28.9 C
Kediri
Thursday, July 7, 2022
Array

Awal Jadi Wali Kota, Abu Bentuk Tim

KEDIRI KOTA – Banyak fakta yang muncul dalam sidang dugaan korupsi Jembatan Brawijaya di Pengadilan Tipikor (5/2) lalu. Salah satunya adalah tidak dilibatkannya wakil wali kota saat itu dalam perencanaan dan pelaksanaan megaproyek tersebut.

“Sejak awal saya tidak tahu terkait anggaran Jembatan Brawijaya itu,” terang Abdullah Abu Bakar, wakil wali kota saat itu, ketika menjawab pertanyaan jaksa penuntut umum (JPU) Abdul Rasyid.

Lelaki yang saat ini merupakan wali Kota Kediri tersebut menambahkan, saat menjadi wakil wali kota era Samsul Ashar tida tidak pernah diajak bicara. Khususnya terkait dengan penganggaran proyek senilai Rp 71 miliar tersebut. Walaupun salah seorang terdakwa, Kasenan, juga sempat jadi kepala dinas era pemerintahannya, Abu mengaku tak pernah melakukan koordinasi. Termasuk setelah jembatan itu menjadi masalah.

“Soal pemenang lelang proyek jembatan itu pun saya tidak yang memberi tahu,” terang Abu.

Baca Juga :  Bank Sampah Hijau Daun, Upaya Warga Bujel Kurangi Polusi

Abu mengatakan hanya tahu bahwa jembatan itu mulai dibangun. Kemudian hingga berhenti pembangunannya. Sedangkan dalam perencanaan hingga proses pembangunannya dia tak dilibatkan. Dia baru tahu siapa saja yang terlibat ketika proyek itu bermasalah.

“Saya awalnya tidak kenal dan tidak tahu siapa siapa yang terlibat dalam pembangunan jembatan itu. Baru tahunya saat dipanggil polisi dan ditanya orang-orang dalam pembangunan itu,” terangnya.

Menurut Abu, saat dia menjadi wakil wali kota, semua urusan pemerintahan Kota Kediri dipegang oleh wali kota saat itu, Samsul Ashar. Bahkan, dia dibiarkan berjalan sendiri tanpa kejelasan terkait job description-nya sebagai wakil wali kota.

“Saya dulu hanya mewakili-mewakili saja. Hanya untuk kepentingan seremonial,” aku alumnus SMAN 1 Kediri itu.

Saat itu Abu kemudian lebih aktif di lembaga lain. Seperti Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Kediri. Kebetulan saat itu dia sempat menjadi ketuanya.

Sebenarnya, ketika menjadi wali kota, menggeser Samsul Ashar yang kalah dalam pemilihan, Abu ingin meneruskan proyek mangkrak tersebut. Namun, dia tak tahu harus dimulai dari mana. Akhirnya dia pun mengumpulkan timnya untuk mebahas mulai dari mana mereka harus melangkah untuk melanjutkan.

Baca Juga :  El Maraki Hanya Ikut Latihan Bersama

Langkah pertama adalah mengetahui sampai mana potensi kerugiannya. Pemkot kemudian berkordinasi dengan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) hingga dilakukan pengauditan proyek tersebut. “Tim itulah yang terus mencari solusi agar jembatan itu bisa dilanjutkan. Hingga pernah kami kirimi surat ke Presiden juga,” tegas Abu dalam kesaksiannya.

Seperti diketahui, kasus megaproyek Jembatan Brawijaya menyeret tiga orang terdakwa. Yaitu mantan Kadis PUPR Kasenan, Kabid Permukiman DPUPR Wijanto, dan pejabat pembuat komitmen (PPK) Nur Iman Satryo Widodo. Dalam sidang Senin (5/2) lalu, tiga saksi penting dihadirkan. Yaitu mantan wali kota Samsul Ashar, wakil ketua DPRD Kota Kediri periode saat itu Nuruddin Hasan, dan wakil wali kota saat itu Abdullah Abu Bakar. Paling banyak dicecar pertanyaan adalah Samsul Ashar.

