26 C
Kediri
Tuesday, August 9, 2022
Array

Yahya Nur Fauzi, Peraih Emas Kejurnas Wushu Sanda asal Kota Kediri

Wajahnya tenang. Pandangannya dingin. Tapi, ketika memeragakan jurus, aksinya sangat memukau. Membuat kagum juri. Medali emas kejurnas dan Popnas sudah jadi koleksinya.

 

RINO HAYYU SETYO

 

Sore itu, hujan mengguyur deras. Hawa pun terasa dingin. Guyuran hujan yang menyerang genting aula SMA Negeri 5 Kediri menimbulkan suara seperti tetabuhan.

Riuhnya bunyi hujan yang menimpa genting tak menyurutkan semangat beberapa orang di bawahnya. Mereka terus berlari mengitari ruangan. Derap kakinya semakin cepat.

Gerakan kaki mereka kemudian dipadu dengan gerakan tangan. Semakin lama semakin cepat. Keringat mengucur deras dari puluhan orang itu. Membasahi lantai.

Mereka adalah atlet wushu sanda. Salah seorang di antaranya adalah Yahya Nur Fauzi. Mereka tengah meningkatkan performa fisik. Seperti yang mereka lakukan bila menjelang ikut suatu kejuaraan.

Prestasi atlet wushu Kediri tak bisa dipandang sebelah mata. Terlebih Yahya. Walaupun berpenampilan kalem tapi jurus-jurus yang dia peragakan mengundang prestasi. Dua medali emas sudah dikoleksinya. Satu dari kejuaraan nasional (kejurnas) dan satu lagi dari pekan olahraga pelajar nasional (Popnas). Semuanya pada 2017 lalu.

 “Pokoknya nurut sama pelatih pasti ada manfaatnya. Itu saja sih,” akunya ketika ditanya resep mendapatkan prestasi di cabang ini.

Ketika mendapat waktu istirahat, Yahya berusaha memaksimalkannya. Maklum, dia hanya diberi waktu semenit saja untuk memulihkan tenaga. Matanya tajam memandangi rekan-rekannya sesama atlet wushu yang juga tengah mengambil nafas dalam-dalam.

Baca Juga :  Mendesak, Gedung Parkir di Jalan Dhoho

Beberapa kali mendekati para pelatihnya. Bertanya gerakan apa saja yang perlu diperbaiki. Juga tentang macam-macam teknik yang baru saja diterimanya.

Setelah satu jam bergelut dengan gerakan bela diri ini, Yahya mulai menepi.

Merelaksasi tubuh dan meregangkan otot usai melatih di aula berdinding putih tersebut.

Ia pun akhirnya punya waktu untuk menceritakan pengalamannya ketika mendapatkan kesempatan bertanding di Semarang dalam ajang Kejurnas 2017. Wajahnya tampak malu-malu ketika hendak menceritakan hal itu. Terlihat dia ingin menghindari rasa sombong ketika menceritakan hal itu.

Menurutnya, salah satunya teknik yang paling sering digunakan saat mengikuti kejuaraan ialah gerakan kaki. Ia memang spesialis menggunakan kaki untuk menyerang. Hal ini berkaitan dengan kecepatan serangan. Menurutnya, kecerdikan dalam mencari celah untuk menyerang lawan menjadi bagian terpenting selama ini.

“Kalau lawannya ancang-ancang dengan tangan, saya coba cari bagian tubuh yang bisa dijangkau kaki,” terang pelajar kelas XII.

Selama ini, menurutnya, teknik tersebut sangat ampuh. Tidak banyak atlet wushu sanda yang memaksimalkan kecepatan kaki seperti dirinya. Padahal, dengan serangan cepat itu musuh mampu dibuatnya kaget. Dan bingung ketika akan melakukan serangan balik.

Selain itu, Yahya memang sangat disiplin ketika latihan. Hal itulah yang sangat berpengaruh terhadap gaya bertandingnya. Terutama melatih insting menyerang lawan.

Baca Juga :  Kekurangan Nutrisi, Kasus Stunting di Kota Kediri Naik

Hal tersebut selalu membayangi pikirannya. Sebab, setiap pertandingan wushu hanya diberikan waktu sebanyak dua menit. Sehingga ia harus mendapatkan poin terbanyak. Atau malah membuat kick out (KO) lawan.

“Saya nggak mau basa-basi waktu nyerang, sikat saja langsung,” terang putra dari pasangan suami-istri (pasutri) Mathori dan Anita Suzana.

Pelajar asal Desa Plosorejo, Kecamatan Gampengrejo itu terlihat sangat dekat dengan Deddy Setiawan, sang pelatih. Bahkan ia sering menceritakan beberapa keluhan di sekolah maupun yang ada di luar sekolah.

Hal senada, pun disampaikan Deddy. Ia mengaku sering sekali menerima curhatan atletnya. Apalagi jika masih baru ikut latihan. Deddy memang memberlakukan latihan yang keras. Sehingga tidak jarang para atlet yang akhirnya ingin pamit ke Deddy. Alias ingin keluar dari latihan.

“Banyak yang mengeluh soal porsi latihan yang saya berikan. Katanya itu membuat capek sekali,” terangnya sambil tertawa.

Tapi Deddy tetap kukuh menerapkan metode berlatihnya itu. Meskipun ia sadar jika nanti para atlet ini tidak berlatih lagi malah akan merepotkan. Karena akan mengurangi jumlah atlet wushunya. Menurut Deddy, Kota Kediri punya potensi di cabang ini.

Deddy akhirnya menemukan solusi. Yaitu memberikan pemahaman kepada atlet jika latihan dengan berbagai teknik ini untuk menjaga keselamatan diri. Dengan pendekatan ini para atlet akhirnya tetap menerim metode berlatihnya itu.

