24.9 C
Kediri
Friday, August 12, 2022
Array

Jadi Miskin di Malam Lebaran

- Advertisement -

Seperti halnya Djaduk, pejaka tua di seberang jalan. Dalam duduk termangu ia menunggu. Tak ada yang tahu betul apa yang diinginkan pejaka tua itu. Pun teman-teman timses dan lawannya. Kata orang sih Djaduk sudah tak punya uang untuk berkampanye lagi. Istilah yang lebih parah lagi, dia bangkrut. Sementara utang-utangnya menumpuk bak Gunung Agung. Padahal pilkada kurang sebentar lagi.

“Padahal kemarin dia masih bisa membeli apapun yang ia inginkan, juga menyebarkan angpao ke anak yatim” papar salah satu timses dari paslon lain.

Pernyataan itu disambut relawan lain, Paijo. Menurut Paijo Djaduk biasanya ngutang ke Mbus. Tapi belakangan Mbus ditangkap KPK karena kasus korupsi yang menimpanya. Walhasil perasaan kecewa dan galau melingkupi diri Djaduk. “Itu karena pasti dia kepikiran kini nggak bisa ngutang lagi,” tutur Paijo.

Yang lebih gila lagi pikiran timses lawan, Jumadi. Begitu ia melihat Djaduk termangu seperti itu, Jumadi menduga sebentar lagi terseret kasus yang menimpa Mbus. “Bisa jadi dulunya Mbus dan Djaduk kongkalikong, trus sekarang si Djaduk ketakutan,” ungkap Jumadi.

Sumar menyolot membenarkan. “Bisa jadi Jum, wong sekarang banyak uang panas, masa lalu bisa terbuka karena kebenaran pasti terungkap,” seloroh Sumar di warung kopi.

- Advertisement -

Ngomong-ngomong soal masa lalu, Jumadi tak kalah menimpali. Dia berceloteh kalau masa lalu selalu membayangi setiap hidup manusia. Baik secara sadar maupun tidak. “Nggak bisa langsung dibersihkan Mar, pasti ada rekam jejaknya to,” paparnya.

Beda dengan pendapat Jumadi, bagi Sumar masa lalu hanyalah masa lalu. Dan masa sekarang lah yang harus diperbaiki. Bahkan kalau perlu dipoles. “Biar belang masa lalu nggak keliatanlah Jum, we kok ra pinter-pinter,” ungkap Sumar lantas terkekeh.

Baca Juga :  Penumpang AKAP di Terminal Tamanan Turun

Meski berseloroh demikian, ia lantas termenung sejenak. Teringat bagaimana masa lalunya mencabik-cabik dirinya. Terutama cintanya pada Dek Karti, janda penjual jamu tetangga desanya. Dek Karti memang wanita idaman seluruh pria di desa. Begitu juga Sumar pernah salah satunya.

“Dua puluh tahun cintaku pada Dek Karti tak pernah terbalas Jum, bayangkan dua puluh tahun aku kayak orang gila” cerita Sumar tiba-tiba melankonis.

Jumadi yang diajak bicara tentu ingat betul bagaimana edannya Sumar pada Dek Karti. Beratus-ratus surat cinta yang Sumar inspirasi dari film Dilan yang ia anggap sangat romantis plus ditambah parfum tak pernah dibalas. Dibaca saja mungkin tidak. Karena pernah suatu ketika Jumadi mendapati surat cinta Sumar di tempat sampah depan rumah Karti. Masih utuh dan wangi.

Bayang-bayang Dek Karti adalah alasan hidup bagi Sumar, meski cintanya tak pernah terbalas. Paling tidak Jumadi bisa melihat Sumar bangun tidur dengan mata penuh harapan dan hati riang. Mengajak kencan Karti yang tak pernah menggrubis. Karti tersenyum illfil melihat kegilaan Sumar.

“Bahkan aku masih ingat betul bagaimana rencanamu untuk menikah dengan suami Karti, Dibyo hanya karena kau tergila-gila dengan Karti,” ungkap Jumadi.

Ya, sejak Karti menikah lantas bertahan sepuluh tahun janda cantik itu mati. Kematian Karti karena KDRT suami bejatnya. Putusan itu menjadikan Sumar tak lantas membunuh membalaskan dendam Karti. Justru ia ingin menikahi Dibyo. Bukan apa-apa, ia hanya ingin merasakan sisa-sisa Karti dalam tubuh Dibyo.

