24.9 C
Kediri
Friday, August 12, 2022
Array

Antisipasi Bencana Tanah Longsor di Kaki Wilis

- Advertisement -

NGANJUK – Wilayah kaki Gunung Wilis memang rawan terjadi bencana tanah longsor. Apalagi di saat musim penghujan seperti ini. Karenanya, Pemkab Nganjuk membuat sejumlah rencana untuk mengantisipasi longsor di tahun-tahun mendatang.

Kabag Humas Pemkab Nganjuk Agus Irianto mengatakan, ada rencana jangka pendek dan panjang dalam penanganan bencana tanah longsor di kaki Gunung Wilis. Khususnya di Kecamatan Sawahan, Loceret dan Ngetos. “Kami sedang membuat kajian,” kata Agus kepada Jawa Pos Radar Nganjuk.

Untuk rencana jangka pendek, dia meminta, masyarakat yang wilayahnya rawan longsor untuk mengungsi sementara ke tempat yang aman. Bisa ke rumah keluarga atau tetangga. “Yang penting tidak di rumah dulu. Sampai benar-benar aman,” katanya.

Untuk diketahui, pada Kamis lalu (9/3), tiga rumah tertimpa tanah longsor di Dukuh Patuk, Dusun Nglarangan, Desa Bajulan, Kecamatan Loceret. Setelah kejadian itu, perangkat desa mencatat empat kepala keluarga (KK) harus mengungsi. Sementara masih ada sekitar 100 KK yang rumahnya rawan longsor.

Baca Juga :  Pantau Penanganan Banjir, Mas Novi Ajak Hijaukan Lahan Gundul

Selama musim penghujan, Agus mengakui, daerah kaki Gunung Wilis memang rawan longsor. Sebelum di Bajulan, longsor juga terjadi di Desa Kepel, Kecamatan Ngetos. Bahkan, setahun lalu, dua lokasi tersebut juga mengalami longsor.

- Advertisement -

Menurutnya, kontur tanah di sana memang rawan longsor. Pasalnya, tebing yang seharusnya ditumbuhi tanaman berakar besar, justru dijadikan tempat pemukiman warga. Karenanya, air hujan sulit merembes ke tanah. “Tanah semakin tergerus,” ujarnya.

Untuk penanganan itu, Agus mengungkapkan, pemkab tengah menyiapkan rencana jangka panjangnya. Salah satunya adalah membuat terasiring di tebing-tebing yang rawan longsor. “Kami buatkan terasiring untun menguatkan kontur tanah,” kata pria yang pernah berdinas di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nganjuk ini.

Baca Juga :  Ritel Modern di Kabupaten Kediri Tak Boleh Menekan Pasar Tradisional

Selain terasiring, Agus mengatakan, pemkab juga berencana melakukan penghijuan di daerah yang gundul. Dari evaluasi sementara, banyak lahan gundul di sekitar pemukiman warga.

Lalu bagaimana dengan rencana relokasi warga secara permanen? Pasalnya, jika melihat pemukiman di Dukuh Patuk, Desa Bajulan, Loceret, kondisinya sangat mengkhawatirkan. Jika hujan dengan intesitas tinggi, longsor susulan sangat mungkin terjadi.

Mengenai hal itu, Agus mengaku pemkab perlu mengkajinya. Sebab, relokasi juga perlu berkoordinasi dengan semua pihak. Mulai dari warga, perangkat desa dan perhutani. 

- Advertisement -

NGANJUK – Wilayah kaki Gunung Wilis memang rawan terjadi bencana tanah longsor. Apalagi di saat musim penghujan seperti ini. Karenanya, Pemkab Nganjuk membuat sejumlah rencana untuk mengantisipasi longsor di tahun-tahun mendatang.

Kabag Humas Pemkab Nganjuk Agus Irianto mengatakan, ada rencana jangka pendek dan panjang dalam penanganan bencana tanah longsor di kaki Gunung Wilis. Khususnya di Kecamatan Sawahan, Loceret dan Ngetos. “Kami sedang membuat kajian,” kata Agus kepada Jawa Pos Radar Nganjuk.

Untuk rencana jangka pendek, dia meminta, masyarakat yang wilayahnya rawan longsor untuk mengungsi sementara ke tempat yang aman. Bisa ke rumah keluarga atau tetangga. “Yang penting tidak di rumah dulu. Sampai benar-benar aman,” katanya.

Untuk diketahui, pada Kamis lalu (9/3), tiga rumah tertimpa tanah longsor di Dukuh Patuk, Dusun Nglarangan, Desa Bajulan, Kecamatan Loceret. Setelah kejadian itu, perangkat desa mencatat empat kepala keluarga (KK) harus mengungsi. Sementara masih ada sekitar 100 KK yang rumahnya rawan longsor.

Baca Juga :  Tiga Hektare Hutan Dilalap Api, Warga Bentuk Posko Siaga Bencana

Selama musim penghujan, Agus mengakui, daerah kaki Gunung Wilis memang rawan longsor. Sebelum di Bajulan, longsor juga terjadi di Desa Kepel, Kecamatan Ngetos. Bahkan, setahun lalu, dua lokasi tersebut juga mengalami longsor.

Menurutnya, kontur tanah di sana memang rawan longsor. Pasalnya, tebing yang seharusnya ditumbuhi tanaman berakar besar, justru dijadikan tempat pemukiman warga. Karenanya, air hujan sulit merembes ke tanah. “Tanah semakin tergerus,” ujarnya.

Untuk penanganan itu, Agus mengungkapkan, pemkab tengah menyiapkan rencana jangka panjangnya. Salah satunya adalah membuat terasiring di tebing-tebing yang rawan longsor. “Kami buatkan terasiring untun menguatkan kontur tanah,” kata pria yang pernah berdinas di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nganjuk ini.

Baca Juga :  Belasan Hektare Hutan Dilalap Api

Selain terasiring, Agus mengatakan, pemkab juga berencana melakukan penghijuan di daerah yang gundul. Dari evaluasi sementara, banyak lahan gundul di sekitar pemukiman warga.

Lalu bagaimana dengan rencana relokasi warga secara permanen? Pasalnya, jika melihat pemukiman di Dukuh Patuk, Desa Bajulan, Loceret, kondisinya sangat mengkhawatirkan. Jika hujan dengan intesitas tinggi, longsor susulan sangat mungkin terjadi.

Mengenai hal itu, Agus mengaku pemkab perlu mengkajinya. Sebab, relokasi juga perlu berkoordinasi dengan semua pihak. Mulai dari warga, perangkat desa dan perhutani. 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/