29.8 C
Kediri
Friday, July 1, 2022
Array

Bukti Kurang, Jaksa Belum Tetapkan Tersangka Lain

KEDIRI KABUPATEN – Tidak hanya menetapkan Suparmi sebagai tersangka, Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Kediri ternyata juga telah memeriksa puluhan saksi. Setidaknya, selama hampir dua bulan proses penyelidikan, ada 40 orang saksi yang telah diperiksa oleh pihak kejaksaan.

Hal itu diungkapkan langsung oleh Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kabupaten Kediri Subroto. Menurut dia, saksi-saksi tersebut merupakan pihak-pihak yang diduga terkait dengan pengelolaan anggaran Dinas Peternakan Kabupaten Kediri dalam kurun waktu 2015-2016. “Total ada 40 orang saksi yang telah diperiksa,” katanya. Sayang, Subroto tidak menjelaskan secara pasti siapa saja yang telah menjalani pemeriksaan.

Informasi yang diperoleh Jawa Pos Radar Kediri, sebagian dari saksi yang menjalani pemeriksaan adalah sejumlah pejabat mulai tingkat kepala seksi (kasi) hingga kepala bidang (kabid) di lingkungan Dinas Peternakan Kabupaten Kediri. Termasuk sejumlah pihak terkait dengan beberapa kegiatan di tahun anggaran tersebut.

Namun, lagi-lagi Subroto kembali menolak menjelaskan. Subroto mengatakan, kalau proses pemeriksaan sudah berjalan selama dua bulan. “Kami mulai intensif melakukan pemeriksaan sejak Januari lalu,” jelas Subroto.

Baca Juga :  Rindu Era Majapahit

Dari hasil penyidikan tersebut akhirnya didapatkan banyak barang bukti hingga akhirnya memutuskan untuk melakukan penahanan terhadap mantan kepala dinas peternakan tersebut. “Berdasarkan penyelidikan awal, melihat barang bukti cuklup, akhirnya ditetapkan tersangka,” tegasnya.

Subroto kembali menegaskan bahwa kasus yang menjerat Suparmi adalah kasus pengelolaan anggaran 2015-2016. “Lebih tepatnya penyalahgunaan anggaran di dinas tersebut,” terangnya.

Lantas, bagian dana yang mana yang disalahgunakan? Apakah terkait dengan pemotongan anggaran? “Masih dalam tahap penyidikan,” ujar Subroto yang kembali tidak membeberkan detail kasus dugaan korupsi ini.

Untuk diketahui, mantan Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Kediri Sri Suparmi ditahan kejaksaan pada Selasa sore (13/2)  lalu sekitar pukul 18.00. Perempuan yang juga dokter hewan ini disangkakan melakukan tindak korupsi dengan nilai kerugian Rp 547 juta.

Suparmi dijerat dengan pasal 2 subsider pasal 3 UU No.31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. Ancamannya pidana paling singkat empat tahun dengan ancaman maksimal 20 tahun penjara dengan denda paling banyak Rp 1 miliar.

Lebih lanjut Subroto mengatakan, kalau pihaknya enggan mengungkap titik-titik mana yang menjadi fokus dari penyidikan. Pasalnya, dikhawatirkan akan menghambat proses penyidikan yang sedang berlangsung. “Kami khawatirkan kalau nanti kami ungkap, yang bersangkutan (Suparmi, Red.) akan menghilangkan barang bukti yang terkait. Kami nanti yang kerepotan,” bebernya.

Baca Juga :  Korona di Kediri: BOR Rendah, Kurangi Jumlah Bed di RS

Tak hanya terkait penghilangan barang bukti, pengungkapan bagian mana yang sedang menjadi materi penyidikan juga dikhawatirkan akan dimanfaatkan tidak benar oleh pihak-pihak terkait. Pasalnya, berdasarkan pengalaman penanganan kasus besar sebelumnya, ada beberapa oknum yang sengaja memanfaatkan situasi ini untuk mencari keuntungan tertentu. “Terkadang dengan membawa-bawa nama saya,” keluhnya.

Karena itu, dia meminta agar pihak-pihak yang merasa dimanfaatkan untuk segera melakukan konfirmasi langsung ke kejaksaan. Mengenai materi penyidikan. sampai saat ini, Subroto kembali mengatakan bahwa kejaksaan belum berencana menetapkan orang lain sebagai tersangka. “Buktinya masih terbatas pada ini (kasus Suparmi) belum sampai yang lain,” pungkasnya.

Sayang, Suparmi masih belum bisa dikonfirmasi terkait penahanannya. Penasihat hukum yang mendampinginya Ronni Sulistiawan asal Malang juga belum bisa dikontak.

