27.4 C
Kediri
Friday, August 12, 2022

Yang Pasti Hanya Kematian

- Advertisement -

“Usaha apa pun yang dilakukan manusia untuk memperpanjang usia agar waktu kematiannya dapat diundur, hanya menuai kesia-siaan”

 

Merasa bahwa usia ayahandanya tidak bakal lama, Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi bergegas turun dari kereta. Dengan gerakan tangkas, ia melompat ke atas kuda tunggangan yang dibawa Rakryan Winkas Pu Gadru.

Lalu dengan isyarat tangan, ia memerintahkan pengawal berkuda yang mengiringi untuk mengikutinya. Seperti hembusan angin iring-iringan pasukan berkuda yang dipimpin Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi melesat di atas jalanan yang berliku-liku menuju Lamajang.

- Advertisement -

Di bawah langit tidak ada sesuatu yang pasti kecuali Kematian. Orang bilang: Sanghyang Bhatara Yama – Sang Pencabut Nyawa – adalah Penguasa waktu yang tidak pernah terlambat pun tidak pernah mendahului ketetapan waktu dalam menjalankan tugas mencabut nyawa makhluk hidup. Usaha apa pun yang dilakukan manusia untuk memperpanjang usia agar waktu kematiannya dapat diundur, hanya menuai kesia-siaan karena Sanghyang Bhatara Yama selalu datang tepat waktu. Dan usaha Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi untuk menyingkat waktu guna menemui ayahandanya sebelum ajal menjemput, terbukti sia-sia. 

Baca Juga :  BNI Beri Penjelasan soal Hoaks Kredit Tanpa Jaminan

Sebab beberapa saat sebelum mencapai gerbang utara Kutha Renon – kutaraja Lamajang Tigang Juru – Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi mendapati panji-panji, umbul-umbul dan bendera putih dikibarkan di sepanjang jalan penanda mangkatnya seorang pejabat tinggi kerajaan.

Tangisan sanak keluarga Sang Pranaraja Pu Sina meledak sewaktu menyambut kedatangan sang permata keluarga, Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi. Sambil menghibur kepedihan Arya Nambi, sanak keluarga Sang Pranaraja menuturkan jejak-jejak terakhir kehidupan Sang Pranaraja, yang berdamai dengan Sang Jurupati Lamajang Arya Adikara Wiraraja. Menurut cerita, tiga-empat hari setelah pertemuan kedua orang sahabat lama itu, Sang Jurupati Lamajang Arya Adikara Wiraraja pergi ke Kahyangan. Jenazahnya dikebumikan di dalam Benteng (Biting) di dekat gerbang utara Kutha Renon. Tempat pemakamannya disebut Sukhadana (Anugerah Kebahagiaan). .    

Baca Juga :  Makan Siang

Mendengar kabar kepergian sang sahabat ke Kahyangan, Sang Pranaraja Pu Sina yang dalam keadaan sakit di Pajarakan memaksa untuk ke Kutha Renon menziarahi makam sahabat lamanya. Usai menangis pilu di hadapan pusara Sang Jurupati Lamajang Arya Adikara Wiraraja, Sang Pranaraja Pu Sina jatuh pingsan dan dibawa ke kediamannya di Grha Raga Taruna di selatan Sukhadana. Sejak saat itu, sakit yang diderita Sang Pranaraja Pu Sina semakin parah hingga membawanya ke Kahyangan menyusul sahabat lamanya

 

- Advertisement -

“Usaha apa pun yang dilakukan manusia untuk memperpanjang usia agar waktu kematiannya dapat diundur, hanya menuai kesia-siaan”

 

Merasa bahwa usia ayahandanya tidak bakal lama, Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi bergegas turun dari kereta. Dengan gerakan tangkas, ia melompat ke atas kuda tunggangan yang dibawa Rakryan Winkas Pu Gadru.

Lalu dengan isyarat tangan, ia memerintahkan pengawal berkuda yang mengiringi untuk mengikutinya. Seperti hembusan angin iring-iringan pasukan berkuda yang dipimpin Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi melesat di atas jalanan yang berliku-liku menuju Lamajang.

Di bawah langit tidak ada sesuatu yang pasti kecuali Kematian. Orang bilang: Sanghyang Bhatara Yama – Sang Pencabut Nyawa – adalah Penguasa waktu yang tidak pernah terlambat pun tidak pernah mendahului ketetapan waktu dalam menjalankan tugas mencabut nyawa makhluk hidup. Usaha apa pun yang dilakukan manusia untuk memperpanjang usia agar waktu kematiannya dapat diundur, hanya menuai kesia-siaan karena Sanghyang Bhatara Yama selalu datang tepat waktu. Dan usaha Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi untuk menyingkat waktu guna menemui ayahandanya sebelum ajal menjemput, terbukti sia-sia. 

Baca Juga :  --Gradual--

Sebab beberapa saat sebelum mencapai gerbang utara Kutha Renon – kutaraja Lamajang Tigang Juru – Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi mendapati panji-panji, umbul-umbul dan bendera putih dikibarkan di sepanjang jalan penanda mangkatnya seorang pejabat tinggi kerajaan.

Tangisan sanak keluarga Sang Pranaraja Pu Sina meledak sewaktu menyambut kedatangan sang permata keluarga, Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi. Sambil menghibur kepedihan Arya Nambi, sanak keluarga Sang Pranaraja menuturkan jejak-jejak terakhir kehidupan Sang Pranaraja, yang berdamai dengan Sang Jurupati Lamajang Arya Adikara Wiraraja. Menurut cerita, tiga-empat hari setelah pertemuan kedua orang sahabat lama itu, Sang Jurupati Lamajang Arya Adikara Wiraraja pergi ke Kahyangan. Jenazahnya dikebumikan di dalam Benteng (Biting) di dekat gerbang utara Kutha Renon. Tempat pemakamannya disebut Sukhadana (Anugerah Kebahagiaan). .    

Baca Juga :  Sembadra Karya

Mendengar kabar kepergian sang sahabat ke Kahyangan, Sang Pranaraja Pu Sina yang dalam keadaan sakit di Pajarakan memaksa untuk ke Kutha Renon menziarahi makam sahabat lamanya. Usai menangis pilu di hadapan pusara Sang Jurupati Lamajang Arya Adikara Wiraraja, Sang Pranaraja Pu Sina jatuh pingsan dan dibawa ke kediamannya di Grha Raga Taruna di selatan Sukhadana. Sejak saat itu, sakit yang diderita Sang Pranaraja Pu Sina semakin parah hingga membawanya ke Kahyangan menyusul sahabat lamanya

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/