JP RADAR KEDIRI – Perayaan Hari Raya Idul Fitri di Indonesia hampir selalu identik dengan berbagai hidangan khas. Salah satunya adalah ketupat, nasi yang dibungkus anyaman daun kelapa muda atau janur.
Bagi sebagian masyarakat, Lebaran terasa kurang lengkap jika di meja makan tidak ada ketupat yang disajikan bersama hidangan seperti opor ayam atau sambal goreng ati.
Meski pada dasarnya hanya berupa nasi yang dimasak dalam bungkus janur, ketupat ternyata memiliki sejarah panjang serta makna filosofis yang cukup mendalam.
Warisan Sunan Kalijaga
Berdasarkan berbagai literatur sejarah, tradisi ketupat dalam perayaan Lebaran dipercaya mulai populer sejak masa dakwah Sunan Kalijaga pada abad ke-15.
Salah satu anggota Wali Songo tersebut menggunakan ketupat sebagai media dakwah untuk memperkenalkan ajaran Islam kepada masyarakat Jawa.
Kala itu, Sunan Kalijaga memperkenalkan tradisi “Bakda”, yang terbagi menjadi dua, yakni Bakda Lebaran yang dirayakan pada 1 Syawal serta Bakda Kupat atau Lebaran Ketupat yang biasanya diperingati sekitar sepekan setelahnya.
Di sejumlah daerah di Jawa, termasuk Kediri, tradisi Lebaran Ketupat masih dilestarikan hingga kini sebagai bagian dari perayaan setelah Idul Fitri.
Baca Juga: Ini 5 Ide Kegiatan Seru untuk Mengisi Libur Lebaran 2026 di Rumah
Filosofi “Ngaku Lepat” dan “Laku Papat”
Istilah ketupat atau kupat juga memiliki makna filosofis dalam budaya Jawa. Kata kupat sering dimaknai sebagai singkatan dari “ngaku lepat”, yang berarti mengakui kesalahan.
Makna tersebut selaras dengan tradisi saling memaafkan yang menjadi bagian penting dalam perayaan Hari Raya Idul Fitri.
Selain itu, terdapat pula filosofi “Laku Papat” atau empat tindakan yang disimbolkan melalui bentuk ketupat, yaitu:
Lebaran, yang melambangkan terbukanya pintu ampunan.
Luberan, yang berarti melimpahnya sedekah dan rezeki.
Leburan, yakni melebur atau hilangnya dosa karena saling memaafkan.
Laburan, yang melambangkan kesucian diri setelah menjalani ibadah puasa.
Baca Juga: 5 Ide Hampers Lebaran Sederhana yang Bikin Keluarga Terkesan, Low Budget High Impact!
Makna di Balik Janur dan Isi Ketupat
Anyaman janur yang membungkus ketupat juga memiliki makna simbolis. Bentuk anyaman yang rumit melambangkan berbagai kesalahan dan kekhilafan manusia dalam kehidupan.
Namun ketika ketupat dibelah, di dalamnya terdapat nasi putih yang melambangkan hati yang kembali bersih setelah melalui proses ibadah selama bulan Ramadan serta tradisi saling memaafkan.
Sementara itu, warna kuning pada janur juga sering dimaknai sebagai simbol harapan agar manusia mendapatkan petunjuk dan cahaya dari Tuhan dalam menjalani kehidupan.
Hingga kini, tradisi menyajikan ketupat tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perayaan Hari Raya Idul Fitri di berbagai daerah di Indonesia.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Andhika Attar Anindita