22.9 C
Kediri
Tuesday, August 16, 2022
Array

Wah, Fajar Akui Terima Transferan untuk Samsul

- Advertisement -

SURABAYA – Tjahyo Widjojo alias Ayong, membenarkan telah memberikan uang kepada mantan Wali Kota Kediri Samsul Ashar. Menurut Komisaris Utama PT Surya Graha Semesta (SGS) tersebut, uang itu dia berikan saat Samsul mencalonkan diri menjadi wali kota pada 2008.

Ayong mengaku uang pemberiannya itu berstatus pinjaman. Namun, hingga saat ini belum dikembalikan. Menurutnya, saat memberikan uang itu dia memiliki kepentingan lain. Yaitu berharap mendapat proyek saat Samsul menjadi wali kota.

“Saya kenal Samsul tahun 2008-an. Tapi saya agak lupa tepatnya,” terang Ayong kepada jaksa.

Ayong mengatakan perkenalan keduanya berlangsung di Hotel Bumi Surabaya. Tepatnya di lantai 24. Selain dia dan Samsul, Ayong menyebut nama Widianto dan empat orang dari PT SGS lain. Saat itu ada tujuh orang yang berada dalam satu meja.

Masih menurut keterangan Ayong, banyak hal yang mereka bicarakan saat itu. Salah satunya adalah keinginan Samsul meminjam uang kepada Ayong. Dengan alasan untuk melakukan rehab klinik miliknya. “Itu titipan, bukan pinjaman. Jadi bisa saja dikembalikan,” ujarnya.

- Advertisement -

‘Barang titipan’ itu beberapa kali diberikan kepada Samsul melalui Widianto. Yaitu saat Widianto berkunjung ke klinik sebelum Samsul jadi wali kota. Menariknya, titipan yang mencapai Rp 3,4 miliar-versi Widianto-itu hingga saat ini belum dikembalikan. Karena itulah ada kecurigaan bahwa istilah titipan atau pinjaman itu hanya alasan saja.

Baca Juga :  Sabu di Lapas Kediri: Tersangka Mengaku Dapat dari Luar Tembok Penjara

“Memang belum pernah dikemblaikan. Saya cari-cari Samsul sulit ditemui dia,” dalih Ayong.

Ayong mengaku punya maksud dengan memberi pinjaman pada Samsul itu. Di persidangan dia mengaku memberikan pinjaman karena berharap setelah jadi wali kota Samsul bisa memberi sesuatu kepada PT SGS. “Dalam pertemuan itu pun saya utarakan (keinginan itu) pada Samsul,” ungkap Ayong.

Yang menarik, dalam pertemuan di hotel itu, mereka sudah membicarakan rencana proyek yang akan dibuat di Kediri. Di antaranya seperti Jembatan Brawijaya, Poltek Kediri, dan RSUD Gambiran II. Realisasinya setelah Samsul jadi wali kota.

Dan, ternyata benar. Ketiga proyek tersebut benar-benar dikerjakan oleh PT SGS. Walaupun pemenang proyek bukan mereka. “Kami pinjam bendera ke PT Fajar Parahyangan yang menang lelang. Tapi yang menjalankan proyeknya kami (PT SGS, Red),” akunya di persidangan.

Sementara itu, saksi lain, Fajar Poerna Wijaya, mengakui mendapat transfer dana ke rekeningnya. Menurut lelaki yang disebut sebagai sepupu Samsul Ashar itu, dia mendapat transfer dana beberapa kali. Antara 2011 hingga 2013. Nilai totalnya mencapai Rp 2,9 miliar.

Baca Juga :  Cerita Tim URC BPBD Kabupaten Kediri Mengawal Pemakaman Korona

“Iya saya terima transferan dana beberapa kali. Tapi saya tidak tahu itu dari mana,” kilahnya dalam kesaksian kemarin.

Keterangan Fajar itu menguatkan keterangan Ratna Widiastuti, bendahara PT SGS, dalam sidang sebelumnya Senin (12/3). Saat itu Ratna menyebutkan mentransfer uang dari PT SGS ke Samsul melalui rekening milik Fajar.

Menurut Fajar, sebelum mendapat transfer uang dia ditelepon Samsul agar datang ke rumah dinas. Dia kemudian diminta memberikan nomor rekening Bank BCA dan Mandiri miliknya. Sejak saat itu dia mendapat transfer uang sejumlah Rp 100 juta, Rp 400 juta, dan jumlah berbeda lagi.

“Totalnya saya lupa. Tapi memang benar saya mendapatkan transferan setelah diminta nomor rekening oleh Bapak Samsul,” ujarnya.

Fajar melanjutkan, setiap ada transaksi, Samsul langsung telepon Fajar bahwa ada transferan masuk. Setelah itu Fajar mengambil tunai. Kemudian di antar ke rumah dinas wali kota. Uang itu diberikan langsung ke Samsul. Menurut Fajar, ada saksi yang tahu kejadian itu. Yaitu dua ajudan Samsul ketika menjadi wali kota. “Ada ajudannya juga biasanya. Dia saksinya,” tegas Fajar.

