine dicucuk pitik lo,” ujarnya.
Dengan malas, sang anak beranjak dari tempat tidurnya. Dia mengambil air wudhu dan salat Subuh. Kemudian, melanjutkan lagi tidurnya. Sontak, Makti kembali berteriak. “Rezekine dicucuk pitik lo,” ancamnya.
Namun, sang anak tidak menggubris. Dia tetap saja tidur. Menurut Makti, ancaman rezeki dicucuk pitik jika tidak bangun pagi sudah tidak mujarab untuk anak zaman sekarang. Ini berbeda dengan zamannya. Dia sangat takut sekali jika bangun kalah dengan ayam. “Sekarang membiasakan anak bangun pagi dan tidak tidur lagi itu susah sekali,” keluhnya.
Sementara itu, Sekjen Forum Pimpinan PGRI Kabupaten/Kota (FPPK) Seluruh Indonesia Sujito mengatakan, mitos jika tidak bangun pagi membuat rezeki akan dipatuk ayam itu memiliki makna yang dalam. Karena ancaman itu sebenarnya untuk membuat kita rajin bangun pagi. Dengan rajin bangun pagi maka kita akan siap menjalani aktivitas hari tersebut. Ini berbeda dengan jika kita kesiangan bangun, semuanya akan dilakukan terburu-buru. Akibatnya, pekerjaan tidak bisa diselesaikan dengan baik. “Kesuksesan itu diawali dengan rajin bangun pagi,” ingatnya.
Karena itu, meski saat ini sudah era globalisasi tetapi orang tua masih mempercayai jika ingin sukses maka harus bangun pagi sebelum ayam jago berkokok. “Mari rajin bangun pagi maka kita akan meraih kesuksesan,” ujarnya. Editor : Anwar Bahar Basalamah