27 C
Kediri
Friday, August 12, 2022
Array

Komunitas Pencinta Anjing Pascainsiden Serangan Pitbull di Kandat

Jumlah pencinta anjing di Kediri ternyata tidak sedikit. Bahkan, mereka punya beberapa komunitas. Kasus penyerangan warga oleh dua ekor anjing di Purworejo, Kandat ternyata juga mengundang keprihatinan para pencinta hewan pintar ini.

 

MOHAMMAD SYIFA

 

“Wah, sekarang sudah tidak ada anjing di rumah. Semua sudah saya titipkan di rumah tante saya di Nganjuk,” ujar Chandra Panca Sukmana saat ditemui Jawa Pos Radar Kediri di rumahnya, Kamis siang (25/1).

Chandra, begitu dia akrab disapa, lantas menjelaskan mengapa kini di rumahnya tidak ada anjing lagi. Hal itu bermula sekitar 2010 saat dirinya harus ‘menjaga’ anjing milik Kapolres Kediri Kota waktu itu, AKBP Mulia Hasudungan Ritonga.

Kebetulan, kapolresta ini berpindah tugas ke Mabes Polri dan harus segera meninggalkan Kota Kediri. Saat itulah, Chandra dipercaya merawat sementara anjing jenis German Shepherd di rumahnya, Kelurahan Tinalan, Kecamatan Pesantren.

Anjing bernama Bravo itu cukup cerdas dan terlatih. Bahkan, Chandra sudah cukup ‘akrab’ dengannya. “Beberapa minggu di rumah saya, cukup bersahabat,” sambung pria bertato ini.

Namun suatu hari, Chandra sedang bergi melayat tetangganya dan meninggalkan Bravo dengan seseorang yang dipercayanya memberi makan. Saat itulah, kemungkinan kandangnya lupa tidak dikunci. Sehingga anjing keluar dari kandangnya.

Kendati demikian, Bravo tetap berada di halaman rumah bermain-main. Hingga pada akhirnya seorang anggota keluarga Chandra keluar dan lupa tidak mengunci pintu pagar. Saat itulah Bravo keluar rumah lalu menyerang dua tetangga Chandra.

“Ya bagaimana lagi. Bravo kan anjing yang dilatih untuk K9 dan mengatasi massa. Pasti sifatnya agresif ketika bertemu orang asing,” kenang Chandra.

Baca Juga :  Nasib Patkai dan Dona, Dua Anjing Pitbul yang ‘Ditahan’

Akibat serangan si Bravo itu, dua tetangga Chandra mengalami luka-luka dan dilarikan ke rumah sakit. Pasca kejadian itu, Chandra untuk sementara ‘mengungsikan’ anjing-anjing miliknya ke rumah kerabatnya di Nganjuk hingga saat ini. Padahal, saat ini ia memiliki dua anjing jenis Golden Retriever dan Chihuahua.

Anjing bukanlah dunia baru bagi Chandra. Dia sendiri saat ini tercatat sebagai penasihat Universal Dogs Community (UDC) yang merupakan salah satu komunitas pencinta anjing di wilayah Kediri dan sekitarnya. Sebelumnya, dia juga sempat mendirikan Kediri Dogs Club (KDC) sekitar tahun 2008, lantas KDC berganti nama menjadi Dog Owners Community (DOC).

“Biasa, Mas. Yang namanya komunitas kadang ada yang tidak cocok. Karena itu berganti-ganti nama,” ujarnya sambil tersenyum.

Saat awal berdiri sebuah komunitas, KDC memiliki agenda rutin berkumpul di kawasan Jalan Doho, Kota Kediri. Hingga suatu hari mereka berinisiatif menjalin kerja sama dengan Polres Kediri Kota. Kebetulan saat itu di polres belum memiliki unit K9. Gayung pun bersambut. Polresta sepakat bekerja sama.

KDC pun dilibatkan dalam berbagai kegiatan pengamanan. Termasuk memberi pelatihan anjing-anjing yang digunakan pengamanan masyarakat atau memburu penjahat. “Intinya kami ingin agar komunitas kami bisa juga memberikan manfaat kepada masyarakat,” tandas lelaki kelahiran 1977 tersebut.

Sebagai pencinta anjing sekaligus tergabung dalam komunitas, Chandra juga mendengar peristiwa anjing yang menyerang Sarju di Kecamatan Kandat beberapa waktu lalu. Dia merasa prihatin dengan peristiwa itu. Ini karena Chandra pernah mengalami hal hampir sama. “Pas saya dengar peristiwa itu, saya sampai merinding karena dulu kan tetangga saya juga ada yang diserang,” katanya.

Baca Juga :  (Tak) Pilih Anjing di Dalam Karung

Chandra tidak tahu secara pasti bagaimana dan mengapa anjing tersebut bisa menyerang seseorang hingga memakan korban jiwa. Namun, setahu dia, anjing yang sudah terlatih tidak akan menyerang membabi buta. “Saya dengar anjingnya jenis Pittbull. Memang jenis yang kuat dan biasanya merupakan anjing penjaga,” sambungnya.

Berdasarkan pengalaman Chandra, anjing memiliki karakter yang unik. Misalnya, saat ekornya menghadap ke atas dan dikibas-kibaskan, artinya dia ingin mengajak bermain. Lain halnya jika ekor itu tegak lurus dan tidak bergerak. Artinya, anjing ingin menyerang. Termasuk ketika ekor menghadap ke bawah, artinya sedang marah.

Selama ini banyak orang awam salah paham dengan anjing. Banyak yang mengira ketika menggonggong, berarti akan menyerang. “Padahal bisa jadi anjing tersebut sedang berupaya mengajak berkenalan dengan orang baru,” katanya.

Karena itu, Chandra mengimbau, bila bertemu anjing jangan panik. Tetap tenang maka anjing tidak akan menyerang. “Jika kita malah panik dan membuat gerakan-gerakan yang mengancam, anjing justru menyerang,” terangnya.

Hal lain yang perlu diperhatikan mengenai pelatihan anjing dan kesehatannya. Jika memang pemilik anjing memiliki pengetahuan bagus, sudah dipastikan bahwa anjing yang dipelihara akan divaksin. Kemarin, Chandra juga menunjukkan buku vaksin anjing miliknya.

Vaksin tersebut sangat penting. Selain baik untuk kesehatan, juga bagus untuk lingkungan sekitar. Hal itu untuk menghindari adanya penyebaran penyakit di lingkungan sekitar.

Chandra berharap, peristiwa yang terjadi di Kandat tidak terulang. Selain itu, dia juga ingin masyarakat luas tidak salah paham dengan anjing. “Memang anjing itu pada dasarnya binatang buas. Tapi kalau kita benar memeliharanya, maka mereka (anjing, Red) bisa menjadi sahabat yang baik,” pungkasnya.

 

- Advertisement -

Jumlah pencinta anjing di Kediri ternyata tidak sedikit. Bahkan, mereka punya beberapa komunitas. Kasus penyerangan warga oleh dua ekor anjing di Purworejo, Kandat ternyata juga mengundang keprihatinan para pencinta hewan pintar ini.

 

MOHAMMAD SYIFA

 

“Wah, sekarang sudah tidak ada anjing di rumah. Semua sudah saya titipkan di rumah tante saya di Nganjuk,” ujar Chandra Panca Sukmana saat ditemui Jawa Pos Radar Kediri di rumahnya, Kamis siang (25/1).

Chandra, begitu dia akrab disapa, lantas menjelaskan mengapa kini di rumahnya tidak ada anjing lagi. Hal itu bermula sekitar 2010 saat dirinya harus ‘menjaga’ anjing milik Kapolres Kediri Kota waktu itu, AKBP Mulia Hasudungan Ritonga.

Kebetulan, kapolresta ini berpindah tugas ke Mabes Polri dan harus segera meninggalkan Kota Kediri. Saat itulah, Chandra dipercaya merawat sementara anjing jenis German Shepherd di rumahnya, Kelurahan Tinalan, Kecamatan Pesantren.

Anjing bernama Bravo itu cukup cerdas dan terlatih. Bahkan, Chandra sudah cukup ‘akrab’ dengannya. “Beberapa minggu di rumah saya, cukup bersahabat,” sambung pria bertato ini.

Namun suatu hari, Chandra sedang bergi melayat tetangganya dan meninggalkan Bravo dengan seseorang yang dipercayanya memberi makan. Saat itulah, kemungkinan kandangnya lupa tidak dikunci. Sehingga anjing keluar dari kandangnya.

Kendati demikian, Bravo tetap berada di halaman rumah bermain-main. Hingga pada akhirnya seorang anggota keluarga Chandra keluar dan lupa tidak mengunci pintu pagar. Saat itulah Bravo keluar rumah lalu menyerang dua tetangga Chandra.

“Ya bagaimana lagi. Bravo kan anjing yang dilatih untuk K9 dan mengatasi massa. Pasti sifatnya agresif ketika bertemu orang asing,” kenang Chandra.

Baca Juga :  (Tak) Pilih Anjing di Dalam Karung

Akibat serangan si Bravo itu, dua tetangga Chandra mengalami luka-luka dan dilarikan ke rumah sakit. Pasca kejadian itu, Chandra untuk sementara ‘mengungsikan’ anjing-anjing miliknya ke rumah kerabatnya di Nganjuk hingga saat ini. Padahal, saat ini ia memiliki dua anjing jenis Golden Retriever dan Chihuahua.

Anjing bukanlah dunia baru bagi Chandra. Dia sendiri saat ini tercatat sebagai penasihat Universal Dogs Community (UDC) yang merupakan salah satu komunitas pencinta anjing di wilayah Kediri dan sekitarnya. Sebelumnya, dia juga sempat mendirikan Kediri Dogs Club (KDC) sekitar tahun 2008, lantas KDC berganti nama menjadi Dog Owners Community (DOC).

“Biasa, Mas. Yang namanya komunitas kadang ada yang tidak cocok. Karena itu berganti-ganti nama,” ujarnya sambil tersenyum.

Saat awal berdiri sebuah komunitas, KDC memiliki agenda rutin berkumpul di kawasan Jalan Doho, Kota Kediri. Hingga suatu hari mereka berinisiatif menjalin kerja sama dengan Polres Kediri Kota. Kebetulan saat itu di polres belum memiliki unit K9. Gayung pun bersambut. Polresta sepakat bekerja sama.

KDC pun dilibatkan dalam berbagai kegiatan pengamanan. Termasuk memberi pelatihan anjing-anjing yang digunakan pengamanan masyarakat atau memburu penjahat. “Intinya kami ingin agar komunitas kami bisa juga memberikan manfaat kepada masyarakat,” tandas lelaki kelahiran 1977 tersebut.

Sebagai pencinta anjing sekaligus tergabung dalam komunitas, Chandra juga mendengar peristiwa anjing yang menyerang Sarju di Kecamatan Kandat beberapa waktu lalu. Dia merasa prihatin dengan peristiwa itu. Ini karena Chandra pernah mengalami hal hampir sama. “Pas saya dengar peristiwa itu, saya sampai merinding karena dulu kan tetangga saya juga ada yang diserang,” katanya.

Baca Juga :  Sudah Lalai, Tak Berizin Pula

Chandra tidak tahu secara pasti bagaimana dan mengapa anjing tersebut bisa menyerang seseorang hingga memakan korban jiwa. Namun, setahu dia, anjing yang sudah terlatih tidak akan menyerang membabi buta. “Saya dengar anjingnya jenis Pittbull. Memang jenis yang kuat dan biasanya merupakan anjing penjaga,” sambungnya.

Berdasarkan pengalaman Chandra, anjing memiliki karakter yang unik. Misalnya, saat ekornya menghadap ke atas dan dikibas-kibaskan, artinya dia ingin mengajak bermain. Lain halnya jika ekor itu tegak lurus dan tidak bergerak. Artinya, anjing ingin menyerang. Termasuk ketika ekor menghadap ke bawah, artinya sedang marah.

Selama ini banyak orang awam salah paham dengan anjing. Banyak yang mengira ketika menggonggong, berarti akan menyerang. “Padahal bisa jadi anjing tersebut sedang berupaya mengajak berkenalan dengan orang baru,” katanya.

Karena itu, Chandra mengimbau, bila bertemu anjing jangan panik. Tetap tenang maka anjing tidak akan menyerang. “Jika kita malah panik dan membuat gerakan-gerakan yang mengancam, anjing justru menyerang,” terangnya.

Hal lain yang perlu diperhatikan mengenai pelatihan anjing dan kesehatannya. Jika memang pemilik anjing memiliki pengetahuan bagus, sudah dipastikan bahwa anjing yang dipelihara akan divaksin. Kemarin, Chandra juga menunjukkan buku vaksin anjing miliknya.

Vaksin tersebut sangat penting. Selain baik untuk kesehatan, juga bagus untuk lingkungan sekitar. Hal itu untuk menghindari adanya penyebaran penyakit di lingkungan sekitar.

Chandra berharap, peristiwa yang terjadi di Kandat tidak terulang. Selain itu, dia juga ingin masyarakat luas tidak salah paham dengan anjing. “Memang anjing itu pada dasarnya binatang buas. Tapi kalau kita benar memeliharanya, maka mereka (anjing, Red) bisa menjadi sahabat yang baik,” pungkasnya.

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/