24.1 C
Kediri
Sunday, August 14, 2022
Array

Dominasi Gugatan Istri, Pemicunya Ekonomi

- Advertisement -

Tingkat perceraian di Kota Kediri semakin hari semakin meningkat. Pemicunya adalah persoalan rumah tangga. Terutama masalah ekonomi.

 

Bila melihat data dari Pengadilan Agama (PA) Kota Kediri, ada peningkatan signifikan pada jumlah perceraian selama dua tahun terakhir. Pada awal 2016 menunjukkan angka 675 kasus perceraian. Sedangkan pada 2017 meningkat menjadi 759.

Menurut Wakil Panitera Pengadilan Agama Kota Kediri Katimun, peningkatan itu memang benar adanya. Yang ironis, dari ratusan perceraian setiap tahunnya itu menunjukkan fakta bahwa yang meminta cerai kebanyakan adalah dari pihak istri. Atau istilahnya adalah cerai gugat.

Seperti pada 2016 misalnya. Saat itu jumlah cerai gugat ada 497 kasus. Sedangkan cerai talak, yang meminta cerai sang suami, hanya 178 kasus. Begitu pula 2017. Cerai gugat mencapai 555 kasus, sedangkan cerai talak hanya 204 kasus. “Trennya di Kota Kediri pihak istri memang yang mendominasi menginginkan untuk cerai,” terangnya.

- Advertisement -

Dari semua kasus cerai tersebut, menurut Katimun, banyak sekali penyebabnya. Mulai dari perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), pertengkaran yang terjadi terus menerus, hingga faktor ekonomi. Terbanyak alasan penyebab retaknya biduk rumah tangga itu dalam dua tahun ini adalah faktor ekonomi.

Baca Juga :  Berharap Pasar Luar Daerah

“Kebanyakan yang minta gugut cerai adalah dikarenakan faktor ekonomi keluarga,” ujarnya.

Banyak kasus yang menunjukkan si perempuan merasa suaminya tidak menafkahi mereka dengan baik. Hingga tidak tercukupinya kebutuhan keluarga. Hal inilah yang membuat para istri memilih untuk berpisah dengan suami mereka.

Katimun menerangkan, faktor ekonomi ini tidak melulu sang suami pengangguran. Rata-rata semua berpenghasilan atau bekerja. Namun karena istri menganggap kewajiban nafkah suami tersebut kurang untuk mencukupi kebutuhan.

Beberapa alasan lain juga mewarnai kasus talak cerai tersebut. Biasanya sang suami curiga adanya orang ketiga dalam hubungan mereka. Karena kecurigaan itulah yang membuat sang suami menceraikan istrinya.

Tapi, juga tak sedikit yang justru sebaliknya. Sang istri mencurigai suaminya ada main dengan perempuan lain. Ini kemudian membuat suami jengah. Dan berimbas pada proses menalak cerai istrinya. “Faktor ekonomi juga menjadi faktor perceraian pada talak ini,” ungkapnya.

Baca Juga :  Keblinger Nguber Bojo Dokter

Beberapa kasus yang ditemui hakim PA Kota Kediri juga didominasi persoalan penghasilan. Seperti sang istri mengungkit-ungkit gaji suaminya yang dianggap kecil. Atau terus meminta uang lebih dan meragukan kerja sang suami. Ini juga kerap menjadi alasan pertengkaran dalam rumah tangga.

“Terlebih istri yang boros dalam pengeluaran rumah tangga inilah yang juga sebagai penyebab perceraian di Kota Kediri,” ujarnya.

Terkait banyaknya alasan selingkuh yang menjadi pemicu, Katimun pun memberi saran kepada pasangan suami-istri. Yaitu agar mereka terbuka satu sama lain. Mulai dari hal pekerjaan hingga keuangan.

Jika keterbukaan dan saling memaafkan ini terjadi, rumah tangga akan langgeng dan bahagia. “Keterbukaan ini penting. Terlebih kesetiaan pun juga membawa pada kebahagiaan,” tegas Katimun.