 

 

- Advertisement -

KEDIRI KABUPATEN – Tidak hanya menetapkan Suparmi sebagai tersangka, Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Kediri ternyata juga telah memeriksa puluhan saksi. Setidaknya, selama hampir dua bulan proses penyelidikan, ada 40 orang saksi yang telah diperiksa oleh pihak kejaksaan.

Hal itu diungkapkan langsung oleh Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kabupaten Kediri Subroto. Menurut dia, saksi-saksi tersebut merupakan pihak-pihak yang diduga terkait dengan pengelolaan anggaran Dinas Peternakan Kabupaten Kediri dalam kurun waktu 2015-2016. “Total ada 40 orang saksi yang telah diperiksa,” katanya. Sayang, Subroto tidak menjelaskan secara pasti siapa saja yang telah menjalani pemeriksaan.

Informasi yang diperoleh Jawa Pos Radar Kediri, sebagian dari saksi yang menjalani pemeriksaan adalah sejumlah pejabat mulai tingkat kepala seksi (kasi) hingga kepala bidang (kabid) di lingkungan Dinas Peternakan Kabupaten Kediri. Termasuk sejumlah pihak terkait dengan beberapa kegiatan di tahun anggaran tersebut.

Namun, lagi-lagi Subroto kembali menolak menjelaskan. Subroto mengatakan, kalau proses pemeriksaan sudah berjalan selama dua bulan. “Kami mulai intensif melakukan pemeriksaan sejak Januari lalu,” jelas Subroto.

Baca Juga :  Disdik Setor Rp 1,3 Miliar

Dari hasil penyidikan tersebut akhirnya didapatkan banyak barang bukti hingga akhirnya memutuskan untuk melakukan penahanan terhadap mantan kepala dinas peternakan tersebut. “Berdasarkan penyelidikan awal, melihat barang bukti cuklup, akhirnya ditetapkan tersangka,” tegasnya.

Subroto kembali menegaskan bahwa kasus yang menjerat Suparmi adalah kasus pengelolaan anggaran 2015-2016. “Lebih tepatnya penyalahgunaan anggaran di dinas tersebut,” terangnya.

Lantas, bagian dana yang mana yang disalahgunakan? Apakah terkait dengan pemotongan anggaran? “Masih dalam tahap penyidikan,” ujar Subroto yang kembali tidak membeberkan detail kasus dugaan korupsi ini.

Untuk diketahui, mantan Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Kediri Sri Suparmi ditahan kejaksaan pada Selasa sore (13/2)  lalu sekitar pukul 18.00. Perempuan yang juga dokter hewan ini disangkakan melakukan tindak korupsi dengan nilai kerugian Rp 547 juta.

Suparmi dijerat dengan pasal 2 subsider pasal 3 UU No.31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. Ancamannya pidana paling singkat empat tahun dengan ancaman maksimal 20 tahun penjara dengan denda paling banyak Rp 1 miliar.

Lebih lanjut Subroto mengatakan, kalau pihaknya enggan mengungkap titik-titik mana yang menjadi fokus dari penyidikan. Pasalnya, dikhawatirkan akan menghambat proses penyidikan yang sedang berlangsung. “Kami khawatirkan kalau nanti kami ungkap, yang bersangkutan (Suparmi, Red.) akan menghilangkan barang bukti yang terkait. Kami nanti yang kerepotan,” bebernya.

Baca Juga :  Pembunuh Sopir Grab Asal Pasuruan Peragakan 28 Adegan

Tak hanya terkait penghilangan barang bukti, pengungkapan bagian mana yang sedang menjadi materi penyidikan juga dikhawatirkan akan dimanfaatkan tidak benar oleh pihak-pihak terkait. Pasalnya, berdasarkan pengalaman penanganan kasus besar sebelumnya, ada beberapa oknum yang sengaja memanfaatkan situasi ini untuk mencari keuntungan tertentu. “Terkadang dengan membawa-bawa nama saya,” keluhnya.

Karena itu, dia meminta agar pihak-pihak yang merasa dimanfaatkan untuk segera melakukan konfirmasi langsung ke kejaksaan. Mengenai materi penyidikan. sampai saat ini, Subroto kembali mengatakan bahwa kejaksaan belum berencana menetapkan orang lain sebagai tersangka. “Buktinya masih terbatas pada ini (kasus Suparmi) belum sampai yang lain,” pungkasnya.

Sayang, Suparmi masih belum bisa dikonfirmasi terkait penahanannya. Penasihat hukum yang mendampinginya Ronni Sulistiawan asal Malang juga belum bisa dikontak.

 

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/