Omah tingkat. Di jaman Dulgembul masih umbelen, itu adalah simbol dari kemakmuran. Omahe wong sugih. Apalagi kalau omah tingkatnya ada kulkas dan parabolanya. Atau ada pidio-nya. Makin lengkaplah predikat itu.
Di sekolah, bocah penghuni rumah seperti itu akan banyak teman. Banyak bala-nya. Tentu, dengan bermacam modus ala bocah. Agar boleh bermain ke rumahnya. Agar bisa minum air es sepuasnya. Agar bisa nonton pidio atau siaran parabola.
Itulah sepotong surga anak-anak yang bisa mereka cicipi dengan cara golek nunutan. Numpang kamukten. Sekali-kali bisa bedhigasan di omah tingkat dan menikmati sebagian fasilitas di dalamnya. Ndak semua bocah punya kesempatan yang sama.
Citra omah tingkat sebagai simbol kemakmuran ikut melekat pada bangunan di kota-kota besar. Semakin banyak bangunan bertingkat, gedung-gedung pencakar langit, semakin kuatlah citranya sebagai kota yang maju dan makmur.
Maka, berdirilah Burj al Khalifa di Uni Emirat Arab (UEA) setinggi 828 meter alias hampir satu kilo meter! Agar bisa langsung menyalip gedung-gedung tinggi lainnya yang sudah ada di dunia. Bahkan, hingga kini, belum ada yang bisa menandingi.
Dubai, tempat bangunan itu ditancapkan pun, segera sejajar dengan kota-kota maju di dunia. Lengkap dengan citra kemajuan dan kemakmurannya. Dan, kota-kota lain terus saja berlomba mendirikan gedung-gedung bertingkat. Sebagai hunian. Sebagai perkantoran. Sebagai pusat bisnis dan perbelanjaan. Bukan sekadar untuk menyiasati keterbatasan lahan. Akan tetapi, juga untuk mengangkat derajat sebagai kota yang penuh kemajuan dan kemakmuran.
Omah tingkat. Hotel tingkat. Kantor tingkat. Pusat belanja modern tingkat.
Lalu, bagaimana dengan pasar tradisional bertingkat? Tak seperti bangunan-bangunan bertingkat yang disebut lebih awal, kisah suksesnya masih terasa jauh. Jangankan citra gemerlap kemajuan dan kemakmuran, yang terlihat justru kisah muramnya.
Bisa dimaklumi, gedung-gedung bertingkat yang disebut lebih awal dibangun untuk orang yang secara mindset sudah termodernkan. Juga bersifat baru. Menciptakan. Sehingga, mereka yang belum termodernkan, begitu masuk, dipaksa untuk mengikuti semua sistem di dalamnya yang serba-modern. Dan, sistem tak bisa menoleransi mereka yang tidak mampu menyesuaikan.
Sementara, pasar tradisional bertingkat dibangun untuk para pedagang serta pembeli yang sudah berpuluh tahun terbiasa dengan tradisionalitas mereka. Juga tidak bersifat baru. Tapi, merenovasi. Merehabilitasi. Membenahi yang sudah ada.
“Mbahku ora kuat munggah-mudhun ngono kuwi,” kata Dulgembul mengomentari.
“Aja meneh mbahmu, aku sing luwih enom ya wegah,” timpal Yu Kanthil nambahi.
Dalam sejarahnya, rasanya, tak ada pasar tradisional yang dimulai dari bangunan bertingkat. Melainkan selalu bermula dari satu-dua pedagang yang menggelar dagangannya di satu tempat. Di tanah lapang. Lalu pembeli datang. Terjadi transaksi. Diikuti pedagang-pedagang lain. Pembeli-pembeli lain. Kian ramai. Dan penguasa membangunkan tempat. Tanpa tingkat.
Begitulah. Beratus bahkan beribu tahun. Sejak perdagangan masih berbentuk barter barang. Maupun ketika sudah mengenal alat tukar berupa emas, perak, kepeng, logam, dan kertas. Sejak negeri ini masih berupa kerajaan-kerajaan maupun ketika masa penjajahan lalu merdeka dan bebas menentukan pilihan. Tradisionalitas pedagang dan pembeli sudah mengurat-akar begitu mendalam.
Ketika pasar tradisional direhab menjadi bangunan modern bertingkat, para pedagang maupun pengunjungnya pasti tergagap. Apalagi prasyarat kemodernannya tak ikut disertakan. Tak ada lift. Tak ada eskalator. Padahal, di pusat-pusat perbelanjaan modern bertingkat, itulah yang bisa memaksa perilaku tradisional menyesuaikan diri dengan kemodernan.
Pada pasar tradisional bertingkat, modernitas hanya tercermin dari bangunannya yang bertingkat. Selebihnya tetap tradisional. Sistemnya. Cara berpikirnya. Perilakunya.
Memang, tak mudah memadukan tradisionalitas dan modernitas. Dan, rehab pasar-pasar tradisional memang tak hendak dimaksudkan untuk mengalihkannya sebagai pasar modern. ‘Status’-nya tetap pasar tradisional. Dipertahankan. Hanya bangunannya yang sudah reyot dan kumuh diperbarui. Dimodernisasi. Agar lebih nyaman.
Cuma, masalahnya, ketika dibikin bertingkat tanpa menyertakan prasyarat kemodernan bangunan bertingkat, semua pasti akan cenderung mempertahankan tradisionalitasnya. Tak mau untuk menyesuaikan diri dengan modernitas bangunan itu.
Maklum, selama beratus bahkan beribu tahun, mereka terbiasa bertransaksi di bawah. Lalu, dengan apa mereka bisa dipaksa untuk menyesuaikan diri bertransaksi di lantai atas bangunan bertingkat tanpa ada prasyarat yang menyertai?
Pasar Bandar, Pasar Kandangan, Pasar Pahing. Dan kini Pasar Setonobetek. Seperti Yu Kanthil dan mbahe Dulgembul, para pedagang dan pembeli ogah untuk menapaki tangga demi tangga di pasar bertingkat itu.
“Piye, Yu?,” tanya Dulgembul setelah menandaskan sepiring sego tumpang.
“Embuh…,” jawab Yu Kanthil sambil menggeleng lemas. (tauhid wijaya)
Editor : adi nugroho