26.9 C
Kediri
Tuesday, July 5, 2022

PMK Masuk Kategori Bencana

Kang Marhaen dan Mas Bup Sepakat Tutup Pasar Hewan

NGANJUK – Penyakit mulut dan kuku (PMK) di Kabupaten Nganjuk yang semakin merajalela dianggap sebagai bencana. Karena itu, penanganannya pun melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nganjuk. Kemarin, BPBD melakukan penyemprotan disinfektan di pasar hewan yang ada di Kota Angin. “PMK ini kami kategorikan bencana non-alam,” ujar Kalaksa BPBD Kabupaten Nganjuk Abdul Wakid kemarin.
PMK, kata Wakid, juga termasuk kategori darurat bencana. BPBD akan meminta Plt Bupati Marhaen Djumadi menerbitkan Surat Keputusan (SK) Penanganan Tanggap Darurat Bencana PMK. Sehingga, jika PMK semakin tidak terkendali, pemkab bisa menggunakan dana bantuan tidak terduga (BTT) di Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Nganjuk untuk menanganinya.
Saat ini, penanganan PMK, Wakid mengatakan, BPBD juga ikut terlibat. BPBD masuk Satuan Tugas (Satgas) Penanganan PMK Kabupaten Nganjuk. BPBD bersama dinas pertanian (disperta) serta dinas perindustrian dan perdagangan (disperindag) secara rutin akan melakukan penyemprotan disinfektan. Rencananya, penyemprotan tersebut akan dilakukan setiap tiga atau lima hari sekali.
Selain Pasar Hewan Kedondong, Berbek, Prambon, Warujayeng, dan Kertosono, penyemprotan disinfektan dilakukan di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Nganjuk. Harapannya, penyebaran PMK bisa dicegah. Rantai penularan PMK bisa diputus.
Sementara itu, Plt Bupati Marhaen Djumadi dan Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana juga membahas masalah PMK. Karena PMK tidak hanya terjadi di Kabupaten Nganjuk. Namun, PMK juga menyerang Kabupaten Kediri yang wilayahnya berbatasan langsung dengan Kota Angin. “Kami sepakat untuk memperketat pengawasan ternak untuk mencegah penularan PMK,” ujar Kang Marhaen.
Orang nomor satu di Kota Angin ini mengatakan, penutupan pasar hewan merupakan salah satu langkah konkret mencegah penularan PMK. Karena dengan tidak beroperasinya pasar hewan maka ternak yang terkena PMK tidak akan melakukan kontak dengan ternak yang masih sehat. Sehingga, penularan PMK bisa ditekan. “Penutupan pasar hewan akan kami evaluasi jika kasus PMK sudah terkendali,” ujarnya.
Hal senada diutarakan Bupati Dhito. Pemkab Kediri juga mengambil langkah yang sama dengan Pemkab Nganjuk. Yaitu, menutup pasar hewan sementara. Karena kasus PMK di Nganjuk dan Kediri hampir sama jumlahnya. Masing-masing sudah menembus 1.000 kasus. “Kami juga menutup sementara pasar hewan agar penularan PMK bisa ditekan,” ujarnya.

Baca Juga :  Kandang Kasun Jombok Terbakar





Reporter: Andhika Attar Anindita
- Advertisement -

NGANJUK – Penyakit mulut dan kuku (PMK) di Kabupaten Nganjuk yang semakin merajalela dianggap sebagai bencana. Karena itu, penanganannya pun melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nganjuk. Kemarin, BPBD melakukan penyemprotan disinfektan di pasar hewan yang ada di Kota Angin. “PMK ini kami kategorikan bencana non-alam,” ujar Kalaksa BPBD Kabupaten Nganjuk Abdul Wakid kemarin.
PMK, kata Wakid, juga termasuk kategori darurat bencana. BPBD akan meminta Plt Bupati Marhaen Djumadi menerbitkan Surat Keputusan (SK) Penanganan Tanggap Darurat Bencana PMK. Sehingga, jika PMK semakin tidak terkendali, pemkab bisa menggunakan dana bantuan tidak terduga (BTT) di Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Nganjuk untuk menanganinya.
Saat ini, penanganan PMK, Wakid mengatakan, BPBD juga ikut terlibat. BPBD masuk Satuan Tugas (Satgas) Penanganan PMK Kabupaten Nganjuk. BPBD bersama dinas pertanian (disperta) serta dinas perindustrian dan perdagangan (disperindag) secara rutin akan melakukan penyemprotan disinfektan. Rencananya, penyemprotan tersebut akan dilakukan setiap tiga atau lima hari sekali.
Selain Pasar Hewan Kedondong, Berbek, Prambon, Warujayeng, dan Kertosono, penyemprotan disinfektan dilakukan di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Nganjuk. Harapannya, penyebaran PMK bisa dicegah. Rantai penularan PMK bisa diputus.
Sementara itu, Plt Bupati Marhaen Djumadi dan Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana juga membahas masalah PMK. Karena PMK tidak hanya terjadi di Kabupaten Nganjuk. Namun, PMK juga menyerang Kabupaten Kediri yang wilayahnya berbatasan langsung dengan Kota Angin. “Kami sepakat untuk memperketat pengawasan ternak untuk mencegah penularan PMK,” ujar Kang Marhaen.
Orang nomor satu di Kota Angin ini mengatakan, penutupan pasar hewan merupakan salah satu langkah konkret mencegah penularan PMK. Karena dengan tidak beroperasinya pasar hewan maka ternak yang terkena PMK tidak akan melakukan kontak dengan ternak yang masih sehat. Sehingga, penularan PMK bisa ditekan. “Penutupan pasar hewan akan kami evaluasi jika kasus PMK sudah terkendali,” ujarnya.
Hal senada diutarakan Bupati Dhito. Pemkab Kediri juga mengambil langkah yang sama dengan Pemkab Nganjuk. Yaitu, menutup pasar hewan sementara. Karena kasus PMK di Nganjuk dan Kediri hampir sama jumlahnya. Masing-masing sudah menembus 1.000 kasus. “Kami juga menutup sementara pasar hewan agar penularan PMK bisa ditekan,” ujarnya.

Baca Juga :  Sapi Sakit, Peternak Asal Grogol Nginap di Kandang





Reporter: Andhika Attar Anindita

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/