24.3 C
Kediri
Sunday, August 14, 2022
Array

Menelisik Sejarah Islam di Sepanjang Sungai Brantas (21)

- Advertisement -

Perjuangan Kiai Abdul Muid mendirikan Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatul Mubtadiin diteruskan anak dan menantunya. Setelah itu, ponpes di Desa Sanggrahan, Prambon, itu semakin berkembang pesat. Jumlah asramanya terus bertambah.

 

Perjuangan Kiai Abdul Muid merintis ponpes di Desa Sanggrahan, Kecamatan Prambon tidak sia-sia. Pun, kiai asal Grompol, Tanjungtani itu harus menunggu sekitar 23 tahun. Setelah memiliki penerus, pada 1948 lalu Ponpes Hidayatul Mubtadiin akhirnya resmi berdiri.

Penerus itu adalah Kiai Hisyam, sang anak, dan Kiai Imam Ghozali, menantu Kiai Abdul Muid. Kedua kiai tersebut adalah alumni Ponpes Lirboyo, Kediri. Makanya nama ponpes di Sanggrahan itu sama dengan nama madrasah di Lirboyo. “Ada pengaruh dari Lirboyo,” kata Kiai Bisri Hisyam, pengasuh Ponpes Hidayatul Mubtadiin.

Setelah diteruskan anak dan menantunya, Kiai Abdul Muid lebih banyak beristirahat. Sesekali dia hanya mengajari santri kitab kuning. Sedangkan pengelolaan ponpes diserahkan kepada Kiai Hisyam dan Kiai Ghozali. “Mereka berdua yang memimpin pondok. Kiai Muid memilih istirahat,” lanjut pria yang akrab disapa Gus Bisri ini.

Baca Juga :  Lereng Utara Kelud, Kawasan Penting Sejarah Jawa (23)
- Advertisement -

Menurut Gus Bisri, Kiai Hisyam dan Kiai Ghozali punya keahlian disiplin ilmu masing-masing. Kiai Hisyam menguasai hafalan Alquran. Sedangkan Kiai Ghozali lebih fokus pada pelajaran kitab kuning.

Dengan kolaborasi dua kiai tersebut, kata Gus Bisri, ponpes semakin berkembang. Santri mereka bertambah banyak. Awalnya, mayoritas santri berasal dari sekitar Desa Sanggrahan. Sebagian lagi santri yang ikut Kiai Ghozali dari Ponpes Lirboyo.

Seiring berjalannya waktu, beberapa santri juga berasal dari luar Jawa. Seperti Sumatera dan Kalimantan. Karena itulah, kompleks ponpes juga semakin berkembang. Saat dirintis Kiai Muid, awalnya hanya ada sebuah masjid dan asrama dengan empat kamar. “Setelah itu dibangun beberapa asrama lagi dan pondok,” terang pria yang juga Ketua Tanfizdiyah PCNU Kabupaten Nganjuk ini.

Baca Juga :  Meyakini Isra Mikraj

Santri pun tidak lagi pulang setelah mengaji. Mereka menetap di ponpes sampai benar-benar dinyatakan lulus. Dengan perkembangan itu, Ponpes Sanggrahan semakin dikenal masyarakat luas.

Pada 1967, Kiai Ghozali meninggalkan Ponpes Sanggrahan. Kiai asal Watudandang, Prambon itu kemudian mendirikan Ponpes Annur Al Ghozali atau lebih dikenal sebagai pondok Tegalrejo di Desa Tanjungtani. Jaraknya hanya sekitar 600 meter di timur Ponpes Sanggrahan.

Adapun Kiai Hisyam meneruskan ponpes yang dirintis ayahnya. Pada 1997, kiai yang juga pernah mondok di Krepyak, Jogjakarta itu mangkat. Sampai sekarang,  menurut Gus Bisri ponpes masih mempertahankan tradisi yang ditinggalkan Kiai Muid. “Tetap ponpes, tidak ada sekolah formal,” kata putra dari Kiai Hisyam ini. (bersambung)

- Advertisement -

Perjuangan Kiai Abdul Muid mendirikan Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatul Mubtadiin diteruskan anak dan menantunya. Setelah itu, ponpes di Desa Sanggrahan, Prambon, itu semakin berkembang pesat. Jumlah asramanya terus bertambah.