- Advertisement -

Wajahnya tenang. Pandangannya dingin. Tapi, ketika memeragakan jurus, aksinya sangat memukau. Membuat kagum juri. Medali emas kejurnas dan Popnas sudah jadi koleksinya.

 

RINO HAYYU SETYO

 

Sore itu, hujan mengguyur deras. Hawa pun terasa dingin. Guyuran hujan yang menyerang genting aula SMA Negeri 5 Kediri menimbulkan suara seperti tetabuhan.

Riuhnya bunyi hujan yang menimpa genting tak menyurutkan semangat beberapa orang di bawahnya. Mereka terus berlari mengitari ruangan. Derap kakinya semakin cepat.

Gerakan kaki mereka kemudian dipadu dengan gerakan tangan. Semakin lama semakin cepat. Keringat mengucur deras dari puluhan orang itu. Membasahi lantai.

Mereka adalah atlet wushu sanda. Salah seorang di antaranya adalah Yahya Nur Fauzi. Mereka tengah meningkatkan performa fisik. Seperti yang mereka lakukan bila menjelang ikut suatu kejuaraan.

Prestasi atlet wushu Kediri tak bisa dipandang sebelah mata. Terlebih Yahya. Walaupun berpenampilan kalem tapi jurus-jurus yang dia peragakan mengundang prestasi. Dua medali emas sudah dikoleksinya. Satu dari kejuaraan nasional (kejurnas) dan satu lagi dari pekan olahraga pelajar nasional (Popnas). Semuanya pada 2017 lalu.

 “Pokoknya nurut sama pelatih pasti ada manfaatnya. Itu saja sih,” akunya ketika ditanya resep mendapatkan prestasi di cabang ini.

Ketika mendapat waktu istirahat, Yahya berusaha memaksimalkannya. Maklum, dia hanya diberi waktu semenit saja untuk memulihkan tenaga. Matanya tajam memandangi rekan-rekannya sesama atlet wushu yang juga tengah mengambil nafas dalam-dalam.

Baca Juga :  Mendesak, Gedung Parkir di Jalan Dhoho

Beberapa kali mendekati para pelatihnya. Bertanya gerakan apa saja yang perlu diperbaiki. Juga tentang macam-macam teknik yang baru saja diterimanya.

Setelah satu jam bergelut dengan gerakan bela diri ini, Yahya mulai menepi.

Merelaksasi tubuh dan meregangkan otot usai melatih di aula berdinding putih tersebut.

Ia pun akhirnya punya waktu untuk menceritakan pengalamannya ketika mendapatkan kesempatan bertanding di Semarang dalam ajang Kejurnas 2017. Wajahnya tampak malu-malu ketika hendak menceritakan hal itu. Terlihat dia ingin menghindari rasa sombong ketika menceritakan hal itu.

Menurutnya, salah satunya teknik yang paling sering digunakan saat mengikuti kejuaraan ialah gerakan kaki. Ia memang spesialis menggunakan kaki untuk menyerang. Hal ini berkaitan dengan kecepatan serangan. Menurutnya, kecerdikan dalam mencari celah untuk menyerang lawan menjadi bagian terpenting selama ini.

“Kalau lawannya ancang-ancang dengan tangan, saya coba cari bagian tubuh yang bisa dijangkau kaki,” terang pelajar kelas XII.

Selama ini, menurutnya, teknik tersebut sangat ampuh. Tidak banyak atlet wushu sanda yang memaksimalkan kecepatan kaki seperti dirinya. Padahal, dengan serangan cepat itu musuh mampu dibuatnya kaget. Dan bingung ketika akan melakukan serangan balik.

Selain itu, Yahya memang sangat disiplin ketika latihan. Hal itulah yang sangat berpengaruh terhadap gaya bertandingnya. Terutama melatih insting menyerang lawan.

Baca Juga :  Dishub Kediri Berencana Tambah Bus Sekolah, Ini Rutenya

Hal tersebut selalu membayangi pikirannya. Sebab, setiap pertandingan wushu hanya diberikan waktu sebanyak dua menit. Sehingga ia harus mendapatkan poin terbanyak. Atau malah membuat kick out (KO) lawan.

“Saya nggak mau basa-basi waktu nyerang, sikat saja langsung,” terang putra dari pasangan suami-istri (pasutri) Mathori dan Anita Suzana.

Pelajar asal Desa Plosorejo, Kecamatan Gampengrejo itu terlihat sangat dekat dengan Deddy Setiawan, sang pelatih. Bahkan ia sering menceritakan beberapa keluhan di sekolah maupun yang ada di luar sekolah.

Hal senada, pun disampaikan Deddy. Ia mengaku sering sekali menerima curhatan atletnya. Apalagi jika masih baru ikut latihan. Deddy memang memberlakukan latihan yang keras. Sehingga tidak jarang para atlet yang akhirnya ingin pamit ke Deddy. Alias ingin keluar dari latihan.

“Banyak yang mengeluh soal porsi latihan yang saya berikan. Katanya itu membuat capek sekali,” terangnya sambil tertawa.

Tapi Deddy tetap kukuh menerapkan metode berlatihnya itu. Meskipun ia sadar jika nanti para atlet ini tidak berlatih lagi malah akan merepotkan. Karena akan mengurangi jumlah atlet wushunya. Menurut Deddy, Kota Kediri punya potensi di cabang ini.

Deddy akhirnya menemukan solusi. Yaitu memberikan pemahaman kepada atlet jika latihan dengan berbagai teknik ini untuk menjaga keselamatan diri. Dengan pendekatan ini para atlet akhirnya tetap menerim metode berlatihnya itu.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/