23.8 C
Kediri
Friday, August 12, 2022
Array

Kabupaten Kediri Rawan Upal

KEDIRI KABUPATEN- Bukan tanpa alasan sindikat uang palsu (upal) memilih Kabupaten Kediri sebagai daerah peredaran. Sebab, Kabupaten Kediri ternyata memiliki potensi peredaran upal sangat tinggi. Selain wilayahnya yang luas dan didominasi daerah terpencil, juga kesadaran warga terhadap upal masih lemah.

“Tingkat pengetahuan warga tentang upal masih rendah. Masyarakat belum sepenuhnya paham dengan cirri-ciri uang palsu,” terang Kapolres Kediri AKBP Erick Hermawan.

Menurut Erick, polisi sudah memetakan daerah-daerah yang rawan peredaran upal. Menurutnya, titik-titik kerawanan peredaran upal itu berada di wilayah kabupaten bagian dalam. Seperti wilayah Kecamatan Kepung, Puncu, Ngancar, dan Wates.

“Di daerah dalam seperti itu peredaran upal berpotensi terjadi. Ini yang perlu diwaspadai,” ingat Erick.

Polisi pun melakukan upaya agar bisa meminimalisasi terjadinya transaksi dengan upal di masyarakat. Khususnya yang preventif atau pencegahan. Polres Kediri melakukan usaha-usaha sosialisasi ke masyarakat. Terutama melalui jaringan kepolisian yang ada di desa-desa. Yaitu melalui bhayangkara pembina keamanan dan ketertiban masyarakat (bhabinkantibmas) yang ada di setiap desa. Para personil bhabinkantibmas inilah yang menyosialisasikan ke masyarakat agar hati-hati dalam setiap kali bertransaksi.

Baca Juga :  Satu Pasangan Kembali Diamankan

Selain itu,polisi juga menggandeng pihak Bank Indonesia (BI). Mereka menggalakkan sosialisasi langkah-langkah mengetahui ciri-ciri uang. Yaitu dengan langkah 3D, dilihat, diraba, dan diterawang.

Apakah ada kaitan meningkatnya peredaran upal dengan tahun politik saat ini? Menurut Erick, tidak ada kaitan antara tahun politik dengan maraknya peredaran upal. Pasalnya, kasus upal yang baru mereka bongkar kemarin murni karena motif ekonomi. Tidak ditemukan tendensi politik.

“Empat pelaku membuat dan mengedarkan uang palsu murni karena untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” jelasnya.

Sebelumnya, polisi berhasil membongkar sindikat pembuatan upal antarprovinsi. Mereka menangkap empat orang. Dua orang asal Kabupaten Kediri bertindak sebagai pengedar. Satu orang asal Klaten sebagai perantara antara pembuat dan pengedar. Dan satu orang warga Magelang adalah produsen upal.

Dua orang pengedar yang ditangkap itu adalah Sumadi, 54, warga Desa Kepung, Kecamatan Kapung, dan Sunarto, 55, warga Desa Sekoto, Kecamatan Badas. Sumadi ditangkap setelah membeli kambing ke warga dengan upal. Dari penangkapan Sumadi polisi kemudian mendapat nama Vexi Soeratman, 61.  Lelaki ini adalah warga Dusun Gelangan, Desa Jebungan, Kecamatan Klaten Utara, Jateng. Vexi bertindak sebagai marketing. Dia mendapatkan upal dari M. Sulhan Amri, 41. Warga Desa Ambartawang, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang ini mencetak upal di rumahnya. Kemampuan mencetak upal dia dapat secara otodidak. Sebab, sebelumnya dia adalah tukang sablon.

Baca Juga :  Hendak Mendahului, Pengendara Motor asal Pesantren Justru tersenggol

Dari penangkapan itu, polisi berhasil menyita sebanyak ratusan lembar upal. Baik yang sudah dipotong maupun masih berupa lembaran. Nilai total upal itu mencapai Rp 50,5 juta.

Menurut keterangan pelaku, pencetakan upal berdasarkan pesanan. Setiap Rp 10 juta upal dijual dengan harga Rp 1 juta. Selain itu, berdasarkan keterangan para pelaku juga, Sumadi dan Sunarto baru sekali itu berusaha mengedarkan upal. Itupun sudah langsung tertangkap.

Saat ini keempat pelaku sudah diamankan di Mapolres Kediri. Polisi masih terus mengembangkan kasus ini untuk melihat kemungkinan keterlibatan pelaku lain.

 

Kabupaten Kediri Rawan Peredaran Upal

 

Mengapa ?

–         Pengetahuan masyarakat tentang upal masih rendah.