 

Perjuangan Kiai Abdul Muid merintis ponpes di Desa Sanggrahan, Kecamatan Prambon tidak sia-sia. Pun, kiai asal Grompol, Tanjungtani itu harus menunggu sekitar 23 tahun. Setelah memiliki penerus, pada 1948 lalu Ponpes Hidayatul Mubtadiin akhirnya resmi berdiri.

Penerus itu adalah Kiai Hisyam, sang anak, dan Kiai Imam Ghozali, menantu Kiai Abdul Muid. Kedua kiai tersebut adalah alumni Ponpes Lirboyo, Kediri. Makanya nama ponpes di Sanggrahan itu sama dengan nama madrasah di Lirboyo. “Ada pengaruh dari Lirboyo,” kata Kiai Bisri Hisyam, pengasuh Ponpes Hidayatul Mubtadiin.

Setelah diteruskan anak dan menantunya, Kiai Abdul Muid lebih banyak beristirahat. Sesekali dia hanya mengajari santri kitab kuning. Sedangkan pengelolaan ponpes diserahkan kepada Kiai Hisyam dan Kiai Ghozali. “Mereka berdua yang memimpin pondok. Kiai Muid memilih istirahat,” lanjut pria yang akrab disapa Gus Bisri ini.

Baca Juga :  Air Kelapa Hijau dan Wirid Salawat Burdah (KH Abu Bakar Abdul Jalil)

Menurut Gus Bisri, Kiai Hisyam dan Kiai Ghozali punya keahlian disiplin ilmu masing-masing. Kiai Hisyam menguasai hafalan Alquran. Sedangkan Kiai Ghozali lebih fokus pada pelajaran kitab kuning.

Dengan kolaborasi dua kiai tersebut, kata Gus Bisri, ponpes semakin berkembang. Santri mereka bertambah banyak. Awalnya, mayoritas santri berasal dari sekitar Desa Sanggrahan. Sebagian lagi santri yang ikut Kiai Ghozali dari Ponpes Lirboyo.

Seiring berjalannya waktu, beberapa santri juga berasal dari luar Jawa. Seperti Sumatera dan Kalimantan. Karena itulah, kompleks ponpes juga semakin berkembang. Saat dirintis Kiai Muid, awalnya hanya ada sebuah masjid dan asrama dengan empat kamar. “Setelah itu dibangun beberapa asrama lagi dan pondok,” terang pria yang juga Ketua Tanfizdiyah PCNU Kabupaten Nganjuk ini.

Baca Juga :  Menilik Sejarah Guyangan di Kota Angin (Habis)

Santri pun tidak lagi pulang setelah mengaji. Mereka menetap di ponpes sampai benar-benar dinyatakan lulus. Dengan perkembangan itu, Ponpes Sanggrahan semakin dikenal masyarakat luas.

Pada 1967, Kiai Ghozali meninggalkan Ponpes Sanggrahan. Kiai asal Watudandang, Prambon itu kemudian mendirikan Ponpes Annur Al Ghozali atau lebih dikenal sebagai pondok Tegalrejo di Desa Tanjungtani. Jaraknya hanya sekitar 600 meter di timur Ponpes Sanggrahan.

Adapun Kiai Hisyam meneruskan ponpes yang dirintis ayahnya. Pada 1997, kiai yang juga pernah mondok di Krepyak, Jogjakarta itu mangkat. Sampai sekarang,  menurut Gus Bisri ponpes masih mempertahankan tradisi yang ditinggalkan Kiai Muid. “Tetap ponpes, tidak ada sekolah formal,” kata putra dari Kiai Hisyam ini. (bersambung)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/