- Advertisement -

Tingkat perceraian di Kota Kediri semakin hari semakin meningkat. Pemicunya adalah persoalan rumah tangga. Terutama masalah ekonomi.

 

Bila melihat data dari Pengadilan Agama (PA) Kota Kediri, ada peningkatan signifikan pada jumlah perceraian selama dua tahun terakhir. Pada awal 2016 menunjukkan angka 675 kasus perceraian. Sedangkan pada 2017 meningkat menjadi 759.

Menurut Wakil Panitera Pengadilan Agama Kota Kediri Katimun, peningkatan itu memang benar adanya. Yang ironis, dari ratusan perceraian setiap tahunnya itu menunjukkan fakta bahwa yang meminta cerai kebanyakan adalah dari pihak istri. Atau istilahnya adalah cerai gugat.

Seperti pada 2016 misalnya. Saat itu jumlah cerai gugat ada 497 kasus. Sedangkan cerai talak, yang meminta cerai sang suami, hanya 178 kasus. Begitu pula 2017. Cerai gugat mencapai 555 kasus, sedangkan cerai talak hanya 204 kasus. “Trennya di Kota Kediri pihak istri memang yang mendominasi menginginkan untuk cerai,” terangnya.

Dari semua kasus cerai tersebut, menurut Katimun, banyak sekali penyebabnya. Mulai dari perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), pertengkaran yang terjadi terus menerus, hingga faktor ekonomi. Terbanyak alasan penyebab retaknya biduk rumah tangga itu dalam dua tahun ini adalah faktor ekonomi.

Baca Juga :  Bojone Maling, Yu Minthul Berpaling

“Kebanyakan yang minta gugut cerai adalah dikarenakan faktor ekonomi keluarga,” ujarnya.

Banyak kasus yang menunjukkan si perempuan merasa suaminya tidak menafkahi mereka dengan baik. Hingga tidak tercukupinya kebutuhan keluarga. Hal inilah yang membuat para istri memilih untuk berpisah dengan suami mereka.

Katimun menerangkan, faktor ekonomi ini tidak melulu sang suami pengangguran. Rata-rata semua berpenghasilan atau bekerja. Namun karena istri menganggap kewajiban nafkah suami tersebut kurang untuk mencukupi kebutuhan.

Beberapa alasan lain juga mewarnai kasus talak cerai tersebut. Biasanya sang suami curiga adanya orang ketiga dalam hubungan mereka. Karena kecurigaan itulah yang membuat sang suami menceraikan istrinya.

Tapi, juga tak sedikit yang justru sebaliknya. Sang istri mencurigai suaminya ada main dengan perempuan lain. Ini kemudian membuat suami jengah. Dan berimbas pada proses menalak cerai istrinya. “Faktor ekonomi juga menjadi faktor perceraian pada talak ini,” ungkapnya.

Baca Juga :  Pedagang Wisata Sedudo saat Pandemi Covid-19

Beberapa kasus yang ditemui hakim PA Kota Kediri juga didominasi persoalan penghasilan. Seperti sang istri mengungkit-ungkit gaji suaminya yang dianggap kecil. Atau terus meminta uang lebih dan meragukan kerja sang suami. Ini juga kerap menjadi alasan pertengkaran dalam rumah tangga.

“Terlebih istri yang boros dalam pengeluaran rumah tangga inilah yang juga sebagai penyebab perceraian di Kota Kediri,” ujarnya.

Terkait banyaknya alasan selingkuh yang menjadi pemicu, Katimun pun memberi saran kepada pasangan suami-istri. Yaitu agar mereka terbuka satu sama lain. Mulai dari hal pekerjaan hingga keuangan.

Jika keterbukaan dan saling memaafkan ini terjadi, rumah tangga akan langgeng dan bahagia. “Keterbukaan ini penting. Terlebih kesetiaan pun juga membawa pada kebahagiaan,” tegas Katimun.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/