JP Radar Kediri– Pada Jumat (6/2/26), gempa berkekuatan 6,2 magnitudo mengguncang Pacitan. Getarannya dirasakan hingga Kediri. Peristiwa tersebut memicu kekhawatiran masyarakat. Apalagi masih ada ancaman gempa susulan yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Membuat masyarakat semakin khawatir.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa bumi terjadi akibat pelepasan energi dari dalam bumi yang disebabkan oleh pergerakan lempeng tektonik atau aktivitas patahan. Energi tersebut menyebar dalam bentuk gelombang seismik yang menimbulkan getaran di permukaan bumi. Gempa merupakan fenomena alam yang tidak dapat dicegah, namun risikonya dapat diminimalkan melalui pemahaman dan kesiapsiagaan.
Dalam kajian seismologi, gempa bumi tidak hanya dipahami sebagai satu peristiwa. Gempa terdiri dari beberapa jenis. Gempa mikro memiliki magnitudo sangat kecil dan umumnya tidak dirasakan manusia karena hanya terekam alat seismograf. Gempa utama atau mainshock merupakan gempa dengan energi terbesar dalam satu rangkaian kejadian. Setelah itu, dapat muncul gempa susulan atau aftershock dengan magnitudo lebih kecil sebagai bagian dari proses penyesuaian struktur bumi.
Energi gempa berasal dari tekanan yang terus menumpuk akibat pergerakan lempeng. Namun, energi tersebut tidak selalu dilepaskan sekaligus. Dalam beberapa kondisi, pelepasan energi terjadi secara bertahap melalui gempa kecil yang berulang, sementara pada kondisi lain dilepaskan secara tiba-tiba dalam bentuk gempa besar.
Berkaitan dengan hal tersebut, gempa kecil yang terjadi berulang tidak selalu menjadi pertanda akan datangnya gempa besar. Dalam banyak kasus, gempa kecil justru merupakan bagian dari pelepasan energi alami. Fenomena semacam ini umum terjadi di wilayah dengan aktivitas tektonik tinggi.
Secara ilmiah, gempa kecil tidak dapat dijadikan sebagai peringatan pasti akan terjadinya gempa besar. Tidak terdapat pola yang dapat digunakan untuk memprediksi waktu dan kekuatan gempa secara akurat.
Sejalan dengan itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan bahwa gempa bumi tidak dapat diprediksi secara pasti. Oleh sebab itu, fokus utama penanganan gempa lebih diarahkan pada mitigasi dan kesiapsiagaan, bukan pada spekulasi.
Dalam situasi seperti ini, masyarakat diharapkan dapat menyikapi informasi secara lebih tenang, memilah kabar yang beredar, serta mengikuti sumber resmi seperti BMKG. Gempa merupakan bagian dari dinamika alam, dan rasa khawatir yang muncul adalah hal yang wajar. Pemahaman yang lebih utuh diharapkan dapat membantu masyarakat merasa lebih siap dalam menghadapi situasi serupa ke depan.
Penulis adalah Arlintang Sekar Phambayun, mahasiswa Universitas Negeri Malang. Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian