30.1 C
Kediri
Monday, August 8, 2022
Array

Momentum yang Terlewat

Bila ingin mengubah arah, kita perlu yang namanya titik balik. Satu titik yang kita gunakan untuk mengubah haluan. Kalau semula dari barat, bisa berbelok ke utara. Atau selatan. Atau justru kea rah sebaliknya, timur.

Namun, titik balik, atau titik belok, atau titik pergantian arah itu juga tak bisa lepas dari momentum. Satu waktu yang tepat yang bisa kita manfaatkan untuk melakukan perubahan arah itu. Bila tidak tepat momentum kita berbelok, bisa saja kita terguling. Bisa saja kita terjatuh. Atau, bisa saja kita kebablasan.

Nah, momentum inilah yang merupakan titik kecil tapi sangat berharga. Sangat penting. Tanpa momentum kita akan sulit melakukan perubahan. Baik itu yang skala ringan maupun perubahan ekstrem.

Reformasi bangsa ini juga ada karena momentum. Apa itu? Krisis moneter yang berujung pada krisis ekonomi pada akhir era 90-an. Saat itu semua elemen masyarakat memanfaatkan momentum bobroknya ekonomi negara untuk membelokkan arah negara. Membongkar satu orde yang telah menguasai tatanan negara hingga berpuluh-puluh tahun. Terlepas arah reformasi yang tak kunjung jelas ujung akhirnya ini, saat itu masyarakat memang berhasil memanfaatkan momentum.

Sepertinya, Malaysia, sang jiran kita, juga memanfaatkan momentum. Kekalahan PM Najib oleh sang gaek Mahathir Mohammad juga bukan sekadar faktor Mahathir.  Tapi ada momentum ketika warga Malaysia sudah jengah dengan kondisi negaranya. Ada momentum keruwetan ekonomi plus hiasan tentang korupsi elit. Dan itu mampu dimanfaatkan sang gaek. Utang negara yang ternyata telah mencekik adalah salah satu faktor pemicu.

Baca Juga :  Tahu Kediri

Bagaimana dengan kita? Tapi, jangan berpikir momentum politik yang kini berusaha dimatangkan oleh sebagian kelompok pada tahun politik. Mari kita berpikir tentang momentum yang terpampang di depan mata kita saat ini. Yang seharusnya mampu jadi pijakan kita untuk berubah. Berganti haluan menjadi lebih baik.

Momentum ini adalah Idul Fitri. Kembali fitri. Satu titik di mana kita benar-benar berada pada kondisi yang tepat untuk berubah.  Setelah mengalami ujian selama satu bulan penuh, dengan menahan hawa nafsu, lapar haus, dan godaan dari internal diri, kita kemudian bertemu dengan saat-saat yang fitri.

Di Idul Fitri inilah saat yang tepat untuk kita berbelok arah. Dari kebiasaan-kebiasaan buruk menjadi kebiasaan yang bagus. Yang sejalan dengan perintah Illahi. Memenuhi kodrat kita sebagai manusia. Melepaskan diri dari budak kebendaan. Budak kekuasaan. Budak keserakahan. Budak keakuan, yang sering membuat ego kita memuncak setinggi langit.

Baca Juga :  Penjara Berhantu pun Jadi Pusat Bisnis Mewah

Idul Fitri menjadi momentum kita kembali ke asal kita. Tanah. Artinya, kita harus memijak bumi. Jangan hidup di awing-awang. Kesombongan harus kita buang jauh-jauh. Keakuan harus ditindas rata dengan tanah. Karena keakuan hanya akan membuat kita semakin kesepian dalam keramaian.

Sayangnya, justru pada momentum yang sangat mudah kita temukan ini kita sering terlewatkan. Kita mungkin terlalu gembira karena merasa berhasil melewati puasa 30 hari tanpa putus. Tanpa makan dan minum sejak subuh hingga maghrib.

Tapi kita lupa, saat kita dihalalkan makan dan minum, syahwat kita yang bersimaharajalela. Makan minum kita puaskan. Nafsu syahwat kita lepaskan di malam hari. Jadinya, hati kita yang mulai terbuka saat diajak puasa di siang hari, kembali tertutup oleh tumpukan makanan yang kita makan tanpa jeda. Puasa bagi kita hanya memindah waktu makan serta menambah pola makan kita. Puasa tak menjadikan kita lebih bersahaja. Lebih berserah diri. Maka, kita menjadi orang yang benar-benar kehilangan momentum.

Selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga saya dan Anda bukan orang yang kehilangan momentum di hari yang fitri ini. Aamiin.

- Advertisement -

Bila ingin mengubah arah, kita perlu yang namanya titik balik. Satu titik yang kita gunakan untuk mengubah haluan. Kalau semula dari barat, bisa berbelok ke utara. Atau selatan. Atau justru kea rah sebaliknya, timur.

Namun, titik balik, atau titik belok, atau titik pergantian arah itu juga tak bisa lepas dari momentum. Satu waktu yang tepat yang bisa kita manfaatkan untuk melakukan perubahan arah itu. Bila tidak tepat momentum kita berbelok, bisa saja kita terguling. Bisa saja kita terjatuh. Atau, bisa saja kita kebablasan.

Nah, momentum inilah yang merupakan titik kecil tapi sangat berharga. Sangat penting. Tanpa momentum kita akan sulit melakukan perubahan. Baik itu yang skala ringan maupun perubahan ekstrem.

Reformasi bangsa ini juga ada karena momentum. Apa itu? Krisis moneter yang berujung pada krisis ekonomi pada akhir era 90-an. Saat itu semua elemen masyarakat memanfaatkan momentum bobroknya ekonomi negara untuk membelokkan arah negara. Membongkar satu orde yang telah menguasai tatanan negara hingga berpuluh-puluh tahun. Terlepas arah reformasi yang tak kunjung jelas ujung akhirnya ini, saat itu masyarakat memang berhasil memanfaatkan momentum.

Sepertinya, Malaysia, sang jiran kita, juga memanfaatkan momentum. Kekalahan PM Najib oleh sang gaek Mahathir Mohammad juga bukan sekadar faktor Mahathir.  Tapi ada momentum ketika warga Malaysia sudah jengah dengan kondisi negaranya. Ada momentum keruwetan ekonomi plus hiasan tentang korupsi elit. Dan itu mampu dimanfaatkan sang gaek. Utang negara yang ternyata telah mencekik adalah salah satu faktor pemicu.

Baca Juga :  Indomaret Vs Alfamart

Bagaimana dengan kita? Tapi, jangan berpikir momentum politik yang kini berusaha dimatangkan oleh sebagian kelompok pada tahun politik. Mari kita berpikir tentang momentum yang terpampang di depan mata kita saat ini. Yang seharusnya mampu jadi pijakan kita untuk berubah. Berganti haluan menjadi lebih baik.

Momentum ini adalah Idul Fitri. Kembali fitri. Satu titik di mana kita benar-benar berada pada kondisi yang tepat untuk berubah.  Setelah mengalami ujian selama satu bulan penuh, dengan menahan hawa nafsu, lapar haus, dan godaan dari internal diri, kita kemudian bertemu dengan saat-saat yang fitri.

Di Idul Fitri inilah saat yang tepat untuk kita berbelok arah. Dari kebiasaan-kebiasaan buruk menjadi kebiasaan yang bagus. Yang sejalan dengan perintah Illahi. Memenuhi kodrat kita sebagai manusia. Melepaskan diri dari budak kebendaan. Budak kekuasaan. Budak keserakahan. Budak keakuan, yang sering membuat ego kita memuncak setinggi langit.

Baca Juga :  Instagramable

Idul Fitri menjadi momentum kita kembali ke asal kita. Tanah. Artinya, kita harus memijak bumi. Jangan hidup di awing-awang. Kesombongan harus kita buang jauh-jauh. Keakuan harus ditindas rata dengan tanah. Karena keakuan hanya akan membuat kita semakin kesepian dalam keramaian.

Sayangnya, justru pada momentum yang sangat mudah kita temukan ini kita sering terlewatkan. Kita mungkin terlalu gembira karena merasa berhasil melewati puasa 30 hari tanpa putus. Tanpa makan dan minum sejak subuh hingga maghrib.

Tapi kita lupa, saat kita dihalalkan makan dan minum, syahwat kita yang bersimaharajalela. Makan minum kita puaskan. Nafsu syahwat kita lepaskan di malam hari. Jadinya, hati kita yang mulai terbuka saat diajak puasa di siang hari, kembali tertutup oleh tumpukan makanan yang kita makan tanpa jeda. Puasa bagi kita hanya memindah waktu makan serta menambah pola makan kita. Puasa tak menjadikan kita lebih bersahaja. Lebih berserah diri. Maka, kita menjadi orang yang benar-benar kehilangan momentum.

Selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga saya dan Anda bukan orang yang kehilangan momentum di hari yang fitri ini. Aamiin.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/