27.5 C
Kediri
Sunday, July 3, 2022
Array

Wah, Siap Ajukan Perizinan demi Legalitas Tambang Ngobo

KEDIRI KABUPATEN– Akibat bencana longsor di kawasan Kali Ngobo, perbatasan Desa Sepawon, Kecamatan Plosoklaten, dan Desa Satak, Kecamatan Puncu, Jumat lalu, (16/2) kini aktivitas penambangan dihentikan sementara. Pasalnya, sampai kemarin belum ada keputusan resmi untuk melanjutkan ataukah menghentikan penambangan tersebut. Di samping itu, proses evakuasi truk pengangkut hasil tambang pasir juga masih belum rampung.

Muhammad Mustofa, kepala Desa Wonorejo Trisulo, membenarkan adanya penutupan sementara area tambang itu. “Ya, benar belum operasi lagi sementara ini,” tuturnya. Hal ini dikarenakan untuk menunggu koordinasi dengan beberapa pihak.

Mustofa mengakui, tidak mudah mengambil keputusan tersebut. Pasalnya, harus ada koordinasi dengan beberapa pihak terkait, seperti pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pihak kecamatan, satpol PP, hingga pemerintah provinsi (pemprov) Jatim. “Akan diadakan koordinasi, nanti Rabu (21/2) atau Kamis (22/2) yang akan datang,” paparnya.

Menurut Mustofa, penambangan pasir di sekitar wilayah aliran lahar Gunung Kelud tersebut sudah dilakukan puluhan tahun yang lalu. Namun kurang lebih empat tahun terakhir ini, jumlah penambangnya semakin bertambah.

“Itu karena penghasilan sebagai penambang pasir memang sangat menjanjikan,” paparnya.

Oleh karena itulah hingga sekarang di wilayah tersebut menjadi sumber bergantungnya bagi warga yang bermukim di sana. Meski tak jarang, nyawa mereka juga menjadi taruhannya.

Selama ini, lanjut Mustofa, ada empat desa yang penghasilan ekonominya sangat bergantung pada penambangan pasir. Itu meliputi Desa Wonorejo Trisulo, Sepawon, Pranggang, dan Sumberagung.

Desa-desa tersebut masing-masing memiliki paguyuban penambang. Rata-rata jumlah penambang di paguyuban sekitar 100 hingga 150 orang. “Ada Paguyuban Trisulo Mandiri, Sepawon Kreatif Berdikari (SKB), Paguyuban Pasir Sumberagung, dan Pranggang,” terangnya. 

Baca Juga :  Persik Target Menang Lawan Persatu

Tak heran, ketika terlihat aktivitas penambangan mulai bergeliat, tampak sekitar 200-300 truk memenuhi wilayah aliran lahar tersebut. Mustofa mengungkapkan, pandapatan untuk kuli pasir dan sopir sekitar Rp 100 ribu-Rp 200 ribu untuk sekali jalan. “Itu sudah cukup bagi mereka,” urainya.

Kepala desa yang baru menjabat sekitar satu tahun ini menambahkan bahwa pihaknya akan berusaha memperjuangkan agar aktivitas penambangan pasir tidak ditutup selamanya. Salah satu caranya nanti, ia berharap, bisa dengan melegalkan aktivitas penambang pasir tersebut.

“Kan nanti bisa dibatasi wilayah mana yang diperbolehkan dan mana yang tidak,” jelasnya.

Mustofa menambahkan, wilayah maksimal yang memungkinkan penambang boleh melakukan aktivitasnya berada di titik gunung payung. Pasalnya, titik di atasnya lagi sudah sangat rawan longsor.

“Nanti akan kami usahakan untuk mengajukan izin legal penambang dengan beberapa pihak terkait,” tuturnya.

Suwandoko, ketua Paguyuban Trisulo Mandiri, mengungkapkan bahwa pihaknya juga menyetujui jika ada batasan titik atau wilayah untuk penambang. “Kami juga akan melakukan rapat anggota,” jelasnya.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Kediri Krisna Setiawan saat dikonfirmasi menerangkan bahwa masalah penambangan bukanlah wewenang Pemkab Kediri. “Untuk legalitas menjadi kewenangan (pemerintah) provinsi (Jawa Timur),” terangnya.

Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri memastikan, area penambangan pasir di aliran Sungai Ngobo termasuk area rawan bencana. Karena itu, di sana tidak boleh digunakan untuk penambangan. Pertimbangannya, selain rawan longsor juga rawan terjadi banjir lahar. Sebab jalur tersebut termasuk menjadi aliran lahar Gunung Kelud.

Seperti diberitakan sebelumnya, tebing setinggi sekitar 100 meter di area aliran Sungai Ngobo mengalami longsor pada Jumat pagi (16/2), sekitar pukul 04.45. Bencana itu menyebabkan empat orang meninggal dan empat lainnya luka-luka. Tiga korban meninggal langsung ditemukan hari itu juga.  .

Baca Juga :  Mereka Yang Juara Perang Mading School Contest XII 2019 Kategori SMP

Mereka adalah Andik Setyawan, 35, dan Ponco Suseno, 30, keduanya dari Desa Sumberagung, serta Sugianto, 40, asal Desa Sepawon. Ketiga warga ini dari Kecamatan Plosoklaten.

Sedangkan Sunarji, 40, korban keempat yang meninggal asal Dusun/Desa Sepawon, Plosoklaten baru ditemukan sehari berikutnya. Sementara empat korban yang luka tidak mengalami cedera parah. Mereka adalah Muryanto, 34, warga Desa Sumberurip, Kecamatan Ngancar; Iksan Safii, 20; Sulis, 24; dan Samsul Hadi, 27, ketiganya warga Desa Sumberagung, Plosoklaten. Para korban ini dibawa ke RS HVA Toeloengredjo Pare.

Para korban ditemukan dan ditolong oleh tim evakuasi yang terdiri atas BPBD, tim SAR, Polres Kediri, dan Kodim 0809 Kediri. Kondisi tanah di tebing Sungai Ngobo tersebut memang rawan longsor. Itu karena beberapa hari sebelumnya turun hujan deras. Apalagi, kawasan di sekitarnya kurang pepohonan. Alhasil saat hujan lebat, mengakibatkan tanah yang rawan gerak di sana menjadi longsor.(c1/dea/ndr)

 

 

Grafis:\\

 

Mengapa Tambang Ngobo Harus Dibuka?  //

–         Penambangan pasir di aliran lahar Kelud sudah dilakukan puluhan tahun

–         Lahan pekerjaan dengan penghasilan menjanjikan

–         Jumlah penambang semakin banyak

–         Menjadi sumber mata pencaharian sebagian warga di empat desa (Wonorejo Trisulo, Sepawon, Pranggang, dan Sumberagung)

–         Sudah terbentuk paguyuban penambang di empat desa

–         Titik penambangan bisa dibatasi, wilayah yang diperbolehkan dan yang tidak (karena rawan bencana)

 

 

- Advertisement -

KEDIRI KABUPATEN– Akibat bencana longsor di kawasan Kali Ngobo, perbatasan Desa Sepawon, Kecamatan Plosoklaten, dan Desa Satak, Kecamatan Puncu, Jumat lalu, (16/2) kini aktivitas penambangan dihentikan sementara. Pasalnya, sampai kemarin belum ada keputusan resmi untuk melanjutkan ataukah menghentikan penambangan tersebut. Di samping itu, proses evakuasi truk pengangkut hasil tambang pasir juga masih belum rampung.

Muhammad Mustofa, kepala Desa Wonorejo Trisulo, membenarkan adanya penutupan sementara area tambang itu. “Ya, benar belum operasi lagi sementara ini,” tuturnya. Hal ini dikarenakan untuk menunggu koordinasi dengan beberapa pihak.

Mustofa mengakui, tidak mudah mengambil keputusan tersebut. Pasalnya, harus ada koordinasi dengan beberapa pihak terkait, seperti pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pihak kecamatan, satpol PP, hingga pemerintah provinsi (pemprov) Jatim. “Akan diadakan koordinasi, nanti Rabu (21/2) atau Kamis (22/2) yang akan datang,” paparnya.

Menurut Mustofa, penambangan pasir di sekitar wilayah aliran lahar Gunung Kelud tersebut sudah dilakukan puluhan tahun yang lalu. Namun kurang lebih empat tahun terakhir ini, jumlah penambangnya semakin bertambah.

“Itu karena penghasilan sebagai penambang pasir memang sangat menjanjikan,” paparnya.

Oleh karena itulah hingga sekarang di wilayah tersebut menjadi sumber bergantungnya bagi warga yang bermukim di sana. Meski tak jarang, nyawa mereka juga menjadi taruhannya.

Selama ini, lanjut Mustofa, ada empat desa yang penghasilan ekonominya sangat bergantung pada penambangan pasir. Itu meliputi Desa Wonorejo Trisulo, Sepawon, Pranggang, dan Sumberagung.

Desa-desa tersebut masing-masing memiliki paguyuban penambang. Rata-rata jumlah penambang di paguyuban sekitar 100 hingga 150 orang. “Ada Paguyuban Trisulo Mandiri, Sepawon Kreatif Berdikari (SKB), Paguyuban Pasir Sumberagung, dan Pranggang,” terangnya. 