Baca Juga :  Pemkot Kediri Usul Kelas Jalan Merbabu Naik

“Kon pancene gendeng Mar,” tukas Jumadi.

Sumar hanya tersenyum. Masa lalu tak lebih dari penderitaan yang menjengkelkan. Oleh karenanya ia selalu menekankan bahwa hidup ya sekarang, saat ini. Tak ada lagi. Oleh karenanya ia selalu ‘memoles’ kehidupannya yang sekarang.

Lebaran kurang hitungan jam. Keramaian mulai menjalar. Terutama anak-anak menabuh bunyi-bunyian untuk malam takbiran. Semua orang berbagaia. Ibu-ibu menyiapkan masakan untuk slametan, sedang bapak-bapak rokokan di pinggir surau. Betapa uang dengan mudah berkeliaran. THR bertebaran. Kemeriahan melingkupi permukaan.

Pemandangan berbeda justru dirasakan Jumadi dan Sumar. Mereka tak berhenti mengamati Djaduk di seberang jalan. Dirogohnya saku Djaduk dan ia mengambil satu batang rokok kretek. Tak ada uang sepeserpun di saku itu. Hanya separuh batang kretek. Itupun sisa yang ia hisap kemarin. Mereka berdua mengawasi dari kejauhan. Lamat-lamat suara takbir bergumam.

Entah mengapa pemandangan di hadapannya itu menggelitik hati dua lelaki ini. Sekaligus menyadarkan betapa miskinnya Djaduk yang sekarang. Pun mereka berdua merasa sangat miskin justru di malam Lebaran. Djaduk hanya menghisap rokoknya pelan-pelan. Namun sangat dalam. Mereka ingat sebaris puisi karya Sapardi Joko Darmono berjudul Sajak Desember.

kutanggalkan mantel serta topiku yang tua
ketika daun penanggalan gugur
lewat tengah malam. kemudian kuhitung
hutang-hutangku pada-Mu

mendadak terasa: betapa miskinnya diriku;
di luar hujan pun masih kudengar
dari celah-celah jendela. ada yang terbaring
di kursi letih sekali

masih patutkah kuhitung segala milikku
selembar celana dan selembar baju
ketika kusebut berulang nama-Mu; taram
temaram bayang, bianglala itu

*) penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri

- Advertisement -

Seperti halnya Djaduk, pejaka tua di seberang jalan. Dalam duduk termangu ia menunggu. Tak ada yang tahu betul apa yang diinginkan pejaka tua itu. Pun teman-teman timses dan lawannya. Kata orang sih Djaduk sudah tak punya uang untuk berkampanye lagi. Istilah yang lebih parah lagi, dia bangkrut. Sementara utang-utangnya menumpuk bak Gunung Agung. Padahal pilkada kurang sebentar lagi.

“Padahal kemarin dia masih bisa membeli apapun yang ia inginkan, juga menyebarkan angpao ke anak yatim” papar salah satu timses dari paslon lain.

Pernyataan itu disambut relawan lain, Paijo. Menurut Paijo Djaduk biasanya ngutang ke Mbus. Tapi belakangan Mbus ditangkap KPK karena kasus korupsi yang menimpanya. Walhasil perasaan kecewa dan galau melingkupi diri Djaduk. “Itu karena pasti dia kepikiran kini nggak bisa ngutang lagi,” tutur Paijo.

Yang lebih gila lagi pikiran timses lawan, Jumadi. Begitu ia melihat Djaduk termangu seperti itu, Jumadi menduga sebentar lagi terseret kasus yang menimpa Mbus. “Bisa jadi dulunya Mbus dan Djaduk kongkalikong, trus sekarang si Djaduk ketakutan,” ungkap Jumadi.

Sumar menyolot membenarkan. “Bisa jadi Jum, wong sekarang banyak uang panas, masa lalu bisa terbuka karena kebenaran pasti terungkap,” seloroh Sumar di warung kopi.

Ngomong-ngomong soal masa lalu, Jumadi tak kalah menimpali. Dia berceloteh kalau masa lalu selalu membayangi setiap hidup manusia. Baik secara sadar maupun tidak. “Nggak bisa langsung dibersihkan Mar, pasti ada rekam jejaknya to,” paparnya.

Beda dengan pendapat Jumadi, bagi Sumar masa lalu hanyalah masa lalu. Dan masa sekarang lah yang harus diperbaiki. Bahkan kalau perlu dipoles. “Biar belang masa lalu nggak keliatanlah Jum, we kok ra pinter-pinter,” ungkap Sumar lantas terkekeh.

