26 C
Kediri
Tuesday, August 9, 2022

Sihkandi Diputus Hukuman Kebiri

“Sejak Sri Maharaja Jayanegara berkuasa perlindungan dan pengawalan kedua puteri dipercayakan kepada Bala Wandu (prajurit banci) bernama Sihkandi”

 

Kesaktian dan kedigdayaan Pu Aditya sebagai penganut ajaran bhairawa-tantra yang dipelajari dari Sang Pandhita Agung Dang Acarya Bhumisura Sang Chakreswara Mapanji Anawung Shangka, dijadikan sangkaan lebih kuat terhadap berbahayanya Pu Aditya bagi tahta Wilwatikta.

Dan atas sangkaan itu, Sri Maharaja Jayanegara dua-tiga kali mengutus Pu Aditya ke Suwarnabhumi untuk mengetahui sejauh mana negeri asal ibunda mereka berdua itu masih memegang kesetiaan kepada Wilwatikta sebagai kelanjutan Singhasari. Tanpa kecurigaan apa pun, Pu Aditya menjalankan tugas dengan baik.

Kecurigaan Maharaja Jayanegara yang diarahkan kepada dua orang saudarinya – Dyah Gitarja Nararya Tribhuwana dan Dyah Wiyat Nararya Rajadewi –telah berakibat puteri kesayangan Sri Maharaja Kertarajasa Jayawarddhana itu menjadi puteri pingitan yang tidak diperbolehkan berhubungan dengan siapa saja lelaki di dunia.

Baca Juga :  -- Peraturan --

Jika pada masa Sri Maharaja Kertarajasa Jayawarddhana perlindungan dan pengawalan kedua orang puteri diserahkan kepada Pengalasan Wineh Sukha dengan Ra Kuti sebagai pemimpin utama, sejak Sri Maharaja Jayanegara berkuasa perlindungan dan pengawalan kedua puteri dipercayakan kepada Bala Wandu (prajurit banci) yang dipimpin seorang laki-laki kebiri yang dikenal dengan nama Sihkandi.

Di bawah perlindungan dan pengawalan Sihkandi, tidak satu pun di antara laki-laki di dunia ini yang dapat mencekati Dyah Gitarja Nararya Tribhuwana dan Dyah Wiyat Nararya Rajadewi, kecuali Mada.

Menurut cerita: Sihkandi pernah terlibat perkara yang diduga bermotif pemerkosaan terhadap seorang gadis, yang menurut hukum Kutaramanawa Dharmasashtra harus dihukum mati dan seluruh harta milik dirampas oleh raja yang berkuasa.

Baca Juga :  Penyaluran KUR BRI Diestimasi Menyerap 32,1 Juta Lapangan Kerja

Atas bantuan Mada yang mengajukan pertimbangan bahwa usia terdakwa belum enambelas tahun dan tidak pernah menikah, maka Sihkandi diputus dengan hukuman kebiri.

Setelah menjadi orang kebiri yang akan terbuang hidupnya dari kehidupan masyarakat, Sihkandi masih diselamatkan Mada dengan dipekerjakan sebagai pembantu tukang masak di dapur istana. Begitulah, Sihkandi memasrahkan hidup dan matinya kepada Mada.

          Berdasar cerita Sihkandi, Mada mengetahui jika Dyah Halayudha adalah orang tidak waras yang memiliki kecenderungan seksual yang menyimpang, di mana penghasut ulung itu lebih menyukai hubungan sesama jenis daripada dengan lawan jenis. (bersambung)   

 

- Advertisement -

“Sejak Sri Maharaja Jayanegara berkuasa perlindungan dan pengawalan kedua puteri dipercayakan kepada Bala Wandu (prajurit banci) bernama Sihkandi”

 

Kesaktian dan kedigdayaan Pu Aditya sebagai penganut ajaran bhairawa-tantra yang dipelajari dari Sang Pandhita Agung Dang Acarya Bhumisura Sang Chakreswara Mapanji Anawung Shangka, dijadikan sangkaan lebih kuat terhadap berbahayanya Pu Aditya bagi tahta Wilwatikta.

Dan atas sangkaan itu, Sri Maharaja Jayanegara dua-tiga kali mengutus Pu Aditya ke Suwarnabhumi untuk mengetahui sejauh mana negeri asal ibunda mereka berdua itu masih memegang kesetiaan kepada Wilwatikta sebagai kelanjutan Singhasari. Tanpa kecurigaan apa pun, Pu Aditya menjalankan tugas dengan baik.

Kecurigaan Maharaja Jayanegara yang diarahkan kepada dua orang saudarinya – Dyah Gitarja Nararya Tribhuwana dan Dyah Wiyat Nararya Rajadewi –telah berakibat puteri kesayangan Sri Maharaja Kertarajasa Jayawarddhana itu menjadi puteri pingitan yang tidak diperbolehkan berhubungan dengan siapa saja lelaki di dunia.

Baca Juga :  -- Peraturan --

Jika pada masa Sri Maharaja Kertarajasa Jayawarddhana perlindungan dan pengawalan kedua orang puteri diserahkan kepada Pengalasan Wineh Sukha dengan Ra Kuti sebagai pemimpin utama, sejak Sri Maharaja Jayanegara berkuasa perlindungan dan pengawalan kedua puteri dipercayakan kepada Bala Wandu (prajurit banci) yang dipimpin seorang laki-laki kebiri yang dikenal dengan nama Sihkandi.

Di bawah perlindungan dan pengawalan Sihkandi, tidak satu pun di antara laki-laki di dunia ini yang dapat mencekati Dyah Gitarja Nararya Tribhuwana dan Dyah Wiyat Nararya Rajadewi, kecuali Mada.

Menurut cerita: Sihkandi pernah terlibat perkara yang diduga bermotif pemerkosaan terhadap seorang gadis, yang menurut hukum Kutaramanawa Dharmasashtra harus dihukum mati dan seluruh harta milik dirampas oleh raja yang berkuasa.

Baca Juga :  Mimpi Ditemui Ksatria Piningit

Atas bantuan Mada yang mengajukan pertimbangan bahwa usia terdakwa belum enambelas tahun dan tidak pernah menikah, maka Sihkandi diputus dengan hukuman kebiri.

Setelah menjadi orang kebiri yang akan terbuang hidupnya dari kehidupan masyarakat, Sihkandi masih diselamatkan Mada dengan dipekerjakan sebagai pembantu tukang masak di dapur istana. Begitulah, Sihkandi memasrahkan hidup dan matinya kepada Mada.

          Berdasar cerita Sihkandi, Mada mengetahui jika Dyah Halayudha adalah orang tidak waras yang memiliki kecenderungan seksual yang menyimpang, di mana penghasut ulung itu lebih menyukai hubungan sesama jenis daripada dengan lawan jenis. (bersambung)   

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/