23.9 C
Kediri
Saturday, August 13, 2022
Array

Kisah-Kisah di Pecinan Kota Kediri (5-Habis)

- Advertisement -

Kelenteng Tjoe Hwie Kiong memiliki kaitan yang sangat erat dengan para pedagang Tiongkok di masa lampau. Tidak sekadar berdagang, para saudagar juga menyandarkan perahunya untuk bersembahyang di kelenteng.

 

Keberadaan patung Makco yang cukup besar di Kelenteng Tjoe Hwie Kiong saat ini bukanlah tanpa alasan. Patung tersebut sengaja dibuat karena dahulu kala para pedagang yang bersandar di sekitar kelenteng memang sangat memuja Dewi Samudera.

Ketua Yayasan Tri Dharma Kelenteng Tjoe Hwie Kiong Kediri Prayitno Sutikno mengatakan, kawasan di sekitar kelenteng dulunya memang dikenal sebagai tempat berlabuh para pedagang. Karena itu, muncul nama wilayah yang disebut dengan Bandar. Selanjutnya menjadi Bandarlor dan Bandarkidul. “Bandar ini artinya adalah pelabuhan kecil,” kata lelaki yang akrab disapa Prayit tersebut.

Baca Juga :  Warga Kota Kediri Waspadai Siklon Paddy
- Advertisement -

Ada dua lokasi yang menjadi keberadaan Bandar ini, yakni di sisi barat dan timur. Karena menjadi tempat berlabuh perahu-perahu pedagang, maka lokasi di sekitar Bandar tersebut menjadi pusat perdagangan di wilayah Kota Kediri pada masa itu.

Dari situlah, lanjut Prayit, akhirnya wilayah Pecinan berkembang. Lokasinya ada di daerah yang kini merupakan Jalan Yos Sudarso. Hingga akhirnya kawasan Pecinan itu terus berkembang hingga ke wilayah di Kelurahan Pakelan.

Atas dasar itu pula, dewa utama yang disembah di Kelenteng Tjoe Hwie Kiong adalah Makco. Makco Thian Shang Zen Mu merupakan Dewi Samudera. Ini dikarenakan pada masa lampau para saudagar Tingkok tersebut merupakan para pelaut andal yang berasal dari Surabaya. “Karena banyaknya pelaut Tingkok yang beribadah di kelenteng. Sehingga doa ditujukan kepada Makco,” sambung Prayit.

Baca Juga :  Komunitas Asal Kediri Kenalkan Dunia Tani melalui Dongeng

Doa yang dipanjatkan oleh para saudagar tersebut, kata Prayit, kebanyakan berkaitan dengan keselamatan di laut dan di sungai. Terutama saat para pedagang tersebut melakukan transaksi kebutuhan sehari-hari warga, seperti berdagang kayu, emas, hingga palawija.

Sampai saat ini, keturunan para saudagar dan pedagang tersebut masih menekuni profesi leluhur mereka, yakni berdagang. Mereka yang rata-rata sekarang ini sudah generasi ketiga, masih memiliki ciri khas. Misalnya, mereka yang leluhurnya berjualan kayu, kini membuka toko mebel. Sedangkan yang leluhurnya berjualan emas, kini juga membuka toko emas. “Jiwa pedagang para keturunan Tionghoa masih kental di Kediri ini. Terlebih di sekitar Pecinan tersebut,” tegasnya.  

- Advertisement -

Kelenteng Tjoe Hwie Kiong memiliki kaitan yang sangat erat dengan para pedagang Tiongkok di masa lampau. Tidak sekadar berdagang, para saudagar juga menyandarkan perahunya untuk bersembahyang di kelenteng.

 

Keberadaan patung Makco yang cukup besar di Kelenteng Tjoe Hwie Kiong saat ini bukanlah tanpa alasan. Patung tersebut sengaja dibuat karena dahulu kala para pedagang yang bersandar di sekitar kelenteng memang sangat memuja Dewi Samudera.

Ketua Yayasan Tri Dharma Kelenteng Tjoe Hwie Kiong Kediri Prayitno Sutikno mengatakan, kawasan di sekitar kelenteng dulunya memang dikenal sebagai tempat berlabuh para pedagang. Karena itu, muncul nama wilayah yang disebut dengan Bandar. Selanjutnya menjadi Bandarlor dan Bandarkidul. “Bandar ini artinya adalah pelabuhan kecil,” kata lelaki yang akrab disapa Prayit tersebut.

Baca Juga :  Pengedar Dobel L Diringkus

Ada dua lokasi yang menjadi keberadaan Bandar ini, yakni di sisi barat dan timur. Karena menjadi tempat berlabuh perahu-perahu pedagang, maka lokasi di sekitar Bandar tersebut menjadi pusat perdagangan di wilayah Kota Kediri pada masa itu.

Dari situlah, lanjut Prayit, akhirnya wilayah Pecinan berkembang. Lokasinya ada di daerah yang kini merupakan Jalan Yos Sudarso. Hingga akhirnya kawasan Pecinan itu terus berkembang hingga ke wilayah di Kelurahan Pakelan.

Atas dasar itu pula, dewa utama yang disembah di Kelenteng Tjoe Hwie Kiong adalah Makco. Makco Thian Shang Zen Mu merupakan Dewi Samudera. Ini dikarenakan pada masa lampau para saudagar Tingkok tersebut merupakan para pelaut andal yang berasal dari Surabaya. “Karena banyaknya pelaut Tingkok yang beribadah di kelenteng. Sehingga doa ditujukan kepada Makco,” sambung Prayit.

Baca Juga :  Polres Kediri dan Polsek Kras Dalami Laporan Terkait Perusakan Situs

Doa yang dipanjatkan oleh para saudagar tersebut, kata Prayit, kebanyakan berkaitan dengan keselamatan di laut dan di sungai. Terutama saat para pedagang tersebut melakukan transaksi kebutuhan sehari-hari warga, seperti berdagang kayu, emas, hingga palawija.

Sampai saat ini, keturunan para saudagar dan pedagang tersebut masih menekuni profesi leluhur mereka, yakni berdagang. Mereka yang rata-rata sekarang ini sudah generasi ketiga, masih memiliki ciri khas. Misalnya, mereka yang leluhurnya berjualan kayu, kini membuka toko mebel. Sedangkan yang leluhurnya berjualan emas, kini juga membuka toko emas. “Jiwa pedagang para keturunan Tionghoa masih kental di Kediri ini. Terlebih di sekitar Pecinan tersebut,” tegasnya.  

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/