Baca Juga :  Alumnus Kebidanan yang Takut Jarum Suntik

Meski berseloroh demikian, ia lantas termenung sejenak. Teringat bagaimana masa lalunya mencabik-cabik dirinya. Terutama cintanya pada Dek Karti, janda penjual jamu tetangga desanya. Dek Karti memang wanita idaman seluruh pria di desa. Begitu juga Sumar pernah salah satunya.

“Dua puluh tahun cintaku pada Dek Karti tak pernah terbalas Jum, bayangkan dua puluh tahun aku kayak orang gila” cerita Sumar tiba-tiba melankonis.

Jumadi yang diajak bicara tentu ingat betul bagaimana edannya Sumar pada Dek Karti. Beratus-ratus surat cinta yang Sumar inspirasi dari film Dilan yang ia anggap sangat romantis plus ditambah parfum tak pernah dibalas. Dibaca saja mungkin tidak. Karena pernah suatu ketika Jumadi mendapati surat cinta Sumar di tempat sampah depan rumah Karti. Masih utuh dan wangi.

Bayang-bayang Dek Karti adalah alasan hidup bagi Sumar, meski cintanya tak pernah terbalas. Paling tidak Jumadi bisa melihat Sumar bangun tidur dengan mata penuh harapan dan hati riang. Mengajak kencan Karti yang tak pernah menggrubis. Karti tersenyum illfil melihat kegilaan Sumar.

“Bahkan aku masih ingat betul bagaimana rencanamu untuk menikah dengan suami Karti, Dibyo hanya karena kau tergila-gila dengan Karti,” ungkap Jumadi.

Ya, sejak Karti menikah lantas bertahan sepuluh tahun janda cantik itu mati. Kematian Karti karena KDRT suami bejatnya. Putusan itu menjadikan Sumar tak lantas membunuh membalaskan dendam Karti. Justru ia ingin menikahi Dibyo. Bukan apa-apa, ia hanya ingin merasakan sisa-sisa Karti dalam tubuh Dibyo.

Baca Juga :  Terhambat Dana, Pemkot Kediri Berencana Sinkronkan dengan Tol

“Kon pancene gendeng Mar,” tukas Jumadi.

Sumar hanya tersenyum. Masa lalu tak lebih dari penderitaan yang menjengkelkan. Oleh karenanya ia selalu menekankan bahwa hidup ya sekarang, saat ini. Tak ada lagi. Oleh karenanya ia selalu ‘memoles’ kehidupannya yang sekarang.

Lebaran kurang hitungan jam. Keramaian mulai menjalar. Terutama anak-anak menabuh bunyi-bunyian untuk malam takbiran. Semua orang berbagaia. Ibu-ibu menyiapkan masakan untuk slametan, sedang bapak-bapak rokokan di pinggir surau. Betapa uang dengan mudah berkeliaran. THR bertebaran. Kemeriahan melingkupi permukaan.

Pemandangan berbeda justru dirasakan Jumadi dan Sumar. Mereka tak berhenti mengamati Djaduk di seberang jalan. Dirogohnya saku Djaduk dan ia mengambil satu batang rokok kretek. Tak ada uang sepeserpun di saku itu. Hanya separuh batang kretek. Itupun sisa yang ia hisap kemarin. Mereka berdua mengawasi dari kejauhan. Lamat-lamat suara takbir bergumam.

Entah mengapa pemandangan di hadapannya itu menggelitik hati dua lelaki ini. Sekaligus menyadarkan betapa miskinnya Djaduk yang sekarang. Pun mereka berdua merasa sangat miskin justru di malam Lebaran. Djaduk hanya menghisap rokoknya pelan-pelan. Namun sangat dalam. Mereka ingat sebaris puisi karya Sapardi Joko Darmono berjudul Sajak Desember.

kutanggalkan mantel serta topiku yang tua
ketika daun penanggalan gugur
lewat tengah malam. kemudian kuhitung
hutang-hutangku pada-Mu

mendadak terasa: betapa miskinnya diriku;
di luar hujan pun masih kudengar
dari celah-celah jendela. ada yang terbaring
di kursi letih sekali

masih patutkah kuhitung segala milikku
selembar celana dan selembar baju
ketika kusebut berulang nama-Mu; taram
temaram bayang, bianglala itu

*) penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/