24.9 C
Kediri
Friday, August 12, 2022
Array

Debat Pilwali Kediri, Adu Argumen lalu Saling Salaman

- Advertisement -

KEDIRI KOTA – Debat Publik kedua pasangan calon (paslon) Wali Kota dan Wakil Wali Kota Kediri tadi malam tak kalah seru dengan yang pertama. Saling serang terkait gagasan dan program pun terjadi. Ketiga paslon terlihat berusaha tampil maksimal untuk menarik simpati publik. Sebelum pilihan ditentukan saat coblosan pada Rabu (27/6).

Atmosfer debat sengit sudah terjadi sejak segmen pertama. Yaitu pada penyampaian visi misi ketiga paslon. Paslon nomor urut 3 Samsul Ashar-Teguh Juniadi langsung menyoroti tentang kesehatan di Kota Kediri yang dalam lima tahun terakhir ini dianggap belum meningkat. Paslon ini terkesan menyerang paslon nomor 2, Abu Bakar – Lilik Muhibbah yang notabene adalah paslon petahana.

“Ini terlihat dari masih adanya gizi buruk dan juga angka hidup ibu dan anak yang masih belum baik,” terang Samsul.

Baca Juga :  Gagal Raih 3 Poin karena Lengah

Di segmen kedua, saat membahas tentang difabel, Abu menyatakan lima tahun era pemerintahannya juga memperhatikan kepentingan kaum difabel. Salah satunya adalah tinggi trotoar yang sudah ramah bagi penyandang cacat. Seperti di Jalan Dhoho yang trotoarnya sudah tidak tinggi lagi. Sehingga penyandang disabilitas bisa memanfaatkan dengan baik.

“Seperti di tempat-tempat umum kita berikan pegangan tangan seperti di tangga ataupun di jalan lainnya. Hal ini juga untuk akses memudahkan mereka,” ujar Abu.

- Advertisement -

Namun setelah itu Gus Aiz, sapaan paslon nomor 1 Aizzudin, menanggapinya dengan kontra. Dia menganggap dalam lima tahun pembangunan tersebut cukup minim yang mementingkan kaum difabel. Dia kemudian menyebut solusi dengan pelatihan-pelatihan para kaum difabel akan meningkatkan taraf hidup mereka. “Cukup sulit ditemukan infrastruktur difabel di Kota Kediri ini,” kritik Gus Aiz.

Sementara, saat membahas maraknya gelandangan dan pengemis (gepeng), Sudjono, wakil Gus Aiz, ikutan menyerang paslon petahana. Dengan menyebut gepeng selalu dilakukan penangkapan lalu dilepas lagi. Sehingga yang ditangkap masih kembali ke jalan lagi.

Baca Juga :  Bukan Pembual yang Baik

Namun lagi-lagi Abu mengkonter pernyataan itu dengan menyatakan bahwa dalam lima tahun ini pihaknya tidak hanya menangkapi saja. Tapi juga mengkaryakan mereka. Seperti dimasukkan di sekolah non-formal hingga pelatihan-pelatihan. Seperti yang pernah mereka lakukan para gepeng diajak ke Hotel Lotus melakukan pelatihan perhotelan. “Kita dorong mereka agar tidak putus sekolah bagi yang muda. Sehingga tidak jarang mereka banyak yang mengambil kejar paket C,” ungkap calon wali kota petahana ini.

Walaupun suasana debat berlangsung dengan atmosfir tinggi, para paslon terlihat saling menghampiri saat debat usai. Mereka pun saling bersalaman dan berangkulan satu sama lain.

- Advertisement -

KEDIRI KOTA – Debat Publik kedua pasangan calon (paslon) Wali Kota dan Wakil Wali Kota Kediri tadi malam tak kalah seru dengan yang pertama. Saling serang terkait gagasan dan program pun terjadi. Ketiga paslon terlihat berusaha tampil maksimal untuk menarik simpati publik. Sebelum pilihan ditentukan saat coblosan pada Rabu (27/6).

Atmosfer debat sengit sudah terjadi sejak segmen pertama. Yaitu pada penyampaian visi misi ketiga paslon. Paslon nomor urut 3 Samsul Ashar-Teguh Juniadi langsung menyoroti tentang kesehatan di Kota Kediri yang dalam lima tahun terakhir ini dianggap belum meningkat. Paslon ini terkesan menyerang paslon nomor 2, Abu Bakar – Lilik Muhibbah yang notabene adalah paslon petahana.

“Ini terlihat dari masih adanya gizi buruk dan juga angka hidup ibu dan anak yang masih belum baik,” terang Samsul.

Baca Juga :  Weekend Streaming Drakor? #KenapaNggak

Di segmen kedua, saat membahas tentang difabel, Abu menyatakan lima tahun era pemerintahannya juga memperhatikan kepentingan kaum difabel. Salah satunya adalah tinggi trotoar yang sudah ramah bagi penyandang cacat. Seperti di Jalan Dhoho yang trotoarnya sudah tidak tinggi lagi. Sehingga penyandang disabilitas bisa memanfaatkan dengan baik.

“Seperti di tempat-tempat umum kita berikan pegangan tangan seperti di tangga ataupun di jalan lainnya. Hal ini juga untuk akses memudahkan mereka,” ujar Abu.

Namun setelah itu Gus Aiz, sapaan paslon nomor 1 Aizzudin, menanggapinya dengan kontra. Dia menganggap dalam lima tahun pembangunan tersebut cukup minim yang mementingkan kaum difabel. Dia kemudian menyebut solusi dengan pelatihan-pelatihan para kaum difabel akan meningkatkan taraf hidup mereka. “Cukup sulit ditemukan infrastruktur difabel di Kota Kediri ini,” kritik Gus Aiz.

Sementara, saat membahas maraknya gelandangan dan pengemis (gepeng), Sudjono, wakil Gus Aiz, ikutan menyerang paslon petahana. Dengan menyebut gepeng selalu dilakukan penangkapan lalu dilepas lagi. Sehingga yang ditangkap masih kembali ke jalan lagi.

Baca Juga :  Waspada Covid-19 di Kediri: Semproti Gang dan Bagi Sembako

Namun lagi-lagi Abu mengkonter pernyataan itu dengan menyatakan bahwa dalam lima tahun ini pihaknya tidak hanya menangkapi saja. Tapi juga mengkaryakan mereka. Seperti dimasukkan di sekolah non-formal hingga pelatihan-pelatihan. Seperti yang pernah mereka lakukan para gepeng diajak ke Hotel Lotus melakukan pelatihan perhotelan. “Kita dorong mereka agar tidak putus sekolah bagi yang muda. Sehingga tidak jarang mereka banyak yang mengambil kejar paket C,” ungkap calon wali kota petahana ini.

Walaupun suasana debat berlangsung dengan atmosfir tinggi, para paslon terlihat saling menghampiri saat debat usai. Mereka pun saling bersalaman dan berangkulan satu sama lain.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/