29.8 C
Kediri
Friday, July 1, 2022

Tugas Mulia Runtuhkan Kekuasaan

“Pu Palyat menafsirkan bahwa Ratu Ardhanareswari Tumapel akan menurunkan para maharajadiraja besar di Jawadwipamandala”

 

·        *        *        *        *

Atas bantuan Tuwan Sanja, yang merupakan kawan dekat Gagak Inget, kerabat dari penguasa Wisaya Hijo, Rakean Kebo Hijo, Ranggah Rajasa, dapat memasuki lingkungan Keraton Tumapel dan mengalami suatu perisrtiwa luar biasa yang kelak akan merubah takdir hidupnya.

Tanpa dipikir dan diangan-angan sebelumnya, Ranggah Rajasa yang berdiri di pinggir jalan bersama para nayaka dan prajurit Tumapel yang dipimpin perwira-perwira Panjalu, menyaksikan suatu pemandangan yang sangat menakjubkan: permaisuri Sri Aji Jayakerta Tunggul Ametung Sri Gandrawijaya, Dyah  Ardhanareswari Nararya Prajnaparamitha, yang tersingkap kainnya saat menaiki kereta, terpancar dari rahasianya cahaya terang benderang laksana pancaran sinar matahari yang menerobos gumpalan awan kelabu yang memenuhi  langit.

Baca Juga :  Selalu Lolos dari Usaha Pembunuhan

Ranggah Rajasa buru-buru kembali ke Ksetra Turyyantapada untuk menemui guru pembimbingnya, Pu Palyat, yang menafsirkan bahwa Ratu Ardhanareswari Tumapel akan menurunkan para maharajadiraja besar di Jawadwipamandala.

Itu sebabnya, menurut Pu Palyat, Ranggah Rajasa harus memulai tugas mulia meruntuhkan kekuatan dan kekuasaan penguasa Panjalu di Janggala: Sri Aji Jayakerta Tunggul Ametung Sri Gandrawijaya.  Pu Palyat sendiri akan menggalang kekuatan dari ksetra-ksetra yang tersebar di bumi Janggala.

Sesuai petunjuk ayah angkatnya, Mapanji Bango Samparan, Ranggah Rajasa memulai gerakan yang menimbulkan keresahan dan kecemasan serta ketakutan penduduk. Tanpa hujan tanpa angin, daerah Kapundungan, Pamalantenan, Welahan, Patangtangan, Tugaran diguncang keonaran mulai perampokan, pembegalan, penculikan, pembunuhan, yang disertai pemerkosaan.

Baca Juga :  Lebih Masyhur Dibanding Maharaja

Saudagar-saudagar yang pedagangannya dirampas memilih lari daripada dibunuh pembegal. Penduduk desa membiarkan ternak dan padi miliknya diangkuti perampok. Oleh karena keonaran yang ditimbulkan orang-orang jahat makin meluas, penduduk pun berduyun-duyun pergi ke kutaraja untuk meminta perlindungan.

Sri Aji Jayakerta Tunggul Ametung Sri Gandrawijaya yang memperoleh laporan mengenai keonaran di daerah-daerah diikuti datangnya penduduk ke kutaraja Tumapel sangat geram. Buru-buru ia menyiapkan pasukan ke daerah-daerah yang onar sambil mengirim utusan ke Panjalu guna melaporkan keadaan di Tumapel yang mendadak kisruh. (bersambung)  

 

 

- Advertisement -

“Pu Palyat menafsirkan bahwa Ratu Ardhanareswari Tumapel akan menurunkan para maharajadiraja besar di Jawadwipamandala”

 

·        *        *        *        *

Atas bantuan Tuwan Sanja, yang merupakan kawan dekat Gagak Inget, kerabat dari penguasa Wisaya Hijo, Rakean Kebo Hijo, Ranggah Rajasa, dapat memasuki lingkungan Keraton Tumapel dan mengalami suatu perisrtiwa luar biasa yang kelak akan merubah takdir hidupnya.

Tanpa dipikir dan diangan-angan sebelumnya, Ranggah Rajasa yang berdiri di pinggir jalan bersama para nayaka dan prajurit Tumapel yang dipimpin perwira-perwira Panjalu, menyaksikan suatu pemandangan yang sangat menakjubkan: permaisuri Sri Aji Jayakerta Tunggul Ametung Sri Gandrawijaya, Dyah  Ardhanareswari Nararya Prajnaparamitha, yang tersingkap kainnya saat menaiki kereta, terpancar dari rahasianya cahaya terang benderang laksana pancaran sinar matahari yang menerobos gumpalan awan kelabu yang memenuhi  langit.

Baca Juga :  Membiarkan Musuh untuk Mundur

Ranggah Rajasa buru-buru kembali ke Ksetra Turyyantapada untuk menemui guru pembimbingnya, Pu Palyat, yang menafsirkan bahwa Ratu Ardhanareswari Tumapel akan menurunkan para maharajadiraja besar di Jawadwipamandala.

Itu sebabnya, menurut Pu Palyat, Ranggah Rajasa harus memulai tugas mulia meruntuhkan kekuatan dan kekuasaan penguasa Panjalu di Janggala: Sri Aji Jayakerta Tunggul Ametung Sri Gandrawijaya.  Pu Palyat sendiri akan menggalang kekuatan dari ksetra-ksetra yang tersebar di bumi Janggala.

Sesuai petunjuk ayah angkatnya, Mapanji Bango Samparan, Ranggah Rajasa memulai gerakan yang menimbulkan keresahan dan kecemasan serta ketakutan penduduk. Tanpa hujan tanpa angin, daerah Kapundungan, Pamalantenan, Welahan, Patangtangan, Tugaran diguncang keonaran mulai perampokan, pembegalan, penculikan, pembunuhan, yang disertai pemerkosaan.

Baca Juga :  Terus Tumbuh Berkelanjutan, BRI Catatkan Sejumlah Aksi Korporasi PentingĀ 

Saudagar-saudagar yang pedagangannya dirampas memilih lari daripada dibunuh pembegal. Penduduk desa membiarkan ternak dan padi miliknya diangkuti perampok. Oleh karena keonaran yang ditimbulkan orang-orang jahat makin meluas, penduduk pun berduyun-duyun pergi ke kutaraja untuk meminta perlindungan.

Sri Aji Jayakerta Tunggul Ametung Sri Gandrawijaya yang memperoleh laporan mengenai keonaran di daerah-daerah diikuti datangnya penduduk ke kutaraja Tumapel sangat geram. Buru-buru ia menyiapkan pasukan ke daerah-daerah yang onar sambil mengirim utusan ke Panjalu guna melaporkan keadaan di Tumapel yang mendadak kisruh. (bersambung)  

 

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/