–         Memiliki daerah ‘dalam’ yang rawan jadi peredaran upal

 

Titik Rawan Peredaran Upal

–         Kecamatan Kepung

–         Kecamatan Puncu

–         Kecamatan Ngancar

–         Kecamatan Wates

 

Sumber : Keterangan Polisi

- Advertisement -

KEDIRI KABUPATEN- Bukan tanpa alasan sindikat uang palsu (upal) memilih Kabupaten Kediri sebagai daerah peredaran. Sebab, Kabupaten Kediri ternyata memiliki potensi peredaran upal sangat tinggi. Selain wilayahnya yang luas dan didominasi daerah terpencil, juga kesadaran warga terhadap upal masih lemah.

“Tingkat pengetahuan warga tentang upal masih rendah. Masyarakat belum sepenuhnya paham dengan cirri-ciri uang palsu,” terang Kapolres Kediri AKBP Erick Hermawan.

Menurut Erick, polisi sudah memetakan daerah-daerah yang rawan peredaran upal. Menurutnya, titik-titik kerawanan peredaran upal itu berada di wilayah kabupaten bagian dalam. Seperti wilayah Kecamatan Kepung, Puncu, Ngancar, dan Wates.

“Di daerah dalam seperti itu peredaran upal berpotensi terjadi. Ini yang perlu diwaspadai,” ingat Erick.

Polisi pun melakukan upaya agar bisa meminimalisasi terjadinya transaksi dengan upal di masyarakat. Khususnya yang preventif atau pencegahan. Polres Kediri melakukan usaha-usaha sosialisasi ke masyarakat. Terutama melalui jaringan kepolisian yang ada di desa-desa. Yaitu melalui bhayangkara pembina keamanan dan ketertiban masyarakat (bhabinkantibmas) yang ada di setiap desa. Para personil bhabinkantibmas inilah yang menyosialisasikan ke masyarakat agar hati-hati dalam setiap kali bertransaksi.

Baca Juga :  Masih Ada Warga Kediri Yang Lalai Tak Pakai Masker

Selain itu,polisi juga menggandeng pihak Bank Indonesia (BI). Mereka menggalakkan sosialisasi langkah-langkah mengetahui ciri-ciri uang. Yaitu dengan langkah 3D, dilihat, diraba, dan diterawang.

Apakah ada kaitan meningkatnya peredaran upal dengan tahun politik saat ini? Menurut Erick, tidak ada kaitan antara tahun politik dengan maraknya peredaran upal. Pasalnya, kasus upal yang baru mereka bongkar kemarin murni karena motif ekonomi. Tidak ditemukan tendensi politik.

“Empat pelaku membuat dan mengedarkan uang palsu murni karena untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” jelasnya.

Sebelumnya, polisi berhasil membongkar sindikat pembuatan upal antarprovinsi. Mereka menangkap empat orang. Dua orang asal Kabupaten Kediri bertindak sebagai pengedar. Satu orang asal Klaten sebagai perantara antara pembuat dan pengedar. Dan satu orang warga Magelang adalah produsen upal.

Dua orang pengedar yang ditangkap itu adalah Sumadi, 54, warga Desa Kepung, Kecamatan Kapung, dan Sunarto, 55, warga Desa Sekoto, Kecamatan Badas. Sumadi ditangkap setelah membeli kambing ke warga dengan upal. Dari penangkapan Sumadi polisi kemudian mendapat nama Vexi Soeratman, 61.  Lelaki ini adalah warga Dusun Gelangan, Desa Jebungan, Kecamatan Klaten Utara, Jateng. Vexi bertindak sebagai marketing. Dia mendapatkan upal dari M. Sulhan Amri, 41. Warga Desa Ambartawang, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang ini mencetak upal di rumahnya. Kemampuan mencetak upal dia dapat secara otodidak. Sebab, sebelumnya dia adalah tukang sablon.

Baca Juga :  LPA Desak Terbitkan Perwali Sekolah Ramah Anak

Dari penangkapan itu, polisi berhasil menyita sebanyak ratusan lembar upal. Baik yang sudah dipotong maupun masih berupa lembaran. Nilai total upal itu mencapai Rp 50,5 juta.

Menurut keterangan pelaku, pencetakan upal berdasarkan pesanan. Setiap Rp 10 juta upal dijual dengan harga Rp 1 juta. Selain itu, berdasarkan keterangan para pelaku juga, Sumadi dan Sunarto baru sekali itu berusaha mengedarkan upal. Itupun sudah langsung tertangkap.

Saat ini keempat pelaku sudah diamankan di Mapolres Kediri. Polisi masih terus mengembangkan kasus ini untuk melihat kemungkinan keterlibatan pelaku lain.

 

Kabupaten Kediri Rawan Peredaran Upal

 

Mengapa ?

–         Pengetahuan masyarakat tentang upal masih rendah.

–         Memiliki daerah ‘dalam’ yang rawan jadi peredaran upal

 

Titik Rawan Peredaran Upal

–         Kecamatan Kepung

–         Kecamatan Puncu

–         Kecamatan Ngancar

–         Kecamatan Wates

 

Sumber : Keterangan Polisi

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/