- Advertisement -

KEDIRI KOTA – Banyak fakta yang muncul dalam sidang dugaan korupsi Jembatan Brawijaya di Pengadilan Tipikor (5/2) lalu. Salah satunya adalah tidak dilibatkannya wakil wali kota saat itu dalam perencanaan dan pelaksanaan megaproyek tersebut.

“Sejak awal saya tidak tahu terkait anggaran Jembatan Brawijaya itu,” terang Abdullah Abu Bakar, wakil wali kota saat itu, ketika menjawab pertanyaan jaksa penuntut umum (JPU) Abdul Rasyid.

Lelaki yang saat ini merupakan wali Kota Kediri tersebut menambahkan, saat menjadi wakil wali kota era Samsul Ashar tida tidak pernah diajak bicara. Khususnya terkait dengan penganggaran proyek senilai Rp 71 miliar tersebut. Walaupun salah seorang terdakwa, Kasenan, juga sempat jadi kepala dinas era pemerintahannya, Abu mengaku tak pernah melakukan koordinasi. Termasuk setelah jembatan itu menjadi masalah.

“Soal pemenang lelang proyek jembatan itu pun saya tidak yang memberi tahu,” terang Abu.

Baca Juga :  Noval Mirza Ardani, Balita yang Tewas karena Hanyut di Selokan

Abu mengatakan hanya tahu bahwa jembatan itu mulai dibangun. Kemudian hingga berhenti pembangunannya. Sedangkan dalam perencanaan hingga proses pembangunannya dia tak dilibatkan. Dia baru tahu siapa saja yang terlibat ketika proyek itu bermasalah.

“Saya awalnya tidak kenal dan tidak tahu siapa siapa yang terlibat dalam pembangunan jembatan itu. Baru tahunya saat dipanggil polisi dan ditanya orang-orang dalam pembangunan itu,” terangnya.

Menurut Abu, saat dia menjadi wakil wali kota, semua urusan pemerintahan Kota Kediri dipegang oleh wali kota saat itu, Samsul Ashar. Bahkan, dia dibiarkan berjalan sendiri tanpa kejelasan terkait job description-nya sebagai wakil wali kota.

“Saya dulu hanya mewakili-mewakili saja. Hanya untuk kepentingan seremonial,” aku alumnus SMAN 1 Kediri itu.

Saat itu Abu kemudian lebih aktif di lembaga lain. Seperti Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Kediri. Kebetulan saat itu dia sempat menjadi ketuanya.

Sebenarnya, ketika menjadi wali kota, menggeser Samsul Ashar yang kalah dalam pemilihan, Abu ingin meneruskan proyek mangkrak tersebut. Namun, dia tak tahu harus dimulai dari mana. Akhirnya dia pun mengumpulkan timnya untuk mebahas mulai dari mana mereka harus melangkah untuk melanjutkan.

Baca Juga :  Masih Banyak yang Kurang Murid

Langkah pertama adalah mengetahui sampai mana potensi kerugiannya. Pemkot kemudian berkordinasi dengan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) hingga dilakukan pengauditan proyek tersebut. “Tim itulah yang terus mencari solusi agar jembatan itu bisa dilanjutkan. Hingga pernah kami kirimi surat ke Presiden juga,” tegas Abu dalam kesaksiannya.

Seperti diketahui, kasus megaproyek Jembatan Brawijaya menyeret tiga orang terdakwa. Yaitu mantan Kadis PUPR Kasenan, Kabid Permukiman DPUPR Wijanto, dan pejabat pembuat komitmen (PPK) Nur Iman Satryo Widodo. Dalam sidang Senin (5/2) lalu, tiga saksi penting dihadirkan. Yaitu mantan wali kota Samsul Ashar, wakil ketua DPRD Kota Kediri periode saat itu Nuruddin Hasan, dan wakil wali kota saat itu Abdullah Abu Bakar. Paling banyak dicecar pertanyaan adalah Samsul Ashar.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/