25.3 C
Kediri
Saturday, January 28, 2023

Bendera Terlilit, Puluhan Peserta Upacara HUT RI ke-77 Mendadak Sakit

- Advertisement -

NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Upacara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-77 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Nganjuk yang dipusatkan di GOR Bung Karno diwarnai insiden bendera Merah Putih terlilit. Bendera Merah Putih yang semula terbentang sempurna tiba-tiba terlilit saat mendekati pucuk tiang.

Diduga bendera terlilit karena embusan angin yang kencang. Pasalnya, petugas pengibar bendera telah menunaikan tugasnya dengan baik. Namun begitu, kondisi tersebut sempat membuat waswas Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Nganjuk.
“Tadi sempat kepikiran juga. Soalnya akan lebih sulit pas penurunannya,” ujar Nasya Amina Indrasari, pembawa bendera saat ditemui wartawan Jawa Pos Radar Nganjuk seusai upacara kemarin. Menurut siswi SMAN 1 Patianrowo itu, upacara penurunan bendera akan lebih sulit jika bendera tidak berkibar dengan sempurna.

Namun begitu, Nasya dan rekan-rekannya tetap berusaha tenang dan bersikap profesional. Semua tahapan berhasil dilakoni mereka dengan mulus. Tidak ada kesalahan dari penampilan remaja-remaja berprestasi tersebut. “Harus tetap profesional dan memberikan yang terbaik. Kami sudah diberikan pelatihan selama hampir sebulan,” ujarnya.

Baca Juga :  Lokakarya untuk Kembangkan Bursa Kerja Khusus Siswa SMK
BHINNEKA TUNGGAL IKA: Sekwan Djoko Wasis memakai pakaian adat Madura saat menjadi inspektur upacara di halaman Kantor DPRD kemarin. (Foto: karen Wibi)

Di upacara kemarin juga diwarnai dengan adanya puluhan peserta yang tumbang. Mereka tidak bisa mengikuti upacara hingga selesai. Mayoritas mengeluhkan pusing, mual, dan sakit perut. Selain karena panas terik, kebanyakan peserta mengaku belum sempat sarapan. “Tadi ke sini belum makanan. Takut telat ikut upacaranya,” ungkap Intan, salah satu peserta upacara yang nyaris pingsan.

Selain siswi SMAN 3 Nganjuk ini, banyak peserta lain yang mengalami hal serupa. Mayoritas berasal dari golongan pelajar dan mahasiswa di Kota Angin. Kebetulan, dalam upacara tersebut mereka menghadap sisi timur. Sehingga, langsung berhadapan dengan matahari. “Rasanya pusing dan sedikit mual,” sambung Intan.

- Advertisement -

Sementara itu, Plt Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi menilai upacara berlangsung lancar dan sukses. Ia tidak mempersoalkan pada kedua hal tersebut. Namun secara keseluruhan, perlu diapresiasi tinggi. Terutama, bagi mereka yang bertugas.

Baca Juga :  Toko Modern PHP UMKM

Marhaen mengatakan, peringatan HUT ke-77 Kemerdekaan RI ini merupakan momentum. Tak hanya berguna untuk memupuk rasa nasionalisme tetapi juga menjadi pelecut semangat untuk bangkit. Dari segala belenggu dan tantangan yang menghadang.
“Semangat kita gelorakan lagi. Pulih lebih cepat, bangkit lebih kuat. Di segala bidang kita harus bangkit,” ujarnya.

Selain upacara di GOR Bung Karno, DPRD Kabupaten Nganjuk juga menggelar upacara di halaman kantor DPRD. Yang menarik, Sekwan Djoko Wasis yang bertindak sebagai inspektur upacara memakai pakaian adat dari Madura. “Saya berpakaian Madura ini sebagai wujud Bhinneka Tunggal Ika di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” ujarnya.






Reporter: Andhika Attar Anindita
- Advertisement -

NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Upacara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-77 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Nganjuk yang dipusatkan di GOR Bung Karno diwarnai insiden bendera Merah Putih terlilit. Bendera Merah Putih yang semula terbentang sempurna tiba-tiba terlilit saat mendekati pucuk tiang.

Diduga bendera terlilit karena embusan angin yang kencang. Pasalnya, petugas pengibar bendera telah menunaikan tugasnya dengan baik. Namun begitu, kondisi tersebut sempat membuat waswas Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Nganjuk.
“Tadi sempat kepikiran juga. Soalnya akan lebih sulit pas penurunannya,” ujar Nasya Amina Indrasari, pembawa bendera saat ditemui wartawan Jawa Pos Radar Nganjuk seusai upacara kemarin. Menurut siswi SMAN 1 Patianrowo itu, upacara penurunan bendera akan lebih sulit jika bendera tidak berkibar dengan sempurna.

Namun begitu, Nasya dan rekan-rekannya tetap berusaha tenang dan bersikap profesional. Semua tahapan berhasil dilakoni mereka dengan mulus. Tidak ada kesalahan dari penampilan remaja-remaja berprestasi tersebut. “Harus tetap profesional dan memberikan yang terbaik. Kami sudah diberikan pelatihan selama hampir sebulan,” ujarnya.

Baca Juga :  Selang Elpiji Bocor, Dapur Terbakar
BHINNEKA TUNGGAL IKA: Sekwan Djoko Wasis memakai pakaian adat Madura saat menjadi inspektur upacara di halaman Kantor DPRD kemarin. (Foto: karen Wibi)

Di upacara kemarin juga diwarnai dengan adanya puluhan peserta yang tumbang. Mereka tidak bisa mengikuti upacara hingga selesai. Mayoritas mengeluhkan pusing, mual, dan sakit perut. Selain karena panas terik, kebanyakan peserta mengaku belum sempat sarapan. “Tadi ke sini belum makanan. Takut telat ikut upacaranya,” ungkap Intan, salah satu peserta upacara yang nyaris pingsan.

Selain siswi SMAN 3 Nganjuk ini, banyak peserta lain yang mengalami hal serupa. Mayoritas berasal dari golongan pelajar dan mahasiswa di Kota Angin. Kebetulan, dalam upacara tersebut mereka menghadap sisi timur. Sehingga, langsung berhadapan dengan matahari. “Rasanya pusing dan sedikit mual,” sambung Intan.

Sementara itu, Plt Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi menilai upacara berlangsung lancar dan sukses. Ia tidak mempersoalkan pada kedua hal tersebut. Namun secara keseluruhan, perlu diapresiasi tinggi. Terutama, bagi mereka yang bertugas.

Baca Juga :  Stok Reagen┬áTerbatas

Marhaen mengatakan, peringatan HUT ke-77 Kemerdekaan RI ini merupakan momentum. Tak hanya berguna untuk memupuk rasa nasionalisme tetapi juga menjadi pelecut semangat untuk bangkit. Dari segala belenggu dan tantangan yang menghadang.
“Semangat kita gelorakan lagi. Pulih lebih cepat, bangkit lebih kuat. Di segala bidang kita harus bangkit,” ujarnya.

Selain upacara di GOR Bung Karno, DPRD Kabupaten Nganjuk juga menggelar upacara di halaman kantor DPRD. Yang menarik, Sekwan Djoko Wasis yang bertindak sebagai inspektur upacara memakai pakaian adat dari Madura. “Saya berpakaian Madura ini sebagai wujud Bhinneka Tunggal Ika di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” ujarnya.






Reporter: Andhika Attar Anindita

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/