Baca Juga :  Ketika Satu Keluarga Pertahankan Keahlian Pijat Sangkal Putung

Tak heran, ketika terlihat aktivitas penambangan mulai bergeliat, tampak sekitar 200-300 truk memenuhi wilayah aliran lahar tersebut. Mustofa mengungkapkan, pandapatan untuk kuli pasir dan sopir sekitar Rp 100 ribu-Rp 200 ribu untuk sekali jalan. “Itu sudah cukup bagi mereka,” urainya.

Kepala desa yang baru menjabat sekitar satu tahun ini menambahkan bahwa pihaknya akan berusaha memperjuangkan agar aktivitas penambangan pasir tidak ditutup selamanya. Salah satu caranya nanti, ia berharap, bisa dengan melegalkan aktivitas penambang pasir tersebut.

“Kan nanti bisa dibatasi wilayah mana yang diperbolehkan dan mana yang tidak,” jelasnya.

Mustofa menambahkan, wilayah maksimal yang memungkinkan penambang boleh melakukan aktivitasnya berada di titik gunung payung. Pasalnya, titik di atasnya lagi sudah sangat rawan longsor.

“Nanti akan kami usahakan untuk mengajukan izin legal penambang dengan beberapa pihak terkait,” tuturnya.

Suwandoko, ketua Paguyuban Trisulo Mandiri, mengungkapkan bahwa pihaknya juga menyetujui jika ada batasan titik atau wilayah untuk penambang. “Kami juga akan melakukan rapat anggota,” jelasnya.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Kediri Krisna Setiawan saat dikonfirmasi menerangkan bahwa masalah penambangan bukanlah wewenang Pemkab Kediri. “Untuk legalitas menjadi kewenangan (pemerintah) provinsi (Jawa Timur),” terangnya.

Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri memastikan, area penambangan pasir di aliran Sungai Ngobo termasuk area rawan bencana. Karena itu, di sana tidak boleh digunakan untuk penambangan. Pertimbangannya, selain rawan longsor juga rawan terjadi banjir lahar. Sebab jalur tersebut termasuk menjadi aliran lahar Gunung Kelud.

Seperti diberitakan sebelumnya, tebing setinggi sekitar 100 meter di area aliran Sungai Ngobo mengalami longsor pada Jumat pagi (16/2), sekitar pukul 04.45. Bencana itu menyebabkan empat orang meninggal dan empat lainnya luka-luka. Tiga korban meninggal langsung ditemukan hari itu juga.  .

Baca Juga :  Mereka Yang Juara Perang Mading School Contest XII 2019 Kategori SMP

Mereka adalah Andik Setyawan, 35, dan Ponco Suseno, 30, keduanya dari Desa Sumberagung, serta Sugianto, 40, asal Desa Sepawon. Ketiga warga ini dari Kecamatan Plosoklaten.

Sedangkan Sunarji, 40, korban keempat yang meninggal asal Dusun/Desa Sepawon, Plosoklaten baru ditemukan sehari berikutnya. Sementara empat korban yang luka tidak mengalami cedera parah. Mereka adalah Muryanto, 34, warga Desa Sumberurip, Kecamatan Ngancar; Iksan Safii, 20; Sulis, 24; dan Samsul Hadi, 27, ketiganya warga Desa Sumberagung, Plosoklaten. Para korban ini dibawa ke RS HVA Toeloengredjo Pare.

Para korban ditemukan dan ditolong oleh tim evakuasi yang terdiri atas BPBD, tim SAR, Polres Kediri, dan Kodim 0809 Kediri. Kondisi tanah di tebing Sungai Ngobo tersebut memang rawan longsor. Itu karena beberapa hari sebelumnya turun hujan deras. Apalagi, kawasan di sekitarnya kurang pepohonan. Alhasil saat hujan lebat, mengakibatkan tanah yang rawan gerak di sana menjadi longsor.(c1/dea/ndr)

 

 

Grafis:\\

 

Mengapa Tambang Ngobo Harus Dibuka?  //

–         Penambangan pasir di aliran lahar Kelud sudah dilakukan puluhan tahun

–         Lahan pekerjaan dengan penghasilan menjanjikan

–         Jumlah penambang semakin banyak

–         Menjadi sumber mata pencaharian sebagian warga di empat desa (Wonorejo Trisulo, Sepawon, Pranggang, dan Sumberagung)

–         Sudah terbentuk paguyuban penambang di empat desa

–         Titik penambangan bisa dibatasi, wilayah yang diperbolehkan dan yang tidak (karena rawan bencana)

 

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/