27.4 C
Kediri
Friday, August 12, 2022
Array

TA Masih Dirawat di RSUD dr Soetomo

- Advertisement -

KEDIRI KOTA- Kasus yang menimpa TA, 11, siswa SDN Pakunden 1 ini terus diselidiki polisi. Termasuk kemungkinan terjadinya pengeroyokan yang dilakukan teman-teman TA.

Hal ini diakui oleh Kasatreskrim Polres Kediri Kota AKP Ridwan Sahara. Menurutnya, aksi pengeroyokan tersebut memang terjadi akibat tendangan gol bunuh diri yang dilakukan TA. “Ini (pengeroyokan) ini masih kami dalami,” terangnya.

Informasi pemalakan memang benar terjadi. Tetapi, bukan menjadi pemicu terjadinya pengeroyokan. Menurut Ridwan, korban memang pendiam dan tidak memiliki banyak kawan. Hal ini membuat TA sering menjadi korban bullying teman-temannya.

          Perlu diketahui, sebelumnya kronologi pengeroyokan terjadi pada (18/1) pukul 09.00 WIB ketika ia bersama teman-temannya bermain sepak bola di lapangan SDN Pakunden 1. Di tengah pertandingan, tiba-tiba TA melakukan gol bunuh diri. Kawan-kawannya tidak terima. Akhirnya TA dipukul dan ditendang di bagian kepala, perut, tangan, dan kemaluan. “Kita terus lakukan pemeriksaan terhadap saksi dan para terlapor,” terang AKP Ridwan Sahara, kasatreskrim Polres Kota (Polresta) Kediri kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Baca Juga :  Amuk Macan Putih di Laga Pembuka
- Advertisement -

Menurutnya terlapor sementara ada tiga anak yakni Sa, Ra, dan Al. Ketiganya teman TA di SDN Pakunden 1. Sedangkan dua lainnya masih berstatus saksi. Mereka adalah Sk, dan Jo. Mereka sebelum ini telah dimintai keterangan di salah satu rumah di sekitar sekolah. “Pemeriksaan awal dilakukan Sabtu (27/1) sepulang sekolah,” tambahnya.

Lima anak tersebut adalah teman-teman sekelas TA yang ikut bermain sepak bola termasuk yang ikut memukulinya. Dari keterangan yang disampaikan, diperkirakan jumlah anak yang diperiksa bertambah. Yakni mencapai 7 anak. “Saat ini masih terus didalami tim Unit PPA (Pelayanan Perempuan dan Anak, Red),” tegasnya.

Sementara itu, Chevy Ning Suyudi, kabid pendidikan dasar (Dikdas) Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Kediri menjelaskan bahwa pihaknya menghormati proses hukum yang dilakukan petugas kepolisian. Meski hingga saat ini pihaknya tidak mempercayai jika kejadian yang menimpa TA dikarenakan penendangan ketika bermain bola.

Baca Juga :  Persik Kediri Terlihat Masih ‘Santai’ di Bursa Transfer

Hanya saja, Chevy sangat berharap pihak kepolisian mau mengakomodasi keinginan dari Disdik. Yakni melakukan pemeriksaan diluar jam pelajaran dan tidak dilakukan di sekolah. Hal ini ditujukan agar siswa yang terlibat tidak sampai terbengkalai sekolahnya.

“Lingkungan sekolah juga tetap kondusif sehingga tidak mengganggu konsentrasi siswa yang lain,” tandasnya.

Tidak hanya para siswa, wali murid dan guru olahraga juga diperiksa untuk dijadikan saksi. Pasalnya polisi diperkirakan menduga jika kejadiannya tersebut di jam pelajaran olahraga. Padahal kejadiannya di jam istirahat. “Tapi silahkan saja jika pihak kepolisian ingin menggali informasi dari para saksi. Kita tidak menghalangi,” tegasnya. Hingga kemarin, Chevy juga masih terus menunggu kabar perkembangan dari Surabaya.

Memang, mulai kemarin, karena kondisi TA yang tidak membaik, pihak RS Bhayangkara Kediri akhirnya merujuk TA ke RS Bhayangkara Kediri. Siswa kelas V tersebut diperkirakan mengalami infeksi otak yang disebabkan virus.