 

- Advertisement -

SURABAYA – Tjahyo Widjojo alias Ayong, membenarkan telah memberikan uang kepada mantan Wali Kota Kediri Samsul Ashar. Menurut Komisaris Utama PT Surya Graha Semesta (SGS) tersebut, uang itu dia berikan saat Samsul mencalonkan diri menjadi wali kota pada 2008.

Ayong mengaku uang pemberiannya itu berstatus pinjaman. Namun, hingga saat ini belum dikembalikan. Menurutnya, saat memberikan uang itu dia memiliki kepentingan lain. Yaitu berharap mendapat proyek saat Samsul menjadi wali kota.

“Saya kenal Samsul tahun 2008-an. Tapi saya agak lupa tepatnya,” terang Ayong kepada jaksa.

Ayong mengatakan perkenalan keduanya berlangsung di Hotel Bumi Surabaya. Tepatnya di lantai 24. Selain dia dan Samsul, Ayong menyebut nama Widianto dan empat orang dari PT SGS lain. Saat itu ada tujuh orang yang berada dalam satu meja.

Masih menurut keterangan Ayong, banyak hal yang mereka bicarakan saat itu. Salah satunya adalah keinginan Samsul meminjam uang kepada Ayong. Dengan alasan untuk melakukan rehab klinik miliknya. “Itu titipan, bukan pinjaman. Jadi bisa saja dikembalikan,” ujarnya.

‘Barang titipan’ itu beberapa kali diberikan kepada Samsul melalui Widianto. Yaitu saat Widianto berkunjung ke klinik sebelum Samsul jadi wali kota. Menariknya, titipan yang mencapai Rp 3,4 miliar-versi Widianto-itu hingga saat ini belum dikembalikan. Karena itulah ada kecurigaan bahwa istilah titipan atau pinjaman itu hanya alasan saja.

Baca Juga :  Wagub Jawa Timur Emil Dardak Hadiri Radar Kediri Awards

“Memang belum pernah dikemblaikan. Saya cari-cari Samsul sulit ditemui dia,” dalih Ayong.

Ayong mengaku punya maksud dengan memberi pinjaman pada Samsul itu. Di persidangan dia mengaku memberikan pinjaman karena berharap setelah jadi wali kota Samsul bisa memberi sesuatu kepada PT SGS. “Dalam pertemuan itu pun saya utarakan (keinginan itu) pada Samsul,” ungkap Ayong.

Yang menarik, dalam pertemuan di hotel itu, mereka sudah membicarakan rencana proyek yang akan dibuat di Kediri. Di antaranya seperti Jembatan Brawijaya, Poltek Kediri, dan RSUD Gambiran II. Realisasinya setelah Samsul jadi wali kota.

Dan, ternyata benar. Ketiga proyek tersebut benar-benar dikerjakan oleh PT SGS. Walaupun pemenang proyek bukan mereka. “Kami pinjam bendera ke PT Fajar Parahyangan yang menang lelang. Tapi yang menjalankan proyeknya kami (PT SGS, Red),” akunya di persidangan.

Sementara itu, saksi lain, Fajar Poerna Wijaya, mengakui mendapat transfer dana ke rekeningnya. Menurut lelaki yang disebut sebagai sepupu Samsul Ashar itu, dia mendapat transfer dana beberapa kali. Antara 2011 hingga 2013. Nilai totalnya mencapai Rp 2,9 miliar.

Baca Juga :  Cerita Tim URC BPBD Kabupaten Kediri Mengawal Pemakaman Korona

“Iya saya terima transferan dana beberapa kali. Tapi saya tidak tahu itu dari mana,” kilahnya dalam kesaksian kemarin.

Keterangan Fajar itu menguatkan keterangan Ratna Widiastuti, bendahara PT SGS, dalam sidang sebelumnya Senin (12/3). Saat itu Ratna menyebutkan mentransfer uang dari PT SGS ke Samsul melalui rekening milik Fajar.

Menurut Fajar, sebelum mendapat transfer uang dia ditelepon Samsul agar datang ke rumah dinas. Dia kemudian diminta memberikan nomor rekening Bank BCA dan Mandiri miliknya. Sejak saat itu dia mendapat transfer uang sejumlah Rp 100 juta, Rp 400 juta, dan jumlah berbeda lagi.

“Totalnya saya lupa. Tapi memang benar saya mendapatkan transferan setelah diminta nomor rekening oleh Bapak Samsul,” ujarnya.

Fajar melanjutkan, setiap ada transaksi, Samsul langsung telepon Fajar bahwa ada transferan masuk. Setelah itu Fajar mengambil tunai. Kemudian di antar ke rumah dinas wali kota. Uang itu diberikan langsung ke Samsul. Menurut Fajar, ada saksi yang tahu kejadian itu. Yaitu dua ajudan Samsul ketika menjadi wali kota. “Ada ajudannya juga biasanya. Dia saksinya,” tegas Fajar.

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/