23.6 C
Kediri
Wednesday, June 7, 2023

Ketegasan Kejaksaan Negeri Nganjuk di Hari Antikorupsi Sedunia

Jebloskan Tersangka Korupsi BOP Pesantren dan TPQ ke Penjara

Hari Antikorupsi Sedunia diperingati hari ini. Menjelang peringatan tersebut, kemarin, Kejaksaan Negeri Nganjuk menunjukkan komitmennya dalam memberantas tindak pidana korupsi. M. Sholehudin, oknum pegawai Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Nganjuk yang diduga melakukan tindak pidana korupsi Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) Pondok Pesantren dan TPQ pada 2020, dijebloskan ke penjara.

“Tersangka MS (M. Sholehudin, red) kami tahan agar dia tidak melarikan diri atau menghilangkan barang bukti,” tandas Kepala Kejaksaan Negeri Nganjuk Nophy Tennophero Suoth melalui Kasi Pidsus Andie Wicaksono kemarin. Sebelum dibawa ke Rutan Klas II-B Nganjuk sekitar pukul 14.45 WIB, Sholeh didampingi KRT Nurwadi Rekso Hadinagoro menjalani pemeriksaan intensif. Sholeh diperiksa selama dua jam di ruang Pidsus Kejari Nganjuk.

Baca Juga :  Dirujuk ke Lamongan untuk Mendapat Perawatan

Saat keluar dari ruangan, Sholeh digelandang Andie dan pegawai kejaksaan menuju mobil tahanan Kejaksaan Negeri Nganjuk. Sholeh yang memakai rompi warna merah dengan nomor 01 di bagian dada sebelah kiri dan logo kejaksaan di bagian dada sebelah kanan hanya tertunduk menghindari jepretan kamera wartawan. Dia juga tidak berkomentar sepatah kata pun. Wajahnya tidak terlihat jelas. Karena Sholeh memakai masker warna putih.

Setelah masuk mobil tahanan, Sholeh dibawa menuju ke Rutan Klas II-B Nganjuk. “Tersangka ditahan di Rutan Klas II-B selama 20 hari ke depan,” tandas Andie.

Mantan Kasi Pidum Kejari Berau, Kalimatan Timur ini menjelaskan, Sholeh menyunat dana BOP Ponpes dan TPQ. Potongan yang dilakukan tersangka yang saat itu menjadi staf Seksi Pontren Kantor Kemenag Nganjuk, bervariasi. Paling sedikit dia menyunat Rp 10 juta dan BOP per ponpes dan TPQ. Padahal, seharusnya ponpes dan TPQ itu masing-masing bisa mendapatkan dana BOP sekitar Rp 40 juta-Rp 50 juta setahun. “Ada sekitar 50 ponpes dan TPQ yang disunat,” tandasnya.

Baca Juga :  Ruko di Pasar Bagor Terbakar

Untuk kerugian negara, Andie mengatakan, berdasarkan perhitungan kemarin, sudah ada peningkatan. Jika sebelumnya, kerugian negara sekitar Rp 500 juta maka kemarin menjadi Rp 700 juta.

Sementara itu, KRT Nurwadi Rekso Hadinagoro, pengacara Sholeh mengatakan, kliennya akan mengikuti proses hukum yang berjalan. “Kami akan selalu kooperatif,” ujarnya.






Reporter: Andhika Attar Anindita

Hari Antikorupsi Sedunia diperingati hari ini. Menjelang peringatan tersebut, kemarin, Kejaksaan Negeri Nganjuk menunjukkan komitmennya dalam memberantas tindak pidana korupsi. M. Sholehudin, oknum pegawai Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Nganjuk yang diduga melakukan tindak pidana korupsi Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) Pondok Pesantren dan TPQ pada 2020, dijebloskan ke penjara.

“Tersangka MS (M. Sholehudin, red) kami tahan agar dia tidak melarikan diri atau menghilangkan barang bukti,” tandas Kepala Kejaksaan Negeri Nganjuk Nophy Tennophero Suoth melalui Kasi Pidsus Andie Wicaksono kemarin. Sebelum dibawa ke Rutan Klas II-B Nganjuk sekitar pukul 14.45 WIB, Sholeh didampingi KRT Nurwadi Rekso Hadinagoro menjalani pemeriksaan intensif. Sholeh diperiksa selama dua jam di ruang Pidsus Kejari Nganjuk.

Baca Juga :  Isolasi Mandiri 11 Perawat

Saat keluar dari ruangan, Sholeh digelandang Andie dan pegawai kejaksaan menuju mobil tahanan Kejaksaan Negeri Nganjuk. Sholeh yang memakai rompi warna merah dengan nomor 01 di bagian dada sebelah kiri dan logo kejaksaan di bagian dada sebelah kanan hanya tertunduk menghindari jepretan kamera wartawan. Dia juga tidak berkomentar sepatah kata pun. Wajahnya tidak terlihat jelas. Karena Sholeh memakai masker warna putih.

Setelah masuk mobil tahanan, Sholeh dibawa menuju ke Rutan Klas II-B Nganjuk. “Tersangka ditahan di Rutan Klas II-B selama 20 hari ke depan,” tandas Andie.

Mantan Kasi Pidum Kejari Berau, Kalimatan Timur ini menjelaskan, Sholeh menyunat dana BOP Ponpes dan TPQ. Potongan yang dilakukan tersangka yang saat itu menjadi staf Seksi Pontren Kantor Kemenag Nganjuk, bervariasi. Paling sedikit dia menyunat Rp 10 juta dan BOP per ponpes dan TPQ. Padahal, seharusnya ponpes dan TPQ itu masing-masing bisa mendapatkan dana BOP sekitar Rp 40 juta-Rp 50 juta setahun. “Ada sekitar 50 ponpes dan TPQ yang disunat,” tandasnya.

Baca Juga :  Gila! BNN Ungkap 100 Kilogram Sabu-Sabu dalam Truk Kontainer di Jatikalen

Untuk kerugian negara, Andie mengatakan, berdasarkan perhitungan kemarin, sudah ada peningkatan. Jika sebelumnya, kerugian negara sekitar Rp 500 juta maka kemarin menjadi Rp 700 juta.

Sementara itu, KRT Nurwadi Rekso Hadinagoro, pengacara Sholeh mengatakan, kliennya akan mengikuti proses hukum yang berjalan. “Kami akan selalu kooperatif,” ujarnya.






Reporter: Andhika Attar Anindita

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/