- Advertisement -

KEDIRI KOTA- Kasus yang menimpa TA, 11, siswa SDN Pakunden 1 ini terus diselidiki polisi. Termasuk kemungkinan terjadinya pengeroyokan yang dilakukan teman-teman TA.

Hal ini diakui oleh Kasatreskrim Polres Kediri Kota AKP Ridwan Sahara. Menurutnya, aksi pengeroyokan tersebut memang terjadi akibat tendangan gol bunuh diri yang dilakukan TA. “Ini (pengeroyokan) ini masih kami dalami,” terangnya.

Informasi pemalakan memang benar terjadi. Tetapi, bukan menjadi pemicu terjadinya pengeroyokan. Menurut Ridwan, korban memang pendiam dan tidak memiliki banyak kawan. Hal ini membuat TA sering menjadi korban bullying teman-temannya.

          Perlu diketahui, sebelumnya kronologi pengeroyokan terjadi pada (18/1) pukul 09.00 WIB ketika ia bersama teman-temannya bermain sepak bola di lapangan SDN Pakunden 1. Di tengah pertandingan, tiba-tiba TA melakukan gol bunuh diri. Kawan-kawannya tidak terima. Akhirnya TA dipukul dan ditendang di bagian kepala, perut, tangan, dan kemaluan. “Kita terus lakukan pemeriksaan terhadap saksi dan para terlapor,” terang AKP Ridwan Sahara, kasatreskrim Polres Kota (Polresta) Kediri kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Baca Juga :  Amuk Macan Putih di Laga Pembuka

Menurutnya terlapor sementara ada tiga anak yakni Sa, Ra, dan Al. Ketiganya teman TA di SDN Pakunden 1. Sedangkan dua lainnya masih berstatus saksi. Mereka adalah Sk, dan Jo. Mereka sebelum ini telah dimintai keterangan di salah satu rumah di sekitar sekolah. “Pemeriksaan awal dilakukan Sabtu (27/1) sepulang sekolah,” tambahnya.

Lima anak tersebut adalah teman-teman sekelas TA yang ikut bermain sepak bola termasuk yang ikut memukulinya. Dari keterangan yang disampaikan, diperkirakan jumlah anak yang diperiksa bertambah. Yakni mencapai 7 anak. “Saat ini masih terus didalami tim Unit PPA (Pelayanan Perempuan dan Anak, Red),” tegasnya.

Sementara itu, Chevy Ning Suyudi, kabid pendidikan dasar (Dikdas) Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Kediri menjelaskan bahwa pihaknya menghormati proses hukum yang dilakukan petugas kepolisian. Meski hingga saat ini pihaknya tidak mempercayai jika kejadian yang menimpa TA dikarenakan penendangan ketika bermain bola.

Baca Juga :  Sia-siakan Banyak Peluang, Persik Hanya Imbang

Hanya saja, Chevy sangat berharap pihak kepolisian mau mengakomodasi keinginan dari Disdik. Yakni melakukan pemeriksaan diluar jam pelajaran dan tidak dilakukan di sekolah. Hal ini ditujukan agar siswa yang terlibat tidak sampai terbengkalai sekolahnya.

“Lingkungan sekolah juga tetap kondusif sehingga tidak mengganggu konsentrasi siswa yang lain,” tandasnya.

Tidak hanya para siswa, wali murid dan guru olahraga juga diperiksa untuk dijadikan saksi. Pasalnya polisi diperkirakan menduga jika kejadiannya tersebut di jam pelajaran olahraga. Padahal kejadiannya di jam istirahat. “Tapi silahkan saja jika pihak kepolisian ingin menggali informasi dari para saksi. Kita tidak menghalangi,” tegasnya. Hingga kemarin, Chevy juga masih terus menunggu kabar perkembangan dari Surabaya.

Memang, mulai kemarin, karena kondisi TA yang tidak membaik, pihak RS Bhayangkara Kediri akhirnya merujuk TA ke RS Bhayangkara Kediri. Siswa kelas V tersebut diperkirakan mengalami infeksi otak yang disebabkan virus.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/